Ida Bagus Mayura, Menjadi Brahmana Muslim
november 24, 2012 by ipet 2 comments

ida bagus mayura (kiri) dan ketua kispa ustaz ferry
KisahMuallaf.com – Menjadi bagian dari kasta Brahmana dalam sistem sosial 
masyarakat Bali adalah sesuatu yang istimewa.
Namun, bagi Ida Bagus Mayura, kasta tidak berarti apa-apa. Tidak membuatnya 
bahagia.

Sebaliknya, Islam bisa memberikan cara pandang yang lain dalam hidup Mayura. 
Sesuatu yang menjawab rasa penasarannya akan Tuhan dan pertanyaan-pertanyaan 
sulit tentang hidup.

Mayura merasakan ketertarikan akan Islam sejak kecil. "Itu karena sekolah saya 
dekat masjid. Saya perhatikan pola penyembahan Tuhan dalam Islam sangat mudah. 
Tidak perlu repot-repot menyediakan bunga atau membakar dupa. Di Islam tinggal 
pakai sajadah, tanpa ada perantara apa pun lagi," katanya.

Dia juga menyukai suara azan. "Saya merinding setiap kali mendengar azan," kata 
pria kelahiran 4 Desember 1964 tersebut.

Kesederhanaan ibadah dalam Islam juga tampak dari proses penguburan jenazah. 
"Kalau meninggal cukup pakai kafan lalu langsung dimakamkan. Tidak perlu tunggu 
hari baik untuk menguburkan jenazah. Kalau hari baik baru ada tiga bulan ke 
depan, bagaimana ruhnya. Sudah jadi mayat saja masih repot. Namun, Islam 
berbeda," jelasnya.

Begitu tertariknya dia akan Islam, Mayura bahkan pernah diam-diam mengikuti 
acara sunatan massal yang diadakan di kampungnya saat itu. "Tapi, ketahuan oleh 
keluarga, saya diusir," tuturnya.

Mayura kemudian pindah dari satu mushala ke mushala yang lain untuk istirahat 
setiap malam hari. Namun tak berapa lama, keluarga menemukannya dan mengajaknya 
pulang. Sesampai di rumah ia dinasihati panjang lebar, ia tetap bergeming.

Meski sudah diceramahi macam-macam, Mayura tetap teguh dalam pendirian. Dia 
tetap secara diam-diam mempelajari Islam.

Ia belajar tata cara shalat dari sebuah buku tuntutan shalat. Sampai sekarang, 
buku itu masih ia simpan.

Meski demikian, dia menahan keinginannya untuk pindah agama karena masih 
tinggal dengan orang tua. Mayura baru mendeklarasikan keislamannya ketika duduk 
di kelas tiga SMA.

Tentu saja, keluarga Mayura kaget. Bagi mereka, ini adalah masalah serius. Ia 
adalah anak laki-laki pertama dari keluarga berkasta Brahmana, tak aneh bila 
keluarganya marah besar.

Sebagai seorang dari kasta Brahmana, seharusnya Mayura tetap pada keyakinan 
lamanya. Berpegang pada tradisi yang telah turun temurun diajarkan dalam 
keluarganya.

Menurut Mayura, jarang sekali seorang Brahmana keluar dari agamanya. Karena 
itu, keislaman Mayura ditakutkan akan berpengaruh buruk bagi keluarga besarnya.

Akhirnya, Mayura memutuskan untuk meninggalkan rumah. "Saya menghidupi diri 
saya sendiri. Untungnya, dari dulu saya senang usaha," tutur alumnus SMA 17 
Agustus 1945, Jakarta, ini.

Menikahi Muslimah pada usia 28 tahun, Mayura menikahi perempuan yang 
dicintainya. Saat itu, sang calon mertua belum yakin apakah calon menantunya 
sudah masuk Islam atau belum. Akhirnya, mereka meminta Mayura untuk membaca 
syahadat lagi.

Setelah menikah, Mayura dan istrinya harus menanti cukup lama untuk memiliki 
anak. Hingga delapan tahun usia perkawinan, buah hati yang ditunggu-tunggu tak 
kunjung hadir.

Kabar itu pun sampai ke keluarganya. "Mereka langsung berkata bahwa itu adalah 
karma bagi saya karena telah pindah agama," ujar Mayura.

Namun, Mayura tak memedulikan ucapan itu. Dia terus bersabar dan berikhtiar 
untuk memperoleh keturunan. Hingga pada satu titik, Mayura merasa ingin 
menyerah. Dia telah melakukan segala cara untuk memperoleh keturunan, baik 
dengan cara medis maupun nonmedis.

"Saya lelah fisik dan juga uang. Saya mulai pasrah dan berniat mengangkat 
seorang anak. Namun pada saat itulah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan saya 
seorang anak perempuan," katanya.

