http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/12/opini/2278263.htm

 
Ketika Presiden Mengkritik Pengkritiknya 

Suko Widodo



Marah tanda tak mampu. Begitu kalimat yang lazim diucapkan mahasiswa saat 
ngrasani dosen yang suka marah. Rerasanan itu tentu bernuansa guyonan.

Marah bisa dialami siapa pun. Namun, jika presiden atau wakil presiden marah, 
masalah menjadi lain. Kita kaget saat Wapres Jusuf Kalla marah karena puisi 
Prof Winarno Surachmad pada HUT Ke-60 PGRI di Solo. Kita kaget Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) berang menghadapi aneka kritik atas kepemimpinannya.

Kritik adalah pesan komunikasi, bertujuan mengkritisi kebijakan atau tindakan. 
Benar kata Presiden SBY, jika mau mengkritik, hendaknya disampaikan obyektif 
dan jernih. Tetapi sulit menilai sebuah kejujuran, juga tak mudah menetapkan 
sebuah masalah dipandang secara obyektif atau subyektif. Sejernih-jernihnya 
memandang masalah, pasti ada perbedaan pandangan antara satu dan lain orang. Di 
sinilah kita memerlukan kearifan dalam memahami kritik sebagai proses 
komunikasi.

Menuju kesempurnaan

Sebagai feedback atas pesan komunikasi, kritik menjadi perlu bagi dinamika 
berbangsa dan bernegara. Saat ada perasaan tidak nyaman atas kebijakan 
pemerintah, muncul ketidaknyamanan, dan lahirlah kritik. Jadi, kritik tidak 
lahir tiba-tiba, selalu ada persoalan yang mendahuluinya.

Presiden SBY sadar, kritik perlu, tetapi cara menyampaikan perlu diperhatikan. 
Meski tiap orang punya cara dalam mengkritik, cara menjadi penting dan 
menentukan efektivitas pengomunikasian pesan.

Selepas reformasi, terjadi perubahan besar dalam proses komunikasi politik di 
Indonesia. Cara berkomunikasi telah jauh berubah. Banyak tradisi komunikasi 
mulai bergeser. Dalam kultur Mataraman, kritik bisa lewat guyon parikeno 
(bercanda tetapi mengkritik). Juga orang Surabaya cukup dengan parikan 
jula-juli- nya. Namun, perjalanan waktu dan sejarah telah mengubah cara orang 
berkomunikasi, khususnya untuk menyampaikan kritik.

Jika dirunut, inilah implikasi globalisasi. Kemudahan akses komunikasi memberi 
banyak pengetahuan dan informasi kepada rakyat Indonesia.

Perubahan ini perlu dipahami karena perubahan berlangsung otomatis. Mengkritik 
adalah bagian dari dinamika komunikasi, dan komunikasi yang transparan menjadi 
syarat terwujudnya pemerintahan yang baik. Maka, pejabat negara maupun 
pemerintahan tidak harus alergi terhadap kritik yang datang jika ingin negara 
ini akan lebih baik.

Karena itu, Presiden SBY tak perlu resah menanggapi kritik, justru seharusnya 
berterima kasih atas kritik dan berempati kepada yang mengkritik. Terima kasih 
karena kebijakannya direspons dan memahami perasaan (empati) mengapa orang itu 
sampai mengkritiknya. Sepedas dan setajam apa pun hendaknya kritik dipandang 
sebagai jalan menuju tatanan yang lebih sempurna.

Hak untuk tahu

Kritik harus dipahami sebagai respons rakyat untuk lebih banyak mengetahui atas 
kebijakan dan tindakan pemerintahnya. Pemerintahan yang baik harus memberikan 
hak bagi rakyatnya untuk tahu (right to know). Bagi pemerintah, tentu 
memerlukan masukan dari rakyatnya tentang persoalan yang dihadapinya.

Jika ada guru dengan puisi bermakna kritis, jangan dikikis. Jika ada warga 
mengkritik dengan menjelekkan bangsa sendiri dan mengagungkan bangsa lain, 
mestinya dikaji mendalam.

Kita paham, pekerjaan rumah SBY-JK amat berat. Di tengah krisis kepercayaan 
multidimensi dan tekanan dunia internasional, yang diperlukan keberanian 
bersikap dan bertindak. Segala kritik hendaknya menjadi bagian dari masukan 
untuk mendorong pengambilan kebijakan.

SBY dan JK tak perlu marah, resah, dan gelisah atas pedasnya kritik. Dalam 
dunia komunikasi politik, mendengarkan adalah bagian terpenting yang harus 
dilakukan. Dengarkan suara mereka, dengarkan suara rakyat secara cermat, karena 
suara rakyat sejatinya adalah suara Tuhan.

Setelah mendengarkan, berikan penjelasan secara jujur, berikan informasi yang 
obyektif dan tanggapi kritikan itu jernih. Adalah kewajiban Presiden dan Wakil 
Presiden memenuhi hak rakyat untuk tahu. Dengan komunikasi yang transparan, 
rakyat dan mereka yang mengkritik menjadi tahu tentang kebijakan yang diambil 
pemerintah sekarang ini.

Suko Widodo Dosen Ilmu Komunikasi FISP Universitas Airlangga, Direktur Pusat 
Kajian Komunikasi Surabaya


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Fair play? Video games influencing politics. Click and talk back!
http://us.click.yahoo.com/u8TY5A/tzNLAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke