Gerhana Mata
Cerpen Djenar Maesa Ayu (dimuat di Kompas, 05/20/2007)
Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah 
dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak 
mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu 
untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan 
tanpa kekasih yang tak akan hadir.
Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu 
yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. 
Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak 
tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga 
listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap 
semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun 
tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah 
merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh 
kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu 
dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di 
hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin 
semuanya akhirnya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. 
Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari 
demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup 
semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan 
cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. 
Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya 
cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin 
mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang 
ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih 
bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari 
sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok 
penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir 
kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu 
hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya 
siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu 
meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi 
di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu 
akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu 
terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel 
yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata 
bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara 
lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya 
pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja 
dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia 
sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah 
kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar 
suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat 
terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata 
yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang 
berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting 
dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin 
kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman 
memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan 
mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti 
bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. 
Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? 
Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan 
saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. 
Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak 
menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa 
harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam 
cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi 
dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah 
pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu 
tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya 
sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya 
asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.
Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala 
siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus 
kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum 
bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya 
yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. 
Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah 
asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin 
mengulanginya kembali.
Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu 
konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. 
Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan 
durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang 
terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat 
saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan 
pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. 
Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin 
tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap 
menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin 
malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut 
saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan 
menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas 
terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi 
pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin?
Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. 
Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. 
Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa 
hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban 
karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah 
membutakan kami berdua.
Mungkin?
Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan 
saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan 
malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami 
yang tetap tak akan hadir.***
Jakarta, 2 Oktober 2006 11:06 AM

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke