Ref: Rekonsiliasi pasti sulit, karena NKRI bukan negara kafir, kalau negara 
kafir bisa diselesaikan, lihat contohnya pada Afrika Selatan dan begitu juga 
negera-negara Amerika Tengah dan Amerika selatan, diselesaikan dan kepada 
korban diberikan kompensasi. 


http://www.shnews.co/detile-8641-rekonsiliasi-harus-diawali-pengakuan-perbuatan-.html


Rekonsiliasi Harus Diawali Pengakuan Perbuatan 
Ruhut Ambarita | Senin, 01 Oktober 2012 - 16:02:21 WIB

: 52 

(dok/antara)
Penyatuan seluruh pihak yang terlibat konflik memang tidak mudah.


JAKARTA – Rekonsiliasi merupakan solusi yang bisa ditempuh untuk 
"menyelesaikan" konflik masa lalu, termasuk tragedi kemanusiaan yang terjadi 
sepanjang 1965-1966. 

Ada sejumlah prasyarat yang minimal harus dilalui sebelum mencapai 
rekonsiliasi. Salah satunya adalah pengakuan dari pelaku atas perbuatan yang 
dilakukan pada masa lalu. 

Hal ini dikatakan oleh Ilham Aidit, salah satu pegiat Forum Silaturahmi Anak 
Bangsa (FSAB) yang juga putra dari Ketua Partai Komunis Indonesia Dipa 
Nusantara Aidit, kepada SH, Senin (1/10). 

Selain pengakuan dari pelaku, prasayarat lainnya adalah perlunya pelurusan 
sejarah agar publik mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, sebelum negara 
menyatakan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan pada masa 
lalu. Ilham mengatakan, ketiga faktor itu penting dilalui sebelum negara 
menyatakan permintaan maaf dan melakukan rehabilitasi. 

Ia menjelaskan, permintaan maaf dari negara kepada keluarga korban atas 
peristiwa masa lalu hanya akan sia-sia jika tidak ada pengakuan dari para 
pelaku. "Pemaafan itu harus jelas dulu duduk persoalannya, baru rekonsiliasi 
menjadi bermanfaat," ungkapnya. 

Hingga kini, kata Ilham, keluarga korban menanti janji-janji yang disampaikan 
pemerintah soal peristiwa masa lalu. Menurutnya, saat ini bukan lagi bicara 
soal kemauan politik untuk menyelesaikan persoalan masa lalu, tetapi langkah 
politik yang konkret dari pemerintah. 

Pegiat FSAB lainnya, Letnan Jenderal Purnawirawan Agus Widjojo mengatakan, 
peristiwa pada 1965 telah memecah-belah bangsa Indonesia ke dalam rasa dendam 
dan stigmatisasi. Kedua hal tersebut, kata Agus, telah melekat dalam ingatan 
pada hampir seluruh anak bangsa. Namun, kata Agus, sudah saatnya berhenti 
membelenggu posisi Indonesia saat ini dalam peristiwa masa lalu. 

"Kita harus mengambil jarak dari peristiwa itu dan mengambil refleksi. Kita 
harus melihat Indonesia dari tahun 2012, sehingga kita bisa melihat dengan 
lebih jernih untuk memetik kesalahan dari masa lalu," kata putra Mayor Jenderal 
Anumerta Sutoyo, salah satu korban kejadian 30 September 1965, ini. 

Hal senada disampaikan Amelia Yani, putri Jenderal Anumerta Ahmad Yani. 
Menurutnya, segelintir anak bangsa yang terus-menerus memelihara stigma harus 
belajar dari sikap yang diambil oleh keluarga pelaku dan korban yang tergabung 
dalam FSAB. "Saya tidak boleh mewarisi konflik masa lalu, tidak boleh lagi. 
Kita tidak boleh lagi membuat konflik baru," ungkapnya. 

Ilham mengatakan, bangsa Indonesia semestinya melihat peristiwa masa lalu 
secara menyeluruh. Ia meminta jangan hanya melihat satu peristiwa yang terjadi 
pada 30 September, di mana enam jenderal, empat perwira TNI Angkatan Darat, dan 
anak perempuan berusia lima tahun meninggal dunia. Setelah peristiwa itu, kata 
Ilham, terjadi pembunuhan, pemenjaraan, dan penyiksaan terhadap jutaan orang 
yang dituduh, tanpa pernah dibuktikan, memiliki kaitan dengan PKI, organisasi 
yang dituduh terlibat pada malam 30 September. Belasan ribu orang dikucilkan ke 
pulau terpencil, begitu pula ratusan warga Indonesia yang dilarang kembali ke 
Tanah Air. 

Tidak hanya itu, putra dari Ketua Komite Sentral PKI Dipa Nusantara Aidit ini 
menambahkan, diskriminasi yang dilakukan Presiden Soeharto terhadap keluarga 
yang mendapatkan stigma komunis berlangsung hingga puluhan tahun lamanya. 
"Namun, saya tidak pernah menyimpan dendam dengan anak-anak Soeharto," ujarnya. 

Menyatukan seluruh pihak yang memiliki kaitan dengan peristiwa masa lalu, 
diakui Amelia, bukan pekerjaan mudah. Namun, kata dia, proses itu harus 
terus-menerus dilakukan agar rekonsiliasi bisa tercapai, di antaranya melalui 
pendekatan kultural. Amelia mengatakan, jangan sampai peristiwa masa lalu 
menghambat tercapai rekonsiliasi. "Rekonsiliasi harus tercapai," ujarnya. 

Upacara 

Sementara itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini memimpin upacara 
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti. Upacara 
dihadiri oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Budiono dan ibu jajaran 
Kabinet Indonesia Bersatu II, perwakilan negara sahabat serta keluarga Pahlawan 
Revolusi. 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Direktorat Jenderal 
Kebudayaan selaku penanggung jawab kegiatan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 
mengangkat tema “Kesaktian Pancasila Tonggak Negara Paripurna”. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, peringatan Hari 
Kesaktian Pancasila mutlak tetap dilaksanakan untuk tetap mempertahankan 
Pancasila sebagai ideologi negara. Nilai-nilai Pancasila harus tetap 
diinternalisasi oleh setiap rakyat Indonesia. 

"Ideologi negara yang sudah dirumuskan pendiri negara kita harus dipertahankan 
dengan cara melakukan internalisasi nilai," kata Mendikbud usai upacara. 

Sejumlah pejabat tinggi negara hadir di lokasi upacara pagi ini, di antaranya 
adalah Ketua MK Mahfud MD, Ketua MPR Taufiq Kiemas, Ketua BPK Menko Polhukam 
Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mentan Sarwono, Menkeu Agus 
Martowardoyo, dan Mendagri Gamawan Fauzi. Naomi Siagian


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke