'Stok beras nasional banyak di pedagang'

JAKARTA: Stok beras nasional kini lebih banyak di tangan pedagang, sehingga 
mereka yang paling takut dengan adanya impor beras yang dilakukan oleh Perum 
Bulog.

"Beras itu sudah ada di tangan pedagang. Artinya yang paling takut sekarang 
ini adalah pedagang. Jadi yang ribut, yang khawatir adalah yang memegang 
stok, yaitu pedagang," kata Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo dalam 
siaran pers, kemarin.

Penguasaan stok beras di tangan pedagang itu, sudah sejak 1 Oktober. 
"Orang-orang yang berteriak untuk menaikkan beras per 1 Oktober, berarti 
orang-orang itu berteriak untuk kepentingan pedagang," tandasnya.

Impor beras, katanya, tidak merugikan petani karena mereka sudah tidak punya 
beras lagi. Apalagi, sekarang telah memasuki musim paceklik.

Sebaliknya, dia menjelaskan penolakan impor beras jika hanya dikaitkan 
dengan kerugian petani, tidak sepenuhnya benar.

Hal ini, lanjutnya, karena petani sudah diberikan patokan harga dasar. Angka 
pembelian gabah tersebut ditetapkan pemerintah sudah memperhitungkan 
keuntungan petani.

"Ternyata angka ini [HPP] masih lebih rendah dari harga yang terjadi [di 
pasar]. The real price di pasar lebih tinggi dari harga yang ditetapkan. 
Jadi seharusnya petani lebih untung lagi karena hal itu," ungkap Widjanarko.

Sementara itu, H. Qosim, Ketua Umum Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang 
(Koppic) menjelaskan stok beras tidak hanya dikuasai pedagang, tetapi juga 
masih berada di petani (sentra produksi padi).

"Kami kira stok di pedagang banyak, tetapi di petani juga masih banyak," 
ungkapnya.

Tetapi, imbuhnya, pedagang beras di sejumlah pasar memang setiap tahun 
selalu menambah stok sekitar Oktober-Desember. Hal ini, katanya, untuk 
mengantisipasi terjadinya paceklik (November-Desember) dan biasanya, 
pedagang meningkatkan stok sekitar 10%-20%.

"Dampak impor beras ini mengakibatkan pedagang menahan pembelian. Kini 
pedagang hanya membeli seusai dengan kebutuhan," ungkapnya.

Dampak impor lainnya, kata Qosim, tertahannya harga beras menengah di 
kisaran Rp3.300/kg. Padahal sebelumnya sempat merambat di kisaran 
Rp3.400/kg. "Semestinya rata-rata harga beras menengah bisa mencapai 
Rp3.500/kg jika tidak ada impor beras," ujarnya.

Stok dan harga

Widjanarko menjelaskan persoalan impor beras terkait dengan tugas Perum 
Bulog, yaitu menjaga stok nasional, ketersediaan beras untuk cadangan 
pangan, dan tugas penyaluran bagi konsumen (warga miskin/raskin).

Dengan demikian, impor lebih cenderung tidak mempersoalkan surplus atau 
defisit, melainkan masalah stok dan harga. Menurut dia, masalah tersebut 
harus dibedakan.

"Jangan mengkonflikkan antara surplus kemudian tidak boleh impor. Sebaliknya 
jika defisit maka harus impor. Walaupun defisit kalau stok Bulog cukup 
tinggi maka tidak perlu impor," tegas Widjanarko.

Sementara Mentan Anton Apriantono menyatakan pemerintah berupaya agar impor 
beras 70.000 ton tidak merembes ke pasar.

"Kami melakukan pengawasan bersama dengan Bulog maupun LSM. Bulog mewadahi 
beras impor dalam karung-karung Bulog, dan langsung masuk gudang Bulog," 
tuturnya sebelum menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung 
Kepresidenan kemarin.

Menurut dia, pegawasan diupayakan semaksimal. Terkait dengan masalah itu, 
pada 4 atau 5 Desember akan dilakukan rapat khusus oleh Dewan Ketahanan 
Pangan. ([EMAIL PROTECTED]) (Diena Lestari)

Oleh Bambang Supriyanto
Bisnis Indonesia

  
http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A04&cdate=29-NOV-2005&inw_id=405450




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/WpTY2A/izNLAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke