Bank Dunia itu adalah sebuah BANK, artinya yang kita sebut bank itu bukanlah koperasi, bukan juga Gereja, bukan Mesjid, bukan pesantren, bukan tempat suci di Mekkah, dan juga bukan Departement Sosial.
Yang dinamakan Bank adalah istitusi keuangan yang menjual macem2 service mulai dari pinjam meminjam, simpan menyimpan, bunga membunga, transfer mentransfer, dan lain2 product2 yang bisa berbeda dari satu bank dengan lain bank. Artinya sebagai penjual service, Bank itu menawarkan, menjual, dan mempromosikan service mereka. Oleh karena itu kalo ada yang berminat untuk menggunakan jasa Bank, tentunya sang peminat harus mempelajari, atau memahami service apa saja yang tersedia dari bank tersebut untuk dimanfaatkan untuk kepentingan para peminat ini. DEMIKIANLAH, ADALAH ABSURD KALO MENDISKUSIKAN JUDUL APAKAH BANK DUNIA MEMAHAMI INDONESIA ATAU TIDAK !!!! SEHARUSNYA JUDULNYA ITU DIBALIK, APAKAH INDONESIA MEMAHAMI BANK DUNIA !!!! Beginilah contoh penulis2 yang sel2 otaknya sudah rusak, asal tulis, asal jiplak tanpa sama sekali mengerti apa yang dia sendiri mau bicarakan. Hal2 beginilah yang sudah berulang kali saya prihatinkan tentang rusaknya kemampuan berpikir yang normal dari manusia2 yang dibrainwash atau diracuni dogma agama sehingga tidak mampu membicarakan masalah apapun diluar agama. Menterjemahkan berita sekalipun selalu salah interpretasinya. Hal2 beginilah anda semua bisa saksikan, titel2 mentereng dengan qualitas burem. Engga peduli agama apapun, asal jebolan sekolah yang pelajaran agamanya wajib, hasilnya pasti menyedihkan meskipun kemudiannya sekolah ke luarnegeri yang hasilnya tetap sia2. Ny. Muslim binti Muskitawati. --- In [email protected], "Holy Uncle" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Apakah Bank Dunia pahami Indonesia? > > Berita utama harian ini edisi 6 November 2005 memuat pendapat Bank Dunia > tentang perekonomian Asia Timur, termasuk Indonesia. Nama laporannya East > Asia Update. > > Menurut laporan itu, target pertumbuhan yang telah ditetapkan bersama oleh > pemerintah dan DPR sebesar 6,2% untuk 2006 tidak akan tercapai. Bank Dunia > menetapkan target pertumbuhan Indonesia sebesar 5,5%-6%. Target ini, masih > menurut laporan itu, hanya bisa dicapai jika Bank Indonesia berhasil menekan > inflasi sampai 8%. > > Dikatakan juga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2006 pun tergantung pada > kemampuan pemerintah mentransfer penghematan subsidi bahan bakar minyak > (BBM) untuk kebijakan yang lebih produktif. > > Selanjutnya, Vice President Bank Dunia untuk Asia Pasifik, Dr. Jemal-ud-din > Kasum menulis dalam laporan itu bahwa, "Proses penyesuaian ke harga BBM yang > lebih tinggi, lambatnya transisi pertambahan modal, dan pengeluaran sektor > sosial akan menyebabkan pertumbuhan yang rendah pada awal 2006 sebelum > menguat pada 5,5%-6%." > > Siapa yang benar? Menurut pendapat saya, tidak ada yang benar mutlak. > > Mengapa? Karena ekonomi bukan matematika, bukan ilmu kimia, dan bukan pula > ilmu alam. Maka setiap ramalan yang memakai angka tidak ada yang tepat > benar. > > Kita pernah mengalami prediksi seorang ekonom kenamaan yang pada September > 1996 mengatakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 7,23% pada 1998. Tetapi > ternyata ekonomi Indonesia tidak tumbuh sama sekali, bahkan minus 13%. > > Belum lama ini hampir semua media massa menempatkan sebagai berita utama > ucapan seorang menteri yang mengatakan: "Kompensasi kenaikan harga BBM > dijamin tidak bocor." Tetapi kenyataannya penyaluran dana kompensasi BBM itu > kacau balau, bocor, bahkan dijual kepada orang kaya dengan diskon. > > Jadi, seluruh bon yang memberi hak kepada orang miskin menerima santunan > dijual dengan diskon 20%. Alhasil, si orang kaya dapat menanamkan modalnya > yang dijamin oleh pemerintah dengan yield sebesar 20% atas penderitaan orang > miskin. > > Dan yang dikatakan orang miskin itu juga belum tentu miskin. Ini karena di > antara yang antre ada yang tidak miskin mengingat dikenali oleh penduduk > desa atau kampung yang saling mengenal kekuatan ekonomi para tetangganya. > Ini pendapat ekonom Indonesia. > > Bagaimana dengan lembaga-lembaga peneliti yang "ilmiah" di Indonesia? Hebat, > pendapatnya selalu dikutip oleh media massa maupun ekonom dari lembaga > "bergengsi" yang bersangkutan dengan berbagai angka yang eksak. > > Kalau kita sabar menunggu sampai yang diramalkan itu menjadi kenyataan, > biasanya meleset. Tetapi tidak ada yang menelusuri ke belakang, dan yang > bersangkutan juga terus saja mengemukakan angka-angka ramalan dengan sikap > dan gaya "biar bodoh asal sombong." > > Itu tadi mengenai ahli serta lembaga-lembaga riset dan ilmiah di Indonesia. > Bagaimana dengan lembaga internasional, seperti Bank Dunia? > > Semua orang di dunia cenderung percaya terhadap apa yang dikatakan oleh > organisasi atau lembaga yang memiliki nama internasional. Di Indonesia, > kepercayaan kepada lembaga-lembaga seperti itu hampir mutlak. > > Anehnya, yang mempercayainya bukan orang awam. Mereka berpendidikan tinggi > di bidang yang sama. Seandainya mereka melamar menjadi tenaga ahli di > lembaga itu, besar kemungkinan diterima. Tetapi toh a priori menempatkan > diri sebagai lebih bodoh. Yang diberitakan angka-angka ramalan. Tidak ada > penjelasan bagaimana mereka tiba pada angka-angka itu? > > Menghadapi orang seperti itu, Presiden Soekarno-yang sering tak memakai > sepatu ketika memimpin sidang kabinet-menaikkan kakinya, menunjuk jempol > kakinya dan mengatakan "Dat weet mijn grote teen ook." Artinya, "Kalau hanya > ngomong tanpa penjelasan yang rinci, bagaimana tibanya pada angka itu, > jempol kaki saya juga tahu." > > Apakah ucapan ini berlaku bagi Bank Dunia? Menurut saya, tidak mesti berlaku > tetapi sangat bisa berlaku. Mengapa? Bank Dunia merupakan organisasi. Yang > menulis manusia, orang berpendidikan tinggi yang ketika melamar pekerjaan > dinilai memenuhi persyaratan Bank Dunia. > > Yang lain? > > Apakah di luar Bank Dunia tidak ada orang yang lebih pandai, lebih > berpengalaman, dan lebih mengetahui kondisi Indonesia daripada mereka? Jelas > sangat banyak. > > Di Indonesia, hampir setiap ahli ekonomi yang terkenal sedikit saja bertitel > doktor, sama dengan Dr. Jamal-ud-din Kasum. Tetapi a priori para ekonom > Indonesia, terutama dari kelompok tertentu secara kejiwaan, menempatkan diri > sebagai lebih bodoh, lebih inferior, dan lebih "inlander." > > Mereka sama-sama tidak mempunyai perhitungan-perhitungan pembenaran yang > rinci, Bank Dunia mengatakan untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi, Bank > Indonesia harus dapat mengontrol inflasi sampai tidak melebihi 8%. > > Untuk mengontrol inflasi, BI sebagai bank sentral mempunyai tiga instrument. > Yaitu, mengatur jumlah uang beredar dengan melakukan operasi pasar uang, > menentukan tingkat suku bunga, dan menentukan reserved requirement. > > Mengendalikan inflasi setelah inflasi dinaikkan oleh pemerintah sampai > begitu tinggi berarti tight money policy, instrumen yang mana pun yang > dipakai. Tight money policy berarti penghambatan pertumbuhan. > > Jadi, yang dikatakan Bank Dunia sebaliknya dari logika ini, yaitu kalau BI > memberlakukan penghambatan pertumbuhan, maka pertumbuhan ekonomi akan bisa > tinggi. Dengan logika murni sulit dicerna. > > Sangat mungkin Bank Dunia mempunyai model yang memasukan faktor- faktor lain > yang tidak diketahui oleh pembaca East Asia Update. Supaya Bank Dunia > kredibel, tunjukkan dong! > > Dikatakan bahwa pertumbuhan bisa dicapai dengan uang pemerintah yang > bertambah karena kenaikan harga BBM yang drastis. Lho, pemasukan uang > pemerintah dari rakyat kan berarti daya beli rakyat dari sektor konsumsi BBM > dikuras. Inflasi umum yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM yang drastis > juga menguras daya beli rakyat. Bagaimana dapat membuat ekonomi tumbuh? > > Jawabnya, kan dikeluarkan lagi oleh pemerintah yang berarti pemompaan daya > beli? Betul, tetapi sebelum dipompa dengan daya beli, daya beli masyarakat > dikuras terlebih dahulu. Mana yang lebih besar, tidak dikemukakan oleh Bank > Dunia dan oleh Dr. Djamel-ud-din Kasum. > > Sudah menjadi perdebatan dalam bangku kuliah, apakah kebijakan fiskal ada > gunanya bagi pemerintah yang tidak memiliki tabungan dan menggunakan > tabungannya untuk memompa daya beli? > > Kalau pemerintah memperlemah daya beli dengan RpX melalui pajak, kenaikan > harga BBM dsb, dan juga memompakan daya beli sebesar RpX juga untuk berbagai > pengeluarannya, bukankah dampaknya netral? Untuk hal ini sudah ada hipotesa > yang dianggap cukup kredibel, yaitu yang dikemukakan oleh ekonom T. > Haavelmo. > > Penjelasannya rumit, tetapi intinya mengatakan kebiasaan berkonsumsi, > terutama dari golongan kaya, sulit diubah. Jika golongan kaya/terkaya yang > dipajaki, mereka tidak akan susut dengan pengeluarannya, karena mereka > memiliki tabungan yang besar. > > Tak diungkap > > Tabungan tersebut yang tadinya menganggur akan dibelanjakan. Bagi saya, OK > saja, tetapi harus disertai dengan data tentang propensity to consume, > propensity to save dsb. Semuanya ini tidak dikemukakan. Tanpa ini, teori T. > Haavelmo belum tentu berlaku! > > Dengan Wakil Presiden Bank Dunia Dr. Djamel-ud-din Kasum saya pernah > berdebat tentang pengertian aid (bantuan) dan loan (utang) yang olehnya > sejak awal sampai saat ini dikacaukan. > > Ketika itu saya mewakili pemerintah Indonesia, disuruh memberi uraian > tentang efektivitas dari bantuan di Indonesia. > > Saya menjelaskan bahwa pertama dia harus mengakui terlebih dahulu bahwa dia > membuat kesalahan fatal dan menyesatkan dengan menyebut utang Indonesia dari > CGI dan lembaga-lembaga internasional disebut aid (bantuan), bukan loan > (utang). > > Konsekuensinya besar, karena alat ukur untuk efektivitas dari bantuan dengan > efektivitas dari utang yang harus dibayar kembali beserta bunganya > sangat-sangat berlainan. > > Kalau sudah kepepet begitu lantas main pokrol. Dia mengatakan utang bisa > disebut bantuan karena bunganya rendah. Untung ada delegasi anggota CGI yang > membela pendirian saya. > > Terkait dengan itu adalah konsepnya tentang membayar utang dengan menjual > BUMN. Saya minta dibayangkan adanya pengusaha yang mendirikan pabrik dengan > uang utangan. Ketika utang harus dibayar, sang pengusaha tidak mempunyai > uang. > > Utang tersebut kemudian dibayar dengan menjual perusahaanya dengan rugi. > Lantas dia mendirikan pabrik lagi dengan pola yang persis sama. Orang ini > oleh para delegasi CGI pasti dianggap insane (tidak waras). Tetapi Bank > Dunia yang memimpin CGI beserta seluruh anggota CGI menyuruh pemerintah > Indonesia berbuat yang insane ini, yaitu membayar utang dengan menjual BUMN. > > Nah, kalau sudah seperti ini, biasanya lantas memasang muka yang sinis > dengan sikap "biar bodoh asal sombong" dan "biarkanlah anjing [Kwik Kian > Gie] menggonggong, khafilah [Bank Dunia cs] tetap berlalu." > > Oleh Kwik Kian Gie > Mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas > > http://www.bisnis.com/servlet/page? _pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A01&cd ate=07-NOV-2005&inw_id=401362 > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
