Selain melukai hati rakyat juga membohongi rakyat karena kehidupan
bertoleransi dan perlindungan terhadap kaum minoritas di Indonesia adalah
omong kosong


Shalom,
Tawangalun asli.
______________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________


Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)
Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)
Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”.(QS.3:45)

*YESAYA 28:16*
16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan
sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru
yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!


2013/6/4 Sunny <[email protected]>

> **
>
>
>
> http://www.shnews.co/detile-20373-penghargaan-yang-melukai-hati-rakyat.html
>
> *Penghargaan yang Melukai Hati Rakyat?*
> Senin, 03 Juni 2013 - 15:08:13 WIB
>
>
> (AP/Photo)
> Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menerima penghargaan "World
> Statesman" dari Rabbi Arthur Schneier (kanan), pendiri Appeal of Conscience
> Foundation, didampingi mantan Menlu AS Henry Kissinger di
> Penghargaan ACF dinilai menambah luka di hati masyarakat yang selama ini
> didiskriminasi.
>
> Meski mendapat protes keras dari berbagai komponen masyarakat dalam
> negeri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap menerima penghargaan World
> Statesman Award di New York, Amerika Serikat, dari Appeal of Conscience
> Foundation (ACF) pekan lalu. Pemberian penghargaan tersebut karena Presiden
> SBY dinilai berprestasi dalam menegakkan kehidupan bertoleransi dan
> perlindungan terhadap kaum minoritas di Indonesia.
>
> Pro dan kontra soal pemberian penghargaan itu memang terus berlangsung
> usai diumumkan oleh ACF beberapa waktu lalu. Bahkan ada elemen masyarakat
> dari Indonesia yang menyurati ACF agar membatalkan rencana pemberian
> penghargaan itu kepada Presiden SBY. Pemberian penghargaan itu dinilai
> menambah luka di hati masyarakat yang selama ini mendapat perlakuan
> diskriminasi.
>
> Meski telah mendapat banyak masukan sekaligus protes keras, ACF yang
> pernah memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh dunia tersebut tetap tidak
> mengubah keputusannya. ACF tampaknya telah memiliki agenda atau penilaian
> tersendiri yang mereka yakini kebenarannya. Mungkin hal itu pula yang
> membuat Presiden SBY tetap memantapkan langkah ke New York untuk menerima
> penghargaan “bergengsi” tersebut.
>
> Tentu tidak mudah mendapat penghargaan seperti itu, apalagi yang selama
> ini penerimanya merupakan tokoh-tokoh dunia, seperti Kanselir Jerman Angela
> Merkel, mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, mantan Presiden Brasil
> Fernando Henrique Cardoso, Presiden Republik Cek Vaclav Havel, mantan
> Presiden Rusia Mikhail S Gorbachev, Raja Spanyol Juan Carlos, dan Perdana
> Menteri India Manmohan Singh. Penghargaan ini lazimnya diberikan untuk
> kepentingan bangsa karena akan mencatatkan sebuah sejarah bahwa pemimpin
> Indonesia pernah menerima penghargaan yang namanya disejajarkan dengan
> tokoh-tokoh besar dunia. Paling tidak sejarah telah mencatat—soal pantas
> atau tidak, rakyat terluka atau tidak—adalah hal lain.
>
> Masyarakat boleh tidak setuju dan menilai bahwa Presiden SBY tidak layak
> menerima penghargaan karena masih banyaknya tindakan intoleransi di negeri
> ini. Namun demikian, Presiden SBY tentu telah menimbang apakah dirinya
> pantas atau tidak menerima penghargaan tersebut. Nah, sekarang kita hanya
> bisa mengambil sisi positifnya. Presiden SBY juga mengakui bahwa masih ada
> kantong intoleransi, kerawanan konflik komunal dan elemen radikal. Secara
> fakta memang situasinya cukup memprihatinkan karena aksi-aksi intoleransi,
> radikalisme, dan konflik sosial masih cukup tinggi.
>
> Kita hanya bisa berharap kepada SBY sebagai pemimpin negara yang telah
> menerima penghargaan tersebut agar memperhatikan harapan masyarakat,
> terutama kaum minoritas yang diperlakukan tidak adil, dihambat beribadah,
> dibongkar atau dirusak rumah ibadahnya, diusir dari kampung halamannya,
> bahkan dibunuh seperti yang dirasakan oleh warga Ahmadiyah, warga muslim
> Syah di Sampang Madura. Padahal, sesuai konstitusi, semua warga negara
> mempunyai hak yang sama dan dilindungi oleh negara.
>
> Kaum radikal yang semakin nekat dan berani menjalankan aksinya, tidak
> terlepas dari ketidaktegasan pemerintah. Pemerintah terkesan membiarkan dan
> tidak berani bertindak. Akibatnya aksi perusakan rumah ibadah orang lain,
> menghambat pendirian rumah ibadah, dan bentuk diskriminasi lainnya terus
> berlangsung. Pemerintah tidak pernah tegas. Kasus GKI Yasmin, Bogor,
> terkatung-katung karena pemerintah tidak tegas menjalankan konstitusi, HKBP
> Filadelpia belum tuntas dan banyak lagi kasus-kasus lainnya yang melukai
> hati umat minoritas. Itulah yang mendasari penolakan terhadap penghargaan
> yang diberikan kepada presiden tersebut.
>
> Seyogianya, masyarakat akan bangga dan mendukung apabila pemimpinnya
> mendapat penghargaan internasional yang tentu saja akan mengharumkan nama
> bangsa. Namun apa yang terjadi justru banyak rakyat yang tidak setuju. Oleh
> karena itu, ini merupakan momentum bagi pemerintah untuk benar-benar
> memperbaiki kinerja dalam hal membela hak-hak kaum minoritas.
>
> Sebagaimana dalam pidatonya ketika menerima penghargaan, Presiden SBY
> menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak akan menoleransi kekerasan yang
> dilakukan kelompok apa pun yang menggunakan agama. Dikatakan pula
> pemerintah tidak akan membiarkan penistaan terhadap tempat ibadah dengan
> alasan apa pun. Kaum minoritas akan selalu dilindungi dan dijamin tidak
> akan mengalami perlakuan diskriminatif. Semoga kalimat itu bukan sekadar
> rangkaian kata-kata indah yang enak didengar, tetapi benar-benar
> diwujudkannyatakan melalui tindakan konkret. Kalau tidak ada perbaikan maka
> penghargaan itu benar-benar melukai hati rakyat.
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke