REPUBLIKA

Senin, 19 Desember 2005

Mitos-mitos dalam Haji 
Abu Su'ud
Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

Haji merupakan ibadah serta rukun agama Islam kelima, yang merupakan salah satu 
dari rukun yang lima jumlahnya. Kelima rukun tersebut adalah syahadat, shalat, 
shaum, zakat, dan haji, yang kesemuanya mempunyai kedudukan sama, yaitu wajib, 
meskipun tetap dikaitkan dengan kondisi yang berbeda. Dalam kenyataan orang 
sering berlebihan dalam memandang haji sebagai ibadah yang istimewa, dan 
memandangnya sebagai penyempurna ibadah.

Tidaklah salah sebenarnya pemahaman seperti itu, sejauh dalam artian bahwa 
karena keempat ibadah telah dilaksanakan, dan tinggal yang kelima, yaitu haji, 
maka benarlah pemahaman seperti itu. Sebaliknya, tidaklah tepat kalau ibadah 
haji merupakan ibadah yang memiliki makna paling penting. 

Kalau ada pengertian ada yang penting dan yang kurang penting, justru shalatlah 
oleh Nabi yang ditegaskan sebagai imaduddien atau tiang agama. Pada lain 
hadits, dikatakan bahwa amalan yang paling dulu dievaluasi Allah adalah shalat. 
Kalau shalatnya baik, maka baik pulalah ibadah yang lain. Begitu istimewanya 
ibadah haji dianggap oleh sebagian umat Islam, sehingga banyak yang berhasrat 
untuk menunaikannya sampai lebih dari jumlah yang diwajibkan, yaitu sekali 
seumur hidup. Tampaknya ada aspek kepuasan hati dalam menilai ibadah sebagai 
sarana melakukan taqarrub pada ilahi. Bahkan, secara eksplisit ibadah haji 
dikaitkan dengan yang disebut pengalaman ruhani atau pengalaman religius, 
sementara ibadah lainnya tidak pernah dikaitkan dengan pengalaman ghaib 
sedikitpun.

Persepsi semacam itu menyebabkan umat Islam dengan bangga mengatakan berbagai 
pengalaman ghaib selama menjalankan ibadah haji, sampai-sampai melampaui 
proporsi. Bahkan ada anggapan bahwa tidaklah bermakna haji seseorang kalau 
tidak dikaitkan dengan berbagai keajaiban uang dialami selama melaksanakan 
ibadah.

Tidak sedikit cerita-cerita tentang pengalaman jamaah haji yang merasa mendapat 
pertolongan gaib dari malaikat dalam wujud manusia tinggi besar ketika mencoba 
mencium hajar aswad. Uluran pertolongan malaikat itu memang bisa terjadi di 
manapun, namun ada kesan bahwa malaikat lebih sering ngejawantah di Tanah Suci. 
Masih banyak lagi hal-hal yang dikaitkan dengan kegaiban yang religius 
dikisahkan selama menjalankan ibadah haji. Anggapan semacam itu nyaris menjadi 
mitos, yang diyakini kebenarannya di kalangan jamaah. Ada berbagai latar 
belakang yang diduga menjadi penyebab munculnya atau berkembangnya berbagai 
mitos semacam itu. 

Haji itu musykil
Syarat mutlak pelaksanaan ibadah haji adalah kondisi yang kondusif atau tak ada 
halangan dalam perjalanan. Itu barangkali pemahaman yang tepat bagi kalimat 
manistatho'a ilaihi sabilan. Itu berarti tersedia biaya, fasilitas 
transportasi, sehat ruhani dan jasmani, dan aman. Ketika faktor keamanan 
perjalanan haji Nabi untuk pertama kalinya belum mendukung, maka niatan untuk 
berziarah ke Makkah ditunda tahun berikutnya, sesuai isi perjanjian antara Nabi 
dengan kaum Quraisy. 

Di masa penjajahan Belanda, umat Islam Inonesia tidak mengalami hambatam 
keamanan. Namun pada waktu itu perjalanan harus menggunakan transportasi laut 
yang memakan waktu berbulan-bulan dan berisiko tinggi, hingga kematian. Jadi 
wajarlah kalau menjelang keberangkatan jamaah melakukan persiapan bagaikan 
mereka tidak bakal kembali ke kampung halaman. Untuk mengantisipasi hal-hal 
yang tidak diinginkan itu terjadi, orang menyelenggarakan tahlilan, 
pamit-pamitan, meminta maaf, dan tak sedikit yang telah membagi-bagi warisan. 
Tradisi semacam itu masih tetap dilestarikan, meskipun risiko perjalanan haji 
sudah jauh berkurang karena berbagai fasilitas moderen, sehingga makin menjamin 
keselamatan perjalanan. Meskipun demikian, tradisi itu memang tidak ada 
salahnya kalau tetap dilaksanakan.

Haji itu panggilan
Sebetulnya sama sekali tidak ada salahnya pengertian itu, karena memang begitu 
disebutkan dalam Alquran. Antara lain pada Surat Al Hajj: 28: ''Maka panggillah 
umat manusia untuk melakukan haji.'' Dan seperti biasanya, umat manusia 
bervarisasi dalam menanggapinya. Waktu ada panggilan untuk shalat, misalnya, 
tidak semua yang mendengar panggilan itu langsung memenuhi panggilan. Demikian 
pula dengan panggilan haji. Namun ternyata panggilan itu dipersepsi 
berbeda-beda. 

Begitu istimewanya pemahaman kita tentang haji, sampai-sampai timbul anggapan 
bahwa hanya orang tertentu saja yang melaksanakan panggilan itu. Dan itu 
dipahami sebagai adanya faktor nasib dan faktor pilihan Allah. Tampaknya 
persepsi semacam lebih banyak dimiliki orang dari budaya Jawa. Mereka 
mempersepsi panggilan haji itu sebagai nasib baik atau pilihan Allah. 
Sebaliknya, mereka tidak pernah mempersepsi panggilan shalat sebagaimana 
persepsi mereka terhadap haji.

Tentu saja tidaklah keliru kalau kita mempercayai adanya faktor hidayah dari 
Allah. Namun demikian, tidaklah ada salahnya kalau diyakini pula adanya peranan 
manusiawi dalam bersikap, yang bisa positif, bisa negatif. Dengan pengertian 
semacam itu, kepergian seseorang melaksanakan ibadah haji adalah merupakan 
prestasi diri atau sebagai sikap positif, dan sebagai bukti kualitas keimanan 
seseorang.

Di samping itu, pemahaman kalimat panggilan sebagai nasib membuat seseorang 
pasrah pada nasib, dan kurang memiliki tekad atau niat yang kuat. Tentu saja 
anggapan semacam itu termasuk mitos. Persepsi semacam itu terhadap ibadah haji 
barangkali semula sebagai tanggapan tak sadar betapa musykil dan mahalnya 
perjalanan ibadah haji itu. Namun sikap tadi seperti dimantapkan menjadi sikap 
kolektif karena senantiasa disosialisasikan oleh sementara penceramah maupun 
sebagian pembimbing haji secara intensif. Barangkali perlu diiingat bahwa kasus 
bepergian gagal, meski sudah dipersiapkan segalanya, bisa saja terjadi untuk 
tujuan ke manapun, dekat maupun jauh. Demikian kasus seseorang yang tanpa 
direncanakan bisa bepergian, tidak hanya bisa terjadi dalam ibadah haji. 
Mengapa kita tidak berbicara tentang panggilan untuk kasus-kasus bukan 
menunaikan haji?

Pembalasan
Persepsi orang dari budaya Jawa yang sangat menghormati orang suci atau para 
wali, menimbulkan keyakinan bahwa orang tidak boleh berbuat sembarangan di 
kawasan makam para wali. Tampaknya persepsi semacam itu kemudian diterapkan 
selama menunaikan ibadah haji, karena Makkah dan Madinah merupakan Tanah Suci 
atau Haramain, yang tentu harus lebih dihormati dibanding makam wali. Oleh 
karenanya, selama di sana, jamaah juga tidak boleh berperilaku sembrono atau 
sembarangan, apalagi berperilaku jahat yang meliputi rofasa, fuysuqa, dan jidal.

Kasus-kasus pengalaman buruk seperti tersesat, kehilangan sandal, kecopetan, 
ditipu orang atau terinjak dan sebagainya, selalu dikaitkan dengan perilaku 
buruk yang dilakukan seseorang. Pengalaman buruk itu dipahami sebagai tulah 
atau kuwalat atau pembalasan. Mitos semacam ini tampaknya berdampak positif, 
sehingga seseorang takut melakukan perilaku buruk selama menunaikan ibadah 
haji. Yang lebih menakutkan para jamaah adalah kalau mereka mendapatkan 
pengalaman buruk, yang dianggap pula sebagai pembalasan atau wrweleh sebagai 
akibat dari amal atau perilaku buruk yang telah dilakukan selama di Tanah Air. 
Menurut mitos itu, di Tanah Suci manusia akan menerima pembalasan semacam yang 
terjadi Hari Pembalasan atau Hari Kiamat.

Ada beberapa pertimbangan yang bisa digunakan untuk menghindari mitos tersebut. 
Pertama, Hari Pembalasan hanya terjadi kelak di Hari Kiamat. Kedua, mustahil 
Allah akan mempermalukan hambanya yang datang memenuhi panggilan-Nya, dan 
menjadi tamu. Sementara itu, kita tidak boleh lupa bahwa pengalaman buruk 
seperti itu bisa saja di tempat lain, di negeri lain, kapan saja. Terutama 
kalau kita berada di tempat keramaian umum. Sakralisasi
Proses sakralisasi sesuatu perilaku sosial budaya berlangsung lama sekali, 
termasuk berbagai macam ritus haji. Dan mau tidak mau, suka tidak suka, terjadi 
pula persepsi yang menyimpang di sekitar perilaku ritus yang kemudian dibakukan 
atau disyariatkan menjadi rangkaian ibadah. Persepsi menyimpang itu menjadi 
mitos, yang tidak gampang dihindari.

Status kota Makkah yang disebutkan Allah sebagai lallafzi bi nalkata mubarakan 
wa huda lil 'alamin, atau Makkah yang diberkati Allah, telah dipersepsi sebagai 
kota yang memberi berkah dan dikultuskan. Ibadah haji yang semula sebagai 
perilaku ziarah untuk li tasyhadu manafi'a lahum, semacam napak tilas untuk 
menyaksikan monumen-menumen berkaitan dengan perilaku Nabi Ibrahim sekeluarga 
di masa lampau, telah berubah menjadi perilaku kultus makam Ibrahim maupun 
kultus Batu Hitam.

Kunjungan ke tempat Nabi Muhammad mengajarkan agama lewat mimbar di hadapan 
umat atau jamaah yang duduk di raudhah, serta tempat Rasul dimakamkan, telah 
berubah menjadi tempat yang dikeramatkan. Bahkan kiswah yang menutup kabah 
telah dikeramatkan menjadi azimat, dan air zamzam telah pula dikeramatkan, 
antara lain untuk mencuci kain yang akan kita pakai sebagai kain kafan. Kita 
telah mencampuradukkan antara perilaku ibadah yang syar'i dengan perilaku 
mitos. Adalah tugas para guru ngaji dan para ulama kita untuk memelihara 
kemurnian perilaku ibadah haji tidak tercampur dengan perilaku mitos, karena 
bertentangan dengan syara' Islam. 




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season!
http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke