MEDIA INDONESIA Selasa, 13 Desember 2005
Papua, Jauh di Mata Jauh juga di Hati BENCANA kelaparan di Kabupaten Yahukimo, Papua, adalah sebuah titik kecil dari masalah Papua yang jauh lebih besar. Bencana kelaparan yang menewaskan 55 orang--tetapi sekarang dibantah ramai-ramai--tidak sekadar kematian 55 anak manusia karena tidak memperoleh makanan memadai. Bantahan yang serentak disampaikan Jakarta dan Pemprov Papua, termasuk DPRD, bukanlah jawaban yang melegakan. Bukan pula berarti masalah Papua tidak ada. Andai kata penduduk seluruh Papua menikmati panen ubi beribu kali lipat, masalah Papua masih sangat jauh dari penanganannya. Apakah masalah Papua itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah posisinya yang di kejauhan itu. Dia tidak hanya jauh dari Jakarta, tetapi jauh juga dari pandangan mata dan perhatian elite Papua sendiri. Dia tidak hanya jauh di mata, tetapi jauh juga di hati, termasuk hati para birokrat Papua sendiri. Itulah sebabnya mengapa kematian 55 warga di Kabupaten Yahukimo begitu terlambat diketahui. Itu pula sebabnya pembangunan sebuah jembatan penyeberangan seharga Rp500 juta di sebuah desa tidak pernah bisa dilaksanakan. Itu juga sebabnya mengapa petani di pedesaan Papua tidak pernah diajarkan dengan sungguh-sungguh bagaimana bercocok tanam yang benar, berumah tinggal yang sehat, berpakaian yang sehat. Kita, dalam rangka manajemen kenegaraan, seakan-akan ingin mempertahankan Papua dan seisi alamnya, termasuk manusianya, sebagai museum purbakala. Banggakah kita ketika anak-anak Papua yang bertelanjang dengan perut buncit dan tulang rusuk terpampang karena kurang gizi, berpose bersama pejabat yang datang membawa mi? Banggakah Indonesia ketika perempuan-perempuan Papua bertelanjang dada sambil menari di hadapan pejabat yang tersenyum? Banggakah Indonesia ketika laki-laki Papua berkeliaran di pasar-pasar Wamena mengenakan koteka? Seluruh petaka yang sekarang menimpa Papua adalah akibat dari manajemen jauh di mata, jauh di hati. Para birokrat Papua yang secara fisik dekat di mata juga ikut-ikutan jauh di hati. Salah satu hobi pejabat daerah, termasuk Papua, adalah seringnya mereka datang ke Jakarta. Banyak pejabat seperti bupati dan gubernur yang hanya berada di daerahnya satu minggu, sisanya tinggal di Jakarta. Di satu sisi ini penyakit individu sang pejabat daerah. Tetapi di lain pihak, ini juga penyakit sistemik yang diciptakan Jakarta. Banyak urusan, terutama keuangan, yang memaksa pejabat daerah ke Jakarta. Kalau tidak datang, uangnya tidak cair. Sistem ini berkaitan amat erat dengan praktik fee yang masih sangat sulit diberantas. Padahal, di tengah sistem perbankan yang semakin canggih, uang-uang untuk daerah bisa ditransfer saja tanpa perlu tatap muka di Jakarta. Selama sistem transfer keuangan untuk daerah tidak dibenahi, jangan heran bila banyak pejabat daerah lebih suka berkantor di Jakarta, termasuk pejabat dari Papua. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/7zgKlB/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
