Rai gedek!

Partai kontol sapi.



________________________________
 From: Tawangalun <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; ab rahim abdul hamid <[email protected]> 
Sent: Sunday, May 26, 2013 8:51 PM
Subject: [proletar] Re: [mediacare] Sumber Dana PKS
 

Sumber dana PKS dari korupsi
______________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________


Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)
Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)
Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”.(QS.3:45)

*YESAYA 28:16*
16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan
sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru
yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!


2013/5/25 Daniel H.T. <[email protected]>

> **
>
>
> http://politik.kompasiana.com/2013/05/25/sumber-dana-pks-563196.html
>
> Guna menepis kecurigaan atas kebenaran berita yang mengatakan bahwa uang
> haram Achmad Fathanah dan Yudi Setiawan mengalir juga ke Kas PKS sebagai
> institusi,  pada Jumat, 24 Mei 2013, Ketua Bidang Humas Partai Keadilan
> Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menjelaskan kepada wartawan tentang sumber
> dana yang diperoleh PKS selama ini. Maksudnya tentu hendak mengatakan bahwa
> semua dana yang diperoleh PKS adalah dana halal, tidak melanggar hukum.
> Yudi Setiawan adalah pengusaha asal Surabaya,  Direktur PT. Cipta Inti
> Permindi yang pernah diperiksa KPK sebagai saksi untuk LHI yang menjadi
> tersangka kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU)
> rekomendasi kuota impor daging sapi. Yudi juga merupakan tersangka kasus
> dugaan korupsi Bank BJB (dulu Bank Jabar Banten), dan saat ini ditahan di
> rutan Teluk Dalam, Banjarmasin, sebagai tersangka kasus korupsi alat peraga
> pendidikan di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
> Mardani menjelaskan, sumber pendanaan untuk biaya operasional di partainya
> berasal dari sumbangan wajib/infaq para kader yang besarannya ditentukan
> dari posisi serta penghasilan masing-masing kader. Setiap kader yang
> menduduki jabatan potensial, seperti menteri atau anggota DPR, kata
> Mardani, beban infaqnya mencapai Rp 20 juta. Infaq tersebut dibayarkan
> setiap bulan melalui auto debet. Para kader PKS yang menjadi anggota DPR
> juga memiliki kewajiban lebih untuk memberikan infaq sebesar Rp 2,5 juta ke
> DPW, dan Rp 1 juta ke DPC 
> (*Kompas.com<http://nasional.kompas.com/read/2013/05/24/20305612/Ini.Dia.Sumber.Pendanaan.PKS.>
> *)
> Yang menjadi pertanyaan adalah berapa gaji dari seorang anggota DPR dan
> menteri (kader PKS) itu, sampai mampu selama ini memberi infaq Rp. 20 juta
> setiap bulannya itu?
> Gaji plus tunjangan menteri, misalnya, tidak lebih dari Rp. 30 jutaan per
> bulan. Kalau dipotong Rp. 20 juta, sisa Rp. 10 juta. Bagaimana dengan
> pajaknya? Apakah sisa netto penghasilan itu cukup untuk biaya hidup
> sehari-hari di luar yang ditanggung pemerintah untuk si menteri dan
> keluarganya? Pasti sangat tidak cukupbukan? Lalu?
> Berapa sebenarnya jumlah dana infaq yang diterima PKS dari para kadernya
> itu sehingga PKS ternyata benar-benar bisa eksis lebih dari sekadar
> sejahtera?
> Bayangkan, — seperti yang diakui PKS sendiri — mobil operasional DPP PKS
> saja terdiri dari mobil-mobil mewah berharga Rp. 1 miliaran per unitnya.
> Ada mobil operasional bermerek VW Caravelle berharga Rp 1,1 miliar (sekelas
> Alphard), Nissan Navara dan Toyota Fortuner masing-masing berharga Rp. 400
> jutaan - 490 jutaan. Termurah, Mitsubishi Grandis sekitar Rp 350 juta – Rp.
> 400 juta.
> Apa usaha dari mantan Ketua PKS Luthfi Hasan Isaaq (LHI) sampai bisa
> memiliki beberapa unit mobil mewah, seperti Mazda CX berharga Rp. 800
> jutaan per unit, dan Mitsubishi Pajero yang harganya berkisar Rp. 400
> jutaan – Rp. 500 jutaan? Yang terbaru, yang disita KPK dari kantor DPP PKS,
> 23 Mei lalu adalah Alphard hitam milik LHI juga yang harganya di atas Rp 1
> miliar. Belum lagi dia juga memiliki sedikitnya lima unit rumah mewah
> dengan harga termurah Rp 2 miliaran.
> Kata KPK beberapa mobil mewah yang disita itu diduga sebagai hasil
> pencucian uang oleh LHI, dengan cara memakai nama beberapa orang kader PKS,
> seperti ajudan LHI yang bernama Achmad Zaki, Ali Imron, dan Rantala Sikayo.
> Sedangkan, PKS mengaku pemakaian nama kader-kader PKS untuk beberapa mobil
> operasional mereka itu adalah hal biasa di PKS demi mempermudah urusan
> administrasinya.
> Ini alasan yang aneh. Karena beberapa kader PKS yang dipakai namanya itu
> mengaku, mereka memang pernah beberapa kali dipinjam KTP-nya, tetapi mereka
> tidak tahu untuk apa KTP-nya itu dipinjam.
> Rantala Sikayo, misalnya, mengaku baru tahu setelah KPK menyita beberapa
> mobil yang diduga sebagai hasil pencucian uang LHI, bahwa ternyata KTP-nya
> dipinjam untuk digunakan membeli salah satu dari mobil-mobil itu.
> Apakah juga benar mereka semua itu adalah kader PKS? Seperti Ali Imron
> yang sesungguhnya adalah sopir pribadi LHI? Apakah dia juga kader PKS?
> Lagipula, memakai beberapa nama kader atas mobil operasional PKS itu
> justru memperumit administrasinya. Setiap kali hendak membayar pajak
> kendaraannya dan memperpanjang STNK-nya, kader-kader itu harus dihubungi
> satu per satu. Lebih sederhana pengurusannya  jika memakai nama PKS sebagai
> institusi pemiliknya.
> Apapun alasannya, jika benar mobil-mobil itu adalah memang mobil
> operasional PKS, ternyata, alangkah *glamour*-nya gaya hidup partai ini.
> Untuk mobil operasional saja mereka memakai mobil-mobil mewah seperti itu.
> Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan swasta besar/BUMN yang rata-rata
> memakai mobil Innova dan sejenisnya sebagai kendaraan operasional
> sehari-harinya.
> *
> Terkait dengan pengakuan Yudi Setiawan, di Majalah *Tempo* edisi 20-26
> Mei 2013, tentang adanya pembelian tiket pesawat terbang olehnya untuk LHI
> dan 30 anggota Fraksi PKS yang berkunjung ke Istanbul, Turki, pada 29
> September 2012, senilai Rp. 1 miliar, telah dibantah Presiden PKS Anis
> Matta. Anis mengatakan, KPK juga tidak menanyakan soal ini.
> Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho juga membantah kabar tersebut. Dia
> membenarkan ada kunjungan sejumlah petinggi dan kader PKS ke Turki, tetapi
> semua pembiayaannya menggunakan dana pribadi masing-masing.
> “Tanya sama yang *munculin* (Yudi). Kita berangkat sendiri, beli tiket
> sendiri,” ujar Taufik 
> (*Kompas.com<http://nasional.kompas.com/read/2013/05/24/16551919/PKS.Tak.Ada.Sponsor.ke.Turki.>
> *).
> Keterangan Sekjen PKS ini sekali lagi menyatakan bahwa ternyata betapa
> kaya-kayanya para petinggi dan kader-kader PKS itu, sampai-sampai untuk ke
> Turki, mereka semua bisa membiayainya dari kantong pribadinya
> sendiri-sendiri.
> Masalahnya adalah apakah publik bisa mempercayai sepenuhnya semua
> keterangan PKS ini?
> Tentu saja PKS tidak cukup dengan memberi pernyataan tentang sumber dana
> PKS seperti yang disampaikan oleh Ketua Bidang Humas Partai Keadilan
> Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera tersebut di atas. Apalagi penjelasannya
> itu justru menimbul tanda tanya, seperti soal sumbangan Rp 20 juta untuk
> kader PKS di DPR dan di kementerian; berapa gaji mereka, sehingga masih
> bisa memberi sumbangan wajib tetap Rp 20 juta per bulannya itu?
> Demikian juga halnya dengan dana yang dipakai untuk membeli mobil-mobil
> mewah yang diakuinya sebagai mobil operasional PKS itu, dan soal dana
> pribadi kader-kader PKS yang dipakai untuk membeli tiket dan biaya
> akomodasi ke Istanbul, Turki itu.
> Sebagai bentuk pertanggungjawaban PKS atas pernyataan dan penjelasannya
> tersebut di atas, PKS harus bisa membuktikan akuntabel ke publik. Bukan
> hanya sekadar bicara saja. Keuangannya harus diaudit oleh auditor
> independen.
> Bukan hanya keuangan PKS, tetapi juga keuangan kader PKS yang menjadi
> anggota DPR, dan tiga menteri kader PKS (Menteri Pertanian Suswono,
> Menkominfo Tifatul Sembiring, dan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri),
> yang menurut Kahumas PKS, mereka setiap bulan masing-masing memberi infaq
> ke parpol-nya mencapai Rp. 20 juta per bulan itu. Dari mana dana Rp. 20
> juta itu mereka peroleh sampai bisa memberi sumbangan wajib ke parpol-nya
> sampai sebesar itu, padahal gaji dan tunjangan menteri, misalnya, tidak
> lebih dari Rp. 30 jutaan per bulan?
> Apakah PKS bisa membuktikan bahwa uang yang dipakai untuk membayar
> mobil-mobil operasionalnya yang serba mewah itu benar-benar berasal dari
> Kas PKS secara resmi? Demikian juga para petinggi dan kader PKS harus bisa
> membuktikan bahwa uang tiket pergi-pulang, plus akomodasi ke Turki itu
> benar-benar dibiayai oleh mereka masing-masing secara pribadi. Apakah
> penghasilan pribadi mereka memungkinkan untuk itu? ***
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke