Saya rasa Iran itu anomali dalam definisi negara Islam modern. Sangat bertolak belakang dengan yg dilakukan kaum Sunni. Meskipun Ahamdinejad tereak2 bunuh Israel, toh Yahudi tetep eksis di Iran lengkap dengan sinagognya dan memiliki wakil di parlemen. Kaum wanitanya meskipun berjilbab namun tidak lah seketat Sunni dengan membiarkan sebagian besar kepalanya keliatan. Disamping itu wanitanya bisa bekerja, bersekolah bahkan menjadi profesional. Inget lho, Iran itu bukan negara demokratik seperti Turki, tapi bener2 negara Islam. JAdi kalo ada kelompok "kolot" yg bikin peraturan2 yg memasung hak2 kaum wanita ya sangat wajar. Tapi secara keseluruhan, Iran much better lah dibanding negara2 Islam lainnya.
To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 26 Sep 2012 10:55:25 +0700 Subject: [Indonesia-Rising] Iran membatasi perempuan di bidang pendidikan Iran Batasi Mata Kuliah untuk Mahasiswi Iran mulai Sabtu (22/9/2012) menerapkan peraturan baru berisi larangan bagi mahasiswi mengambil hampir 80 mata kuliah, antara lain fisika nuklir, teknik komputer dan kesusateraan Inggris. Larangan mahasiswi menempuh hampir 80 mata kuliah itu diberlakukan di lebih dari 30 universitas di Iran bertepatan dengan permulaam tahun ajaran baru, Sabtu, 22 September. Pemerintah sejauh ini belum memberikan alasan resmi pembatasan mata kuliah bagi mahasiswi. Namun menurut pengacara hak asasi Iran yang pernah meraih Nobel Perdamaian, Shirin Ebadi, langkah itu ditempuh sebagai kebijakan untuk mengesampingkan kaum perempuan di bidang pendidikan. "Pemerintah Iran menggunakan segala macam inisiatif... untuk membatasi perempuan di bidang pendidikan, untuk mencegah mereka aktif dalam masyarakat, dan untuk mengembalikan mereka ke rumah," Shirin Ebadi. Pendidikan tinggiPendapat serupa juga diungkapkan oleh seorang mahasiswi Iran, Sarah, yang saat ini menempuh studi S2 di Inggris. "Saya pikir perempuan memegang peran besar di dalam masyarakat selama beberapa tahun terakhir dan dalam protes serta gerakan-gerakan lain. Yang saya maksud adalah perempuan turut serta di sana dan tampil menonjol. Mereka tidak takut, mereka mempunyai pengetahuan, bisa membuat analisa dan mengambil keputusan sendiri," tutur Sarah yang menekuni bidang fisika untuk jenjang strata 1 di Iran itu. Perempuan memainkan peran penting dalam gelombang protes menyusul pemilihan presiden tiga tahun lalu. Wartawan BBC Fariba Sahraei melaporkan bahwa Iran merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang mengizinkan perempuan mengecam pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Sejak Revolusi Islam tahun 1979 Iran berusaha mendorong lebih banyak perempuan masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Jurang antara pria dan perempuan di jenjang pendidikan tinggi tahap demi tahap berkurang. "Namun banyak pihak di Iran khawatir pembatasan baru ini bisa mengancam pencapaian selama ini," jelas Fariba Sahraei. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
