http://id.berita.yahoo.com/pengakuan-anwar-congo-algojo-di-masa-pki-1965-232510883.html
Pengakuan Anwar Congo, Algojo di Masa PKI 1965 
TEMPO.CO – 14 jam yang lalu
  a.. Lihat Foto 
  a.. Burhan Kampak, Jagal Pemburu PKI

TEMPO.CO, Jakarta- Untuk pertama kalinya dalam sejarah film Indonesia, sebuah 
film dokumenter menampilkan pengakuan seorang algojo PKI. Namanya Anwar Congo. 
Ia preman bioskop Medan. Dalam film The Act of Killing yang dibesut sutradara 
Joshua Oppenheimer itu, ia memperagakan ulang kekerasan-kekerasan yang pernah 
dilakukannya. 
Film itu menampilkan kesadaran Anwar tentang bagaimana menjadi seorang pembunuh 
dan bagaimana seandainya menjadi korban yang dibunuh. Saat The Act of Killing 
diputar di Festival Film Toronto, pers Barat menyebut film itu mengerikan dan 
mengguncang batin. Itu karena Anwar tampak bangga dengan tindakannya. Bisakah 
film ini mengubah cara pandang masyarakat Indonesia tentang sejarah kelam 1965? 
Laporan utama majalah Tempo edisi 1 Oktober 2011 berjudul "Pengakuan Algojo 
1965" mengungkap hal tersebut.

Pembawaannya riang. Ia dikenal jago dansa. Penggemar Elvis Presley dan James 
Dean itu mengatakan sering membunuh sembari menari cha-cha. "Saya menghabisi 
orang PKI dengan gembira," katanya. Dalam sebuah adegan, bersama rekannya 
sesama algojo 1965, ia terlihat naik mobil terbuka menyusuri jalan-jalan di 
Medan. Mereka bernostalgia ke tempat-tempat mereka pernah membunuh di antaranya 
sepotong jalan tempat ia menyembelih banyak warga keturunan Tionghoa. "Setiap 
ketemu Cina, langsung saya tikam…."

Pengakuan "jujur" preman bernama Anwar Congo dalam film yang bakal ditayangkan 
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta pada Oktober tahun ini tersebut 
bisa membuat siapa saja terperangah. Ada heroisme di situ. Anwar mengesankan 
dirinya penyelamat bangsa. Satu versi menyebutkan hampir satu juta orang PKI 
terbunuh pasca-1965. Ini pelanggaran hak asasi berat. Anwar hanyalah salah satu 
pelaku pembunuhan. Di berbagai daerah, masih banyak "Anwar" lain.

Tempo kali ini mencoba melihat peristiwa 1965 dari perspektif para algojo. Tak 
ada niat kami membuka aib atau menyudutkan para pelaku. Politik Indonesia pada 
masa itu sangat kompleks. Menjelang tragedi September, konflik PKI dan partai 
politik lain memanas. PKI, yang merasa di atas angin, menekan penduduk yang 
tidak sealiran. Ketika keadaan berbalik, luapan pembalasan tak terkendali. 
Pembunuhan direstui oleh sesepuh masyarakat dan tokoh agama. Masa 1965-1966 tak 
bisa dinilai dengan norma dan nilai-nilai masa kini. Membaca sejarah kelam 
Indonesia pada masa itu hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan konteks 
sosial-politik-ekonomi pada masa itu pula.

Tapi kita juga tahu betapa tak simetris informasi tentang tragedi 1965. Saat 
itu, semua koran dikuasai militer. Masyarakat dicekoki cerita bahwa komunis 
adalah musuh negara yang identik dengan ateisme. Militer menyebarkan daftar 
anggota PKI yang harus dihabisi. Militer melindungi para pelaku, bahkan 
menyuplai mereka dengan senjata. Di beberapa tempat, ada narapidana yang 
sengaja dilepaskan untuk memburu "sang musuh negara". Itu membuat para algojo 
menganggap wajar tindakan mereka.

Sejarah berulang: di sini dan di tempat lain. Di Israel, pernah seorang aparat 
kamp konsentrasi Nazi bernama Adolph Eichmann diadili. Ia pelaku pembantaian 
ratusan orang Yahudi. Ia merasa tak bersalah karena menganggap itu tugas 
negara. Filsuf Jerman, Hannah Arendt, yang mengamati sidang itu pada 1963, 
menulis buku terkenal Eichmann in Jerusalem: A Report of the Banality of Evil. 
Arendt melihat para eksekutor seperti Eichmann bukan pengidap skizofrenia atau 
psikopat, melainkan warga biasa yang menganggap wajar tindakannya karena 
dibenarkan negara. Arendt menyebut fenomena ini sebagai kedangkalan yang akut.

Seorang algojo menyatakan moralitas itu sesuatu yang relatif. Pembunuhan memang 
dilarang, tapi harus dilakukan untuk menyelamatkan bangsa dan agama. Ada pula 
yang diam-diam menyadari kesalahannya. Anwar, yang dalam film terlihat brutal, 
mengalami pergolakan batin tentang apa yang diperbuatnya. Menurut Oppenheimer, 
sang sutradara, sepanjang pembuatan film, Anwar ada kalanya seperti menyesali 
perbuatannya. Rasa heroik dan bersalah bersitegang di dalam diri mantan algojo. 
Seorang mantan jagal harus dipasung keluarganya karena, bila mengingat-ingat 
pembunuhan yang dilakukannya, ia ke luar rumah mengayun-ayunkan parang dan 
celurit


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke