SEBAGAI juragan tebu, kisah hidup Rojali, 58, ternyata tidak 
selalu manis. Soalnya, bini tercinta Ny. Samsiti, 35, yang selama ini 
dimanjakan, justru ada main dengan tukang bakso. Begitu marahnya sang 
suami, Samsiti dan gendakanya langsung digerebek, meski sampai 
ngumpet-ngumpet ke plafon segala.
Tak bisa dipungkiri, lelaki sejelek apapun bila banyak duit bisa saja menikah 
dengan perempuan cantik. Apa lagi dewasa ini semakin banyak 
wanita bersemboyan: witing tresna merga atusan lima (baca: mata duitan). Maka 
banyak ditemukan di tengah masyarakat, suami sudah jompo nan loyo 
tapi bininya masih kinclong macam Angelina Sondakh. Bagaimana dengan 
kehidupan ranjangnya? Ah itu urusan kesekianlah. Yang penting sekian 
tahun jadi bini sigaek, akan menjadi kaya raya setelah ditinggal nati 
suami.
Mungkin karena pertimbangan itu Samsiti mau menikah dengan Rojali 
yang usianya mendekati kepala enam. Lelaki ini memang tua dan jelek, 
tapi kaya banget, karena jadi juragan tebu di wilayah Kabupaten Malang. 
Bukti kekayaannya, baru beberapa tahun jadi suami istri sudah diajak ke 
Mekah al mukaromah. Cepat berangkat pula, karena waktu itu masih pakai 
ONH Plus yang belum kena waiting list. Maka sekarang Samsiti sudah 
bergelar hajah, meski kalau menyebut “Ya Allah” masih njawani banget 
jadi “ya awoh”, lantaran huruf lam-nya ketlingsut.
Soal materil menjadi Bu Rojali memang tak kekurangan. Tapi masalah 
onderdil, inilah yang kacau balau. Sesuai dengan pertambahan umur, dalam urusan 
ranjang Rojali sudah tidak maju lagi. Seperti lazimnya orangtua, juragan tebu 
ini punya prinsip: dalam menjalani sisa-sisa umurnya 
mending cari pahala dari pada sibuk urusan paha. Dus karena itulah, 
meski paha yang halalan tayiban milik istri sudah jarang dijamah.
Sebagai istri yang masih muda nan enerjik, hal ini jelas menjadi 
problem serius.  Wanita warga Desa Sumbermanjing Wetan, Kecamatan 
Sumbermanjing Wetan, ini sudah mencoba tampil beda untuk menaikkan daya 
pikat pada suami, tapi Rojali sudah tidak merespon. Ketika Samsiti pakai baju 
tipis malam-malam, malah diberinya selimut. “Nanti kalau mangsuk 
angin, saya yang repot….”, kata Rojali. Coba, bagaimana Samsiti tak 
mangkel, punya suami kok bloon banget, tidak tanggap ing sasmita (tak 
tahu isyarat).
Sebulan dua bulan masih betah, jika sudah tahunan? Maka sebagai 
solusinya, ya cari PIL-lah. Sebab Partai Demokrat kan bilang, dalam 
kondisi membahayakan, melanggar AD/RT tak masalah. Lalu bagaimana pula 
dengan Patih Sengkuni? Itu kan Rojali sendiri, orang sudah tua tapi 
tidak peka lagi pada kebutuhan istri yang hakiki.
Kebetulan Samsiti kenal baik dengan tukang bakso langganannya selama 
ini. Suhono, 40, orangnya masih muda. Baik tongkrongan maupun 
“tangkringan”-nya sepertinya berbanding lurus. Maka dia mencoba 
memancing-mancing lelaki ini. Karena Samsiti memang cukup cantik di 
kelasnya, tentu saja tawaran istri Rojali ini segera ditandangi 
(dilayani). Di rumah kontrakan Suhonolah kemudian Samsiti dipersilakan 
menikmati “bakso” istimewa milik Suhono yang ada intil-intilnya.
Serapat-rapatnya Samsiti – Suhono mengemas aksi mesumnya, lama-lama 
Rojali tahu juga. Maka di kala Samsiti diam-diam masuk ke rumah 
kontrakan tukang bakso itu di Desa Kidul, Kecamatan Gondanglegi, 
Kabupaten Malang; Rojali mengajak warga setempat untuk menggerebeknya. 
Mereka sempat sembunyi di atas plafon, tapi karena kakinya terjuntai, 
dengan mudah bisa dikenali.
Keduaanya dipaksa turun dan diserahkan ke Polres Malang. Dalam 
pemeriksaan keduanya mengaku tak berbuat apa-apa. Tapi bukti sperma yang belum 
kering di sprei, bukti otentik yang tak bisa dibantahkan bahwa 
mereka sebelumnya sedang bersetubuh. Mereka buru-buru naik plafon ketika 
digerebek penduduk.
Ngaku saja, atau milih direkonstruksi ulang? (RN/Gunarso TS)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke