Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X (lahir di 
Surakarta, 29 November 1866 – meninggal di Surakarta, 1 Februari 1939 pada umur 
72 tahun) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939.

Nama lahirnya (asma timur) adalah Raden Mas Malikul Kusno, putra Pakubuwana IX 
yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kustiyah, pada tanggal 29 November 1866. 
Konon, kisah kelahirannya menjadi cermin ketidakharmonisan hubungan antara 
ayahnya dengan pujangga Ranggawarsita.
Dikisahkan, pada saat Ayu Kustiyah baru mengandung, Pakubuwana IX bertanya 
apakah anaknya kelak lahir laki-laki atau perempuan. Ranggawarsita menjawab 
kelak akan lahir hayu. Pakubuwana IX kecewa mengira anaknya akan lahir cantik 
alias perempuan. Padahal ia berharap mendapat bisa putra mahkota dari Ayu 
Kustiyah.
Selama berbulan-bulan Pakubuwana IX menjalani puasa atau tapa brata berharap 
anaknya tidak lahir perempuan. Akhirnya, Ayu Kustiyah melahirkan Malikul Kusno. 
Pakubuwana IX dengan bangga menuduh ramalan Ranggawarsita meleset.
Ranggawarsita menjelaskan bahwa istilah hayu bukan berarti ayu atau "cantik", 
tetapi singkatan dari rahayu, yang berarti "selamat". Mendengar jawaban 
Ranggawarsita ini, Pakubuwana IX merasa dipermainkan, karena selama 
berbulan-bulan ia terpaksa menjalani puasa berat.
Ketidakharmonisan hubungan Pakubuwana IX dengan Ranggawarsita sebenarnya dipicu 
oleh fitnah pihak Belanda yang sengaja mengadu domba keturunan Pakubuwana VI 
dengan keluarga Yasadipura.

Malikul Kusno naik takhta sebagai Pakubuwana X pada tanggal 30 Maret 1893 
menggantikan ayahnya yang meninggal dua minggu sebelumnya. Pakubuwana X menikah 
dengan Ratu Hemas (putri Sultan Hamengkubuwono VII) dan dikaruniai seorang 
putri yang bernama GKR Pembajoen.
Masa pemerintahannya ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana 
politik kerajaan yang stabil. Pada masa pemerintahannya yang cukup 
panjang, Kasunanan Surakarta mengalami transisi, dari kerajaan 
tradisional menuju era modern, sejalan dengan perubahan politik di 
Hindia-Belanda.
Meskipun berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, 
Pakubuwana X memberikan kebebasan berorganisasi dan penerbitan media massa. Ia 
mendukung pendirian organisasi Sarekat Dagang Islam, salah satu organisasi 
pergerakan nasional pertama di Indonesia. Kongres Bahasa Indonesia I di 
Surakarta (1938) diadakan pada masa pemerintahannya.
Infrastruktur moderen kota Surakarta banyak dibangun pada masa pemerintahannya, 
seperti bangunan Pasar Gede Harjonagoro, Stasiun Solo Jebres, Stasiun Solo-Kota 
(Sangkrah), Stadion Sriwedari, Kebun Binatang Jurug, jembatan Jurug yang 
melintasi Bengawan Solo di timur kota, Taman Balekambang, gapura-gapura di 
batas Kota Surakarta, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan, 
rumah singgah bagi tunawisma, dan rumah perabuan (pembakaran jenazah) 
bagi warga Tionghoa.
Pakubuwana X meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1939. Ia disebut sebagai 
Sunan Panutup atau raja besar Surakarta yang terakhir oleh rakyatnya. 
Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Pakubuwana XI.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke