Mohammad SAW a Pedophile Mohammad SAW anak wedus ______________________________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________________________
Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30) Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38) Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).(QS.3:45) *YESAYA 28:16* 16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah! 2013/6/18 MiRa <[email protected]> > ** > > > > > http://infoindonesia.wordpress.com/2012/03/29/kwik-kian-gie-subsidi-bbm-itu-bohong/<http://infoindonesia.wordpress.com/category/bbm/kenaikan-harga-bbm-bbm/> > <http://agusnizami.files.wordpress.com/2012/03/gasolinecost.jpg>Di bawah > adalah tulisan Kwik Kian Gie yang menyatakan Subsidi BBM adalah bohong. > Jika kita teliti, itu memang benar. > Sesungguhnya biaya produksi minyak dari menggali minyak, kilang, hingga > distribusi ke Pom Bensin menurut KKG adalah US$ 10/brl. Ada baiknya kita > naikan saja jadi US$ 15/brl untuk memberi keuntungan bagi pendukung > Neoliberalisme yang mengatakan Subsidi BBM itu ada. Itu sudah termasuk > keuntungan yang cukup besar bagi para operator dan distributor. > Buat yang ragu angkanya bisa lihat data komponen biaya dari website > pemerintah AS: > http://www.eia.gov/petroleum/gasdiesel > Di situ dijelaskan biaya minyak mentah 72% dari harga jual, pengilangan > 12%, Distribusi dan Pemasaran 5%, Pajak 11%. > Taruhlah rate 1 US$ = Rp 10.000 dan 1 barrel = 159 liter. > Jika harga minyak Rp 4.500/liter, artinya Rp 715.500/brl atau US$ 71/brl. > Jadi dengan biaya produksi hanya US$ 15/brl dan harga jual US$ 71/brl, > sebetulnya pemerintah untung US$ 56/brl. Bayangkan jika produksi BBM kita 1 > tahun 350 juta barel. Pemerintah untung US$ 19,6 milyar atau Rp 196 > trilyun/tahun. > Itu kalau pakai harga Subsidi Rp 4.500/liter. Kalau pakai harga Pertamax > yang Rp 9000/liter, pemerintah untung Rp 392 trilyun/tahun. > Tapi bagaimana dengan harga minyak dunia yang misalnya US$ 120/brl? > Bukankah kita rugi US$ 79/brl? > Benar kalau kita adalah negara bukan penghasil minyak seperti Singapura > atau Jepang yang harus beli minyak dari negara lain. > Tapi Indonesia memproduksi sendiri minyaknya sebesar 907 ribu barel/hari. > Bahkan mungkin lebih jika tidak dikadali perusahaan minyak asing yang > mengelola 90% minyak kita. Sementara kebutuhan BBM Subsidi itu hanya 723 > ribu bph (42 juta kilo liter/tahun). Jadi masih untunglah pemerintah. Mau > harga minyak dunia naik sampai US$ 200/brl pun sebetulnya biaya produksi > minyak di Indonesia tidak akan berubah. Paling banter cuma US$ 15/brl. > Cuma ya itu beda pemikiran ekonom kerakyatan atau Islam dibanding ekonom > Neoliberal yang berpihak pada perusahaan-perusahaan minyak asing. Meski > untung, mereka tetap bilang rugi. > Padahal minyak itu adalah milik bersama rakyat Indonesia. Bukan milik > perusahaan minyak atau pemerintah Indonesia. Jadi tak pantas dijual dengan > harga Internasional. > Simulasi Harga Minyak dalam bentuk XLS bisa didownload di sini: > http://www.mediafire.com/?jez4ynm4vzt > Kita akan tahu bahwa meski harga minyak dunia US$ 200/brl, Indonesia tetap > untung dgn harga Rp 4500/ltr atau US$ 71 brl mengingat biaya produksi hanya > US$ 15/brl. > Lihat perbandingan beda pandangan antara pemahaman untung/rugi penjualan > minyak antara pemikiran Ekonom Islam/Rakyat dengan Ekonom Neoliberal yang > dipengaruhi Yahudi. > Di zaman Nabi ada Yahudi yang menjual air dengan harga tinggi kepada > rakyat. Harap diketahui, hingga sekarang harga air di Arab Saudi lebih > mahal daripada harga minyak karena air di sana sangat langka. Namun setelah > dibeli ummat Islam sumur airnya, Nabi membagikannya gratis kepada rakyat. > Ini karena rakyat harus bisa mendapatkan kebutuhan hidupnya dengan mudah. > Perbandingan di bawah dengan asumsi: > 1 barel = 159 liter > 1 US$ = Rp 10.000 > Produksi minyak Indonesia = 907 ribu bph > Kebutuhan BBM Subsidi dgn harga Rp 4500/ltr (US$ 71/brl) = 740 ribu bph > Total biaya produksi minyak Indonesia = US$ 15/brl > > HARGA MINYAK DUNIA (US$/BRL) > Persepsi Untung/Rugi > 60 > 120 > 200 > 400 > Ekonom Islam/Rakyat > 56 > 56 > 56 > 56 > Ekonom Neoliberal > 11 > -49 > -129 > -329 > Orang awam memandang saat biaya produksi minyak US$ 15/brl dan dijual > seharga Rp 4500/ltr (US$ 71/brl) sebagai untung sebesar US$ 56/brl. > Namun kaum Neolib memandangnya rugi sebesar US$ 49/brl saat harga minyak > Dunia naik jadi US$ 120/brl. Saat minyak dunia naik jadi US$ 400/brl juga > dianggap rugi sebesar US$ 329/brl padahal sebenarnya tetap untung. > Anggito Abimanyu, salah satu fundamentalis neo-liberal Indonesia yang > selalu bersikeras menaikkan harga BBM dengan alasan *mengurangi beban > subsidi BBM*, mengakui bahwa selama ini tidak pernah ada subsidi dalam > BBM. Masih ada surplus penerimaan BBM dibanding biaya yang dikeluarkan, > katanya dalam acara talkshow di TVOne hari Senin (13/03/2012), terkait > rencana kenaikan harga BBM akibat kenaikan harga BBM dunia. Anggito menjadi > salah satu narasumber bersama Kwik Kian Gie dan Wamen ESDM. Mungkin Anggito > tidak akan pernah memberikan pengakuan seperti itu kalau saja tidak karena > ada Kwik Kian Gie yang telah lama menyampaikan pendapatnya bahwa isu > subsidi adalah pembohongan publik, dan pendapat itu diulangi lagi dalam > acara*talkshow* tersebut di atas. > http://muslimdaily.net/opini/opini-17/anggito-abimanyu-selama-ini-tidak-pernah-ada-subsidi-bbm.htmlJika > pun benar Pemerintah rugi, bisa jadi Pertamina dipaksa membeli > minyak Indonesia yang 90% dikelola oleh perusahaan2 minyak AS seperti > Chevron dan Exxon dengan harga New York. Jika begitu, solusinya adalah di > Nasionalisasi. Cina dan Norwegia mengelola minyak mereka dengan BUMN > mereka. Arab Saudi, Iran, dan Venezuela juga sudah menasionalisasi > perusahaan minyak asing yang dulu memonopoli minyak mereka. Sekarang mereka > makmur karena penerimaannya bertambah karena tidak dibohongi oleh > perusahaan2 minyak asing. > http://infoindonesia.wordpress.com/2009/06/30/selama-kekayaan-alam-dirampok-asing-indonesia-akan-terus-miskin/Selama > 90% kekayaan alam kita dikuasai asing, selama itu pula Indonesia > melarat. Harga minyak naik, bukannya untung malah rugi karena ceritanya > Subsidi bertambah berat. Harga minyak turun juga Mengeluh karena > penerimaan berkurang. Tidak pernah bersyukur makanya kena siksa Allah > terus. Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami > akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), > maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. [Ibrahim 7] Satu wujud syukur kita > dengan kekayaan alam kita adalah dengan mengelolanya sendiri sehingga bisa > menikmati seluruh hasilnya. Bukan justru mengabaikannya dan menyerahkannya > ke pihak asing sehingga akhirnya asinglah yang menikmati hasilnya sementara > rakyat Indonesia jadi miskin dan melarat. > Angka yang diajukan KKG sebetulnya sangat masuk akal. Apalagi menurut > Lembaga Statistika Energi AS (Energy Information