Dua tahun kemudian, Mayura mendapatkan seorang anak lagi. Kali ini berjenis 
kelamin laki-laki. "Lengkaplah rasanya hidup saya."

Memiliki anak membuat Mayura semakin dewasa dan semakin taat beribadah. 
Kehidupannya mulai berubah.

Rezeki tambah lancar dan anak-anaknya tumbuh dengan baik. "Mereka saya ajarkan 
hidup secara Islam," kata pria yang kini menjabat sebagai direktur di PT Sentra 
Hima Putra (SHP) ini.

Selain di PT SHP, Mayura juga mengelola sejumlah perusahaan dan yayasan lain. 
Kini, ia pun hidup dengan kondisi yang sangat baik.

Secara tak langsung, hal ini mematahkan prediksi keluarganya bahwa Mayura tak 
akan bisa hidup dengan baik setelah keluar dari agama lamanya.

"Saya bisa menunjukkan bahwa seorang Ida Bagus bisa tetap hidup dengan sangat 
baik meskipun dia Islam," ujarnya mantap.

Sampaikan Walau Satu Ayat sebagai seorang Muslim, Mayura begitu ingin 
memberikan sesuatu bagi agamanya. Ia tak mau berdiam diri dan ingin 
berkontribusi untuk Islam.

Untuk itu, ia memulai dari diri dan keluarganya. Mayura mengerti betul bahwa 
hal utama yang harus dilakukan seorang Muslim bagi agamanya adalah dengan 
menjadi Muslim yang baik. Baru kemudian turut mendakwahkan Islam. "Sampaikan 
walau satu ayat," tegas Mayura.

Maka, kepada kedua anaknya, Hima Kania (13) dan Tohpati Putra (10), Mayura 
berusaha untuk memberikan contoh yang baik. Sejak kecil, Mayura memberi mereka 
pemahaman bahwa mereka harus hidup sesuai dengan perintah agama.

"Untungnya tidak sulit untuk membuat mereka paham. Allah Subhanahu Wa Ta'ala 
memberi saya anak-anak yang cerdas dan pengertian," kata Mayura penuh syukur.

Pada umur lima tahun, anaknya telah melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan 
tanpa `bolong'. Saat ini, mereka juga telah khatam Al-Quran. Sedangkan anaknya 
yang perempuan, mengenakan jilbab sejak kecil.

Anak laki-lakinya pun, menurut Mayura, telah paham buruknya merokok. "Saya 
membuat dia paham lewat contoh yang saya berikan. Saya tidak pernah merokok," 
katanya.

Menurutnya, rokok tidak cocok dengan kehidupan seorang Muslim. Karena, lebih 
banyak membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan dan kantong. Islam tidak 
mengajarkan umatnya untuk menjadi seorang yang boros.

Selain pada anak-anaknya, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam ke teman-teman 
sekerjanya.

Ia berusaha mengingatkan mereka untuk mengenakan jilbab dan berhenti merokok.

Selain itu, ia pun mengajak teman-teman sekantornya dan kantor-kantor lainnya 
yang berada di gedung yang sama untuk mengumpulkan zakat.

Dia bahkan membentuk Yayasan Al-Baroqah gedung Cyber untuk mengelola dana zakat 
yang terkumpul. "Dana yang terkumpul akan disalurkan kembali kepada mereka yang 
membutuhkan di internal gedung dan masyarakat sekitar tanpa pandang bulu," 
ujarnya.

Tak hanya di kantor, Mayura pun berusaha mendakwahkan Islam di kampung 
halamannya, Bali. "Ini tidak mudah karena masih ada orang yang kadang menjauhi 
saya, takut `terkontaminasi'," ujarnya.

Mayura masuk dari bisnis pertanian yang dibangunnya di Negara, Bali. Negara 
dikenal sebagai daerah kantong Muslim di Pulau Dewata.

"Hal yang utama saya lakukan memang bukan berdakwah namun berbisnis. Namun, 
ujung-ujungnya juga dakwah. Saya terlebih dahulu ingin mengubah wacana 
pertanian di sana agar produksi padi semakin meningkat. Keuntungan yang 
diperoleh akan disisihkan untuk membangun yayasan sosial," prinsip Mayura.

Kini, Mayura mulai merintis usaha perjalanan umrah. Dalam hal ini, ia berniat 
membuat perjalanan umrah yang terjangkau bagi masyarakat. Tak masalah bila 
nanti margin keuntungan yang diperoleh kecil.

Sebab, niatnya adalah membantu lebih banyak Muslim agar bisa beribadah ke Tanah 
Suci, bukan mencari keuntungan. "Jangan dibalik. Ini salah satu bentuk ibadah 
saya," tandasnya.




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke