mong-omong, itulah watak asli bangsa kita, suka menolong terutama di saat terjadi musibah atau kecelakaan.
Apapun profesinya, sifat suka menolong memang tumbuh di masyarakat kita. Termasuk di kalangan anggota militer yang menurut si parno uplik kerjanya cuma membunuh. Di kalangan fotografer hal ini juga berlaku dengan sendirinya (gk ada di kode etik), walau kadang harus liat-liat situasi lebih dulu. Ambil contoh foto mahasiswi terkapar tadi. Di tengah situasi kacau yang penuh bahaya itu toh js memutuskan untuk lebih dulu mengambil gambar. Sebab, bagaimanapun, dalam peristiwa kacau yang berlangsung serba cepat js harus berpikir dua-tiga kali lebih cepat dari peristiwa untuk memutuskan tindakannya. Apakah js saat itu kehilangan nuraninya? Kemanusiaannya? Sudah pasti enggak. Jelas enggak. Barangkali cuma sengaja ditutup setelah dalam sepersekian detik kepalanya mengolah ribuan data & informasi tentang apa yang terjadi di depan mata dan bagaimana dia bisa sampai di tempat itu. Persis. Apa yang ada di kepala js hari-hari itu adalah kehadirannya di tengah sejarah perubahan besar. Dengan kerangka inilah dia berkeliaran ke sana-sini berbuat sesuatu untuk masadepan. Sekarang, kita dan generasi mendatang bisa dengan gampang memahami kayak apa kerasnya situasi '98 hanya dengan melihat foto-foto peristiwanya. Kita juga bisa tau saat itu ada mahasiswi yang terkapar sendirian di aspal dengan mata mendelik di tengah simpang-siurnya sepatu lars tentara. Bukan rahasia lagi bahwa di kalangan tukang potrek split moment itu juga berlaku dalam urusan makan :) Nggak terkecuali tukang potrek keliling di tempat-tempat wisata. --- "rezameutia" <rezameutia@...> wrote: > mong ngomong, > > gambar di buku js pada saat 'tragedi trisakti', seorang mahasiswi > trisakti tergeletak di jalan dengan mata mendelik (kayak udah > meninggal) dan sepatu lars berseliweran, sangat menyentuh. > > ketika ditanya tentang gambar tersebut, "jul, gimana tentang > obligasi moral pada situasi (split second, split moment) motret > dulu baru menolong, atau menolong dulu baru motret?" > > lalu js cerita bahwa mahasiswi tersebut tidak meninggal, hanya > jatuh karena dipukul (atau terpukul?) tentara. alhamdulilah. > sekalian cerita bahwa buat js, moral menolong orang sangat > didahulukan dibandingkan dengan motret. > > dia memberi contoh dengan kejadian tragis putri diana, dimana pada > saat itu paparazi mendahulukan memotret putri diana dibandingkan > dengan menolong putri diana yang sekarat pada situasi 'split > second, split moment'. > > > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > mong-omong, > > > > antara syd & js ada kesamaannya, > > sama-sama doyan bikin gambar.. > > > > http://www.youtube.com/watch?v=Er3Gq4IKCYk > > > > > > > > > > . > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
