Di Myanmar SBY bagai disambar gledek menerima berita bahwa Papua Merdeka diakui 
di Inggris dan membukan perwakilan negaranya di Oxford yang diresmikan walikota 
Oxford yang beragama Islam disertai oleh anggauta2 parlemen kerajaan Inggris.
Segera SBY minta konfirmasi ke kedutaan Inggris di Jakarta, namun dijawab duta 
besarnya bahwa perwakilan Papua yang dibuka di Oxford bukanlah pengakuan resmi 
pemerintah Inggris.  SBY bingung mendengar jawaban tsb, bingung karena tidak 
mengerti arti kata yang diucapkan kedubes Inggris tentang "bukan pengakuan 
resmi", entah dimana bedanya antara pengakuan resmi dan pengakuan tidak resmi, 
untuk itu SBY memerlukan keterangan lebih detail dari Deplu di Jakarta.
Yang jelas, pasti ada kompetisi antara Amerika yang membackingi RI dalam 
menghadapi kepentingan negara2 Commonwealth dibawah Inggris.  Pertarungan 
Amerika dan Inggris dibelakang layar tidak ada yang bisa menyaksikannya.  Namun 
pertimbangan Amerika hanyalah untung rugi dan tawar menawar usulan2 yang 
diajukan Inggris dengan fakta2 kemelut yang tidak bisa diatasi oleh Indonesia 
dalam kurun waktu puluhan tahun diwilayah ini tentunya harus dicarikan 
solusinya yang menguntungkan semua pihak yang dalam hal ini pasti akan 
merugikan Indonesia.
Fakta2 tidak bisa dibantah, Inggris lebih mampu mengatur negara2 commonwealth 
disemua bidang sehingga produktivitasnya sangat tinggi.  Australia, New 
Zealand, Papua Niugini, Fiji, Singapore, Malaysia, dll adalah kelompok negara2 
commonwealth yang melingkari wilayah Irian Jaya yang masuk wilayah RI.
Bencana muncul dimulai dengan Islamisasi yang dilakukan RI di Papua ini 
mendapat penolakan yang sangat merugikan politik dalam negeri Indonesia di 
Papua.  Secara ekonomi, sosial dan Politik, proses Islamisasi Papua sama sekali 
tidak menguntungkan apapun bagi pemerintah RI, malah merugikan posisi RI dimata 
rakyat Papua. Pertentangan agama disamarkan, berita2nya dipasung, kemelut yang 
timbul hanya ditonjolkan ke masalah pemerataan ekonomi.  Dalam hal ini tidak 
pernah diberitakan bahwa pejabat2 pribumi yang diangkat adalah mereka yang 
bersedia masuk Islam.
Jangan dilupakan, proses Islamisasi Papua disertai meningkatnya gangguan 
terorist2 jihad Islam diseluruh wilayah commonwealth disekitar Papua termasuk 
Australia telah mengusik ketenangan dan perdamaian wilayah ini yang sudah 
stabil selama ratusan tahun yang lalu..
Jadi biaya keamanan dan pengamanan wilayah regional disekitar Papua ini bisa 
ditekan rendah apabila wilayah Papua digabungkan dengan kelompok Commonwealth 
yang sudah stabil sejak ratusan tahun yang lalu.
Jadi kalo dulu Amerika menekan Belanda untuk menyerahkan Papua kepada Sukarno 
karena anggapan bahwa Belanda terlalu jauh jaraknya untuk mampu menjamin 
tegaknya keamanan diwilayah ini.
Perjalanan waktu membawa fakta2 baru, dibawah Indonesia ternyata Papua 
mengalami kemelut yang sangat merugikan semuanya, disertai masukan2 dari 
negara2 sekitarnya dari kelompok commonwealth membuka visi baru bagi Amerika 
dalam kesepakatan baru dengan Inggris yang dimasa depannya akan menekan 
pemerintah RI melapaskan Papua menjadi negara tersendiri yang akan bergabung 
dengan kelompok commonwealth yang sudah establish ratusan tahun yang lalu.
Pembukaan perwakilan Papua Merdeka di Oxford merupakan tanda pasti proses yang 
sedang berjalan dibelakang layar yang PASTI merugikan Indonesia.
Wajar kalo SBY betul2 shock menghadapi kemelut ini, terlupa olehnya masalah 
Rohingya yang agendanya tidak bisa dituntaskan.  Ternyata Islamisasi bukan cuma 
menciptakan teror2 jihad yang merusak citra Indonesia diluar negeri tapi juga 
merusak strategi politik negara kesatuan dalam negeri yang ditanamkan oleh 
proklamator Bung Karno dulu.
Kalo Aceh bisa dipaksa kompromi dengan alasan ethnis yang sama2 Melayu, 
sebaliknya Papua sama sekali bukan ethnis Melayu bahkan berbeda Ras, sementara 
merupakan ethnis dan ras yang sama dengan saudara2nya dalam kelompok negara2 
commonwealth disekitarnya.
Lepasnya Papua nanti akan merupakan tragedy Nasional yang paling parah dalam 
sejarah berdirinya NKRI bahkan lebih parah dari lepasnya Tim Tim dan yang akan 
membawa keambrukan ekonomi NKRI disertai runtuhnya negara Kesatuan yang selama 
ini dipaksakan kepada suku2 minoritas yang merasa didiskriminasi.
Ny. Muslim binti Muskitawati.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke