http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=202987

Selasa, 20 Des 2005,


Protes WHYO terhadap Opera Jawa 
Oleh Agus Sudibyo *



Mengapa hubungan antara agama dan kesenian sering berada dalam tegangan? 
Pertanyaan itu perlu dijawab dalam konteks Indonesia karena amat sering 
mengemuka letupan konflik antara kelompok keagamaan dan para seniman. Dialog 
yang seharusnya bisa menjembatani perbedaan pendekatan dan tafsir dalam 
memandang ekspresi-ekspresi seni kerap diabaikan. Yang menonjol justru aksi 
kekerasan, delegitimasi, dan penghakiman sosial yang sama sekali tidak 
menguntungkan, baik dari sisi kehidupan berkesenian maupun kehidupan beragama 
sendiri. 

Kasus terakhir menimpa para seniman multibidang yang terlibat dalam penggarapan 
film Opera Jawa (Requeim from Java). Pada 1 Desember 2005, World Hindu Youth 
Organization (WHYO) menyebarluaskan pernyataan sikap yang menilai film Opera 
Jawa telah mengaburkan ajaran Hindu tentang Ramayana. 

Dalam hal itu, WHYO menuntut kisah Ramayana dalam film tersebut disesuaikan 
dengan teks asli Ramayana dan menuntut sang sutradara, Garin Nugroho, meminta 
maaf kepada umat Hindu karena telah mengaburkan ajaran Hindu. Jika tuntutan 
tidak dipenuhi, WYHO mengancam memboikot keikutsertaan film tersebut dalam 
Festival Film Canes di Prancis tahun depan.Melalui berbagai media massa, WHYO 
bahkan lebih jauh lagi menyebarkan tuduhan dan ancaman yang sangat tendensius 
bagi nasib film tersebut dan para seniman yang terlibat. 

*** 

Dimensi penghakiman sosial tak terelakkan di sini karena pernyataan sikap WHYO 
diambil tanpa terlebih dahulu berdialog dengan Garin Nugroho dan kawan-kawan, 
tanpa mempelajari apa isi dan setting dari film tersebut, bahkan tanpa terlebih 
dahulu menonton langsung film itu. Sikap yang sedemikian keras dan berisiko 
diambil terhadap sebuah karya seni yang bahkan belum selesai diproduksi.

Pernyataan sikap WHYO hanya didasarkan atas berita Majalah Tempo tentang proses 
pembuatan film Opera Jawa. Namun, yang cukup mengherankan adalah pernyataan 
sikap tersebut langsung ditujukan kepada film Opera Jawa. Meski, yang 
benar-benar mereka masalahkan sesungguhnya adalah tafsir majalah Tempo atas 
film itu. Semua pihak semestinya paham bahwa sengketa terkait dengan karya 
jurnalistik seharusnya diselesaikan melalui mekanisme baku; surat pembaca, hak 
jawab, mediasi melalui Dewan Pers, dan seterusnya.

Aksi penghakiman sosial terhadap karya seni bukan pertama ini terjadi. WHYO, 
dengan latar-belakang masalah yang kurang lebih sama, juga pernah berkonflik 
dengan novelis Dewi Lestari dan pemusik Iwan Fals. Penghakiman sosial secara 
sepihak terhadap ekspresi seni juga pernah menempatkan grup musik Dewa dan Inul 
Daratista sebagai korban. Belum terhitung lagi berapa banyak happening art dan 
pertunjukan seni yang dibubarkan paksa atas nama ketertiban sosial, kepercayaan 
keagamaan, dan lain-lain.

Jika terus-menerus dibiarkan, tindak kekerasan dan "aksi main hakim sendiri" 
terhadap ekspresi-ekspresi kesenian akan berdampak buruk bagi iklim kebebasan 
berekspresi dan iklim kebebasan berpendapat serta bagi masa depan dialog antara 
agama dan kehidupan kesenian dalam konteks lain. 

Pernyataan sikap dan komentar-komentar reaksioner dari WHYO secara 
psikologis-politis telah memojokkan posisi para seniman. Pernyataan sikap 
tersebut menimbulkan suasana yang tidak kondusif bagi proses penciptaan di 
dunia kesenian karena menumbuhkan persepsi seakan-akan para seniman tidak 
mengindahkan nilai-nilai budaya dan agama. Padahal, bagi seniman, nilai-nilai 
budaya dan agama bisa jadi justru menjadi ilham dalam berkarya. 

Dampak yang jauh lebih serius akan muncul jika pernyataan keras itu sampai 
mempengaruhi massa bawah yang mudah dimobilisasi guna melakukan gerakan 
kolektif tertentu. 


Persoalannya kemudian adalah bagaimana agar kekerasan, penghujatan, dan 
praktik-praktik delegitimasi tidak terus-menerus digunakan sebagai jalan untuk 
menyelesaikan perbedaan pendapat? Bagaimana agar semua komponen bangsa 
mempunyai apresiasi memadai terhadap pentingnya dialog dan komunikasi 
timbal-balik untuk menyelesaikan perbedaan pendapat?

Lembaga-lembaga otoritatif perlu mengambil langkah-langkah riil agar hubungan 
agama dan praktik kebebasan berekspresi tidak selalu berposisi diametral. 
Organisasi-organisasi keagamaan perlu didorong untuk bersikap arif dan 
proporsional terhadap ekspresi seni, jurnalistik, dan intelektual yang bisa 
jadi berbeda dengan tafsir tentang nilai-nilai moralitas mereka. Sebab, 
sebagaimana nilai-nilai moralitas dan spiritualitas, kegiatan kesenian, 
pemikiran juga sangat penting bagi perkembangan keadaban sebuah bangsa. 

Maka, yang senantiasa harus dilakukan adalah dialog, komunikasi timbal-balik 
antara kedua belah pihak. Tidak selalu dengan tujuan untuk menyeragamkan 
pandangan (karena penyeragaman bisa jadi bermakna pemaksaan), namun untuk 
mencapai komitmen bagaimana seharusnya perbedaan disikapi secara dewasa dan 
beradab. 

Bagi komunitas seniman, tetap ada tantangan bagaimana agar kesenian selalu 
kompatibel dan kontekstual dengan dinamika kehidupan beragama dan berbudaya 
suatu masyarakat. 

Bagaimana agar ekspresi kesenian tidak selalu berada dalam tegangan dengan 
nilai-nilai dan paham-paham lokal. Tentu tidak ideal jika berkesenian hanya 
untuk kesenian atau untuk seniman itu sendiri. Kegiatan seni menjadi kegiatan 
yang "membumi", mengapresiasi, dan memberdayakan kearifan-kearifan lokal yang 
terpendam oleh arus zaman serta memberikan nilai tambah bagi perkembangan 
kebudayaan.

Lebih dari itu, mungkin memang sudah eranya bahwa kesenian bukan hanya harus 
mencerminkan realitas sosial, namun juga seyogianya memberikan ilham, semangat 
bagi masyarakat untuk memecahkan problem sosial-politik. Misalnya, memberikan 
ilham tentang bagaimana masyarakat bisa berdamai dengan realitas bahwa kita 
memang sedang hidup dalam kubangan sirkuit kekerasan "massa, teror, trauma". 
Berdamai berarti bisa memahami realitas tersebut secara dewasa, tanpa larut di 
dalamnya, dan tanpa memberikan reaksi berlebihan. 

Pada akhirnya, dialog menjadi kebutuhan bagi kedua belah pihak, baik kelompok 
keagamaan maupun komunitas seniman. Dialog akan membantu praktik keagamaan dan 
praktik berkesenian mencapai tujuan yang sesungguhnya kurang lebih sama; 
menyempurnakan hidup manusia (baik dalam individualitas maupun kolektivitas 
mereka, tanpa saling menimbulkan ancaman dan kerugian untuk masing-masing).

* Agus Sudibyo, aktivis Aliansi Pembela Pasal 28 UUD 1945

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
AIDS in India: A "lurking bomb." Click and help stop AIDS now.
http://us.click.yahoo.com/VpTY2A/lzNLAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke