Woalah padahal FDA lebih fokus ke produk import yg dikatakan berbahaya,
From: "jt2x00" <[email protected]> Tampaknya Amerika memang sedang kualat, sebagai hukum karma atas perbuatan mereka yang se-wenang2 dan kampiun dalam urusan kadalisasi terhadap negara2 lain. Kasus ekonomi yang terpuruk akibat serbuan barang murah dari China, sampai sekarang belum jelas, apakah kasus tsb akan mampu diatasi oleh Amerika atau akhirnya Amerika harus nyerah kepada China. Tapi ikut campurnya presiden dalam perjanjian business B to B dengan pihak China, menunjukkan bahwa Amerika sudah semakin terpuruk. Ini merupakan indikasi bahwa dominasi China dalam perekonomian Amerika sudah semakin dalam. Sekarang muncul lagi kasus baru dalam bidang pertanian sebagai akibat dari penggunaan pestisida dan insektisida, yaitu munculnya hama tanaman yang kebal terhadap herbisida yang biasa digunakan, sehingga memaksa mereka harus menggunakan herbisida yang lebih berbahaya lagi. Jelas ini ada titik jenuhnya, dan suatu saat bahan2 kimia berbahaya tsb akan menjadi senjata makan tuan bagi mereka sendiri. Tentu saja, kedelai dan jagung yang selama ini menjadi andalan mereka, tidak akan ada lagi yang mau membeli. Jelas ini akan memperburuk kondisi ekonomi yang sedang terpuruk. Oleh karena itu orang Indonesia harus mulai berusaha menanam kedelai dan jagung sendiri sejak sekarang, daripada memakan kedelai dan jagung beracun dari Amerika. Tampaknya tidak hanya ini saja yang akan menjadi senjata makan tuan, masih banyak lagi kasus2 lain yang akan meledak karena sudah mencapai titik jenuh. Siapa tahu tidak lama lagi akan muncul kemurkaan alam, misalnya gempa bumi dan tsunami yang sangat dahsyat, sehingga pusat2 reaktor nuklir dan gudang penyimpanan senjata nuclear mereka meledak. Tak terbayang akibatnya bagi Amerika kalau sampai ini terjadi. Semoga mereka cepat sadar akan semua tindakan "kadalisasi" serta kebohongan2 dan rekayasa ke negara2 lain yang ingin dikuasainya selama ini, terutama kepada Indonesia. Selanjutnya silakan baca sendiri. Salam JT -------------- Penggunaan Pestisida Meningkat Saat Teknologi Rekayasa Genetis Gagal Oleh Carey Gillam | Reuters - Senin, 1 Oktober 2012 Penelitian terbaru menunjukkan, petani AS menggunakan pestisida yang lebih berbahaya untuk melawan rumput liar dan serangga akibat teknologi rekayasa genetika pada tanaman yang menghasilkan "rumput liar super" dan serangga yang sukar dibasmi. Tanaman hasil rekayasa genetika menyebabkan peningkatan penggunaan pestisida sebesar 404 juta pon (180 juta kg), sejak tanaman tersebut diperkenalkan mulai dari 1996-2011, menurut laporan Charles Benbrok, profesor dari Center for Sustaining Agriculture and Natural Resources di Washington State University. Dari total tersebut, dalam 16 tahun terakhir, penggunaan herbisida meningkat 527 juta pon dan insektisida menurun 123 juta pon. Makalah Benbrook - yang diterbitkan dalam jurnal "Environmental Sciences Europe" - menekankan pentingnya tanaman yang tahan herbisida dan tahan serangga, yang mempermudah petani membasmi rumput liar dan menjaga tanaman dari hama. Tanaman yang tahan herbisida dibuat oleh Monsanto co. pada 1996. Produk pertamanya adalah kedelai, 'Roundup Ready', jagung, kapas, dan tanaman-tanaman lainnya. Tanaman Roundup Ready diciptakan untuk tahan terhadap herbisida buatan Mosanto, 'Roundup'. Tanaman tersebut menjadi favorit karena mempermudah petani membasmi rumput liar tanpa merusak tanaman. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 2 lusin spesies rumput menjadi tahan terhadap bahan utama Roundup, glyphosate, menyebabkan petani menambah penggunaan glyphosate dan bahan kimia antirumput untuk mengatasi "rumput liar super". "Rumput yang resisten menjadi masalah besar bagi petani yang mengandalkan tanaman rekayasa genetik, dan membuat mereka menambah jumlah herbisida sekita 25 persen setiap tahun." ujar Benbrook. Perwakilan Monsanto tidak langsung memberi komentar. "Kami memperhatikan masalah tersebut. Para ahli kami belum bisa mendapat data yang relevan," ujar juru bicara Monsanto, Thomas Helscher. Benbrook mengatakan, meningkatnya penggunaan herbisida tahunan, yang diperlukan untuk menghadapi rumput liar yang tumbuh pada tanaman rekayasa genetik, meningkat dari 1,5 juta pon pada 1999 menjadi 90 juta pon pada 2011. Hal serupa juga terjadi pada perkenalan jagung dan tanaman kapas 'Bt' yang dirancang untuk menjadi racun pada serangga tertentu, juga memicu munculnya serangga yang tahan terhadap antihama itu, menurut Benbrook. Penggunaan insektisida memang menurun ( sebesar 28 persen dari 1996-2011) tapi sekarang kembali meningkat, ujar Benbrook. "Peningkatan kemunculan dan penyebaran serangga yang tahan terhadap racun Bt yang terdapat pada jagung dan kapas Bt membuat penggunaan insektisida meningkat, dan akan terus begitu," ujarnya. Tanaman yang tahan herbisida dan rekayasa Bt mendominasi tanaman pertanian AS, dengan perbandingan satu disetiap dua hektar tanaman, dan sekitar 95 persen kedelai dan kapas, sekitar 85 persen jagung. "Keadaan menjadi lebih buruk", ujar Benbrook dalam sebuah wawancara. "Untuk menghadapi rumput yang resisten, petani menggunakan herbisida lama yang lebih berisiko. Untuk menghentikan serangga jagung dan kapas menjadi resisten terhadap Bt, petani yang menanam tanaman Bt terpaksa menggunakan insektisida yang seharusnya digantikan oleh penggunaan jagung dan kapas Bt." ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
