----- Original Message ----- From: [email protected] To: [email protected] Sent: Thursday, February 07, 2013 12:09 PM Subject: Re: [t-net] Yenny Tan kehilangan masa kecil, karena takut dirampok, diperkosa dan dibunuh.
Salam semua.. Share sejenak ya. Saya sebagai etnis tionghoa lahir tahun 1977 dan dari lahir sampai usia sekolah dasar saya dibesarkan di daerah Sidotopo, sebelah utara kota Surabaya. Daerah sidotopo adalah daerah hunian mayoritas suku Madura. Ayah saya malah bisa berbahasa madura. Kami bisa hidup rukun berdampingan dengan tetangga-tetangga kami, walaupun sebenarnya rumah yang saya tinggali tertutup rapat. Bukannya over-protektif atau paranoid, tetapi karena sebenarnya rumah ini adalah bekas gudang yang direnovasi jadi rumah tinggal. Memang orang tua saya mengajarkan supaya saya dan adik saya bisa menjaga sikap karena kami minoritas disana. Terkadang terdengar ada kasus "carok" atau pembunuhan di daerah kami, tetapi itu terjadi karena antar pribadi yang berselisih, bukan karena isu SARA. Jadi, saya dan adik perempuan saya tumbuh besar dengan lingkungan yang seperti ini. Kami tidak takut keluar rumah untuk belajar mengendarai sepeda keliling kampung di daerah sidotopo, simokerto, kampung seng dan sebagainya. Ke sekolah pulang pergi kami naik becak langganan. Kekhawatiran tetap ada, tetapi hanya sebatas kekhawatiran orang tua pada anak secara wajar. Pesannya cuma satu: jangan bikin onar. Bukan karena takut dibunuh atau diperkosa. Hanya supaya setiap dari kita bisa menjaga kerukunan dan kedamaian di kampung ini. Saya tidak mengerti latar belakang tante Yenny. Mungkin ada trauma masa lalu dari dia atau keluarganya, atau ada hal yang lain. Tapi saya ingin mengajak kita berpikir bahwa perubahan harus mulai dari dalam. Sebuah relasi/hubungan pasti ada gesekan. Hal inilah yang harus dijalani dengan bijaksana, bukan dihindari. Jika setiap etnis atau agama atau kelompok atau keluarga mempunyai stigma negatif dan mengobarkannya terus menerus dengan intens, maka yang terjadi adalah kecurigaan dan bomb waktu yang siap dinyalakan sumbunya. Jangan pernah berharap orang lain berubah duluan. Kita yang harus berinisiatif berubah terlebih dahulu. Mungkin bisa dimulai dengan senyuman yang tulus ketika berpapasan. :) Fandi Powered by Telkomsel BlackBerry® -------------------------------------------------------------------------------- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Thu, 7 Feb 2013 04:38:44 +0000 To: t-net<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [t-net] Yenny Tan kehilangan masa kecil, karena takut dirampok, diperkosa dan dibunuh. Mang JT dan oom-oom yg baik.. Sebelumnya, maaf yaa. Sy kira itulah kenapa harus ada 30% suara wanita di parlemen, ya karena lelaki kadang kurang bisa mengerti wanitaaahh.. Tante Yenny kan gi curhat oom. Jangan buru-buru di cut dong.. *cemberut* Coba bayangkan rasanya.. wanita mana yg kuat kalo baru mau menyampaikan perasaan dan persepsinya, meski sepihak, e.. sudah langsung diragukan, dipermasalahkan..?? So pasti, ya cari lelaki yg lebih bisa mengerti dong. toh lelaki kan ga cuma satu di dunia ini..? *halaah.. Menurut sy sih, tante Yenny kan gi mencoba komunikasi di sini. Masih muda lagi. Wajar kalo masih bingung memilih kata-kata. Ayo, oom-oom semua pada minta maaf ma tante Yenny. Harusnya kemarin bilangnya gini.. : Haduuuh, tante. Turut prihatin dg pengalaman yg tante tuliskan. Tapi, kayaknya ga general deh. Yg lain tetap bahagia meski di diskrimanasi ma pak Harto. Emang kejadian yg tante alami itu di mana? Cerita lagi dong. Jangan-jangan, cuma perasaan tante aja. Ya gimana deh bilangnya. Ayo, pada baik lagi deh ma tante Yenny.. Sy kira, sebagei sesama tionghoa, kita juga tak lebih Indonesia dari yg mungkin ga lama atau yg sudah tak lagi tinggal di Indonesia. Sama-sama aja deh.. Lebih kurangnya masing2 kita, lebih kurangnya perjalanan politik Indonesia, kita semua tetap Indonesia.. Hidup koko Jo Kho Wie untuk DKI ! Ayo koko semangaddd.. Hujan masih panjaaangggg...! *apa seeh?? Takut koko stres ngadepin hujan.. :D Salam hangat, Luzie Megawati Powered by Telkomsel BlackBerry® -------------------------------------------------------------------------------- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Thu, 7 Feb 2013 03:30:44 +0000 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [t-net] Yenny Tan kehilangan masa kecil, karena takut dirampok, diperkosa dan dibunuh. Saya kasihan sama saudara Yenny, karena orang tuanya paranoid, takut anak nya kenapa2 jadi membohongi anak nya yg bukan2, sehingga anaknya menjadi paranoid. Kasihan Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -------------------------------------------------------------------------------- From: "Daniel H.T." <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 7 Feb 2013 03:11:51 +0000 To: T-Net<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [t-net] Yenny Tan kehilangan masa kecil, karena takut dirampok, diperkosa dan dibunuh. Pak JT, kayaknya, Yenny dan ortu-nya itu sakit jiwa, ya? Saya kok tidak percaya bahwa dia lulusan sarjana. Apalagi luar negeri. Powered by Telkomsel BlackBerry® -------------------------------------------------------------------------------- From: "JT" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 07 Feb 2013 02:13:41 -0000 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [t-net] Yenny Tan kehilangan masa kecil, karena takut dirampok, diperkosa dan dibunuh. Dear all. Perlu saya beritahukan, bahwa dibalik forum ini ada kejadian yang bikin saya sedih, jengkel, sebal, dsb, yang berkaitan dengan seorang member bernama Yenny Tan, yang benar2 picik. Pertama Yenny melempar posting No.107170 menanggapi tulisan sesorang: Kutipan (Yenny): > Terus terang saya lahir pada jaman Orba, dan boleh dibilang > kehilangan masa kecil untuk bisa main di luar rumah. Soalnya ada > bahaya bagi etnis Chinese yang keluar rumah karena mudah dijadikan > target perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Dan juga kurangnya > perlindungan hukum dari polisi dan instansi pemerintahan. Dari kaidah bahasa Indonesia yang benar, tulisan tsb dapat diartikan bahwa: ketika Yenny kecil, untuk bermain di luar rumahnya saja sangat berbahaya bagi etnis China, karena mudah dijadikan target perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Perlindungan hukum dari polisi dan instansi pemerintahan juga minim. Jelas tulisan ini tidak benar. Waktu jaman Orba memang orang China sering mendapat perlakuan diskriminatif rasial dari pemerintah, tapi tidak berarti untuk keluar rumah saja berbahaya, karena mudah jadi target perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Alternatifnya, penulis tidak bisa berbahasa Indonesia dengan benar atau hendak menebarkan fitnah yang tidak bertanggung jawab, untuk membangkitkan kebencian rasial terhadap non-Tionghoa. Sebagai moderator saya langsung menegur Yenny Tan dengan posting No.107174 yang intinya adalah: > Saya harap anda bisa menulis dengan penuh rasa tanggung jawab, > bukan asal tulis. Dimana anda tinggal waktu itu, berapa orang yang > dirampok dan diperkosa di depan rumahnya, dan berapa orang yang > dibunuh? Kenapa anda dan keluarga anda masih bisa selamat? Kalau dia salah tulis karena kurang menguasai bahasa Indonesia dengan baik, tentu dia dengan spontan minta maaf. Karena saya tidak tahu orang model apa Yenny ini, maka untuk sementara statusnya saya moderasi. Tampaknya tulisan saya tidak ditanggapi oleh Yenny, karena di mailbox moderator hanya ada tanggapan dari Yenny terhadap tulisan No.107171 dari Bong Felix, yang intinya sbb: Kutipan (Yenny): > Beda lokasi memang beda keadaannya. Itu yang saya alami selama > masih kecil. Kebetulan saya punya dua kakak laki-laki. Mereka bisa > bermain keluar walaupun dengan konsekwensi di rampok terus. Tapi > saya dilarang keluar rumah selain untuk sekolah dan aktivitas > sekolah diluar jam sekolah. Pada waktu tamat SMA saya dikuliahkan > ke luar negri pada tahun 1997, ........ Posting tsb tidak saya approved, karena sangat provokatif. Saya reject dan diberi catatan agar menjelaskan kejadian yang dia alami itu dimana? Ternyata kemudian Yenny menjawab teguran tsb dengan posting yang masuk mailbox saya sbb: Kutipan (Yenny): > Saya rasa tidak perlu diperpanjang lagi. Saya sudah keluar dari > forum. Saya ingat dulu di forum ini selalu ada berita tentang China > dan perkembangannya. Tapi kok sekarang malah mengenai politik dan > ekonomi saja. Jangan-jangan anda malah seorang mata-mata pemerintah > yang memantau gerak-gerik etnis Tiong Hoa. Saya dilarang berurusan > dengan pemerintah oleh orang tuaku. Makanya saya juga tidak mau > memperpanjang hal ini. Membaca email Yenny tsb, saya jadi sedih, jengkel, sebal, heran, dsb, bercampur baur jadi satu. Heran, karena seorang sarjana, masih muda, umur 34-35 (lulus SMA 1997), berpendidikan luar negeri, tapi pikiran dan pegetahuannya demikian picik. Sedih, karena ulah orang2 model Yenny ini, yang pasti bukan hanya 1 orang saja, orang Tionghoa akan menuai banyak kesulitan dalam berinteraksi dengan masyakat Indonesia lainnya. Sebal, karena sudah salah, diberi tahu bukannya minta maaf dan menyadari kesalahannya, tapi malah menuduh yang macam2. Kalau yang bicara seperti itu orang Tionghoa yang tak berpendidikan, tentu kita bisa maklum dan berusaha menyadarkannya. Tapi untuk seorang sarjana lulusan luar negeri yang katanya banyak bergaul dengan segala bangsa, tapi masih berpikiran picik seperti itu, tentu sangat berbahaya. Sebagai sarjana, omongan dia yang provokatif seperti itu tentu akan didengar oleh orang2 yang menjadi bawahannya dan mungkin saja dianggap sebagai kebenaran. Walaupun tulisan Yenny tsb tidak secara langsung menyinggung masalah rasial terhadap kalangan non-Tionghoa, jelas tulisan dia secara tersirat berkonotasi diskriminatif rasial dan chauvinistist. Ini suatu bukti, bahwa di antara orang Tionghoa masih banyak orang2 yang rasialis seperti itu. Kalau kita marah terhadap kata2 Farhat Abbas terhadap Ahok, apakah kita harus meng-amini ucapan Yenny yang senada dengan Farhat Abbas, walaupun tidak secara langsung menuduh suatu etnis/ suku. Mustahil etnis Kurdi atau etnis Tutsi yang dituduh akan merampok, memperkosa, dan membunuh di sekitar rumah Yenny bukan? Kasus Yenny di milis ini hanya masalah kecil, tapi ini menunjukkan bahwa masih banyak problem yang harus kita atasi bersama, agar kita orang Tionghoa bisa diterima dengan baik di lingkungan kita tanpa ada perbedaan apapun. Selain perubahan dari pihak "sana", pihak kita juga harus berubah bukan? Sekedar renungan untuk kita semua. Salam JT [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
