Kalo si uplik maunya yang heboh kayak gini, 

http://www.youtube.com/watch_popup?v=m-qy0lXybWY&vq=large

Menyedot perhaditan dengan rame-rame copot "kacamata" tapi 
nggak menghasilkan apa-apa selain jadi tontonan menghibur. 


- 


Para Srikandi di Sudut Negeri
Wahyu Dramastuti | Sabtu, 09 Maret 2013 - 12:00:00 WIB

Tanpa ingar-bingar perjuangan, mereka telah terbukti menghidupkan 
masyarakat di sekitar. 

Gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan munculnya 
banyak protes mengenai kondisi kerja di abad ke-20 rupanya tidak sia-sia.

Kaum perempuan kemudian bangkit, menggagas peringatan Hari Perempuan 
Internasional setiap tanggal 8 Maret yang sejak 1975 disponsori Perserikatan 
Bangsa-Bangsa (PBB).

Hari besar bagi perempuan ini mengingatkan dunia bahwa perempuan pun bisa 
berhasil di bidang ekonomi, politik, sosial, iptek, dan sebagainya. Malah, di 
Indonesia pun peringatan itu menginspirasi banyak kaum hawa.

Mereka yang sebelumnya dianggap lemah, nyatanya menjadi pengendali kehidupan 
keluarga. Kesadaran itu kemudian membuat mereka saling memotivasi kemandirian, 
yang lantas disebut kemandirian perempuan.

Jumiati (32), nelayan perempuan dari Desa Sei Ngalawan, Serdang Bedagai, 
Sumatera Utara, adalah salah satu di antara mereka. Bersama enam orang lainnya, 
dia dipilih oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Oxfam sebagai pejuang pangan 
karena memberdayakan segala sumber daya untuk menghidupkan pangan masyarakat 
sekitar.

Keenam orang lain yang merupakan petani dan nelayan itu adalah Habibah, nelayan 
di Marunda Kepu, Jakarta Utara, yang menghasilkan pangan walau terimpit 
reklamasi pantai dan pencemaran laut; Suparjiyem, petani Gunung Kidul, DI 
Yogyakarta, yang rajin berbagi pengetahuan tentang pola tanam kepada petani 
sekitar dan aktif mengadvokasi kebijakan pemerintah.

Selain itu, ada Marlina Rambu Meha, petani dari Sumba Timur, Nusa Tenggara 
Timur (NTT) yang melestarikan tenun dan 12 jenis pangan lokal demi mendorong 
kemandirian perempuan di tengah ketatnya budaya; dan Siti Rofiah yang 
memotivasi kemandirian petani di Manggarai Barat dan Lembata, NTT untuk 
membudidayakan pangan lokal yang mulai terlupakan.

Ada pula Siti Rahmah, petani sayuran organik yang bercita-cita teknik budi daya 
tanaman pangan dan tambak menjadi organik. Ada pula Mama Rebecca, petani yang 
membentuk kelompok beranggotakan 21 janda dan menghibahkan kebunnya untuk 
dikelola secara bersama-sama.

Ketujuh pejuang pangan itu mendobrak kesulitan pemerintah Indonesia dalam 
mencukupi kebutuhan pangan. Faktanya, menurut Oxfam, perempuan secara mayoritas 
bertanggung jawab dalam produksi pangan, khususnya di negara-negara berkembang.

Di sektor perikanan, perempuan nelayan berkontribusi hingga 48 persen untuk 
ekonomi keluarga. Adapun di sektor pertanian berkontribusi sampai 54 persen 
untuk perekonomian keluarga.

Jumiati, nelayan dari Desa Sei Ngalawan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, 
menjelaskan kepada SH, Jumat (8/3) di Jakarta, awal dari perjuangannya karena 
melihat banyaknya nelayan yang terjerat utang pada rentenir dengan bunga 20-40 
persen.

Karena itu ia menggagas pembentukan koperasi simpan pinjam Credit Union (CU) 
Muara Tanjung yang meminjamkan uang Rp 3-5 juta untuk setiap nelayan dengan 
bunga 3 persen menurun dan tanpa agunan. Setiap tahun juga ada pembagian 
keuntungan bagi 22 anggotanya.

Sejak 2005, ibu dua anak yang mengetuai Kelompok Perempuan Nelayan Muara 
Tanjung ini juga mengajak masyarakat menanam mangrove yang kini sudah seluas 12 
hektare dan membentengi pesisir sepanjang pantai Desa Sei Nagalawan.

Berkat hutan bakau itu, kehidupan yang telah hilang menjelma kembali. Sekarang, 
warga mudah menemukan kepiting batu di sela akar mangrove. Ikan Semilan, kerang 
lokan, dan ikan lainnya pun bermunculan di sekitar pantai. Uniknya lagi, 
kelompok perempuan nelayan ini mengolah mangrove menjadi makanan. Buah mangrove 
pidada direka-reka menjadi sirup, dari mangrove api-api menjadi dodol dan 
tepung kue.

Desa Tandus

"Srikandi" juga dipunyai oleh desa tandus di Kabupaten Gunung Kidul, DI 
Yogyakarta. Suparjiyem (52) memelopori pendirian Kelompok Wanita Tani (KWT) 
Menur sejak 1989 di Desa Wareng, Kecamatan Wonosari. Kini, para perempuan di 
sana berani menyampaikan pendapat dalam forum pertanian dan mempertanyakan 
kebijakan yang tidak mendukung sektor pangan.

KWT Menur juga memopulerkan kembali umbi-umbian yang mudah ditanam di Wareng. 
Mereka sudah menghasilkan tepung kasava dari singkong dan tiwul siap saji (dari 
tepung kasava), tepung ganyong, gembili, gadung, ubi kelapa, dan ubi jalar ungu.

Lain lagi dengan Sitti Rahmah (41). Kelompok Tani Perempuan Pita Aksi (KWT Pita 
Aksi) yang dibentuknya pada 2010 mengembangkan tanaman sayuran organik seperti 
sawi, kangkung, seledri, terong hijau, kacang hijau. Hasilnya adalah 
penghematan. Kalau dulu Rahmah membayar Rp 5.000 tiap hari untuk membeli sayur, 
sekarang malah menghasilkan hingga Rp 500.000 per bulan dari penjualan sayuran 
organik dari kebun sendiri.

Komunitas itu menanam padi air asin organik di "lahan tidur" yang sudah sekitar 
20 tahun hanya ditanami ubi jalar di musim kemarau. Kini, para perempuan di 
desanya, Desa Pitu Sunggu, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkajene, dan 
Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, diperhitungkan oleh kaum lelaki, bahkan 
terlibat dalam musyawarah rencana pembangunan (musrembang).

Srikandi lainnya adalah Mama Rebecca di Samabusa, Nabire, Papua. Setelah 
suaminya meninggal pada 1992 padahal ada tiga anak yang masih bersekolah, 
Rebecca berkebun dengan menanam singkong, bete, ubi, talas, dan sayur-sayuran.

Melalui kelompok PKK dia memotivasi para ibu tentang pentingnya kemandirian 
pangan supaya tidak membeli beras yang mahal. Untuk itu dia merelakan sebagian 
lahannya untuk dijadikan kebun bersama. Ada 21 perempuan yang bergabung, 
berasal dari suku Wate, Dani, Serui, dan Biak; mayoritas dari mereka adalah 
janda.

Siti Rofi'ah (46), warga Pulau Lembata, membuat kebun percontohan pangan lokal 
seluas 2 hektare di Lewoleba, Kabupaten Lembata. Ia menanaminya dengan padi, 
sorghum, juwawut, jelai, jagung, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. "Itu karena 
pangan lokal hampir hilang. Sekitar 90 persen kebutuhan pangan Lembata datang 
dari luar," katanya.

Sebelum pindah ke Lembata mengikuti suaminya, Siti memimpin Aliansi Petani Padi 
Lembor (Appel) di Manggarai Barat sejak 2008. Appel berhasil meningkatkan 
kualitas padi, lumbung pangan, dan simpan pinjam, juga memengaruhi keputusan 
Bupati Manggarai Barat tentang pengembangan pangan lokal dan program beras 
miskin (raskin).

"Kami mewajibkan pemerintah membeli beras hasil Lembor yang lebih bagus 
daripada beras dari Jawa dan Makassar, untuk dibagikan sebagai Raskin di 
kawasan ini," lanjut Siti. Maka sejak 2010, Pemda Manggarai Barat membeli beras 
Lembor dari pusat-pusat penggilingan padi Lembor.

Pendidikan dan Kesehatan

Tentang Meilani Siahaan (28) lain lagi ceritanya. Dia adalah sarjana psikologi 
dari Yayasan Administrasi Indonesia (YAI) Jakarta yang berkiprah di bidang 
pendidikan untuk kaum miskin kota. Yang dia geluti saat ini playgroup dan TK 
(taman kanak-kanak) untuk anak umur 3-7 tahun. Ada sekitar 60 bocah yang 
bergantung di sana, di Sekolah Tunas Merah Putih.

Sekolah itu terletak di Tanjung Lengkong, Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan 
Jatinegara, Jakarta Timur. Jadi, pastilah murid-muridnya tinggal di seputar 
area itu, di daerah rawan banjir karena dekat Kali Ciliwung. Murid cukup bayar 
Rp 80.000 per tahun untuk membeli map berisi pensil, kerayon, buku gambar, dan 
alat tulis lain, serta uang pendaftaran. Ongkos Rp 80.000 itu dibayarkan 
separuh dulu, kemudian sisanya dicicil.

Bisa dibayangkan, Meilani pasti mengajar tanpa honor. Betul sekali! Meilani dan 
dua guru lainnya, yakni Yuli dan Lili memang tidak menerima bayaran. Padahal 
mereka bekerja saban hari dari pukul 07.30-11.00, disambung lagi dengan 
kegiatan bimbingan belajar (bimbel) sampai pukul 15.00.

Sekolah itu didirikan pada tahun 2007 oleh Wanda Warouw, dan Meilani adalah 
relawannya. Lantas pasti timbul pertanyaan: dari mana modal untuk membiayai 
pengajaran itu? Wanda, Meilani, Yuli, dan Lili hanya bermodalkan ketulusan. 
Mereka memberikan hati mereka untuk para murid dari keluarga tak mampu.

Perempuan "perkasa" lainnya adalah Salamah (42), yang sampai dikejar-kejar 
satpam demi memperjuangkan pasien miskin supaya dirawat di rumah sakit. Meski 
belum terlalu lama bergabung dalam Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), sudah banyak 
masyarakat miskin di Jakarta Utara yang terbantu olehnya.

Kepada SH, dia menceritakan setahun lalu sekitar pukul 02.00 ada seorang pasien 
yang sudah berjam-jam berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah 
sakit di Jakarta Utara. Meski dokter di IGD menyuruh pasien itu dipindah ke 
ruang perawatan, ternyata oleh petugas belum juga dipindahkan dengan alasan 
kamar penuh.

"Akhirnya saya nekat keliling cari kamar yang ada tempat tidur kosongnya. Ada 
lima kasur kosong, dua di lantai tiga dan tiga di lantai delapan," katanya. Ia 
pun membawa bantal yang ada di kasur itu lalu membawanya ke Bagian Admisi untuk 
diperlihatkan bahwa masih ada kamar kosong. Saat membawa bantal itulah dia 
dihalang-halangi dan dikejar satpam.

"Sampai di Bagian Admisi, petugasnya berdalih bahwa kelima kasur itu sudah 
di-booking. Lalu saya tanya, ini rumah sakit atau hotel? Akhirnya mereka 
mempersilakan pasien saya masuk ke kamar di lantai delapan," lanjut Salamah.

Ibu tiga anak ini berharap pemerintah memperhatikan nasib warga miskin terutama 
yang sedang sakit. Namun, menurut warga Koja, Jakarta Utara ini, masih banyak 
warga Jakarta Utara yang belum memahami hak mereka untuk mendapatkan jaminan 
kesehatan dari pemerintah karena kurang sosialisasi dari RT dan RW.

Sementara itu Hairiah, SH, MH bisa disebut sebagai pejuang hak asasi perempuan. 
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Kalimantan Barat. Perempuan 
kelahiran 27 Maret 1966 ini selalu berjuang membela kaum perempuan sejak 
1990-an. Bermula ketika dia melihat ada perdagangan perempuan untuk dikirim ke 
luar negeri.

Pada 17 Januari 1997, ibu dua anak ini mendirikan Lembaga Bantuan Hukum 
Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH PIK) Pontianak untuk mengatasi 
permasalahan tenaga kerja wanita (TKW). Namun dalam perjuangannya ada kendala, 
di mana dia sering diancam para calo di perbatasan Malaysia-Indonesia yang 
hendak mengirimkan TKW. Untuk mengatasinya, Hairiah bekerja sama dengan 
institusi lain.

Apakah semudah itu Hairiah mewujudkan cita-citanya menyejajarkan kesetaraan 
gender perempuan dengan lelaki? Jangankan Hairiah, para perempuan yang 
memperjuangkan kebutuhan pokok, seperti Suparjiyem dari Kabupaten Gunung Kidul, 
Yogyakarta, masih mendapat tantangan dari pemerintah. Perangkat desa kurang 
mendukung pengadaan lahan untuk percontohan. Selain itu, belum ada alat untuk 
membuat tepung dari umbi-umbian supaya bisa diolah menjadi penganan lain.

Begitu juga Sitti Rahmah, warga Desa Pitu Sunggu, Kabupaten Pangkajene dan 
Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan masih terkendala oleh terbatasnya 
ketersediaan pupuk organik yang masih diproses secara manual, faktor cuaca yang 
membuat tanaman tergenang, dan tantangan sosial berupa pertanyaan kaum lelaki 
mengapa perempuan beraktivitas. Dukungan dari perangkat desa pun masih 
terbatas. Itulah perempuan. (Naomi Siagian/Saiful Rizal/CR-35)

Sumber : Sinar Harapan






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke