Dimana nilai nasionalismenya? Apa dasar menjadi pahlawan nasional?

JAsanya:
1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk
menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan
berbuat;
2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak
memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang
menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat,
dengan dasar iman dan Islam;
3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha
sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa,
dengan jiwa ajaran Islam; dan
4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah
mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi
sosial, setingkat dengan kaum pria.



--- In [email protected], Musik hari Ini <musikhariini@...> wrote:
>
> Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 â€" meninggal 
> di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan 
> Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari 
> keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib 
> terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari 
> K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu 
> Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.
> 
> Latar belakang keluarga dan pendidikan
> Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia 
> merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan 
> saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang 
> kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di 
> antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.[1] 
> Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 
> 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki 
> Ageng 
> Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru 
> Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu 
> Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).[2]
> Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. 
> Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran 
> pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan 
> Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti 
> nama menjadi Ahmad Dahlan.
> Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. 
> Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari 
> pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di 
> kampung Kauman, Yogyakarta.
> Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak 
> Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal 
> dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. 
> Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam 
> orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, 
> Siti Aisyah, Siti Zaharah.[1] Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula 
> menikahi Nyai Abdullah, 
> janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir 
> Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya 
> dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama 
> Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman 
> Yogyakarta.[3]
> KH. Ahmad Dahlan dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta.
> 
> Pengalaman organisasi
> Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah 
> Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup 
> berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta 
> yang cukup menggejala di masyarakat.
> Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai 
> gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan 
> dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat 
> mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam 
> dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
> Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk 
> melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad 
> Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal 
> menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk 
> kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Perkumpulan ini 
> berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak awal Dahlan telah 
> menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan 
> organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang 
> pendidikan.
> Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan 
> resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. 
> Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la 
> dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada 
> yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang 
> Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh 
> Budi Utomo yang kebanyakan dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan 
> lain. Saat itu Ahmad Dahlan sempat mengajar agama Islam di sekolah OSVIA 
> Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. 
> Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun ia berteguh hati 
> untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air 
> bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
> Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada 
> Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru 
> dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan 
> Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk 
> daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah 
> Yogyakarta. Dari 
> Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan 
> organisasi ini. Maka dari itu kegiatannya dibatasi. Walaupun 
> Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, 
> Imogiri dan lain-Iain telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas 
> bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk 
> mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan 
> agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul 
> Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah[4] di Garut. 
> Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) 
> yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam 
> kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan 
> untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.
> Berbagai perkumpulan dan jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, 
> diantaranya ialah Ikhwanul-Muslimin,[5] Taqwimuddin, Cahaya Muda, 
> Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, 
> Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, 
> Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.[6]
> Dahlan juga bersahabat dan berdialog dengan tokoh agama lain seperti Pastur 
> van Lith pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog 
> oleh 
> Dahlan. Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan 
> keagamaan Katolik. Pada saat itu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk 
> gereja dengan pakaian hajinya[7].
> Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan 
> dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui 
> relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan 
> sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. 
> Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk 
> menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin 
> berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 
> 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk 
> mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan 
> ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
> Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan 
> dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah 
> untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. 
> Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah 
> diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang 
> saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).
> 
> Pahlawan Nasional
> Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa 
> Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik 
> Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan 
> Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:
>       1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk 
> menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan 
> berbuat;
>       2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak 
> memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang 
> menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, 
> dengan dasar iman dan Islam;
>       3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha 
> sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan 
> bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
>       4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah 
> mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan 
> berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.
> Film
> Artikel utama: Sang Pencerah
> Kisah hidup dan perjuangan Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadyah diangkat ke 
> layar lebar dengan judul Sang Pencerah. Tidak hanya menceritakan tentang 
> sejarah kisah Ahmad Dahlan, film ini 
> juga bercerita tentang perjuangan dan semangat patriotisme anak muda 
> dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya yang dianggap 
> bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada masa itu, dengan 
> latar belakang suasana Kebangkitan Nasional. [8]
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke