Demokrasi adalah sistem yang sangat terkait dengan kepentingan orang banyak. Dalam Islam, imam shalat berjamaah yang melakukan kesalahan dalam memimpin shalat wajib digantikan dengan siapapun di antara makmum yang mampu dan bersedia. Digantikan di tengah ibadah saat itu, bukan pada periode ibadah berikutnya. Sistem ini jelas menggambarkan bentuk demokrasi dalam Islam.
Jadi, dalam sistem itu, kalau bicara pemimpin maka pemimpin yang melakukan kesalahan bisa digantikan oleh siapa pun yang mampu dan bersedia, demi kepentingan ibadah orang banyak. Ini sekedar tambah-tambah pengetahuan buat geboy & bleki saja. Sebab kalau diperhatikan, yang lain selalu memakai metode bertanya untuk mendapatkan apa yang ingin diketahuinya. Beda dengan kalian (juga ustad kalian, al mukarom uplik) yang selalu memakai metode gebrak untuk memancing reaksi lawan. Atau, metode sok tau seperti di bawah itu, juga untuk memancing reaksi. Padahal, kalau pengin tahu sesuatu ya tinggal bertanya saja. Kalau ada yang bisa jawab, ya syukur. Kalau nggak ada yang jawab ya jangan lantas sok tau. Pendeknya, nggak perlu sok tau. Pura-pura tau padahal cuma malu bertanya. Gampang kan, untuk nggak sok tau? Nah, contoh bertanya itu seperti ini misalnya: Bagaimana dengan kepemimpinan di Vatikan? Seperti apa cara pemilihan Paus di Vatikan? Siapa brani jawab? (ini masih jadi pertanyaan juga) --- Gabriella Rantau wrote: > Mula2nya di zaman baheula semua raja, sultan, emir dsb. tidak > membolehkan pemilihan karena mereka pecaya bhw mereka adalah > pilihan tuhan. Orang lain hanya pantas sbg hamba: diperas > tenaganya, diperlakukan spt binatang. > > Agama (apa saja) muncul dlm suatu konteks budaya dan peradaban, di > zaman baheula itu tentunya gama menghalakan larangan pemilihan raja > dsb. Akibatnya si raja, emir, sultan dsb menjadi sewenang2 karena > dilindungi oleh tuhan. Rakyat tentunya had to bear the brunt of > their excesses. Berbagai presiden, kepala neagara di zaman modern > mendukung hukum ini dan mencoba untuk menjadi presiden seumur hidup > dg segala ekses2nya. > > Di zaman modern ini di mana sebagian besar negara penduduknya tidak > homogen, pemberlakuan presiden, raja dst seumur hidup tidak bisa > diterima lagi. Dengan adanya proses demokrasi kekuasaan tidak hanya > pada segelintir manusia (biasanya menjadi sewenang2 dan inhumane). > Sayangnya agamaist tidak bisa melihat kekurangan2 dari sistem > non-demokratis ini. Mereka ini bersikeukeuh mengatakan karena > semuanya berasal dari tuhan, maka itulah yg terbaik tanpa mau > melihat kenyataan di lapangan. > > Pemerintahan yg berdasarkan agama yg tentunya merasa mendapat > mandat dari tuhan tidak menghendaki demokrasi. Oposisi berarti > oposisi thdp tuhan. Anehnya banyak kelompok ini yg bermukim di > negara2 demokratis menikmati benefits dari demokrasi bahkan > menggunakan sistem ini untuk kemajuan golongan mereka. Meskipun > hidden agenda mereka (kalau nantinya sudah berkuasa) untuk melarang > demokrasi dan menjalankan sistem tuhan yg anti demokrasi. > > Gabriella > > > > From: Item Abu > > > Hebatnya orang Islam itu adalah, kalo mereka belum berkuasa, maka > > mereka akan ngoceh islam itu kompatibel dgn demokrasi, spy mereka > > dpt kesempatan unt menang di pemilu dgn segala macam cara, antara > > lain dgn bikin anak sebanyak2nya spt cara PKS. > > > > Tp begitu mereka berkuasa, mereka lalu bilang demokrasi ga > > kompatibel dgn Islam, shg mereka bisa terus berkuasa. > > > > Orang2 Islam di milis ini ga beda dgn si sheik di bawah, > > oportunis tulen. > > > > Saudi Islamic scholar misunderstands Islam, says democracy and > > Islam not compatible > > > > Will all the Muslim spokesmen in the U.S. who insist that > > only greasy Islamophobes think democracy and Islam are > > incompatible explain to Sheikh Abdul Rahman bin Nassir Al Barrak > > how he is getting Islam all wrong? No, they will just whine about > > how "Islamophobic" I am to report on his words. > > > > "Election is banned in Islam: Saudi scholar," from Emirates 24/7, > > January 17 (thanks to Jerk Chicken): > > > > A well-known Saudi Islamic scholar has issued a new fatwa > > (edict) saying holding elections for a president or another form > > of leadership is prohibited in Islam. > > > > Sheikh Abdul Rahman bin Nassir Al Barrak, reputed for his radical > > views, described western-style elections as an alien phenomenon > > to Islamic countries. > > > > âElecting a president or another form of leadership or council > > members is prohibited in Islam as it has been introduced by the > > enemies of Moslems,â he wrote on his Twitter page, according to > > Saudi newspapers. > > > > âSelecting an Imam (leader) must be up to the decision-making > > people not the publicâ¦election is a corrupt system which is not > > based on any legal or logical concept for those who enforce this > > system by some Moslemsâ¦this system has been brought by the > > anti-Islam parties who have occupied Moslem land.â > > > > Posted by Robert on January 18, 2013 9:01 AM > > > > | 1 Comment > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
