Kamis, 25 April 2013 | 21:32 WIB
* *
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Parodi Tolitoli Cermin Kegagalan Orang Dewasa
Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Kamis, 25 April 2013 | 20:15 WIB
:
TERKAIT:
* Politisi PKS: Tindakan Siswi Tolitoli Murtad!
* Hidayat Sudah Tonton Parodi "One More Night" Siswi Tolitoli
* Tanggapan MUI soal Parodi "One More Night" Siswi Tolitoli
* Google Sudah Disurati untuk "Drop" Video Parodi Tolitoli
* Parodi Tolitoli, Bukan Semata Kesalahan Para Pelaku Lho..
JAKARTA, KOMPAS.com —
Perilaku siswi SMA 2 Tolitoli, Sulawesi Tengah, yang memadukan gerakan
shalat dengan tari modern berlatar lagu Maroon 5 berjudul One More Night, tidak
bisa dilepaskan dari peran orang dewasa. Aksi yang juga diunggah
ke situs video Youtube tersebut pun dianggap cermin kegagalan orang
dewasa.
"Jika anak-anak itu dipandang memalukan dan salah, saya
sepakat yang gagal adalah orang dewasa, keluarga, sekolah, lingkungan,
bahkan pemerintah," tegas Sekretaris Jenderal Komisi Nasional
Perlindungan Anak Samsul Ridwan kepada Kompas.com Kamis (25/4/2013).
Samsul melanjutkan, orang dewasa yang sudah terlembaga melalui instansi formal
atau pun non-formal, secara khusus lembaga pendidikan, telah dianggap
gagal mengantarkan anak demi menjadi pribadi pintar, berbudi luhur, dan
cinta tanah air. Oleh sebab itulah, kasus siswi tersebut muncul.
Terkait tidak diberikannya kesempatan para siswa penari "One More Night"
mengikuti UN oleh pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat, lanjut
Samsul, pihaknya sangat menyayangkan hal tersebut. Menurutnya, kondisi
demikian kian mempertegas kesalahan para tenaga pendidik.
"Guru di sekolah dan Dinas Pendidikan setempat tidak memiliki pemahaman yang
utuh tentang bagaimana filosofi penyelenggaraan pendidikan untuk anak.
Harus dibina, diarahkan," ucapnya.
Samsul melanjutkan, Komnas PA
akan meninjau kasus tersebut dalam waktu dekat. Rencananya, Komnas PA
juga akan melakukan perlindungan hukum atau advokasi untuk
memperjuangkan hak para siswi penari "One More Night" tersebut.
Sebelumnya diberitakan, para siswi SMA 2 Tolitoli itu mendapat sanksi keras
hingga kehilangan kesempatan mengikuti ujian nasional tanpa pernah
diklarifikasi maksud dan tujuan mereka melakukan hal tersebut. Di sisi
lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan telah menyurati
Google, perusahaan induk yang mengelola Youtube, untuk menutup video
itu.
Editor :
Ana Shofiana Syatiri
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/