Kolonialisme, WTO, dan Russia:

Setelah revolusi industry dan renaissance, barat dengan keunggulan teknologinya 
melebarkan sayap untuk mencari tanah baru untuk produksi, sehingga belanda, 
portugis, inggris, prancis, amerika mencari daerah daerah baru untuk memperluas 
basis produksi mereka.

Dutch East Indies atau sekarang disebut indonesia, merupakan salah satu korban 
kolonialisme belanda, 

Belanda sebagai kaum minoritas di indonesia, namun karena memegang senjata, 
mampu membuat sistem kerja di tanah jajahan yang disebut oleh sejarah indonesia 
sebagai rodi, namun sebenarnya belanda juga membayar royalti ke kerajaan 
nusantara. 

Dalam sistem kolonialisme belanda, kalau saya boleh menyebutkan, sebenarnya 
yang paling diuntungkan adalah kerajaan nusantara. Belanda membuat system atau 
mekanisme kerja, riset dan development komoditas yg laku di eropa, inisiatif 
menanam kopi, tebu, teh, dan membangun pabrik, serta infrastruktur kereta api, 
jalan trem, dlsb dibangun oleh belanda.

Sedangkan kerajaan nusantara hanya menerima royalti dari belanda,mseperti 
halnya pemerintah indonesia sekarang yang hanya menerima royalti atau deviden 
dari PT. Freeport Indonesia, karena hanya memiliki modal 'wilayah'. Sedangkan 
PT. Freeport bagaimanapun melakukan investasi besar, membangun infrastruktur, 
dan juga punya resiko thd kegagalan penambangan.

Jangan dikira bisnis penambangan itu mudah, bisnis penambangan juga mengandung 
resiko kelaikan operasi penambangan, misal berapa besar volume kekayaan alam 
dikomparasi dng investasi perangkat dan SDM penambangannya, atau juga seberapa 
sulit eksplorasi penambangan di suatu daerah. Saya contohkan eksplorasi 
penambangan gas di Siberia tidak segera dilakukan karena meski disana 
terkandung gas alam sangat besar tapi meng-eksplorasinya cukup sulit dan 
membutuhkan biaya besar.

Hitungan deviden dari freeport yg konon diminta oleh pemerintah Indonesia 
sekitar 6%, sebenarnya juga bukan tampak kecil, karena dalam masalah ini ada 
nilai umum atau nilai harga pasarannya. Indonesia dalam hal ini hanya punya 
modal wilayah saja, tapi jelas tidak ikut menanggung kerugian apabila terjadi 
kalkulasi dan lain sebagainya. 

Jadi, secara umum, kalau anda menyebut siapa sebenarnya yang paling 
diuntungkan, apakah kerajaan atau pemerintah belanda?, kalau dalam persepsi 
saya kerajaan lebih kolonialis, karena hanya menerima royalti tanpa punya 
kecerdasan riset dan development manajemen pengelolaan, investasi, dan beresiko 
menanggung kerugian investasi dan faktor faktor ekonomi bisnis lainya. Modus 
operandi yg sama juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini yg hanya 
menerima royalti saja seperti kerajaan nusantara di zaman kolonialisme

---

Abad telah berganti, menjadi era age of creativity, dimana era kecerdasan 
manusia yg paling menentukan. Apabila abad 20 adalah revolusi industry dan 
industry komoditas yang menjadi andalan, maka abad ini adalah abad kecerdasan 
dan creativity, produk kreativitas dan teknologi yg menjadi andalan.

Apple telah membuktikan sebagai perusahaan dng kapitalisasi terbesar di dunia 
dan top forbes, dikuasai oleh boss boss teknology

Namun era kolonialisme menjadi aneh, kebangkitan china tiongkok disebabkan oleh 
banyaknya design system teknologi amerika, yg dikerjakan atau dioutsource ke 
china tiongkok yg menjual harga buruh murah. Lahirnya Huawei, karena dulu Cisco 
membangun pabrik di china tiongkok. Dan setelah china tiongkok mengetahui 
teknologinya, maka mereka membuat produk teknologi router sendiri bermerek 
huawei, demikian juga dengan mobile phone, itu karena barat membangun pabrik 
teknologi di china tiongkok. Saat ini produk apple juga dimanufacture di china 
tiongkok untuk memanfaatkan infrastruktur dan buruh murahnya, sedangkan 
teknologinya didesain di silicon valley california.

