http://arangobatajaib.org/
arang sangat efektif menyerap racun, bisa, membunuh bakteri, kuman, virus dst.. minimal gunakan norit apotik kalo sulit menemukan bubuk arang (arang tumbuk). obat titisan leluhur kita dilupakan? tumbuk norit 10-20 butir dan larutkan dalam satu gelas air.. khusus untuk yang keracunan. muntaber, tipus, diare, keracunan dst.. norit sangat mujarrab. rs On 3/13/2013 11:53 AM, Chan CT wrote: > > > Dilema Mimpi Gubernur Jokowi > > <http://www.gatra.com/fokus-berita/25927-dilema-mimpi-gubernur-jokowi.html> > > * > > Massa menuntut perbaikan layanan publik, termasuk penerapan Kartu > Jakarta Sehat KJS (ANTARA/Mohammad Ayudha) > > * > *Jakarta, GATRAnews*- Ditinggal mati sang buah hati, Royatih sedih tak > terperih. Warga Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, itu harus > merelakan putri kesayangannya, Ana Mudrika (14), dipeluk bumi. Ana > wafat pada Sabtu (9/3/2013) pagi, lantaran penyakitnya tak tertangani > oleh rumah sakit namapun di Jakarta. Ana diduga keracunan makanan dan > telat ditangani secara medis. > > Kematian Ana menjadi pelajaran pahit bagi program Kartu Jakarta Sehat > (KJS) ala Gubernur Jokowi. Meski 'kartu sakti' itu menjadi program > andalan Gubernur Jokowi yang baru memerintah Provinsi DKI Jakarta, toh > kartu tersebut tidak dapat menyelamatkan Ana. Menurut Royatih, saat > membawa anaknya yang sakit berobat, ia ditolak empat rumah sakit di > Ibukota. . > > Royatih mengisahkan perjuangannya menyembuhkan sang anak. Pada Selasa > (5/3/2013) Maret 2013, Ana pulang dari sekolah mengeluh sakit perut, > lalu muntah-muntah. Royatih pun berusaha menyembuhkan sakit anaknya > dengan obat seadanya di rumah. Maklum, ia hanya warga miskin yang tak > punya duit untuk beribat ke rumah sakit. > > Meski dicecoki obat 'murahan', toh sakit Ana tak kunjung sembuh. > Akhirnya Ana dibawa ke bidan. Pada pukul 20.30 malam itu, Ana akhirnya > dirujuk ke Rumah Sakit Firdaus dengan bermodalkan KJS. > > Ana masuk ke ruang IGD RS Firdaus, dan langsung diinfus. Saat bertanya > apakah RS tersebut menerima KJS, sang peawat hanya menjawab, "Di sini > yang terima KJS cuma pasien dengan penyakit paru-paru". > > Apa boleh buat, lantaran kondisi Ana kian lemah, Royatih tetap > memasukkan anaknya di RS tersebut. Oleh petugas medis RS Firdaus, Ana > langsung diinfus. Besoknya, perut Ana mulai kembung. Perawat lalu > memasukkan alat dari hidung yang menurut Royatih untuk membuang > kotoran. "Katanya ada infeksi di perut, karena makanan kotor," ujar > Royatih. > > Sayangnya, RS Firdaus tidak memiliki peralatan yang memadai untuk > melakukan operasi. Karena tak kunjung sembuh, Royatih lalu membawa Ana > keliling RS di Jakarta Utara agar sang anak tersayang segera dirawat > di ruang Itensive Care Unit (ICU). > > Tapi apa lacur, Royatih sempat ditolak oleh beberapa rumah sakit > dengan alasan ruangan ICU penuh dan tak ada kamar kelas III yang > kosong untuk pasien KJS. Akhirnya, Royatih kembali ke RS Firdaus. > > Setelah mengadu ke sejumlah pihak termasuk istri Ketua RT yang > kemudian melapor ke anggota DPRD Jakarta, RS Islam di Sukapura > akhirnya menerima Ana di bagian ICU. Namun kondisi Ana sudah sangat > memburuk. Tim dokter memutuskan untuk mengoperasi Ana karena ada > infeksi di pencernaan. > > Namun, saat akan dioperasi pada Jumat pagi (8/3/2013) kondisi Ana > melemah. Akhirnya, belu sempat dioperasi, Ana berpulang ke rahmatullah > pada Sabtu pagi. > > Royatih pun mempertanyakan 'kesaktian' Kartu Jakarta Sehat. Program > Kartu Jakarta Sehat semestinya memberikan kesempatan bagi warga miskin > kaya untuk berobat secara gratis. Alih-alih mendapat pengobatan > gratis, anak Royatih justru dipingpong dari satu rumah sakit ke rumah > sakit lain. > > *Ujian Bagi Jokowi* > > Seperti diketahui, sejak kampanye Pemilihan Gubernur pilgub) DKI > Jakarta, Jokowi yang merupakan kandidat paling populer sudah berjanji > menggulirkan program pengobatan gratis bagi warga miskin di Jakarta. > Nah, Jokowi memang tak pernah ingkar janji. Ketika terpilih sebagai > Gubernur, program KJS pun segera direalisasikan. > > Namun, tak disangka-sangka, pasien di berbagai rumah sakit di Jakarta > membludak. Pihak rumah sakit kewalahan melayani pasien KJS. Akibatnya, > banyak pemegang KJS yang terombang-ambing lantaran tidak bisa > ditampung di rumah sakit. Kasus kematian Ana menjadi contoh, betapa > program ala Jokowi itu masih menuai masalah. > > Ana bukan satu-satunya korban. Sebelumnya, ada kisah tragis bayi Dera > Nur Anggraini, yang meninggal akibat tidak tertampung di rumah sakit > karena ruang intensif khusus bayi atau Neonatal Intensive Care Unit > (NICU) di rumah sakit DKI Jakarta penuh. Tidak hanya ruang NICU yang > penuh, ruang perawatan Intensive Care Unit (ICU) juga ikut penuh. > > Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaku kewalahan dengan lonjakan pasien > di rumah sakit dan puskesmas setelah diberlakukannya Kartu Jakarta > Sehat (KJS). Para dokter pun khawatir pelayanan terhadap pasien > menjadi tidak maksimal dengan lonjakan tersebut. > > Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Zainal Abidin, > menegaskan bahwa idealnya seorang dokter memberikan pelayanan > kesehatan selama 15 menit untuk seorang pasien. Namun setelah KJS > diterapkan, seorang dokter hanya bisa memeriksa pasiennya selama 5 menit. > > Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bukannya tinggal diam. "Kejadian yang > sudah beberapa kali terulang tersebut merupakan masalah yang harus > terus dibenahi secara bertahap," ujarnya. Ia berjanji, KJS akan terus > disempurnakan karena manfaatnya telah dirasakan oleh masyarakat > Jakarta. Bisa jadi, KJS adalah ujian pertama Jokowi atas mimpinya > menolong derita rakyat miskin. > > "Memang ada fakta seperti itu. Tetapi kalau tidak ada KJS, ribuan > orang lagi yang akan menderita," ujar menanggapi kasus Ana dan bayi Dera. > > *Solusi* > > Jokowi mengatakan salah satu usaha yang dilakukan oleh Pemerintah > Provinsi DKI Jakarta adalah memotong fasilitas kamar kelas II di RSUD > rujukan KJS menjadi kelas III. Usaha tersebut diharapkan bisa > menurunkan lonjakan pasien pemegang KJS. > > "Sebanyak 75 persen ruang Kelas II RS di Jakarta, bakal dijadikan > kelas tiga. Jika itu tercapai, kami harapkan lonjakan pasien tidak > lagi terjadi," kata mantan Walikota Solo itu. > > Jokowi juga akan membuat Puskesmas beroperasi 24 jam agar dapat > menampung pasien KJS yang ditolak RS karena penuh. Selain itu, layanan > call center 119 yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta > juga akan terus diperluas, sehingga warga dapat mengecek langsung > layanan rumah sakit dan ketersediaan kamar. > > Saat ini, layanan call center 119 baru menggandeng sembilan rumah > sakit, yaitu Cipto Mangunkusumo, RS Jantung Harapan Kita, RS Anak > Bunda Harapan, RSUP Fatmawati, RSUP Persahabatan, RSUD Tarakan, RSUD > Cengkareng, RSUD Koja, dan RSPAD Gatot Subroto. "Nanti diperluas > terus," ujarnya. > > Jokowi tak segan akan mengancam rumah sakit rujukan KJS yang tidak > bisa diajak kerjasama untuk menerima masyarakat untuk berobat. Salah > satu ancamannya adalah pemda DKI Jakarta tidak akan memberikan surat > penambahan ruangan RS yang tidak bisa diajak kerjasama menyukseskan > program KJS. > > "Kami pemerintah punya power yang digunakan untuk hal-hal yang > bermanfaat bagi masyarakat," ujar Jokowi. > > Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menilai bahwa Pemprov DKI > Jakarta tidak siap dalam menjalankan sistem KJS. Dirinya mengaku telah > memprediksi bahwa saat program ini dijalankan, akan ada lonjakan > pasien. "Sayangnya, ledakan pasien tidak diimbangi dengan layanan > tenaga medis dan fasilitas yang memadai," ungkapnya. > > Solusi Jokowi yang akan mengurangi Kelas II untuk dijadikan Kelas III > pun dirasakan tidak cukup. Jakarta, kata Agus, membutuhkan RS baru > milik pemerintah. Sebab, RS milik pemerintah saat ini sudah tidak > cukup lagi menampung warga Jakarta yang semakin banyak. "Sudah 10 > tahun ini tidak ada RS pemerintah yang baru di tengah gagalnya program > Keluarga Berencana (KB)," katanya. > > Wakil Ketua Komisi 9 Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi > kesehatan, Nova Riyanti Yusuf, mengatakan, istilah 'penolakan pasien' > oleh rumah sakit tersebut harus dilihat dari berbagai sudut pandang > dan harus objektif. "Karena pada kenyataannya sarana dan prasarana > pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk DKI Jakarta, belum > memadai," tegasnya. > > Noriyu meragukan pernyataan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam > sebuah acara talkshow bersamanya di sebuah stasiun televisi swasta, di > mana Kadinkes menyatakan bahwa sarana dan prasarana pelayanan > kesehatan sudah lebih dari cukup dan sangat memadai. Karena fakta di > lapangan, masih banyak rumah sakit yang terpaksa tidak menerima pasien > disebabkan oleh seluruh tempat tidurnya sudah penuh dan juga tenaga > dokter yang ada juga dirasakan masih kurang. > > "Saya juga menyayangkan pernyataan Gubernur DKI Jakarta yang mengancam > akan mencabut izin rumah sakit rumah sakit yang menolak pasien serta > ancaman Wakil Gubernur DKI Jakarta kepada para dokter yang dianggap > arogan kepada pasien kelas tiga," kata Noriyu. > > Ancaman seperti ini akan kontraproduktif karena rumah sakit dan > fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, termasuk tenaga dokter, > perawat, bidan, dan lain-lain, sudah sangat kewalahan menghadapi > gelombang pasien yang melonjak setelah KJS berlaku. > > Kini, kata Noriyu, dokter, perawat, dan bidan di DKI Jakarta harus > melayani pasien yang jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat daripada > sebelum KJS berlaku, tanpa adanya tambahan tenaga kesehatan yang baru. > Akan lebih arif bagi Gubernur dan Wakil Gubernur untuk memberi > semangat dan pengertian kepada para tenaga kesehatan di DKI Jakarta > yang juga merupakan anak-anak beliau, bukan justru mengancam yang bisa > menyebabkan turunnya moral dan semangat para tenaga kesehatan > tersebut. *(HP)* > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
