Teks Al-Qur'an sudah sangat jelas, bahasanya jelas, dokumennya jelas. Kalau memang harus diteliti, boleh juga tuh, bukankah Yang mewahyukan sendiri yang menantangnya. Di barat memang sedang berlangsung penelitian hermeneutika terhadap teks bible, dikarenakan bible sejak awal disebarkan secara sembunyi- sembunyi dan rahasia disebabkan takut oleh pengejaran super power "ROMAWI" terhadap pengikut2 Isa as, dimana mereka tidak bisa tinggal disatu tempat dikarenakan dikejar2 seperti OSAMA bin Laden. Saking rahasianya sampai teks2 nya tersebar kemana2 dan tidak jelas rimbanya, buktinya bahasa yang digunakan bible sudah musnah ditelan jaman dikarenakan pengikut/orangnya sudah dibombardir sampai tewas semua. Pengikut2nya dikejar2 sebagai terorist perusak agama penyembah tuhan ZEUS (kedengatan mirip Jesus ya).
Kalau melihat film di Indosiar bulan lalu yang diambil dari kisah nyata tahun 1941 dimana ditemukan teks bible dalam bahasa aramaik, namun oleh pihak gereja ditahbiskan sebagai bid'ah (coba apa isi teksnya = sesuai dalam nubuat Al Qur'an "mereka akan menyembunyikannya ") dikarenakan ketakutan runtuhnya agama nasrani dan gereja yang ditopang dari paham paganisme "Zeus". Bukti: Natal adalah bukan hari kelahiran Jesus tapi perayaan untuk Dewa Matahari secara logika mana ada orang yang gembalakan domba saat musim dingin/salju, tapi didalam dramanya disebutkan Jesus lahir di kandang domba yang kosong. Jesus keturunan Daud, padahal dalam bible Daud telah berzina dengan batseba, masa orang suci lahir dari keturunan Pezina. Bagaimana dengan orang2 yang tidak mengakui Jesus sebagai tuhan apakah mereka selamat? Pasti dijamin selamat, bukti: nabi musa selamat dari kejaran fir'aun dan pasti masuk surga walaupun musa tidak pernah mengenal Jesus. Apakah Adam dan Hawa masuk neraka, karena dosa mereka, padahal mereka tidak mengenal Jesus karena belum lahir waktu itu? Jadi apa yang disebut penebus dosa manusia? Itulah yang menjadi bulan2an orang2 barat, mereka berusaha membuka tabir teks-teks kitabnya yang bahasanya sudah musnah, bagaimana mereka mau merekontruksi Al Qur'an melalui bahasa aramaik yang sudah musnah? Seperti halnya bahasa melayu sebagai bahasa lingua franca di indonesia, perbedaan arti antar daerah aja dimungkinkan, seperti butuh = perlu, tapi di banjar butuh=kontol=penis, apakah yang akan terjadi bila orang banjar mau merekontruksi buku2 pelajaran bahasa indonesia? contoh lain Tempik sorak, di jawa tempik=vagina, kalau saat dibaca buku pelajaran bahasa indonesia "Tempik sorak penonton sangat ramai" bagi orang jawa hanya bisa tertawa hahaha.... contoh lain Qur'an dari bahasa arab, di indoneisa menjadi KORAN=surat kabar=berita harian, betapa jadi berkurangnya arti/makna dari bahasa arab aslinya. Terus kok Al Qur'an mau direkontruksi menggunakan bahasa yang sudah musnah, Bahasa arab sudah menjadi bahasa umum dan menggunakan logika/maknanya sendiri, kalaupun ada kata serapan tentunya sudah menggunakan otaknya orang arab, bukan otaknya orang berbahasa aramaik yang sudah musnah. dan jelas sekali difirmankan "Aku telah menurunkan Al Qu'ran dalam bahasa arab" logika berfikirnya untuk tafsir kan seharusnya menggunakan logika pengguna bahasa arab, bukan bahasa tetangga2nya yang sudah almarhum. Yang menuliskan Al Qur'an menjadi buku kan orang-orang/team yang hapal diluar kepala dan jujur. kalau ada yang hilang pasti sudah ribut dijaman abu bakar dan usman. dan parahnya malah diributin jaman sekarang dimana banyak orang bohong dan pembual besar, seperti halnya dalih mencari senjata pemusnah masal untuk menjajah negeri orang, jago HAM tapi malah menyodomi tahanan politiknya, membakar tahanan yang sudah tidak berdaya dll. Harusnya ini menjadi bukti juga bahwa Nabi yang dinubuatkan dalam kitab sebelumny adalah tidak bisa membaca dan menulis menjadi terbuka lebar. karena teks Al Qur'an ditulis sesudah Nabi wafat. "H. M. Nur Abdurrahman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 1. Mun'im A Sirry: Bila kita telusuri dengan cermat, diskusi tentang integritas teks Alquran bukan monopoli kesarjanaan Barat, tapi sudah terjadi pada periode-periode sangat awal dalam Islam. Di sini kita hendak mendemonstrasikan intensitas dan ekstensitas perdebatan isu-isu krusial tentang teks Alquran. Persoalan utama dalam perdebatan tersebut ialah apakah teks Usmani mencakup seluruh materi yang diwahyukan kepada Nabi, atau apakah ada materi (ayat) yang hilang dari teks Usmani? ********************************************************************* *** HMNA: Kalau betul-betul beriman bahwa Al-Quran dari Allah SWT, mka bacalah ayat ini: -- Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [AlHijr, 15:9] Jadi isu-isu krusial tentang teks Alquran ttg masalah utama dalam perdebatan apakah teks Usmani mencakup seluruh materi yang diwahyukan kepada Nabi, atau apakah ada materi (ayat) yang hilang dari teks Usmani?, ada dua kemungkinan: 1. Atau yang berdebat itu, siapapun dia sudah ingkar terhadap jaminan Allah memelihara Al-Quran. 2. Atau isu-isu perdebatan tersebut TIDAK PERNAH terjadi. ********************************************************************* *** ====================================== 2. Mun'im A Sirry: Umar juga ingat ayat-ayat lain yang ia pikir hilang dari Alquran, termasuk satu ayat tentang kewajiban terhadap orang tua dan satu lagi tentang jihad (vol.III: 84). Hal ini dibenarkan oleh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, dan Ubay bin Ka'ab. Demikian juga dikemukakan Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar. ******************************************************* HMNA: Riwayat di atas itu tidak bisa dipercaya. Mengapa? Ya, kita tabrakkan lagi pada [S.Al-Hijr, 15:9]. ******************************************************** ======================================= 3. Mun'im A Sirry: Banyak keberatan juga ditujukan pada teks Alquran versi Usmani yang dibakukan hingga sekarang. ********************************************************************* ***********\ **** HMNA: Dari Nabi SAW ke Al-Quran bi al-Rasm al-'Utsmaaniy dijamin autentiknya, Jaminan Allah dalam ayat [S.Al-Hijr, 15:9], mengejawantah yaitu tidak ada perubahan sampai kepada bunyi dan teksnya oleh dua hal: 1. Dalam hal bunyi: Terjaga oleh para Hafizh (Penghafal Al Quran). 2. Dalam hal teks: Kontrol sistem keterkaitan matematis angka 19. Ilustrasi seperti berikut: Al-Muqaththa'aat (Potongan huruf) Alif-Lam-Mim yang membuka Surah setelah Basmalah, yaitu: Alif-Lam-Mim Surah-Surah (2,3,29,30,31,32) Alif-Lam-Mim-Ra Surah (13) Alif-Lam-Mim-Shad Surah (7) Hasilnya tabulsi: Tabel Alif, Lam, Mim No. Nama Jumlah huruf Surah Surah Mim Lam Alif Alif,Lam,Mim ----------------------------------------------------- 2 alBaqarah 2195 3204 4592 9991 3 Ali 'Imraan 1251 1885 2578 5714 7 alA'raaf 1165 1523 2572 5260 13 alRa'd 260 479 625 1364 29 al'Ankabuwt 347 554 784 1685 30 alRuwm 318 396 545 1259 31 Luqmaan 177 298 348 823 32 alSajadah 158 154 268 580 Jumlah 5871 8493 12312 26676 = 1404 x 19 Perhatikan! Ke-8 Surah dalam keluarga Al-Muqaththa'at Alif-Lam-Mim yang dikontrol oleh angka 19, sejak zaman Nabi SAW sampai sekarang tidak berubah walaupun dalam hal huruf sekalipun, sebab kalau berubah satu huruf saja misalnya kata Shalat diubah dari Shad-Lam-Wawa-Ta menjadi Shad-Lam-Alif-Ta, seperti yang kita lihat dalam tulisan azan di semua siaran TV Indonesia, maka rusaklah keterkaitan angka 19 itu (tidak habis dibagi 19). Apa artinya itu ? Al-Quran Dari zaman Nabi SAW sampai kepada Al-Quran bi a-Rasm al-'Utsmaaniy tidak ada perubahan walau satu huruf sekalipun. Perhatikan ! Mana mungkin pada zaman Khalifah Utsman sudah pernah dibuat tabulasi di atas itu, menjumlahkan jalur horisontal dan jalur vertikal kemudian membagi jumlah 26676 denga 19, karena pada waktu itu arabic number dengan sistem desimal belum dikenal. Coba kita pakai angka Romawi: No. Nama Jumlah huruf Surah Surah Mim Lam Alif Alif,Lam,Mim ---------------------------------------------------------------- II alBaqarah MMCCXCV MMMCCIV MMMMDXCII MMMMMMMMMCMI III Ali 'Imraan MCCLI MDCCCLXXXV MMDLXXVIII MMMMMDCCXIV VII alA'raaf MCLXV MCXXIII MMDLXXII MMMMMCCLX XIII alRa'd CCLX CDLXXIX DCXXV MCCCLXIV XXIX al'Ankabuwt CCCXLVII DLIV DCCLXXXIV MDCLXXXV XXX alRuwm CCCXVIII CCCXCVI DXLV MCCLIX XXXI Luqmaan CLXXVII CCXCVIII CCCXLVIII DCCCXXIII XXXII alSajadah CLVIII CLIV CCLXVIII DLXXX Jumlah ? ? ? ? : XIX = ? Nah, ini bukan perbualan, menjumlahkan angka-angka Romawi dalam tabel di atas pada jalur vertikal dan jalur horisontal dan lebih tidak mungkin membaginya dengan angka Romawi xix, tanpa bantuan arabic number sistem desimal yang baru dikenal jauh setelah zaman Nabi SAW dan al-Khulafaau al-Raasyiduwn. Al-Quran itu adalah mu'jizat Nabi Muhammad SAW yang dapat disaksikan manusia sepanjang zaman dalam dua hal: 1. Tidak ada manusia yang sanggup menulis buku seperti Al-Quran. 2. Al-Quran tetap otentik. Ini bukti secara matematis Al-Quran itu tidak berubah teksnya hingga sekarang ini sampai akhir zaman. ********************************************************************* ****** =================================== 4. Mun'im A Sirry: Riwayat di atas tidak bersumber dari orientalis, melainkan kitab- kitab ulama terdahulu. Sekali lagi, Azami menghindar untuk mendiskusikan isu krusial ini. Padahal, ulama-ulama besar, bahkan para sahabat, telah memulai perdebatan ini, sehingga tidak perlu ada yang ''ditabukan''. Apa yang dikeluhkan Umar, dan sabahat terkemuka lainnya setelah peresmian teks standar Usmani, membenarkan kekhawatiran Arkoun bahwa Alquran kini menjadi korpus tertutup resmi (official cl! osed corpus). Sungguh amat disayangkan, kaum Muslim kini masih terus mentahbiskan ketertutupan korpus itu. ********************************************************************* **** HMNA: Azami menghindar untuk mendiskusikan isu krusial ini, mengapa? Karena isu itu ditabrak olah ayat [S.Al-Hijr, 15:9]. Kekhawatiran Arkoun dan Mun'im A Sirry sendiri (?), menunjukkan Arkoun dan Mun'im A Sirry sendiri (?) tidak beriman kepada ayat [AlHijr, 15:9], dan itu selanjutnya menunjukkan Arkoun dan Mun'im A Sirry sendiri (?) adlah pseudo-muslims. Howgh ********************************************************************* ***** ----- Original Message ----- From: [EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, April 12, 2005 12:45 Subject: [Sabili] Rekonstruksi Sejarah Teks Alquran Opini seorang dosen IAIN tentang karya Azami. Republika, Senin, 11 April 2005 Rekonstruksi Sejarah Teks Alquran Oleh : Mun'im A Sirry Mahasiswa Fulbright di University of California, Los Angeles (UCLA) Walaupun penerjemahan buku The History of the Qur'anic Text (2003) karya Profesor Muhammad Mustafa al-Azami ke dalam bahasa Indonesia patut disambut gembira, namun catatan kritis harus segera dikemukakan. Azami begitu dismisif menolak kesarjanaan Barat tentang Alquran, terutama meyangkut penelusuran historis atas teks baku Alquran. Saya kira, sebagaimana kita perlu kritis membaca karya-karya orientalis, kita juga harus kritis membaca karya Azami ini. Adnin Armas dalam tulisannya Selamat Datang, Profesor Azami! (Republika, 30/3/2005) memuji karya Azami ini seolah telah berhasil mematahkan argumen kaum orientalis dan membongkar niat busuk di balik kajian mereka terhadap Alquran. Saya melihat sebaliknya, Azami tidak masuk ke jantung perdebatan diskursif yang berkembang di Barat, sehingga gagal merespon! s secara intelektual isu-isu penting dalam studi kaum orientalis tentang Alquran. Ada dua kegagalan cukup menonjol dalam karya Azami ini, yakni responsnya bersifat seporadis dan tidak mendalam, dan gagal menyelami korpus kesarjanaan Barat yang begitu beragam. Namun demikian, cara Azami merespons kesarjanaan Barat secara intelektual patut diteladani. Berbeda dengan kebanyakan ulama Timur Tengah yang kerap mengutuk Barat tanpa melahirkan karya ilmiah, Azami memperlihatkan konsistensi menjawab intelektualisme Barat secara intelektual pula. Sebelumnya, ia menulis kritik intelektual berjudul On Schacht's Origins of Muhammadan Jurisprudence (1985) sebagai respons terhadap karya Joseph Schacht (1902-1969) berjudul Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950); suatu karya penting yang kini menjadi fondasi studi hadits di kalangan sarjana Barat pasca Ignaz Goldziher (1850-1921). Saya kira, pesan Azami jelas: jika tidak setuju dengan karya-karya Barat, kita seyog! ianya menulis karya-karya intelektual yang punya bobot ilmiah ! serupa.< /P> Alquran dalam studi Barat Azami mengakui luasnya intensitas dan ekstensitas studi Barat tentang Alquran. Namun, belum apa-apa, ia sudah menuduh penelitian sarjana-sarjana Barat didorong oleh a definite motive behind all these 'discoveries'. Sebelum menyebut deretan nama-nama sarjana Barat yang punya perhatian terhadap studi Alquran, Azami memulai dengan kalimat ''Upaya-upaya untuk mendistorsi Islam dan kesucian teksnya sebenarnya seusia agama ini sendiri, kendati strategi di balik upaya-upaya tersebut mengalami fluktuasi sesuai tujuan yang hendak dicapai.'' (hlm 8). Prasangka ini begitu kuat mengarahkan studi Azami terhadap karya- karya orientalis. Hasilnya bisa kita tebak, Azami begitu dismisif menolak temuan-temuan sarjana Barat dan menganggap mereka hendak menghancurkan Islam dengan menebarkan keraguan terhadap Alquran dan hadits. Menjawab prasangka dengan prasangka yang sama memang persoalan klasik, tetapi sangat disayangkan ternyata ini jug! a menjangkit cendekiawan sekaliber Azami. Sikap dismisif Azami terlihat dari kenyataan bahwa dia sama sekali tidak menyebut sarjana-sarjana Barat yang menolak tesis keraguan terhadap otentisitas teks Alquran. Nama-nama yang banyak disebut Azami adalah Geiger, Noldeke, Tisdall, Jeffrey, Rippin, Crone, Calder dan tentu saja dedengkotnya Wansbrough yang disebutnya the most radical approach to ousting the Qur'an from its hollowed status." Bagi mereka yang sempat membaca karya-karya Barat tentang studi Alquran, walaupun tidak mendalam, tentu akan merasa aneh jika tidak menyebut Richard Bell, Montgomery Watt, Tashihiko Izutsu, Alford Welch, Daniel Madigan, atau Kenneth Cragg yang banyak menulis karya-karya simpatik tentang Alquran. Sarjana yang disebut terakhir menulis dua karya bagus yang menjadi bacaan favorit saya, The Event of the Qur'an (1971) dan The Mind of the Qur'an (1973). Di antara sarjana Barat yang banyak diserang Azami ! adalah Wansbrough. Memang, studi Wansbrough terutama yang tert! uang dal am dua karya utamanya, Qur'anic Studies (1977) dan The Sectarian Milieu (1978), sangat berpengaruh. Poin metodologis mendasar dalam karya Wansbrough adalah untuk mempertanyakan pertanyaan penting yang biasanya tidak disinggung dalam studi Islam: apa buktinya. Bukti apa yang kita miliki yang menunjukkan akurasi historis mengenai kebenaran penjelasan tradisional bahwa Alquran dikompilasi pada waktu tidak lama setelah wafatnya Nabi? Menurut Wansbrough, sumber-sumber non-Islam yang awal membuktikan bahwa keberadaan Alquran dapat dilacak pada abad kedua Hijrah. Bahkan, sumber-sumber Islam yang awal sendiri, menurut Wansbrough, mengindikasikan bahwa teks Alquran belum ditetapkan secara total hingga awal abad ketiga (1977: 163). Karena itu, ia mengajukan empat postulat historis: (1) tidak terdapat alasan untuk mengasumsikan historisitas sumber-sumber tertulis Islam awal dalam bentuk apa pun, termasuk Alquran, sebelum abad ketiga; (2) konsekwensinya, sumber-sum! ber tersebut tidak bisa dijadikan basis bagi sejarah asal-usul Islam; (3) sebaliknya, sumber-sumber itu merepresentasikan suatu proyeksi ke belakang ''teks-teks Hijazi'' yang sebenarnya berkembang di luar jazirah Arabia, utamanya Irak; (4) kunci untuk memahaminya adalah dengan melihat pengaruh Yahudi terhadap perkembangan formatif tradisi Muslim. Namun, tidak berarti tesis ini sepenunya diamini sarjana-sarjana Barat lain. Fred Donner (dari Universitas Chicago) dan William Graham (dari Universitas Harvard) termasuk mereka yang paling artikulatif menolak tesis bahwa Alquran tidak dikodifikasi sejak abad pertama. Donner mengajukan argumen tekstual-historis dalam karyanya Narratives of Islamic Origins (1998), sementara Graham menguliti empat postulat historis Wansbrough dalam artikel review-nya di Journal of the American Oriental Society (1980). Dan, Azami melewatkan begitu saja perdebatan intelektual ini. Integritas teks Alquran<BR! Terdapat kesan umum bahwa perdebatan seputar sejarah teks Al! quran sa ngat tipikal Barat. Banyak kalangan berasumsi, sementara kaum Muslim menerima fakta Alquran sebagaimana kita saksikan sekarang secara taken for granted, sarjana-sarjana Barat mempersoalkan integritas teks Alquran demi memunculkan keraguan terhadap kalam Ilahi tersebut. Asumsi ini sama sekali tidak berdasar. ============================================ Bila kita telusuri dengan cermat, diskusi tentang integritas teks Alquran bukan monopoli kesarjanaan Barat, tapi sudah terjadi pada periode-periode sangat awal dalam Islam. Di sini kita hendak mendemonstrasikan intensitas dan ekstensitas perdebatan isu-isu krusial tentang teks Alquran. Persoalan utama dalam perdebatan tersebut ialah apakah teks Usmani mencakup seluruh materi yang diwahyukan kepada Nabi, atau apakah ada materi (ayat) yang hilang dari teks Usmani? ********************************************************************* *** HMNA: Kalau berul-betul beriman bahwa Al-Quran dari Allah SWT, mka bacalah ayat ini: -- Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [S.Al-Hijr, 15:9] Jadi isu-isu krusial tentang teks Alquran ttg masalah utama dalam perdebatan apakah teks Usmani mencakup seluruh materi yang diwahyukan kepada Nabi, atau apakah ada materi (ayat) yang hilang dari teks Usmani?, ada dua kemungkinan: 1. Atau yang berdebat itu, siapapun dia sudah ingkar terkadap jaminan Allah memelihara Al-Quran. 2. Atau isu-isu perdebatan tersebut TIDAK PERNAH terjadi. ********************************************************************* *** Sebenarnya literatur Sunni sendiri memperbincangkan berbagai riwayat yang menyebutkan sejumlah ayat telah hilang sebelum Alquran dihimpun atas inisiatif Abu Bakar. Pakar ilmu Alquran Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an meriwayatkan bahwa Umar pernah mencari-cari ayat Alquran yang ia lupa-lupa ingat. Umar menjadi sedih sekali, karena akhirnya ia menemukan orang yang mencatat ayat itu telah meninggal saat Perang Yamamah, dan akibatnya ayat itupun hilang (vol.I: 204). ====================================== Umar juga ingat ayat-ayat lain yang ia pikir hilang dari Alquran, termasuk satu ayat tentang kewajiban terhadap orang tua dan satu lagi tentang jihad (vol.III: 84). Hal ini dibenarkan oleh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, dan Ubay bin Ka'ab. Demikian juga dikemukakan Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar. ******************************************************* HMNA: Riwayat di atas itu tidak bisa dipercaya. Mengapa? Ya, kita tabrakkan lagi pada [S.Al-Hijr, 15:9]. ******************************************************** =========================================== Banyak keberatan juga ditujukan pada teks Alquran versi Usmani yang dibakukan hingga sekarang. ********************************************************************* ***********\ **** HMNA: Dari Nabi SAW ke Al-Quran bi al-Rasm al-'Utsmaaniy dijamin autentiknya. Jaminan Allah dalam ayat [S.Al-Hijr, 15:9], mengejawantah yaitu tidak ada perubahan sampai kepada bunyi dan teksnya oleh dua hal: 1. Dalam hal bunyi: Terjaga oleh para Hafizh (Penghafal Al Quran). 2. Dalam hal teks: Kontrol sistem keterkaitan matematis angka 19. Ilustrasi seperti berikut: Al-Muqaththa'aat (Potongan huruf) Alif-Lam-Mim yang membuka Surah setelah Basmalah, yaitu: Alif-Lam-Mim Surah-Surah (2,3,29,30,31,32) Alif-Lam-Mim-Ra Surah (13) Alif-Lam-Mim-Shad Surah (7) Hasilnya tabulsi: Tabel Alif, Lam, Mim No. Nama Jumlah huruf Surah Surah Mim Lam Alif Alif,Lam,Mim ----------------------------------------------------- 2 alBaqarah 2195 3204 4592 9991 3 Ali 'Imraan 1251 1885 2578 5714 7 alA'raaf 1165 1523 2572 5260 13 alRa'd 260 479 625 1364 29 al'Ankabuwt 347 554 784 1685 30 alRuwm 318 396 545 1259 31 Luqmaan 177 298 348 823 32 alSajadah 158 154 268 580 Jumlah 5871 8493 12312 26676 = 1404 x 19 Perhatikan! Ke-8 Surah dalam keluarga Al-Muqaththa'at Alif-Lam-Mim yang dikontrol oleh angka 19, sejak zaman Nabi SAW sampai sekarang tidak berubah walaupun dalam hal huruf sekalipun, sebab kalau berubah satu huruf saja misalnya kata Shalat diubah dari Shad-Lam-Wawa-Ta menjadi Shad-Lam-Alif-Ta, seperti yang kita lihat dalam tulisan azan di semua siaran TV Indonesia, maka rusaklah keterkaitan angka 19 itu (tidak habis dibagi 19). Apa artinya itu ? Al-Quran Dari zaman Nabi SAW sampai kepada Al-Quran bi a-Rasm al-'Utsmaaniy tidak ada perubahan walau satu huruf sekalipun. Perhatikan ! Mana mungkin pada zaman Khalifah Utsman sudah pernah dibuat tabulasi di atas itu, menjumlahkan jalur horisontal dan jalur vertikal kemudian membagi jumlah 26676 denga 19, karena pada waktu itu arabic number dengan sistem desimal belum dikenal. Coba kita pakai angka Romawi: No. Nama Jumlah huruf Surah Surah Mim Lam Alif Alif,Lam,Mim ---------------------------------------------------------------- II alBaqarah MMCCXCV MMMCCIV MMMMDXCII MMMMMMMMMCMI III Ali 'Imraan MCCLI MDCCCLXXXV MMDLXXVIII MMMMMDCCXIV VII alA'raaf MCLXV MCXXIII MMDLXXII MMMMMCCLX XIII alRa'd CCLX CDLXXIX DCXXV MCCCLXIV XXIX al'Ankabuwt CCCXLVII DLIV DCCLXXXIV MDCLXXXV XXX alRuwm CCCXVIII CCCXCVI DXLV MCCLIX XXXI Luqmaan CLXXVII CCXCVIII CCCXLVIII DCCCXXIII XXXII alSajadah CLVIII CLIV CCLXVIII DLXXX Jumlah ? ? ? ? : XIX = ? Nah, ini bukan perbualan, menjumlahkan angka-angka Romawi dalam tabel di atas pada jalur vertikal dan jalur horisontal dan lebih tidak mungkin membaginya dengan angka Romawi xix, tanpa bantuan arabic number sistem desimal yang baru dikenal jauh setelah zaman Nabi SAW dan al-Khulafaau al-Raasyiduwn. Al-Quran itu adalah mu'jizat Nabi Muhammad SAW yang dapat disaksikan manusia sepanjang zaman dalam dua hal: 1. Tidak ada manusia yang sanggup menulis buku seperti Al-Quran. 2. Al-Quran tetap otentik. Ini bukti secara matematis Al-Quran itu tidak berubah teksnya hingga sekarang ini sampai akhir zaman. ********************************************************************* ***********\ ******** Sejumlah riwayat menyebutkan, banyak sahabat terkemuka tidak menjumpai dalam teks resmi sejumlah ayat yang mereka sendiri dengar dari Nabi, atau menemukannya dalam bentuk berbeda. Ubay bin Ka'ab, misalnya, membaca surat al-Bayyinah dalam versi berbeda yang ia klaim didengarnya dari Nabi, t! ermasuk dua ayat yang tidak tercatat dalam teks Usmani. Ia ber! kata, ve rsi orisinal dari surat al-Ahzab lebih panjang; ia juga mengingat ayat rajam hilang dari teks Usmani. Hal ini didukung oleh Zaid bin Tsabit dan Aisyah (yang menyebutkan pada masa hidup Nabi surat tersebut tiga kali lebih panjang). Hudzaifah bin Yaman menemukan sekitar tujuh puluh ayat tidak tercantum dalam teks Usmani, ayat- ayat yang ia sendiri biasa membacanya pada masa hidup Nabi. Ia mengatakan, surat al-Bara'ah (ke-9) dalam teks Usmani hanya sepertiga atau seperempat dari apa yang ada pada masa Nabi. Riwayat di atas tidak bersumber dari orientalis, melainkan kitab- kitab ulama terdahulu. Sekali lagi, Azami menghindar untuk mendiskusikan isu krusial ini. Padahal, ulama-ulama besar, bahkan para sahabat, telah memulai perdebatan ini, sehingga tidak perlu ada yang ''ditabukan''. Apa yang dikeluhkan Umar, dan sabahat terkemuka lainnya setelah peresmian teks standar Usmani, membenarkan kekhawatiran Arkoun bahwa Alquran kini menjadi korpus tertutup resmi (official cl! osed corpus). Sungguh amat disayangkan, kaum Muslim kini masih terus mentahbiskan ketertutupan korpus itu. ********************************************************************* **** HMNA: Azami menghindar untuk mendiskusikan isu krusial ini, mengapa? Karena isu itu ditabrak olah ayat [S.Al-Hijr, 15:9]. Kekhawatiran Arkoun dan Mun'im A Sirry sendiri (?), menunjukkan Arkoun dan Mun'im A Sirry sendiri (?) tidak beriman kepada ayat [AlHijr, 15:9] , dan itu selanjutnya menunjukkan Arkoun dan Mun'im A Sirry sendiri (?) adlah pseudo-muslims. Howgh ********************************************************************* ***** ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/7zgKlB/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