Boleh dikatakan china tiongkok sebenarnya adalah penjiplak teknologi, dan 
miskin kreasi inovasi, mereka mampu memproduksi router, mobile phone, dan benda 
benda canggih, karena mereka dulu menawarkan jasa manufacture murah sehingga 
membuat barat memilih membangun pabrik perakitan atau memilih outsourcing di 
china tiongkok, dan lantas china tiongkok setelah tahu teknologinya, lantas 
menjiplaknya dan memproduksi sendiri dengan harga murah

Namun ada terobosan baru dari negeri Russia, negeri ini kaya akan SDA dan juga 
mempunyai kemampuan mumpuni dalam bidang teknologi. Membuat outsource teknologi 
ke negara lain mempunyai beberapa resiko:
1. Negara yg dioutsource kelak akan menjiplak teknologi dari masternya
2. Perbedaan system politik, dan tidak dibawah satu kendali satu system politik
3. Resiko dispute-nya kemungkinan besar, seperti apple dan samsung, atau Cisco 
dan Huawei

Negeri Russia mempunyai cara baru, mereka negeri yang sudah masuk ke WTO, 
artinya harus bersaing keras, ingin expand ekonomi-nya menjadi ekonomi kreative 
innovative daripada ekonomi raw material, maka sistem produksi mereka masih 
satu negara dan satu pemerintahan politik. Mereka memilih mendatangkan buruh 
immigran murah yang dinasionalisasi sbg warga negara russia, artinya juga akan 
mempunyai jaminan sosial dari negeri Russia

Sebenarnya immigran buruh tenaga kerja kasar dan murah yg mayoritas memang 
beragama islam, juga diuntungkan:
1. Di negaranya sendiri mereka pengangguran atau gajinya kecil, seperti TKI 
atau TKW Indonesia
2. Mereka juga mempunyai hak sosial di negeri Russia

Dengan system Russia yang ingin membangun industry hulu hilirnya, dan tidak 
memilih outsourcing ke negara lain, namun memilih mendatangkan buruh murah ke 
Russia maka keuntungannya banyak:

1. Pabrik industry tetap di russia, bukan di negara lain, artinya tidak mungkin 
ada peluang nasionalisasi oleh pihak yg di outsource
2. Pekerja industry dijadikan warga negara Russia, sehingga rahasia teknologi 
tetap terjamin, dan juga immigran diberi pemahaman/pendidikan untuk menjadi 
seorang patriot Russia

Sistem ekonomi dunia akan selalu berkembang dan berubah, dulu China Tiongkok 
dari negara komunis, mampu beradaptasi dengan sistem perdagangan bebas, yaitu 
melalui methode outsourcing, dan kini Russia yg bekas negeri komunis, lebih 
cerdas lagi dalam menghadapi tantangan zaman, mereka tidak menggunakan 
methodologi outsourcing, tapi justru tenaga buruhnya yang diimport atau yg 
didatangkan ke negeri Russia, dijadikan warga negara Russia, untuk kepentingan 
akselerasi ekonomi domestik dan global competition, dua negeri komunis ternyata 
jauh lebih cerdas, flexyble, adaptif, dan mampu menggabungkan dua ideologi-nya, 
yaitu sistem ideologi pasar yg terbuka, dan ideologi komunis yg tertutup 
(Russia yg tetap membangun basis industry-nya di negaranya sendiri dan tidak 
memilih outsourcing, dan memilih mendatangkan buruh, itu sebenarnya menunjukan 
bahwa ideologi komunis sbg modus produksi ekonomi mandiri dari hulu ke hilir, 
tidak ditinggalkan oleh negeri Russia)

Hail Vladimir Putin...

19|9-12...

@Ws...




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke