jadi logika si bleki tuh kayak gini:

benget situmorang itu batak kresten.
dia selingkuh sama perempuan tukang jamu.
lalu istrinya dibunuh dan dimutilasi.
potongan tubuhnya disebar di tol cikampek.
kesimpulan: orang kresten tukang mutilasi.
lalu dia bilang "gua jamin orang batak kresten ngga akan 
lebih baik dari benget situmorang".

begitulah logika si bleki yg ilmu fitnahannya hasil dari 
berguru secara intensif dari si uplik the parasite of leiden itu.

(artikel di bawah ini bukan adegan film horor. bagi penderita 
penyakit jantung dan yg lagi makan siang dianjurkan tidak membacanya)

http://www.suarapembaruan.com/home/benget-situmorang-hobi-memukul-dan-mata-keranjang/32117

Benget Situmorang, Hobi Memukul Dan Mata Keranjang
Rabu, 13 Maret 2013 | 5:30
BS (36), pelaku mutilasi terhadap istrinya. [Kompas.com] BS (36), pelaku 
mutilasi terhadap istrinya. [Kompas.com]       

Sepuluh tahun sudah Darna Sri Astuti (32),  dinikahi Benget Situmorang (36). 
Selama itu, pasangan ini belum juga dikaruniai keturunan. Padahal, dengan 
pasangan sebelumnya Ro (33), Benget dikaruniai dua anak.

Permasalahan ini diduga menjadi pemicu pertengkaran antara Benget dan Tuti, 
sapaan Darna.

Dari dalam rumah yang menyatu dengan warung soto lamongan dan warung tuak di 
daerah Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, yang dirintis 
pasangan ini tiga tahun lalu, para tetangga kerap mendengar jeritan dan 
teriakan Tuti memohon ampun. Pertengkaran ini kerap berujung dengan muka atau 
tubuh Tuti yang penuh lebam.

"Tiap minggu kedenger mulu cekcok. Suka berantem. Pada benjol muka istrinya 
karena dipukul-pukulin. Sering terjadi begitu," kata Muhammad Soleh (45) salah 
seorang tukang ojek di sekitar warung.

Pertengkaran yang diwarnai kekerasan itu semakin sering terjadi setelah Benget 
atau yang biasa disapa dengan Impus mengajak Tini (39), untuk tinggal bersama 
mereka tiga bulan terakhir.

Tini yang sebelumnya berjualan jamu di sekitar Terminal Kampung Rambutan, mulai 
menjajakan dagangannya di warung soto lamongan milik Impus.

Lambat laun, jalinan hubungan antara rekan bisnis atau bos dan anak buah ini 
berubah menjadi jalinan asmara. Hal itu diakui oleh beberapa tetangga yang 
mengaku sering melihat Impus dan Tini bermesraan.  "Sering kelihatan mesra," 
ungkap Soleh.

Puncak kekerasan itu terjadi sejak pertengahan Februari. Di rumah dengan satu 
kamar yang memiliki luas sekitar 4 x 4 meter itu, Tuti mengalami penyiksaan 
hingga tak mampu bangun. Menurut keterangan Impus kepada penyidik yang 
memeriksa dia di Mapolres Jakarta Timur.

"Korban pernah dianiaya oleh pelaku dengan dipukul kepalanya hingga sekarat. 
Kelamin istri juga dianiaya," ujar Kapolres Jakarta Timur, Kombes Mulyadi 
Kaharni beberapa waktu lalu.

Setelah penganiayaan itu, percekcokan di warung itu sempat tidak terdengar oleh 
warga. Tuti yang dikenal ramah, tak terlihat warga sekitar, selama sekitar dua 
minggu. Setiap kali ditanya soal keberadaan istrinya, BS selalu berkilah Darna 
sedang pulang kampung ke Jambi.

"Sudah hampir setengah bulan ini istrinya enggak keluar-keluar. Dibilangnya 
pulang kampung," kata Soleh.

Alasan Impus bahwa istrinya sedang pulang kampung terbantahkan saat seorang 
tukang jamu melihat Tuti tergeletak di kamar tanpa mengenakan baju. Menurut 
Soleh, hal itu lantaran tubuh Tuti dipenuhi luka. Kepada tukang jamu itu, Tuti 
sempat meminta minum, namun segera dilarang oleh Tini.

"Lu mau dimarahin suami lu lagi?," kata Tini saat itu, seperti dituturkan 
tukang jamu.

Elis (27), seorang penjaga warung yang bersebelahan dengan warung soto lamongan 
Impus, pernah meminta Tuti untuk keluar dari rumah dan berpisah dengan Impus. 
Namun, Tuti mengaku pasrah. Bahkan, dengan alasan tak mampu memberi Impus 
seorang anak, Tuti rela meninggal dunia di tangan Impus.

"Tuti pernah cerita sama saya, sambil menangi dia bilang katanya sudah kenyang 
dipukulin, biarin aja saya mati di tangan Impus," katanya.

Perkataan itu tampaknya menjadi pesan tersirat. Pada Minggu (3/3) lalu, setelah 
luka-luka di sekujur tubuhya sempat pulih, Tuti kembali mengalami penyiksaan. 
Kemaluan Tuti kembali dianiaya hingga terjadi pendarahan. Nyawa Tuti tak 
tertolong.

"Kemudian pada hari Minggu (3/3) malam, dia (Impus) melakukan lagi penganiayaan 
yang sama dengan memasukkan ruas tangannya ke dalam kemaluan korban sehingga 
terjadi pendarahan dan korban tak tertolong," kata Mulyadi.

Panik kemudian melanda Impus. Dia kebingungan membawa jenazah sang istri keluar 
rumah tanpa ketahuan para tetangga. Impus kemudian meminta Tini untuk 
membawakan dua pisau dapur, satu parang, dan membeli beberapa kantong plastik.

Entah apa yang dirasakan, di dalam kamar yang hanya berukuran sekitar 2x3 di 
rumah sederhana itu, Impus memotong tubuh seorang yang telah menemaninya selama 
10 tahun menjadi enam bagian.

Tini sendiri hingga saat ini bersikukuh tak mengetahui apa yang dilakukan Impus 
kepada majikan perempuannya. Potongan tubuh istrinya kemudian dimasukan Impus 
ke dalam plastik yang telah disiapkan Tini.

Paska tewasnya Tuti, Impus masih dapat bersikap tak berdosa. Warga sekitar tak 
menemui keganjilan apapun. Impus bersama Tini pun masih berjualan soto 
lamongan, tuak, dan jamu seperti biasanya.

"Minggu tetap buka, Senin tetap jualan, hari Selasa pun tetap berdagang. Malah 
dia ditangkap polisi hari Rabu waktu lagi ngopi di warungnya. Mukanya seperti 
enggak ada masalah," katanya.

Pada Selasa (5/3) sekitar pukul 04.30 WIB, Soleh melihat mobil angkot KWK 03 
jurusan Kampung Rambutan-Cililitan berplat nomor B2312PG terparkir di depan 
warung Impus.

Tini terlihat membawa sekitar lima kardus sebesar kardus mie instan dan 
memasukannya ke dalam angkot. Dengan alasan digunakan untuk berbelanja, Impus 
menyewa angkot ini dari kawannya ketika masih menjadi sopir angkot dengan 
bayaran Rp 250 ribu.

"Enggak curiga apa-apa waktu lihat Tini masukin lima kardus ke angkot. Impus 
sendiri kelihatan lagi telepon-teleponan nggak tahu sama siapa. Dia sebelumnya 
memang sopir angkot juga," katanya.

Dengan angkot itu, Impus membawa potongan tubuh istrinya untuk dibuang di Jalan 
Tol dengan dibantu Tini.

Potongan tubuh tersebut ditemukan di beberapa ruas jalan tol tersebut. 
Misalnya, potongan kaki kanan ditemukan di lajur darurat atau lajur paling kiri 
di KM 0+200, potongan tangan kanan ditemukan di lajur satu KM 1+200, potongan 
kaki kiri dan kanan ditemukan di lajur satu KM 2+300 dan potongan badan 
ditemukan di lajur satu KM 2+400 serta potongan kepala terbungkus plastik di 
lajur dua KM 3+800.

Sementara bagian pinggul, kelamin, dan bokong serta jantung korban diakui Impus 
dibuang di kali yang berada di sekitar rumahnya. Tini sendiri sempat curiga 
ketika melihat potongan kaki.

"Waktu mengangkat plastik ke angkot, sudah cium bau tidak enak, tapi tidak 
berani tanya. Waktu membuang plastik, sempat lihat ada kaki, tapi saya juga 
tidak berani tanya, dan tidak berani lapor, karena abang (Impus) suka marah dan 
nampar," kata Tini.

Setelah membuang potongan tubuh Tuti, Impus dan Tini kemudian ke daerah 
Cileungsi, ke rumah adik tiri Impus hingga siang hari.

"Sore sampai rumah, ke pasar, sekalian bayar angkot Rp 250 ribu. Selama 
perjalanan, abang sambil minuman tuak. Abang kalau enggak minum jadi galau," 
tambah Tini.

Ahmad Harifudin (37), pemilik warung kelontong yang berada persis di samping 
warung Impus, menuturkan, seperti sudah terjadwal, sekitar pukul 12.00 WIB, 
Impus biasa membeli es batu yang dimasukan ke dalam boks kecil. Namun, beberapa 
hari belakangan, jumlah es batu yang dibeli Impus terlihat lebih banyak dari 
biasanya.

"Enggak tahu juga buat apaan," katanya.

Selasa malam, setelah kembali dengan menggunakan angkot, Ahmad sempat melihat 
Impus membersihkan warungnya dengan menyemprotkan air ke lantai di kamarnya. 
Bau amis mulai tercium.

"Aliran saluran airnya jadi macet, dan bau amis, pas ditanya katanya bau ayam, 
dia bersihin dengan air di depan rumah sama pembantunya," kata Ahmad.

Tak berapa lama, Impus dan Tini terlihat membakar kasur dan baju satu lemari 
penuh di depan warungnya.

Terungkap

Kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Impus terhadap istrinya ini 
terungkap tak lebih dari 48 jam.

Bermula saat adanya informasi dari seorang sopir taksi yang curiga dengan 
sebuah angkot yang terlihat membuang sesuatu di Jalan Tol Cikampek KM 1, atau 
di sekitar Kecamatan Makasar, pada Selasa (5/3) subuh.

Dia sempat mencatat nomor polisi angkot, bahkan sang sopir taksi juga sempat 
menyalip angkutan umum dan memberitahukan bahwa ada barang yang terjatuh. Tapi 
hal itu tak dihiraukan oleh Impus dan Tini.

Setelah penemuan potongan-porongan tubuh itu ramai dibicarakan, pada siang 
harinya sang sopir taksi kembali ke Jakarta dan melapor ke TMC Polda Metro 
Jaya, dan Polrestro Jakarta Timur.

"Kasus ini terungkap atas partisipasi dari masyarakat, dimana yang bersangkutan 
memberikan info tentang identitas kendaraan yang dicurigai digunakan untuk 
membuang potongan tubuh korban," kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Putut Eko 
Bayuseno dalam konferensi pers di Mapolres Jakarta Timur, Rabu (6/3) malam.

Kapolda melanjutkan, dari info tersebut, pihaknya mencari kendaraan yang 
dimaksud, namun, pemilik kendaraan mengaku hanya menyewakan kendaraan kepada 
seseorang seharga Rp 250 ribu.

Polisi kemudian mengejar penyewa yang ternyata tersangka Impus.  "Dari hasil 
pengembangan, kami menemukan orang yang diduga sebagai pelaku mutilasi. Orang 
tersebut berinisial BS yang tidak lain suami korban Darna Sri Astuti (32).

Kemudian tersangka kedua berinisial T (39), adalah pembantu tersangka dan 
korban. Peran T membantu membuang potongan tubuh korban dr dalam kendaraan," 
katanya.

Kedua tersangka saat ini masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres 
Jakarta Timur. Tersangka T terancam hukuman mati atau penjara minimal 20 tahun 
penjara sesuai pasal 340 KUHP jo pasal 338 KUHP.

Sementara tersangka T dikenakan pasal 55 jo 56 jo 340 KUHP. Selain menahan 
kedua tersangka, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti berupa sebilah 
parang yang masih ada bercak-bercak darah korban, dua bilah pisau dapur, dan 
satu unit angkot.

Mudah Emosi

Bagi para tetangga, kekerasan yang dilakukan Impus terhadap Tuti bukan hal 
baru. Seperti menu harian, Impus kerap menyiksa Tuti.

Tak hanya kepada Tuti, Ahmad pernah mendapat perlakuan tak mengenakan dari 
Impus.   Saat itu, Ahmad yang menagih hutang, justru warungnya dikencingi. 
"Orangnya reseh. Saya pernah jadi sasaran. Warga juga sebel, suka merugikan 
orang lain," katanya.

Bagi beberapa rekannya sesama sopir angkot di Kampung Rambutan, Impus yang 
pernah menjadi sopir KWK 03 jurusan Kampung Rambutan-Cililitan dan T12 jurusan 
Cililitan-Ciracas juga dikenal sebagai sopir yang mudah tersulut emosinya.

"Dulu pernah jadi sopir angkot. Sekitar tiga tahun lalu. Tapi enggak beres 
kerjanya. Enggak dibolehin lagi narik angkot," kata Karti.

Berdasar keterangan Ro, istri pertama Impus, prilaku kekerasan yang dilakukan 
kepada Tuti juga pernah dialaminya.

Ro yang dinikahi Benget pada 27 November 2000 lalu itu, kerap mengalami 
kekerasan. Padahal sebelumnya, semenjak kenal hingga memiliki dua orang anak, 
Impus dikenal sebagai ayah dan suami yang sayang keluarga.

Menurut Ro, perilaku itu mulai berubah saat Impus mulai membawa Tuti dalam 
kehidupan rumah tangga mereka. 

"Dia sayang banget sama saya. Apalagi sama anak pertama saya. Tapi ketika kenal 
Tuti, dia jadi beringas. Jadi ganas. Apa aja dihantemin ke badan saya," kata Ro.

Salah satu pemicunya, soal nafkah. Kepada Ro, Impus selalu mengaku tak punya 
uang, namun jika bersama Tuti, Impus selalu bersantap kuliner mewah.

Bahkan, Ro mengaku pernah dipukul di dalam angkot, di hadapan Tuti saat meminta 
uang belanja. Akibatnya, mata kiri Ro menjadi kurang awas.

"Sampai mata kiri saya enggak bisa jelas melihat. Ada si korban juga waktu itu 
di angkot," kata Ro.

Peristiwa yang terjadi sekitar tahun 2005 itu merupakan kekerasan terakhir yang 
dialaminya. Meski resmi bercerai pada 19 Mei 2011, Ro dan Impus sudah pisah 
ranjang enam tahun sebelum mereka resmi bercerai. Bahkan pada 10 April 2009 
lalu, Ro sempat melaporkan Impus ke Polres Metro Jakarta Timur.

Menurut Kasubdit Psikologi SDM Polda Metro Jaya, AKBP Arief Nurcahyo, 
pemeriksaan kejiwaan dilakukan untuk mengetahui adanya penyimpangan psikologi 
dalam diri tersangka.

Pasalnya, dari gejala awal yang terlihat, BS memiliki kecenderungan untuk 
menyiksa. Setidaknya, istri BS sebelumnya, Ro (23), pernah membuat laporan 
kepolisian akibat dianiaya tersangka.

"Secara psikologis pelaku dapat dikatakan mengalami adiksi untuk melakukan 
kekerasan. Tapi itu harus dicari tahu lagi melalui pemeriksaan mendalam," kata 
Arief saat dihubungi, Jumat (8/3).

Selain ringan tangan, dan mudah tersulut emosinya, Impus juga dikenal sebagai 
lelaki mata keranjang. Menurut penuturan keluarga jauh yang datang ke tempat 
kejadian perkara saat rekonstruksi digelar pada Kamis (7/3),

"Dari lajangnya ada tujuh. Ada orang Batak tiga orang, sama Sunda, Betawi, nah 
yang terakhir ini Jambi," jelasnya. [F-5]  
--- In [email protected], itemabu2 <itemabu2@...> wrote:
>
> Hehehe... yg gua tau adalah Jusfiq bilang bhw tawangalun nganjurin spy
> merkosa cino2, jadi termasuk bini dan anak suryana.
> 
> Lalu suryana kaing2 jusfiq ngehina anak bininya, padahal jelas Jusfiq
> ga ngehina anak bini suryana.
> 
> Dan gua udah bilang bhw yg ngehina anak bini suryana itu adalah
> suryana sendiri krn suryana doyan ngelacur.
> 
> Coba lu bilang, betul ga apa yg gua bilang di kasus suryana ini.
> 
> Gua ga tau apa yg dibilang Jusfiq ke bini Abbas, kalo bapak si
> johny_indon itu kan tentara, dan tentara itu kan emang bajingan.
> 
> Nih, gua kasih contoh. Bapak gua pernah serempetan mobil dgn truk
> tentara, lalu bapak gua digebukin babak belur oleh tentara, dan mau
> diperas oleh tentara. Untung ada kenalan yg tau bhw komandannya pernah
> kenal dgn bapak gua, lalu si komandan dikasih tau shg si komandan
> bilang ke anak buahnya spy ga terus nganiaya bapak gua. Tp ga ada
> ganti rugi, ga ada permintaan maaf, dan ga ada jg tindakan hukuman ke
> tentara yg ngegebukin bapak gua.
> 
> Jadi si komandan itu pd prinsipnya ngebela tentara, udah tau kebejadan
> tentara tp masih tutup mata, berarti si komandan itu jg bajingan. Kalo
> bapak gua ga kenal dgn si komandan, pasti keluarga gua akan habis
> dianiaya dan dipalak oleh tentara.
> 
> Dan spy lu tau, si komandan itu lalu jadi pangdam dan jadi menteri jg.
> Kalo yg namanya pangdam dan menteri tp ga ngambil tindakan atas
> kebejadan tentara, berarti dia jg bajingan sama spt tentara yg
> ngegebukin bapak gua.
> 
> Dan gua jamin, bapak si johny_indon itu ga akan lbh baik dr si komandan tsb.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> On 3/14/13, ajeg <ajegilelu@...> wrote:
> >
> > Emang selangkangan lu lebar bener blek, sampe urusan
> > beginian aja lu pake buat ngempit ekor?
> >
> > Coba lu tanya langsung ke uplik, brani nggak dia minta maaf
> > ke basmien, johny, suryana dll.
> >
> > Paling dia jawab dengan nari hulahoop..
> >
> >
> > --- itemabu2 <itemabu2@> wrote:
> >
> >> Taroh kata Jusfiq emang betul melakukan apa yg lu bilang (gua ga
> >> bilang begitu),
> >>
> >>
> >
> >
> >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke