http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/20/opini/2303357.htm
Sisi Kelam Rezim Pertumbuhan Imam Cahyono Biasanya saya campur dengan nasi agar rasa akingnya tidak terasa. Namun, kalau keluarga yang sangat miskin biasanya tidak dicampur apa-apa," tutur Daniri (Kompas, 15/12/2005). Dikarenakan impitan ekonomi, warga Kecamatan Krangkeng, Indramayu, beralih mengonsumsi beras menir-beras patahan yang biasa dipakai untuk pakan unggas-dan nasi aking-nasi sisa yang lazim untuk pakan ternak-karena penghasilan mereka tidak cukup untuk membeli beras biasa Rp 3.700 per kg. Sungguh dramatis! Dalam dua dasawarsa terakhir, Asia meraih pertumbuhan ekonomi tinggi. Namun, tingkat kesejahteraan rakyat di kawasan ini-termasuk Indonesia-di bawah rata-rata. Separuh populasi penduduk Asia hidup dalam kemiskinan dengan pendapatan di bawah satu dan dua dollar AS per hari, lebih besar ketimbang di Afrika (Newsweek, 21/11/2005). Sebuah paradoks? Mitos pertumbuhan Salah satu mantra ortodoks neoliberalisme adalah menjadikan pasar dan pertumbuhan ekonomi sebagai panglima. Negara dituntut meminimalkan peran karena campur tangannya bisa mereduksi angka pertumbuhan. Teori ekonomi klasik dan neoliberal menegaskan ada relasi positif antara ketimpangan distribusi pendapatan dan tingginya pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan pendapatan akan menyumbang angka pertumbuhan, dan pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya akan mengurangi orang miskin, mereduksi kesenjangan, sekaligus menciptakan pemerataan. Dengan pertumbuhan ekonomi, rakyat yang memiliki hierarki pendapatan rendah bakal diuntungkan. Dalam retorika neoliberal, upaya mengurangi kesenjangan melalui kebijakan redistribusi pendapatan justru menyulitkan orang miskin karena akan mereduksi pertumbuhan ekonomi. Redistribusi akan mereduksi investasi sehingga mengganggu pertumbuhan, dengan asumsi orang kaya cenderung berinvestasi, sementara orang miskin selalu konsumtif. Pendapatan di tangan orang miskin berarti pengeluaran, sementara pendapatan di tangan orang kaya merupakan tabungan atau investasi jangka panjang. Retorika neoliberal terbakar realitas. Pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta meningkatkan standar hidup atau kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, muncul korelasi negatif antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, antara timpangnya pendapatan dan pemerataan, terutama komunitas lokal. Penambangan di Papua oleh PT Freeport Indonesia, atau penebangan hutan di Kalimantan Tengah, jelas menyumbang angka pertumbuhan ekonomi makro. Pada saat yang sama, kesejahteraan masyarakat lokal justru menurun. Selain hasil pertumbuhan itu tidak bisa langsung dinikmati masyarakat setempat, eksploitasi alam menimbulkan hancurnya ekologi-yang menjadi tumpuan hidup komunitas lokal-seperti rusaknya lahan subur dan pencemaran air laut. Jean Dreze dan Amartya Sen (1995) dalam studinya tidak menemukan relasi otomatis antara tingginya pendapatan di suatu wilayah dan meningkatnya kesetaraan gender. Tingginya pendapatan sering membuat posisi perempuan memburuk. Sebaliknya, faktor yang mengindikasikan kemandirian perempuan tak lain kemampuan perempuan dalam peran sosial, ekonomi, dan politik, seperti meningkatnya partisipasi politik buruh perempuan dan turunnya angka buta huruf. Rakyat terbelah Selama ini klaim keberhasilan ekonomi pemerintah bersandar pada indikator makroekonomi dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, kinerja pasar modal yang cemerlang, dan konsolidasi fiskal yang mantap. Namun, prestasi itu tidak diikuti perbaikan indikator lain, seperti angka pengangguran dan tingkat kemiskinan. Perkembangan sektor moneter tidak seketika mencerminkan perkembangan sektor riil. Sektor moneter tumbuh cepat, meninggalkan sektor riil. Uang yang beredar, lebih cepat dari sektor riil. Ini mendorong inflasi, penggelembungan harga aset, menciptakan kemiskinan, meningkatkan kesenjangan, serta menyerahkan kedaulatan ekonomi ke tangan pemilik modal. Angka kemiskinan hingga kini masih berkisar 16 persen, ekuivalen dengan kondisi 1996. Pengangguran belum beranjak dari 10 persen, lebih buruk dari sebelum krisis. Pascakenaikan harga BBM 1 Oktober 2005, angka kemiskinan naik. Pendekatan ortodoks ala IMF-bermuara pada liberalisasi dan privatisasi ekonomi-menghasilkan biaya sosial-ekonomi- politik yang menindih rakyat. Kebijakan itu menyebabkan merosotnya standar hidup rakyat karena pengurangan subsidi secara masif-terutama di sektor pendidikan dan kesehatan. Kebijakan moneter ketat menyebabkan dunia usaha sekarat, meroketnya angka pengangguran, dan meningkatnya utang domestik. Rezim pertumbuhan menyebabkan rakyat terbelah. Yang kaya tambah kaya karena menikmati akses sumber daya sosial-ekonomi-politik berlimpah. Yang miskin kian miskin karena tidak memiliki akses terhadap sumber kehidupan. Terjadilah disparitas kaya-miskin secara ekstrem, jurang ketimpangan mendalam. Di Jakarta, mal-mal tumbuh subur. Di Indramayu, warga makan nasi aking dan menir. Di Papua, rakyat mati kelaparan. Guna mereduksi jurang ketimpangan, diperlukan demokratisasi ekonomi melalui redistribusi sumber daya sosial, ekonomi, dan politik. Kemiskinan harus dijadikan musuh bersama melalui gerakan rakyat kolektif (new social movement). Jika tidak, ketimpangan tidak hanya menyebabkan kemiskinan, tetapi juga menebar lapar dan maut. Imam Cahyono Koordinator Riset Al Maun Institute, Jakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season! http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
