http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/17/opini/2295892.htm

 
Mengakhiri Tahun Antikritik 

Syamsuddin Haris



Keruntuhan bangunan negara otoriter Orde Baru seharusnya menjadi pelajaran 
berharga bagi para penyelenggara negara yang telah terpilih dan diperca- ya 
rakyat melalui pemilihan umum.

Ironisnya, baik presiden, wakil presiden, maupun para menteri, masih memandang 
kritik sebagai ancaman atas kekuasaan mereka.

Betapa tidak, para penyelenggara negara bukannya berterima kasih kepada pers 
yang telah membuka mata kita terhadap kasus kelaparan di Yahukimo, Papua, 
justru sebaliknya, pekerja media dianggap membesar-besarkan masalah. 
Terminologi kelaparan pun ditolak karena hanya dianggap sebagai rawan pangan 
atau gagal panen Nyawa saudara-saudara kita yang tidak beruntung itu bahkan 
diperlakukan sebagai angka. Yang meninggal bukan 55 orang, tetapi hanya 15 
orang. Seolah perbedaan jumlah itu signifikan untuk menganulir kebenaran 
substansial bahwa negara telah gagal menyelamatkan sebagian rakyat Papua dari 
kelaparan.

Jujur dalam mengakui keterbatasan jauh lebih baik ketimbang berapi-api membela 
diri untuk menutupi realitas kehidupan bangsa. Kualitas SDM yang buruk, etos 
kerja yang rendah, korupsi yang merajalela, mismanajemen negara dalam mengelola 
ekonomi, penegakan hukum yang masih pandang bulu, dan birokrasi yang 
berorientasi rente, adalah sebagian fakta yang tak perlu dan tidak mungkin 
ditutup-tutupi dalam era keterbukaan informasi dewasa ini. Presiden Yudhoyono 
pun tak perlu malu mengakui kondisi negara kita lebih buruk daripada negara 
tetangga seperti India, apalagi dibandingkan, misalnya, dengan negara yang 
lebih muda seperti Malaysia dan Singapura.

Kejujuran yang sama perlu diakui, terkait nasib buruk guru-guru kita yang terus 
dibebani tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi 
kesejahteraan mereka tak pernah diperhatikan. Meski dari tahun ke tahun alokasi 
anggaran pendidikan terus meningkat, ironisnya hampir tak pernah bersentuhan 
dengan upaya memperbaiki kesejahteraan guru. Karena itu, Wapres Jusuf Kalla 
mestinya berlapang dada menerima kritik bahwa faktanya pemerintah yang baru 
belum berhasil memperbaiki nasib guru kita.

Tidak berhak

Para penyelenggara negara sebenarnya tidak berhak untuk marah terhadap kritik 
yang ditujukan kepada mereka. Sebaliknya, hak moral untuk marah justru dimiliki 
publik yang kecewa terhadap kinerja para pemimpin yang telah dipercayainya. 
Apalagi, konsep good governance yang diusung Yudhoyono-Kalla menuntut adanya 
partisipasi publik di dalamnya sehingga relasi pemerintah-rakyat tidak 
semata-mata didasarkan pada kepatuhan tanpa batas rakyat kepada pemerintahnya.

Sejauh ini kritik publik masih dalam batas-batas wajar karena lebih bersifat 
mengingatkan bahwa kinerja para pemimpin kita belum membuahkan hasil optimal. 
Kritik-kritik itu berfungsi meluruskan berbagai klaim pencapaian pemerintah 
yang lebih didasarkan pada realitas artifisial-manipulatif ketimbang fakta 
materiil di lapangan.

Di balik angka pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2005, misalnya, tidak 
terungkap bahwa secara faktual telah terjadi kemerosotan kualitas hidup 
mayoritas rakyat di tingkat bawah. Juga tidak terungkap realitas kian buruknya 
sanitasi dan pelayanan kesehatan, merosotnya kualitas standar hidup rakyat, 
membengkaknya angka pengangguran riil, dan meningkatnya kesenjangan 
kaya-miskin. Pesan penting di balik kritik-kritik itu termasuk puisi Profesor 
Winarno Surachmad adalah agar pemerintah lebih jujur dan tidak sekadar pandai 
beretorika.

Daulat tuanku

Para penyelenggara negara perlu menyadari, era monopoli kebenaran dan hegemoni 
wacana telah berakhir bersamaan terkuburnya Orde Baru. Kebenaran bukan lagi 
milik tunggal penyelenggara negara karena masyarakat kini memiliki aktivis LSM, 
akademisi, pejuang HAM, dan pekerja pers sebagai mata hatinya. Era laporan ABS 
(asal bapak senang), alergi, dan antikritik, bersembunyi di balik klaim 
pencapaian semu, serta kepatuhan tanpa batas rakyat kepada pemerintah, telah 
berlalu dan harus dipandang sebagai laknat sejarah yang tak perlu dihidupkan 
lagi.

Karena itu, semangat antikritik yang masih diwarisi para penyelenggara negara 
dari rezim otoriter Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru pada dasarnya amat tidak 
produktif bagi pembenahan multimasalah bangsa. Semangat antikritik lebih 
merupakan milik penguasa otoriter masa lalu yang tidak sesuai untuk era 
demokrasi. Ia adalah bagian integral prinsip Daulat Tuanku yang menjadi ciri 
sistem monarki dan aristokrasi yang telah kita tolak melalui konsep daulat 
rakyat.

Seperti halnya para penyelenggara negara, pers juga merupakan lembaga publik 
yang hanya dapat hidup dan bertahan dari kemampuannya mengelola kepercayaan 
publik. Pers bukan humas pemerintah yang hanya memuji kebijakan pemerintah. 
Jadi, wajar jika pers menjadi wadah gugatan dan kritik masyarakat karena 
merupakan bagian tanggung jawab moralnya. Sebaliknya, aneh dan tidak masuk akal 
bagi kita yang masih waras jika penyelenggara negara yang telah dipercayai 
rakyat melalui pemilu malah alergi terhadap kritik.

Semoga semangat antikritik itu tak lebih dari luapan emosi para penyelenggara 
negara yang tak sempat istirahat karena benar-benar memikirkan perbaikan 
kualitas bangsa. Pergantian tahun, bagaimanapun, merupakan momentum bagi siapa 
pun termasuk penyelenggara negara untuk introspeksi dan evaluasi diri, serta 
kembali ke jalan yang lurus.

Syamsuddin Haris Ahli Peneliti Utama Ilmu Politik LIPI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season!
http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke