http://www.kesimpulan.com/2012/05/berpikir-analitis-mengikis-keyakinan.html

Berlangganan
Jumat, 04 Mei 2012
Berpikir Analitis Mengikis Keyakinan Tuhan
News KeSimpulan.com - Charles Darwin dan Albert Einstein terkenal tidak percaya 
pada dewa/tuhan yang supranatural, seperti halnya para ilmuwan pada hari ini.

Sebagian besar orang percaya pada dewa/tuhan supranatural. Namun ada jutaan 
orang non dewa dan agnostik. Sementara para ilmuwan telah mulai menekuni sains 
agama, kita tahu sedikit tentang apa yang menyebabkan percaya. Sekarang muncul 
alasan bahwa berpikir analitis meredupkan keyakinan supranatural dengan 
memblokir proses berpikir intuitif.

Will Gervais dan Ara Norenzayan, psikolog University of British Columbia di 
Vancouver, mencoba memecah kebuntuan.

Sebuah studi yang mengkaitkan kausalitas variabel percaya agama dengan variabel 
berpikir analitis.

Laporan di Science menawarkan bukti empiris ketika orang terlibat dalam 
berpikir analitis, mereka cenderung mengikis keyakinan agama.

Orang yang malas menjelaskan fenomena alam cenderung jatuh pada penjelasan 
supranatural

Dengan kata lain, semakin Anda cenderung mngatasi masalah dengan lebih berpikir 
daripada mengandalkan insting, semakin kecil kemungkinan Anda untuk menyerahkan 
masalah pada lembaga supernatural.

Jelas bahwa nilai keyakinan agama secara inheren tidak rasional. Tapi jujur 
tidak akan mencegah beberapa penganut non agama menyatakan bahwa penelitian ini 
menunjukkan bahwa agama adalah hasil dari penalaran yang buruk. Dalam pandangan 
ekstrem apapun juga berlaku terbalik bahwa agama merupakan musuh nyata ketika 
mendidik berpikir analitis.

Ini studi berharga. Bagaimanapun sulit menundukkan keyakinan agama untuk tes 
ilmiah. Penting bahwa kita berusaha untuk melakukannya, sedikit untuk memahami 
bagaimana dan mengapa agama dapat mempromosikan kebodohan, kefanatikan dan 
konflik.

Masalahnya hampir tidak mungkin untuk merancang penyelidikan atas 'keyakinan 
agama' karena begitu banyak bentuk yang koheren dan konsistensi prinsip bahkan 
pada individu tertentu. Hal ini seperti mencoba untuk mempelajari apa yang 
membuat orang nampak 'artistik' dengan atribut orang suci.

Manusia menggunakan dua sistem kognitif terpisah untuk memproses informasi 
yaitu proses yang cepat (emosional dan intuitif) dan proses lambat (analitis). 
Sistem pertama adalah bawaan dalam kepribadian atau mental yang mengarahkan 
pada keyakinan dewa/tuhan supernatural.

Orang yang lebih mengandalkan pemikiran intuitif menjadi lebih mungkin percaya 
perdewaan, sedangkan orang yang lebih analitis cenderung sebaliknya. Ini tidak 
selalu berarti berpikir analitis menyebabkan tidak percaya, tetapi aktif 
berpikir analitis dapat menimpa sistem intuitif, dan sebaliknya.

Gervais dan Norenzayan menggunakan ini untuk menguji hubungan kausal dengan 
meminta 93 mahasiswa untuk menilai keyakinan mereka sendiri pada dewa/tuhan dan 
agen supranatural lainnya seperti malaikat. Beberapa minggu kemudian, mereka 
menjalani "priming" untuk berpikir analitis. Kelompok kontrol diberi tugas 
kurang analitis.

Norenzayan dan Gervais kemudian meminta untuk menilai kembali keyakinan 
supranatural mereka yang telah terkena priming analitis secara konsisten 
menurunkan kepercayaan supranatural terlepas dari tingkat keyakinan sebelumnya. 
Tes ini juga berlaku pada untuk 148 orang dewasa lainnya.

"Kebiasaan berpikir analitis bisa menjadi salah satu alasan para ilmuwan 
cenderung non agamis," kata Norenzayan.

Paparan ilmiah dapat mengikis kepercayaan, tidak hanya melalui temuan seperti 
evolusi. Orang malas menjelaskan fenomena alam cenderung jatuh pada penjelasan 
supranatural. Namun demikian Norenzayan memperingatkan bahwa proses tidak 
sederhana, berpikir analitis tidak langsung sekuler.

Gervais dan Norenzayan melihat agama sebagai tradisi literalis yaitu aspek gaya 
hidup yang diwujudkan dalam kebanyakan budaya, tetapi hampir tidak menyentuh 
agama seperti yang diartikulasikan para intelektual terkemuka seperti Thomas 
Aquinas, David Hume, Immanuel Kant dan George Berkeley.

"Banyak hal yang mempromosikan keyakinan agama, seperti ketakutan akan 
kematian, faktor lain yang melanggengkan supranaturalisme," kata Norenzayan.

    Will M. Gervais dan Ara Norenzayan (University of British Columbia, 
Vancouver, BC V6T1Z4, Canada). Analytic Thinking Promotes Religious Disbelief. 
Science 27 April 2012: Vol.336 no.6080 pp.493-496, DOI:10.1126/science.1215647
    Adam L. Alter et.al. Overcoming intuition: Metacognitive difficulty 
activates analytic reasoning. Journal of Experimental Psychology: General, Vol 
136(4), Nov 2007, 569-576, DOI:10.1037/0096-3445.136.4.569






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke