--- In [email protected], Mira Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mohon Dukungan > Petisi 2005 > Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (DPP LPR-KROB), Lembaga Penelitian Korban Pembunuhan 65 (LPKP 65) dan Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) pada tanggal 13 Desember 2005 telah menyampaikan Petisi 2005 pada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dengan disertai 23.925 tanda tangan korban orde baru atas nama 20 juta korban diskriminasi dan stigmasi. > Atas nama 3 organisasi tersebut. > Hormat kami, > Sumaun Utomo Mudjayin
Dengan hati nurani yang se-dalam2nya, sesungguhnya saya menyesal atas jatuhnya korban2 penjagalan 1965 yang dilakukan oleh tangan2 Allah yang tidak adil ini dengan bantuan TNI dan dukungan Amerika. Namun dukungan saya hanya sebatas mulut atau tulisan saja tidak lebih dari itu. Namun bukanlah berarti saya maupun organisasi2 dunia lainnya tidak bisa membantu lebih daripada itu. Namun tidak mungkin kami bisa bekerja sama selama pemahaman anda terhadap kejadian itu hanya sebatas memanipulasi dan memanfaatkan korban se-mata2 untuk tujuan atau kepentingan keuntungan pribadi maupun kelompok yang sama sekali tidak mewakili para korban2 itu sendiri. Menghadirkan korban2 dimuka umum se-mata2 untuk menipu dunia dan masyarakat Indonesia. Tentu tulisan saya disini sama sekali bukan asal2an tuduh karena semua organisasi sosial manapun punya kriteria dalam meneliti representative2 yang mengatas namakan korban2 itu sendiri. Untuk mengubah kondisi di Indonesia sama sekali tidak sesulit yang anda bayangkan, cukup pemerintah Amerika melakukan tekanan terhadap pemerintah Indonesia dalam menangani HAM maka harapan anda untuk mencabut UU manapun bisa terlaksana tanpa banyak kerja berat. Untuk hal2 inilah sebaiknya anda mempelajari dulu permasalahannya secara mendalam dengan penuh kejujuran maupun bebas dari prasangka buruk kepada pihak manapun juga. Sebaiknya saya mulai dari berakhirnya Perang Dunia II. Tidak perlu saya berpanjang lebar untuk menguraikannya, bahwa Amerika keluar sebagai pemenangnya. Saya akan memberi analogy dimana dalam situasi yang chaos, apabila ada satu bangsat yang merampok orang2 yang kaya raya yang menyebabkan si bangsat ini menjadi orang yang paling kaya karena berhasil mengalahkan dan merampok orang2 kayat tadi. Disini terjadi adu kekuatan secara alamiah, siapa menang dialah yang berkuasa dan yang kalah harus tunduk kepada pemenang, harus diperbudak oleh pemenangnya. Demikianlah, si Bangsat yang menjadi orang kaya baru secara mendadak ini, juga mendadak dikalahkan oleh seorang Pendekar !!! Tentu tidak diragukan lagi, sekarang semua harta si Bangsat menjadi milik si Pendekar, semua tanah2 dikuasai oleh si Pendekar. Tapi si Pendekar yang gagah berani ini bukanlah seorang loba melainkan rendah hati, dia bersedia mengembalikan semua harta ini kepada masing2 pemiliknya, bahkan si Pendekar ini dengan rendah hati tidak menyombongkan kekuatannya melainkan dia memuji keberanian korban2 si Bangsat itu yang membantu si Pendekar mengalahkan si Bangsat. Padahal bantuan para korban se-mata2 cuma keplok2 tangan saja memberi semangat. Naah.... Saya harap anda semua bisa memahami analogi saya diatas, bahwa sang Bangsat itu saya maksudkan adalah komplotan konspirasi Jerman, Italia, Jepang dll. Sedangkan sang Pendekar saya maksudkan adalah Amerika. Seluruh Negara2 dunia sudah habis dilindas, di- injak2, dirampok, maupun diduduki sambil membunuh dan menyiksa rakyatnya. Bukan untuk menyombongkan kalo saya menyatakan bahwa Amerikalah pemilik dunia ini seperti si Pendekar yang menguasai semua harta milik si bangsat dalam analogi diatas tadi. Namun Amerika memang rendah diri seperti juga si Pendekar dalam analogi diatas. Amerika tidak menyombongkan kemenangannya seperti juga si Pendekar. Amerika tidak menuliskan dalam sejarah bahwa Amerika-lah yang memenangkan PD II ini, justru Amerika menyatakan bahwa kemenangan Amerika ini dicapai atas kerja sama sekutu. Padahal anda semua bisa membaca disejarah, persekutuan apa yang pernah ditanda tangani Amerika dengan negara2 Inggris, Perancis, maupun negara2 lain diseluruh dunia ini sebelum PD II ??? Kenyataannya sama sekali tidak ada yang disebut persekutuan itu, se-mata2 hanya rendah hati bangsa Amerika yang ingin memberi kebanggaan juga kepada negara2 lain untuk kemenangan yang sebenarnya diraihnya sendirian. Sudah jelas bagi kita semua, sebelum PD II, Amerika hanya menanda tangani perjanjian perdamaian dengan Jerman untuk tidak turut melibatkan diri dalam perang yang akan terjadi. Memang, saya akui, perjanjian itupun memang merupakan strategi cemerlang dari pihak Amerika, dengan membiarkan dulu semuanya saling menghancurkan dimana akhirnya Amerika tinggal memungut kemenangan akhirnya. Namun yang namanya perang bukanlah semudah dan sesederhana yang kita pikirkan, ternyata banyak hal yang meleset dari rencana maupun strategi jenderal2 Amerika yang hampir2 mencelakakan Amerika sendiri. Jepang menghajar Pearl Harbor, memaksa Amerika untuk terjun dalam PD II, strategi Amerika berhasil dihancurkan, kekuatan Amerika diikat oleh Jepang disebelah timur sementara dibagian Barat Hitler membuat manuver2 yang mengancam keselamatan Amerika. Demikianlah, secepat kilat, sebelum Amerika dihancurkan, seluruh kekuatan Amerika dipecah dan diseludupkan untuk ditempatkan diseluruh negara2 Eropah yang sudah hancur itu tanpa diketahui pihak Jerman yang sebelumnya yakin bahwa negara2 Eropah itu sudah merupakan macan ompong atau macan kertas. Andaikata, Jerman berhasil menduduki Amerika, tetap saja Amerika tidak akan kalah, dan tetap keluar sebagai pemenangnya karena kekuatan tentara Amerika yang segar bugar sudah mengepung Jerman dari berbagai penjuru, sehingga apalah artinya menduduk Amerika namun pusat kekuatan jerman hancur lebur ??? Demikianlah meringkas cerita, Amerika berhasil keluar sebagai pemenang secara gilang gemilang. Dengan rendah hati Amerika memberitakan kesemua pusat berita dunia bahwa INILAH KEMENANGAN SEKUTU BUKAN KEMENANGAN AMERIKA. Jepang diduduki, sementara saja cuma diminta menanda tangani perjanjian perdamaian sebagai tanda menyerah, tidak ada dendam, tidak ada kebencian, semua bisa anda saksikan sendiri tanpa perlu saya ceritakan. Kembali dengan Indonesia. Bung Karno memalsukan sejarah dunia dan sejarah Indonesia yang menurut pengakuan beliau demi kebanggaan nasional. Bung Karno bilang kepada Cindy Adam, bahwa sebuah bangsa perlu memiliki kebanggaan, perlu memilik pahlawan, perlu memiliki perjuangan. Untuk semua itulah sejaran diputer balik. Berakhirnya PD II dijadikan model se-olah2 ada usaha Belanda untuk kembali menjajah, padahal Belanda sendiri sudah hancur lebur akibat pendudukan tentara Jerman yang membumi hangus ber-tahun2 melebihi bumi hangus yang dilakukan TNI dalam seminggu. Belanda tidak punya kekuatan lagi, Ratu Belanda sempat mengungsi ke Swiss untuk menyelamatkan keluarga kerajaannya. Semua ini tidak pernah diceritakan dalam sejarah Indonesia, malah difitnahkan se-olah2 Belanda berusaha kembali ke Indonesia untuk menciptakan se-olah2 Bung Karno melakukan perjuangan untuk kemerdekaan melawan Belanda. Amerika seharusnya merasa sebagai pemilik dan penguasa seluruh negara2 didunia ini. Memang hal ini tak mungkin disangkal merupakan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Amerika, namun hal ini saya yakin merupakan hal yang wajar bukan berlebihan. Moment yang sangat penting inilah yang dimanfaatkan Amerika untuk melucuti penguasa di Indonesia yaitu tentara Jepang. Selesai PD II, Amerika mendadak membutuhkan banyak sekali tenaga2 ahli untuk dipekerjakan oleh negara ini. Untuk melucuti tentara Jepang di Indonesia inilah, Amerika berusaha merekrut bekas tentara2 Inggris, namun angkatan perang Inggris memang sudah hancur lebur, sedikit yang bisa diharapkan. Demikian juga dari pihak Belanda yang pernah berpengalaman menduduki Indonesia dicari orang2 yang tepat dengan pengalaman yang sesuai untuk melucuti tentara Jepang dan mengatur negara baru ini. Dalam keadaan kekurangan personil inilah akhirnya Amerika berhasil membentuk pasukan campuran yang tdd dari berbagai bangsa dibawah pimpinan kolonel keturunan Turki berkewargaan negara Belanda, yaitu WESTERLING. Namun sejarah Indonesia memang penuh dengan manipulasi yang diciptakan oleh Bung Karno, tidak ada catatan sejarah yang menerangkan siapa sebenarnya Westerling, sejarah hanya menyatakan bahwa Westerling adalah orang Belanda yang berusaha menjajah kembali Indonesia. Padahal Westerling bukan dikirim oleh Belanda, juga bukan mewakili Belanda, bahkan Westerling tidak digaji oleh Belanda. Yang lebih menarik adalah, Westerling sudah ber-tahun2 tinggal di Turki karena Rumahnya di Belanda hancur lebur dijarah tentara Jerman. Westerling direkrut Amerika di pangkalan Amerika di Istambul. Bahkan tidak pernah sejarah Indonesia mencatat bahwa Westerling beragama Islam. Westerling gagal dalam tugasnya, dia ditarik balik oleh Amerika dan dipensiun selamanya. Westerling bukanlah orang asing bagi semua pejabat2 di Indonesia. Sukarno kenal baik, demikian dengan Hatta, Nasution, dan banyak lagi pejabat2 Indonesia lainnya yang punya hubungan pribadi yang sangat akrab dengan Westerling. Dalam pengakuan Westerling sebelum mati diRumah Sakit di Turki, dia menyatakan, semua pejabat2 Indonesia adalah sahabat karibnya termasuk Bung Karno, hubungan paling akrab Westerling adalah dengan Pak Nasution. Apalagi pak Nasution ini juga seorang muslim yang sangat saleh sehingga sangat dipercaya oleh Westerling yang juga termasuk Islam yang agak fanatis. Saat2 terakhir sebelum menghembuskan nafas terakhir, Westerling mengaku, bahwa orang yang paling dibencinya selama hidup hanya satu orang, yaitu Sukarno si orang Jawa licik. Demikianlah pesan wasiat terakhir yang keluar dari mulut Westerling sebelum akhir hidupnya. Westerling merasa dikhianati oleh Sukarno, Sukarno telah menipu dan mengakali Westerling sehingga terjadi korban di Sulawesi. Atas bujukan Sukarno inilah Westerling menggerakkan pasukannya sehingga terjadi pembunuhan massal di Sulawesi terhadap pejuang2 disana. Menurut Westerling, korban2 yang dibunuhnya itu semuanya adalah musuh2 Bung Karno. Siapa yang tidak naik pitam, demikian Westerling berteriak dirumah sakit di Turki sewaktu dia diwawancara, "saya menangkap kurang dari 200 orang dari nama2 yang diberikan Sukarno Jawa licik itu." Demikianlah desahan Westerling dengan suara ter-engah karena marahnya dengan fitnah yang dijatuhkan kepada dirinya. Sehari sehabis membunuh kurang dari 200 orang di Sulawesi, di Jakarta sudah diberitakan pembunuhan massal yang dilakukan Westerling terhadap lebih dari 10 ribu rakyat Sulawesi. Berita ini sudah direncanakan, langsung tersebar ke Belanda dan Amerika yang menyebabkan datangnya surat kawat dari Amerika yang memerintahkan Westerling balik memberi laporan untuk selamanya tidak pernah kembali, dan dia merasa dirinya dipecat sebelum usai tugasnya. Kita tidak bisa percaya dongengan Westerling, namun bukan juga mengabaikan keterangan dia mengenai tingkah laku Sukarno. Rekord Sukarno tidaklah bersih, dia menikahi nenek2 kaya bernama inggit untuk membiayai sekolahnya, juga membiayai ambisi2 perjuangan politiknya. Kita harus ingat, Tan Malaka mendadak hilang, masih ada puluhan kasus yang bisa ditudingkan kepada Bung Karno pada menjelang kemerdekaan yang lolos dari catatan sejarah Indonesia. Singkat cerita, Sukarno bukanlah sinterklaas, bukan santeri, bukan pendeta, dia adalah politikus kotor, penipu siapapun juga termasuk kawan seiring seperti Kartosuwiryo, namun dia berhasil. Lawan2nya gagal dan bertekuk lutut. Saya tidak memiliki bukti2 hitam diatas putih untuk semua kejadian2 yang banyak saksi2nya. Singkatnya dia bukanlah pribadi yang terpuji !!! Kariernya sebagai presiden Indonesia bisa anda jajaki terus, setelah meningkirkan banyak sekali lawan2nya mulai dengan berbagai fitnah hingga sandiwara rekayasa pembunuhan dirinya berulang kali yang merupakan kebanggaan dirinya karena mampu meniru apapun yang dikerjakan Hitler selama kekuasaannya. Kita sama2 tahu kalo akhirnya dia mengangkat dirinya sebagai presiden seumur Hidup. Sebagai orang Indonesia, saya wajar2 saja bangga kepada prestasi brilliant Bung Karno, bahkan pribadinyapun sangat menyenangkan, pandai bawa diri, bisa merendah, bisa melawak, kelihatan ramah bukan pendendam, ringan tangan dalam menolong, tidak kelihatan serakah, sangat terbuka dan kelihatan jujur, namun semua itu cuma superficial, wajah setan ada dibelakang semua ini. Mulanya tidak ada yang percaya semua dongeng2 kebusukan, dan kelicikan Sukarno ini. Namun track recordnya makin lama makin menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya. Sikap Amerika, sudah juga jelas, Amerika sudah lama sejak sebelum PD II telah ber-cita2 untuk mendirikan badan dunia UN untuk segala tujuan2 hegemani yang direncanakan puluhan tahun sebelum PD II. Impian Amerika baru tercapai setelah PD II. Dunia di-pecah2 dalam banyak negara2 yang menduduki UN sebagai wakil2 dari negara yang baru diciptakan ini dengan premis2 kemerdekaan, perlawanan terhadap Imperialisme, dsb, dsb, dimana kesemuanya adalah strategi untuk mengambil alih semua konsesi Inggris didunia ini, dan hal itupun berhasil, Kerajaan Inggris jatuh miskin ekonominya menghasilkan kemelaratan rakyat, akhirnya Inggris mengharapkan belas kasihan bantuan Amerika, mulailah Amerika berjaya yang kelanjutannya bisa anda cari tahu sendiri. Namun ada satu hal yang tidak bisa diubah dalam rencana Amerika, bahwa untuk mengabadikan hegemony kekuatan Amerika didunia, seluruh negara2 didunia harus melakukan pemilihan presiden secara periodik seperti yang dilakukan di Amerika. Hal yang sama berlaku dengan Bung Karno. Bagi Amerika tentunya akan merupakan ancaman keamanan yang serius apabila seorang presiden yang sudah tua terus menerus menjadi presiden tanpa mempersiapkan suksesi-nya karena kalo hal ini terjadi bisa membuat Amerika kehilangan kendali dalam mengikat negara2 tsb dalam kubu hegemoni dunia-nya. Dengan korban lebih dari 10 juta, Sukarno akhirnya berhasil dijatuhkan. CIA berkerut kening, terlalu banyak biaya dan korban jiwa dalam meladeni ambisi Sukarno ini. Selama petualangan CIA diberbagai negara belum pernah mengalami lawan setangguh dan selicik Sukarno. Sukarno menikahi banyak wanita untuk diperalat untuk tujuan2 politiknya, bahkan setelah berkenalan dengan Dewi dan menyelidiki siapa dibelakang Dewi, maka dilakukanlah berbagai jebakan hingga akhirnya Sukarno berhasil menikahi Dewi. Dewi adalah agen yang direkrut CIA di Jepang untuk mengawasi kebocoran milyardan dollar bantuan Amerika kepada Jepang waktu itu dalam menopang pasukan2 Amerika di perang VietNam. Sukarno makin berjaya setelah naiknya presiden Kennedy, dia berdua seperti saudara angkat, demikian pandainya Sukarno membawa dirinya sehingga benar2 bisa menjatuhkan hati Kennedy untuk mati2an membela temannya ini disenat Amerika. Sukarno harusnya sudah jatuh pada tahun 50-an, akibat naiknya Kennedy jadi presiden, Sukarno berhasil sukses menjadikan dirinya sebagai presiden seumur hidup. Entah konspirasi mana yang ikut bermain, mendadak Kennedy ditembak mati, Sukarno bernasib buruk terus setelah kematian Kennedy. Entah disebabkan karma atau memang ada konspirasi yang lebih brilliant, Sukarno ditekan habis2an dari Washington, hasilnya nihil, setoran uang kepada Angkatan Darat, kepada DI/TII, kepada semua konspirasi ketentaraan yang ada di Indonesia ternyata gagal menjegal Sukarno ini. Namun mendadak, nama Suharto masuk nominasi, dia seorang jenderal muda harapan dan kepercayaan PKI, ditopang lagi dengan latar belakang keluarganya yang banyak sekali anggauta2 politbiro PKI, bahkan Sudisman yang mati dibunuh oleh pasukan dibawah Suharto adalah pamannya sendiri. CIA tidak percaya kemampuan jenderal muda yang rendah prestasinya, dan tidak menonjol pendidikannya. Cuma membutuhkan waktu 3 bulan bagi CIA untuk memutuskan penunjukkan Suharto, tidak banyak biaya yang dikeluarkan, tanpa banyak ngomong Suharto menunjukkan prestasinya, Sukarno terguling dalam hanya 8 bulan, semua biaya yang terbuang sia2 sebelumnya oleh CIA mendadak jadi lunas. Selanjutnya anda tahu sendiri. Presiden licik sekaliber Sukarno tidak mungkin murah biaya untuk menggulingkannya. Hanya jenderal yang licik juga yang mampu menjegalnya, dan orangnya bukanlah Nasution, juga bukan Akhmad Yani, juga bukan Omar Dhani, ternyata dialah Suharto namanya yang bisa dianalogikan sebagai Ken Arok di abad ke 20. Cerita selanjutnya bisa anda cari sendiri. Demikianlah sekedarnya urut2an sejarah Indonesia yang se-benar2nya. KESIMPULANNYA, TIDAK ADA KEBERHASILAN TANPA PENGORBANAN, TIDAK ADA PERJUANGAN YANG GRATIS, TIDAK ADA SUMBANGAN TANPA HARAPAN BALIK. Sekali lagi, bukanlah hal yang susah untuk mencabut UU yang diciptakan Suharto. Namun satu pertanyaan, maukah anda jujur bahwa tanggung jawab kerusakan negara ini bukan se-mata2 berada dipundak Suharto, melainkan terutama adalah disebabkan petualangan Sukarno itu sendiri. Kalo saja anda mau mengakuinya, maka pandangan dan pengetahuan anda akan jalan sukses akan otomatis jadi terbuka. Tidak mungkin anda bisa berhasil meskipun terkumpul 100 juta tanda tangan seklipun. Karena keberhasilan itu merupakan perjuangan berdarah yang tidak segampang mengumpulkan tanda tangan !!! Belajarlah dari Sukarno bagaimana dia bisa sukses dengan cara2 menipu kanan kiri, menikahi, merekayasa pembunuhan dirinya, bahkan juga mengadu domba jenderal2nya sendiri sementara perdana menteri yang diangkatnya bisa mendadak hilang tanpa bekas. Juga anda harus belajar dari Suharto bagaimana dia bisa sukses mendongkel Sukarno bukan dengan milyardan dollar, melainkan dengan 10 juta nyawa orang2 Jawa sebagai pelunasan hutang fitnah untuk 10 ribu korban rekayasa di Sulawesi. Juga bukan Indonesia saja yang bisa anda jadikan contoh untuk belajar. Tetapi contoh dari Cina yang cukup brillian, cuma 10 ribu nyawa di Tian An Men yang jatuh sudah cukup meyakinkan Amerika untuk menanamkan modalnya di Cina. Hanya penguasa yang tegas dan berani saja yang bisa mendapatkan dukungan penuh dari pihak Washington. Amerika selalu belajar dari kesalahan2nya dimasa lalu. Mulanya karena merasa superpower, Amerika main drop pemimpin yang didukungnya untuk jadi boneka Amerika, hasilnya, Chiang Kai Shek yang didukungnya mahal sekali ternyata sia2 dan tak punya guna dimana China akhirnya jatuh ketangan komunis dibawah Mao Tse Tung. Padahal, sebelumnya ketua Mao Tse Tung sudah mengirim utusan untuk minta dukungan Amerika dan memohon kepada Amerika dengan ber-iba2 untuk menghentikan dukungannya kepada Chiang Kai Shek. Amerika merasa kuat, tidak mau didikte, merasa diancam Mao Tse Tung yang dirasakan sebagai kesombongan. Amerika berkukuh untuk mendukung kegagalannya sendiri dalam jumlah ratusan milyard dollar secara sia2 tidak ada perlunya. Padahal kalo dulunya Amerika melepaskan dukungan kepada Chiang Kai Shek, maka Amerika akan menikmati keuntungan yang luar biasa besarnya. Kegagalan Amerika bukan cuma masalah China, juga masalah VietNam, Ho Chi Min dari VietNam Utara sudah mengirim utusannya yang sangat dekat hubungannya dengan Washington, namun analis2 Washington kembali membuat kesalahan fatal, yang didukung adalah raja2 korup dari VietNam Selatan, hasilnya Saigon jatuh, tentara Amerika ter- birit dengan meninggalkan banyak korban. Demikianlah, seharusnya untuk meraih sukses, anda harus mempelajari apa yang dialami Amerika, dan apa yang akan diperbaiki Amerika. Kalo dimasa perang dingin Amerika dukung satu pemimpin dengan dana besar dan hasilnya gagal, mana mungkin setelah belajar begitu banyak kegagalan2 yang sama tetap saja Amerika tidak mau mengubah strateginya ???? Demikianlah atas dasar kegagalan2 massa lalu sekarang Amerika bersikap menunggu sang calon berlaga untuk menunjukkan kemampuan memenangkan sayembara. Hanya pemenangnya saja yang didukung, bukan kayak dulu didukung dulu calonnya setelah habis banyak biaya hasilnya gagal. Amerika ibaratnya seorang raja yang mencari menantu yang bermutu tinggi. Tentu saja calon menantu yang bermutu tinggi harus berhasil diadu memenangkan sayembara dimedan laga dalam memperebutkan sang puteri. Pemenangnya itulah yang diangkat jadi menantu, bukan mendukung salah satu calon yang dipilih dengan cara2 kroni atau kkn tanpa diadu dimedan laga, kemudian sang menantu bisa mudah merebut sang puteri. Sukarno termasuk pemenang sayembara, Suharto juga termasuk pemenang sayembara, jangan mengharap mendapatkan dukungan Amerika kalo tidak mampu memenangkan sayembara. Kesimpulannya, engga segampang mengumpulkan tanda tangan kalo memang mau mencabut UU yang ditanamkan Suharto untuk diledakkan oleh ahli warisnya dimasa depan pada waktu yang tepat. Kalo anda punya kemampuan dan berniat mencabut UU tsb, tidak ada lain jalan dengan merebut kekuasaan seperti teladan yang dicontohkan Suharto. Tidak satupun yang mau bersimpati dengan perjuangan atau petualangan anda yang bermodalkan dana orang lain, anda harus punya modal sendiri untuk menang, kalo sudah menang, barulah mendapatkan hadiahnya, bukan hadiahnya dulu untuk kemudian tidak pernah mampu menang. Apakah anda kira dengan bermodal mengatas namakan korban2 Suharto anda bisa memancing dana dari luar negeri ataupun dalam negeri ??? itu mimpi namanya. Mampukah anda mendongkel SBY sang penguasa ??? Jangan cuma ngomong, jangan cuma kritik, dan jangan cuma merengek, kerja, kerja, kerja. Itulah yang dikerjakan Sukarno dan Suharto. Gagal mati, menang jadi pahlawan, cuma itu pilihannya. Kalo UU itu dibuat diatas tumbal 10 juta nyawa, masa anda begitu gampangnya mencabut UU yang sama dengan hanya mengumpulan beberapa ribu tanda tangan ???? Tentu tidak mungkin begitu bukan ???? Pada hakekatnya, negara ini sudah tidak punya harapan, cepat atau lambat sayembara perebutan sang puteri akan tiba waktunya, namun kalo memang anda punya kemampuan tentu waktunya bisa dipercepat. Berhasil atau gagalnya juga tergantung bagaimana SBY memandang diri anda. Ny. Muslim binti Muskitawati. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season! http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
