Oleh Hadi Prayitno (Ketua Pengurus Daerah KAMMI Lampung)
Peranan
 partai politik antara lain mengader para pemimpin bangsa. Partai-partai
 politik bertanggung jawab menyediakan bagi negara para pemimpin 
politiknya. Salah satu pengecualian yang jarang ada dalam aturan ini

 adalah Jenderal de Gaulle, yang menawarkan dirinya untuk memimpin 
Prancis tahun 1944 sebagai seorang ’’juru selamat’’ yang berada di atas 
semua perbedaan partai-partai. Partai seperti Union for the New Republic
 (UNR) adalah ciptaannya.

PARTAI politik menjadi wadah pengaderan 
yang mengideologisasi kader-kadernya untuk dipersiapkan menjadi pemimpin 
bangsa. Partai-partai dengan demikian menyediakan basis pelatihan dan 
pengalaman politik bagi para kader, melengkapi mereka dengan 
keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman. Di sisi lain, monopoli partai di 
pemerintahan mendapatkan kritikan karena para pemimpin politiknya 
diambil dari tempat yang sangat sempit: tokoh-tokoh senior partai besar.
Terlalu naif bila melihat realitas partai politik saat ini dipandang seideal 
itu. Kenyataannya, partai politik dijadikan kendaraan politik untuk 
berebut jabatan-jabatan strategis negara. Partai politik pragmatis, 
hanya ingin mendulang suara saat pemilu saja, sehingga memilih politikus yang 
mempunyai uang banyak dan/atau terkenal tanpa melihat kualitas. 
Pasca Orde Baru banyak pengusaha yang terlibat secara langsung dalam 
politik, dengan menduduki kepengurusan partai. Keterlibatan pengusaha 
dalam politik secara langsung pada hakikatnya bertujuan mengamankan 
kepentingan bisnis mereka di tengah ketidakpastian politik. Apalagi 
melihat kualitas politikus-politikus saat ini jauh dari sifat 
kenegarawanan semakin membuktikan belum berhasilnya partai politik 
mengader pemimpin bangsa.
Empat belas tahun reformasi masih belum 
banyak menjawab ekspektasi yang begitu tinggi. Publik malah rindu dengan rezim 
diktator Orde Baru. hal ini menunjukkan kontraproduktifnya 
reformasi. Hal itu terjadi oligarki politik Soeharto masih tersisa dan 
sekarang membangun oligarki-oligarki kecil demi kepentingannya 
masing-masing. Golkar yang telah menghegemoni bangsa hampir sepanjang 
Orde Baru, saat ini masih bercokol di seluruh sudut kekuasaan. Golkar 
kini bak amoeba membelah diri menjadi beberapa partai yang menawarkan 
perubahan kepada bangsa ini. 
Menurut Audy, sistem pemilu jangan 
berhenti pada demokrasi prosedural yang bisa disusupi kekuatan uang, 
tapi harus menuju demokrasi yang lebih substantif. ’’Demokrasi yang 
oligarki itu sangat berbahaya’’. Praktik demokrasi untuk mempertahankan 
uang, kekuasaan, posisi, dan status pasti memunculkan oligarki besar. 
Oligarki besar menjelma dalam bentuk gabungan dari oligarki negara, 
pasar, dan partai politik. 
Kesemuanya memiliki kepentingan yang 
sama untuk mempertahankan kekuasaan dan uang dengan cara apa pun. 
Oligarki dalam partai politik tidak menumbuhkan suasana yang baik dalam 
mencetak kader. 
Partai seperti milik beberapa orang beruang 
sehingga sepertinya kader bekerja untuk menjadikan ketua partai atau 
dewan pembina partai menempati posisi-posisi strategis bangsa ini. 
Apalagi elektabilitas pimpinan partai lebih tinggi dari partainya itu 
sendiri. Ini semakin jelas bahwasanya partai belum mampu menunjukkan 
partai politik sesungguhnya. 
Efek dari praktik oligarki tidak 
terbangunnya budaya politik bangsa ini. Hal ini terjadi karena politik 
dikelola oleh politisi yang tidak memiliki etika. Tetapi para komprador 
yang hanya mencari keuntungan materi dan kekuasaan.  
Realitas 
kepemimpinan bangsa saat ini belumlah mampu memunculkan tokoh-tokoh baru yang 
layak memimpin bangsa ini. Sampai saat ini belum ada tokoh baru 
yang menjadi bursa serius calon presiden. 
Orang-orang lama yang 
sebelumnya telah gagal dan tak legawalah yang ngotot jadi presiden 
Indonesia. Pada konvensi calon presiden Partai Golkar 2004 
mempertarungkan kandidat di antaranya Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, dan 
Wiranto yang hari ini masih ngotot jadi presiden melalui perahu 
politiknya masing-masing. 
Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla 
yang pernah menjadi pemimpin negara belumlah legawa memberikan 
kesempatan kepada kadernya. SBY pun belum bisa melepaskan calon presiden dari 
kerabat dan orang kepercayaannya.
Hampir seluruh calon 
presiden yang kuat adalah ketua umum atau dewan pembina partai politik. 
Ternyata hal ini berbeda dengan negara kiblatnya demokrasi yaitu 
Amerika. Tidak ada dalam sejarah Amerika Serikat seorang calon presiden 
berasal dari Ketua Umum Partai Demokrat atau Republik. Semua berasal 
dari senator, kongres, dan gubernur negara bagian. Bahkan, nama ketua 
umum Partai Demokrat dan Republik tidak sepopuler nama ketua-ketua umum 
partai politik di Indonesia.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang 
seperti Chavez, Erdogan dan Ahmadinejad yang kuat serta tegas terhadap 
intervensi asing demi kedaulatan bangsa.
Pimpinan partai politik 
yang berperilaku oligarki tidak layak untuk diusung sebagai calon 
presiden (capres) mendatang. Kalau para elite partai politik berprilaku 
oligarki tersebut lolos dalam proses pencapresan bisa membahayakan 
kepentingan bangsa dan demokrasi Indonesia ke depan. Elite parpol yang 
oligarki jangan sampai lolos dari proses pencalonan presiden. Kalau 
mereka itu sempat lolos, ini akan membahayakan proses pengaderan 
pemimpin nasional dan demokrasi Indonesia. Sikap mengambil alih amanat 
konstitusi yang menyatakan bahwa capres dan cawapres diusung oleh partai 
politik atau gabungan partai politik yang oleh ketua umum partai 
dipahami sebagai haknya untuk diusung menjadi capres. Ini sangat tidak 
masuk akal karena menjadikan partai politik sebagai satu-satunya sumber 
pimpinan nasional.
Pemimpin yang belum banyak coretan tinta hitam 
dalam sejarahnya harusnya sudah berani tampil. Harusnya partai politik 
berani menampilkan sosok-sosok baru yang masih belum banyak dugaan 
dugaan kesalahannya kepada negara. Bukanlah harus pemimpin muda tetapi 
pemimpin yang telah mengabdi dan memberikan kerja konkret pada 
pembangunan bangsa. 
Sayang, nampaknya susah terwujud karena 
oligarki partai politik di negara ini terlalu kuat. teringat istilah 
power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely. Bukan 
hanya mengorupsi uang tapi mengorupsi pengaderan pemimpin bangsa. (*)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke