http://www.shnews.co/detile-8643-2-juta-buruh-ancam-mogok—.html
2 Juta Buruh Ancam Mogok Jonder Sihotang | Senin, 01 Oktober 2012 - 16:14:30 WIB (dok/antara) Apindo ajak dialog. JAKARTA – Ancaman mogok buruh pada 3 Oktober mendatang tetap dilaksanakan. Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) memastikan sedikitnya 2 juta buruh akan mogok kerja secara nasional. Di Bekasi, sedikitnya 750.000 buruh pabrik berencana mogok dan menggelar aksi di sekitar kawasan industri besar, termasuk di zona-zona industri. Menyikapi rencana itu, Ketua Dewan Pengurus Nasional Apindo, Anton J Supit kepada SH mengajak kalangan serikat pekerja/buruh segera berdialog. Apindo menilai aksi mogok tidak perlu terjadi jika kalangan serikat pekerja/buruh mau menempuh pendekatan dialog secara bipartit terlebih dahulu. Keterangan yang diperoleh SH, Senin (1/10) pagi ini, sekitar 750.000 buruh pabrik di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menggelar aksi mogok dengan tidak datang ke Jakarta. Namun, mereka menggelar aksinya di tujuh kawasan industri besar di sana termasuk di zona-zona industri di luar kawasan industri besar itu. “Kami tidak unjuk rasa di Jakarta karena tidak efektif. Kami mogok di wilayah kami masing-masing,” kata Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSMPI) Kabupaten Bekasi, Obon Tabroni ketika dihubungi SH pagi ini. Hal senada juga dilontarkan Kordinator Forum Komunikasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FK-SPSI) Kabupaten Bekasi, Teguh Maianto. Ditanya tuntutan buruh, baik Obon Tabroni dan Teguh Maianto mengakui, pihaknya melayangkan tiga tuntutan. Pertama, mendesak pemerintah menghapuskan sistem kontrak atau outsourcing. Kedua, menolak pembayaran upah murah; dan ketiga, kepesertaan tenaga kerja dalam sistem Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Obon menjelaskan, upah buruh di Indonesia sangat murah. Kendati sudah ada aturan mengenai Upah Minimum Kota (UMK), bahkan Upah Minimum Provinsi (UMP), besaran upah sangat tidak sesuai dengan kebutuhan hidup layak (KHL). UMK yang ada saat ini seperti Kabupaten Bekasi hanya cukup untuk seorang pekerja bujangan. Sementara kaum buruh sudah mempunyai tanggungan keluarga. Sistem outsourcing ini, sebenarnya sudah sejak lama diprotes kaum pekerja dalam beberapa tahun terakhir di setiap peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei atau May Day. Namun, pemerintah dan instansi terkai tidak pernah menanggapi. Keberpihakan pemerintah untuk buruh sangat kecil, sedangkan tenaga buruh diperas pengusaha. Mengenai kepesertaan tenaga kerja dalam sistem Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), Obon menambahkan, pekerja sebagian besar tidak ada jaminan sosialnya. Teguh menambahkan, aksi mogok massal ini tidak hanya dilakukan di kalangan serikat pekerja FSPMI dan FK SPISI. Namun semua elemen atau serikat buruh juga melakukan aksi serupa sebagai keprihatinan terkait nasib buruh Indonesia. Aksi itu bisa saja berlanjut dan tidak hanya satu hari. “Nanti kita lihat kondisi di lapangan,” katanya. Aksi serupa mogok buruh juga bakal terjadi di Tangerang. Ketua Aliansi Buruh Tangerang Raya, Poniman mengatakan, 50.000 buruh se-Tangerang Raya akan turun ke jalan dan bergabung dengan buruh se-Jabodetabek di Jakarta," ujar dia. Namun, Poniman belum bisa memastikan apakah seluruh buruh yang akan turun difokuskan menggelar aksi di Jakarta atau dibagi di wilayah di Tangerang. Sebelumnya, Kordinator Aliansi Buruh Tangerang, Dedi Sudrajat juga mengumandangkan hal serupa. Menurutnya, pemerintah pusat harus menghapus undang undang yang mengatur sistem buruh kontrak. Itu karena sistem kerja itu tidak berpihak dan cenderung menyengsarakan kaum buruh. “Aturan kerja kontrak, politik upah murah, dan berbagai peraturan yang merugikan buruh harus segera dihapuskan. Itu sudah harga mati. Kami akan kembali turun ke jalan dengan massa yang jauh lebih besar pada 3 Oktober mendatang,” ujarnya. Presedium MPBI, Said Iqbal kepada SH memastikan akan tetap menggelar aksi mogok kerja nasional yang akan diikuti 2 juta buruh pada 3 Oktober mendatang. Ia menyatakan, aksi mogok kerja nasional pada 3 Oktober tersebut akan dilakukan secara serempak di lebih dari 21 kabupaten dan kota padat industri di seluruh Indonesia. Said menambahkan, rencana aksi mogok nasional kali ini bukan sekadar gertakan atau isapan jempol belaka. Pikirkan Kerugian Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) Apindo, Anton J Supit kepada SH mengatakan, pihaknya menghargai kalau mogok karena hal itu adalah hak buruh. Namun, diingatkan agar cara-cara seperti itu tidak terus dipakai. ”Alangkah baik kalau kita bisa berdialog terlebih dahulu, sebab kalau sampai mogok kerja akan banyak pihak yang dirugikan," katanya. Menurutnya, Apindo meragukan kalau aksi mogok kerja nasional tersebut murni berasal dari gerakan pekerja dan buruh secara keseluruhan. "Jika melihat aksi-aksi sebelumnya, sebenarnya lebih banyak buruh yang memilih untuk tetap bekerja, namun lantaran di-sweeping hingga ke pabrik-pabrik mereka terpaksa ikut-ikutan mogok. Jangan hanya karena keinginan 1 persen golongan buruh harus mengorbankan kepentingan 99 persen lainnya," ujarnya. Anton menambahkan, Apindo merasa bingung harus mendengar aspirasi dari serikat pekerja/buruh yang mana karena masing-masing punya suara dan sikap yang berbeda-beda. "Di Indonesia serikat pekerja/buruh terlalu banyak, jadi kita sendiri bingung mana yang suaranya paling representatif dan keputusannya bisa diterima dan dipatuhi oleh seluruh pekerja/buruh di Indonesia," tukasnya. Ia juga mengeluhkan iklim ketenagakerjaan di Indonesia yang cenderung memberatkan kalangan pelaku usaha maupun investor yang telah menanamkan modalnya di dalam negeri. Diungkapkannya, marjin kotor yang bisa dinikmati kalangan pengusaha di Indonesia maksimal hanya sebesar 20 persen sebelum dipotong biaya energi dan pembayaran bunga bank. Adapun sisanya sebesar 75 persen sudah habis dipakai untuk membayar upah tenaga kerja sebesar 25 persen dan biaya material sebesar 55 persen. “Kalau tidak karena nasionalisme mungkin kita sudah hengkang dari Indonesia. Sekalipun bertahan kita lebih baik menjadi importir produk-produk jadi," kata dia.(Parluhutan Gultom/Moh Ridwa [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
