thanks Uda, bagus tulisan ZY...nanti saya akan buka posting sendiri ttg big bang, evolusi dlsb...
--- In [email protected], zhaoyun@... wrote: > > --- In proletar@y..., johny_indon@y... wrote: > > > > dan apa yang dia lakukan untuk kita tuh a_d_i_l ? > > > > apakah Tuhan memerlukan "rasa adil"? siapa sebetulnya > > yg menciptakan "kondisi adil" itu? manusia kan? > > adil nya manusia itu seperti apa sih? apakah kalau semua > > bisa beli baby benz itu adil? apakah kalau seseorang > > lahir dari perut seorang gelandangan dan yg lainnya > > lahir dari perut madonna maka itu disebut tidak adil? > > seringkali kita menuntut "keadilan" tapi sebenarnya > > kita tidak tau pasti seperti apa yg namanya keadilan itu. > > kenapa? karena keadilan ciptaan manusia itu relatif. > > (einstein mengatakan semua yg ada di semesta ini relatif). > > sedangkan keadilan Tuhan itu absolut (tidak ada bandingannya). > > yg menurut anda adil belum tentu adil menurut suku aborigin. > > jadi kalau menuntut keadilan Tuhan tetapi diukur dengan > > keadilan ciptaan manusia, ya jelas tidak bisa. ibarat mengukur > > suhu udara dengan timbangan badan :). > > jadi, jawaban dari pertanyaan anda itu: "ya", yg Dia lakukan > > adalah adil, menurut tolok ukurNya. > > > > ZY : > Jikalau kita tidak pernah tahu bagaimana 'tolok ukur' rasa adil si > Tuhan, bagaimana kita akan bisa menentukan bahwa tindakan kita akan > memuaskan atau mengecewakan dia ? > > Ini sebenarnya adalah pertanyaan filosofis yg bersifat enigmatik > dalam mempertanyakan siapa Tuhan dan bagaimana sifat-sifatnya. > > Disatu sisi kelihatannya salah mengatakan bahwa Tuhan punya nalar > kayak manusia (karena berkesan akan men'down grade' Tuhan itu > sendiri). > > Tapi disisi yg lain mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan adalah diluar > jangkauan nalar manusia juga tidak punya makna riil apa-apa. > > Bagaimana kita bisa tahu bahwa tindak-tanduk kita diberkati atau > disetujui oleh Tuhan jika kita tidak tahu seperti apa 'mau' dia ?? > > Lalu apa gunanya berdoa, bersujud, menyembah dan memuliakan nama > Tuhan, wong 'mau'nya dia tidak bisa dijangkau manusia kok ? > > > > > > Dan untuk apa kita diciptain sama dia? Hanya untuk mainan? Hanya > > > untuk tontonan? > > > > > Bagaimana dengan akar-akar dari semua itu? Ambil saja contoh - > > > dalam teori agama ada adam dan hawa - mengapa adam dijadikan adam > > > dan mengapa hawa dijadikan hawa? Atas dasar apa si tuhan > menentukan > > > hal ini? Apa tuhan sudah punya patokan-patokan khusus untuk > > > menentukan sesuatu, atau dia hanya > > > menentukannya seenak udel dia? > > > > pertanyaan2 semacam ini sangat wajar bagi orang yg tetap ingin > > menyetarakan daya nalarnya dengan "daya nalar" Tuhan. kalau anda > bisa > > menyadari bahwa daya nalar kita semua adalah *sangat terbatas*, > maka > > anda akan menyadari bahwa jawaban atas pertanyaan2 tersebut > > belum atau tidak akan bisa terjawab. ngga perlu jauh2 menanyakan > > eksistensi Tuhan lah. > > ZY : > Pertanyaan-pertanyaan diatas tidak cuma 'sangat wajar', tapi perlu !!. > > Tanpa pertanyaan-pertanyaan seperti itu, nalar manusia cuma dipatoki > sesuai dengan patok tertentu saja. > > Keyakinan bahwa nalar manusia adalah 'terbatas', merupakan ekspresi > rasa minder manusia. > > Lima ratus tahun yang lalu siapa yg mengira bahwa manusia bisa > menemukan pesawat terbang misalnya ? > > Jaman dulu, pesawat terbang cuma monopoli para Dewa (Gods). > > Hari ini siapapun bisa jadi 'Dewa yg bisa terbang' asal mampu beli > tiket. > > > > sebetulnya banyak pertanyaan sederhana > > yg "sepertinya bisa dijawab" tapi ternyata kita tidak/belum bisa > > menjawabnya. misalnya "benda apa yg paling besar di alam semesta > > ini?", "ada berapa jumlah galaksi?", dll. mengapa kita tidak > > bisa atau belum bisa menjawabnya? jawabannya: karena daya nalar > > kita terbatas! > > > > ZY : > Salah. > > Bukan karena daya nalar manusia 'terbatas', tapi manusia belum mampu > menembus 'dinding batas' tersebut saat ini. > > Ambil contoh simpel: > > Coba anda tulis bilangan 10 pangkat 10 pangkat 20. > Bisakah anda tuliskan bilangan tersebut secara manual dengan pakai > nol dibelakangnya ? > > Jelas tidak bisa, karena tidak ada seorangpun yg akan bisa. > > Bilangan 'maha besar' diatas akan punya nol lebih banyak dari seluruh > jumlah elektron di jagat raya. > > Tapi manusia telah menembus batas itu dengan menemukan matematika yg > memberikan manusia daya nalar untuk mengekspresikan bilangan maha > raksaksa tersebut dalam bentuk yg bisa dimengerti manusia umum. > > > > tapi, maaf atas kelancangan saya, saya coba jawab pertanyaan anda: > > > > "mainan" dan "tontonan" seperti yg anda katakan adalah term2 yang > > diciptakan manusia. apa definisi "mainan" dan "tontonan" itu > > sebenarnya? pernahkan anda merenungkannya? bukankah kita semua > > sekarang ini juga memang sedang "bermain" di dunia ini? > > dimana suatu saat kita akan dimasukkan kedalam "kotak mainan" > > oleh pemiliknya? :) > > kalaupun toh memang "ya" kita ini adalam "mainan", mengapa kita > > harus keberatan? kalau memang Tuhan ingin "menonton permainan" kita > > disini, apakah ini salah? apakah anda menjadi tidak mau > > percaya kepadaNya karena anda hanya 'sebuah mainan' bagiNya? > > kalau anda keberatan, anda pengennya jadi apa dong? > > diangkat jadi asistenNya? :) > > ZY : > Susah... > > Anda lebih terima dan 'happy' untuk menjadi sekedar 'mainan'. > > Kalau saya akan menolak untuk menjadi sekedar mainan : Saya adalah > pelaku dari kehidupan saya sendiri !! > > > > > menurut logika saya, ya, Dia pasti punya patokan2 khusus untuk > > menentukan sesuatu. kalau Dia menciptakan sesuatu "sembarangan" > > mungkin semesta ini sudah hancur sejak awal. hukum2 fisika yg > berlaku > > sejak semesta ini terbentuk, setahu saya, belum pernah berubah. > > proton, elektron, planet2, dll. orbitnya masih begitu2 juga. > > kecepatan cahaya masih segitu. kecepatan suara masih tetap. > > gravitasi bumi masih berlaku. tidak mungkin hal2 tersebut diciptakan > > dengan "sembarangan". pasti melalui proses yg "maha presisi". > > tidak mengenal standar deviasi (seperti halnya ciptaan manusia). > > tidak mengenal "umur pakai". tidak mengenal "masa aus". > > tetapi, sekali lagi, karena nalar kita terbatas, kita tidak > > tau kenapa adam dijadikan adam, dan hawa dijadikan hawa, dan > > kenapa hanya ada 2 jenis kelamin "resmi" (lol) untuk manusia > > di bumi ini. itu memang rahasiaNya. lagi pula...does it really > > matter??? :) > > > > sebenarnya untuk mempercayai adanya Sang Pencipta atau tidak, > > bukan dengan mempertanyakan sifat2Nya (karena percuma, kita ngga > > akan pernah ngerti dengan sifat2Nya, otak kita belum nyampe). > > tapi mulailah dari pertanyaan2 (yg sangat mendasar) berikut: > > > > 1. Bagaimana awal mula alam semesta dan kehidupan ini muncul > > (saya pakai istilah "muncul" bukan "tercipta", biar netral dulu :)). > > > > 2. Jika anda pikir alam semesta dan kehidupan ini muncul begitu > saja, > > apakah hal ini masuk akal anda? Apakah anda percaya dengan teori > > "kemunculan tiba2"? Apakah anda percaya suatu saat akan ada uang > > 1 milyar atau sebongkah batu di depan anda secara tiba2? > > > > 3.OK, ada teori big bang, dll. yg memberikan gambaran mulai > > terbentuknya ruang, waktu, benda 3 dimensi, dll.. > > bagaimana dengan "kehidupan"? apakah menurut anda atom2 > > yang tercipta itu mempunyai "kehendak" untuk bergabung satu > > sama lain sehingga membentuk tumbuhan, hewan, bakteri, > > virus, dll? menurut anda, apakah atom2 itu mempunyai "intelegensi" > > seperti itu? > > > > ZY : > Lho...kok tiba-tiba anda agak 'mundur teratur' oleh teori BB ?? > > Pertanyaan anda ini sebenarnya relevan, tapi agak terkesan meloncat. > > Tidak bisa kita 'ujug-ujug' tanya bagaimana alam semesta tercipta, > terus meloncat bagaimana kehidupan bisa tercipta. > > Kesemuanya melewati proses panjang dan penuh detil yg kompleks. > > Tidaklah mungkin meringkas sejarah dan obyektif jagat raya yg berusia > 14 milyar tahun dalam komentar yg pendek. > > Anda bisa bilang bahwa atom tidak punya 'intelegensia'? > Pernah nggak dengar percobaan split photon di fisika kuantum ? > > Sampai hari ini fisikawan yg paling hebatpun tidak bisa > menjelaskan 'behaviour' si photon yg seperti hantu dan tidak bisa > diprediksi secara tepat. > > Tapi apakah dengan demikian apakah kita akan bilang bahwa si photon > adalah lebih 'cerdas' dari manusia ? > > > > > > "jika neraka tidak ada, saya tidak rugi sudah percaya Tuhan, > > > > tapi jika ternyata ADA, anda yg tidak percaya Tuhan tidak > > > > punya kesempatan kedua". kalau tidak salah yg ngomong ini adalah > > > > Thomas Alva Edison (CMIIW). > > > > > > Saya ambil resiko itu :) > > > > sebetulnya saya pribadi mempercayai eksistensi Tuhan bukan karena > > Dia "menjanjikan" neraka atau surga. tapi karena saya tidak percaya > > semesta ini muncul "just like that". kecuali ada yg bisa membuktikan > > bahwa atom, yg sejauh ini diketahui sebagai bahan dasar pembentuk > > materi, mempunyai intelegensi untuk membentuk > > wujud "manusia", "tumbuhan", dll. :) > > btw, saya juga membutuhkan jawaban2 atas pertanyaan2 saya tersebut. > > jika jawabannya memuaskan saya, mungkin saya juga akan ambil > > risiko itu :). > > ZY : > Komentar Thomas Edison menunjukkan bahwa manusia sangat cerdas > mengartikulasikan bahasa diotaknya. > > Tapi saya bisa sangkal pernyataan Thomas Edison tersebut, dengan > mengatakan : kenapa tidak ambil kesempatan ketiga, keempat, kelima > dan seterusnya dengan cara memeluk Islam, Katolik, Judaisme, Hindu, > atawa Budhisme sekaligus , toh kesempatannya jadi lebih bagus ? > > BTW, > sejauh yg iptek bisa menelusur dan membuktikan, kelihatannya sangat > mungkin bahwa bentuk kehidupan awal (setidaknya yg di Bumi) memang > muncul sendiri tanpa campur tangan siapapun - termasuk Tuhan. > > Saya bisa memberikan sedikit argumentasi ngilmiah , tapi masih > terlalu panjang (dan bakal membosankan) jika diutarakan disini. > > Salam, > ZHAO YUN > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