Administration), 42 galon > minyak mentah setelah dikilang akan menghasilkan 45 galon (6% lebih banyak) > seperti Bensin, Diesel, dan Avtuur yang harganya sangat mahal. Jadi kalau > pemerintah bilang rugi rugi rugi.. itu cuma bohong belaka. > <http://agusnizami.files.wordpress.com/2012/03/minyakjadibbm.jpg> > http://energy.gov/articles/hows-and-whys-replacing-whole-barrel > Referensi: > Pertamina: konsumsi BBM Subsidi tahun 2011 sebesar 41,69 kilo liter > > http://finance.detik.com/read/2012/01/04/181554/1806847/1034/kuota-bbm-subsidi-di-2011-jebol-13-juta-kiloliter > BP Migas: Produksi minyak Indonesia 920 ribu bph: > > http://finance.detik.com/read/2011/08/02/180541/1695071/1034/akhirnya-produksi-minyak-indonesia-mulai-merangkak-naik > http://energy.gov/articles/hows-and-whys-replacing-whole-barrel > http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6494160 > *BBM DISUBSIDI ADALAH OMONG KOSONG* ** *Percakapan antara Djadjang dan > Mamad* *Oleh Kwik Kian Gie* > Pemerintah berencana tidak membolehkan kendaraan berpelat hitam membeli > bensin premium, karena harga Rp. 4.500 per liter jauh di bawah harga pokok > pengadaannya. Maka pemerintah rugi besar yang memberatkan APBN. > Apakah benar begitu ? Kita ikuti percakapan antara Djadjang dan Mamad. > Djadjang (Dj) seorang anak jalanan yang logikanya kuat dan banyak baca. > Mamad (M) seorang Doktor yang pandai menghafal. Dj : Mad, apa benar sih > pemerintah mengeluarkan uang tunai yang lebih besar dari harga jualnya > untuk setiap liter bensin premium ? M : Benar, Presiden SBY pernah > mengatakan bahwa semakin tinggi harga minyak mentah di pasar internasional, > semakin besar uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk > mengadakan bensin. Indopos tanggal 3 Juli 2008 mengutip SBY yang berbunyi : > Jika harga minyak USD 150 per barrel, subsidi BBM dan listrik yang harus > ditanggung APBN Rp. 320 trilyun. Kalau USD 160, gila lagi. Kita akan > keluarkan (subsidi) Rp. 254 trilyun hanya untuk BBM. Dj : Jadi apa benar > bahwa untuk mengadakan 1 liter bensin premium pemerintah mengeluarkan uang > lebih dari Rp. 4.500 ? Kamu kan doktor Mad, tolong jelaskan perhitungannya > bagaimana ? M : Gampang sekali, dengarkan baik-baik. Untuk mempermudah > perhitungan buat kamu yang bukan orang sekolahan, kita anggap saja 1 USD = > Rp. 10.000 dan harga minyak mentah USD 80 per barrel. Biaya untuk > mengangkat minyak dari perut bumi (lifting) + biaya pengilangan (refining) > + biaya transportasi rata-rata ke semua pompa bensin = USD 10 per barrel. 1 > barrel = 159 liter. Jadi agar minyak mentah dari perut bumi bisa dijual > sebagai bensin premium per liternya dikeluarkan uang sebesar (USD 10 : 159) > x Rp. 10.000 = Rp. 628,93 kita bulatkan menjadi Rp. 630 per liter. Harga > minyak mentah USD 80 per barrel. Kalau dijadikan satu liter dalam rupiah, > hitungannya adalah : (80 x 10.000) : 159 = Rp. 5.031,45. Kita bulatkan > menjadi Rp. 5.000. Maka jumlah seluruhnya kan Rp. 5.000 ditambah Rp. 630 = > Rp. 5.630 ? Dijual Rp. 4.500. Jadi rugi sebesar Rp. 1.130 per liter (Rp. > 5.630 Rp. 4.500). Kerugian ini yang harus ditutup oleh pemerintah dengan > uang tunai, dan dinamakan subsidi. Dj : Hitung-hitunganmu aku ngerti, > karena pernah diajari ketika di SD dan diulang-ulang terus di SMP dan SMA. > Tapi yang aku tak paham mengapa kau menghargai minyak mentah yang milik > kita sendiri dengan harga minyak yang ditentukan oleh orang lain ? M : > Lalu, harus dihargai dengan harga berapa ? Dj : Sekarang ini, minyak > mentahnya kan sudah dihargai dengan harga jual dikurangi dengan harga pokok > tunai ? Hitungannya Rp. 4.500 Rp. 630 = Rp. 3.870 per liter ? Kenapa > pemerintah dan kamu tidak terima ? Kenapa harga minyak mentahnya mesti > dihargai dengan harga yang Rp. 5.000 ? M : Kan tadi sudah dijelaskan bahwa > harga minyak mentah di pasar dunia USD 80 per barrel. Kalau dijadikan > rupiah dengan kurs 1 USD = Rp. 10.000 jatuhnya kan Rp. 5.000 (setelah > dibulatkan ke bawah). Dj : Kenapa kok harga minyak mentahnya mesti dihargai > dengan harga di pasar dunia ? M : Karena undang-undangnya mengatakan > demikian. Baca UU no. 22 tahun 2001 pasal 28 ayat 2. Bunyinya : Harga > Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha > yang sehat dan wajar. Nah, persaingan usaha dalam bentuk permintaan dan > penawaran yang dicatat dan dipadukan dengan rapi di mana lagi kalau tidak > di New York Mercantile Exchange atau disingkat NYMEX ? Jadi harga yang > ditentukan di sanalah yang harus dipakai untuk harga minyak mentah dalam > menghitung harga pokok. Dj : Paham Mad. Tapi itu akal-akalannya korporat > asing yang ikut membuat Undang-Undang no. 22 tahun 2001 tersebut. Mengapa > bangsa Idonesia yang mempunyai minyak di bawah perut buminya diharuskan > membayar harga yang ditentukan oleh NYMEX ? Itulah sebabnya Mahkamah > Konstitusi menyatakannya bertentangan dengan konstitusi kita. Putusannya > bernomor 002/PUU-I/2003 yang berbunyi : Pasal 28 ayat (2) yang berbunyi : > Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan > usaha yang sehat dan wajar dari Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang > Minyak dan Gas Bumi bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik > Indonesia. M : Kan sudah disikapi dengan sebuah Peraturan Pemerintah (PP) > ? Dj : Memang, tapi PP-nya yang nomor 36 tahun 2004, pasal 27 ayat (1) > masih berbunyi : Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi, keuali Gas Bumi > untuk rumah tangga dan pelanggan kecil, DISERAHKAN PADA MEKANISME > PERSAINGAN USAHA YANG WAJAR, SEHAT DAN TRANSPARAN. Maka sampai sekarang > istilah subsidi masih dipakai terus, karena yang diacu adalah harga yang > ditentukan oleh NYMEX. M : Jadi kalau begitu kebijakan yang dinamakan > menghapus subsidi itu bertentangan dengan UUD kita ? Dj : Betul. Apalagi > masih saja dikatakan bahwa subsidi sama dengan uang tunai yang dikeluarkan. > Ini bukan hanya melanggar konstitusi, tetapi menyesatkan. Uang tunai yang > dikeluarkan untuk minyak mentah tidak ada, karena milik bangsa Indonesia > yang terdapat di bawah perut bumi wilayah Republik Indonesia. Menurut saya > jiwa UU no. 22/2001 memaksa bangsa Indonesia terbiasa membayar bensin > dengan harga internasional. Kalau sudah begitu, perusahaan asing bisa buka > pompa bensin dan dapat untung dari konsumen bensin Indonesia. Maka kita > sudah mulai melihat Shell, Petronas, Chevron. M : Kembali pada harga, kalau > tidak ditentukan oleh NYMEX apakah mesti gratis, sehingga yang harus > diganti oleh konsumen hanya biaya-biaya tunainya saja yang Rp. 630 per > liternya ? Dj : Tidak. Tidak pernah pemerintah memberlakukan itu dan > penyusun pasal 33 UUD kita juga tidak pernah berpikir begitu. Sebelum > terbitnya UU nomor 22 tahun 2001 tentang Migas, pemerintah menentukan harga > atas dasar kepatutan, daya beli masyarakat dan nilai strategisnya. Sikap > dan kebijakan seperti ini yang dianggap sebagai perwujudan dari pasal 33 > UUD 1945 yang antara lain berbunyi : Barang yang penting bagi negara dan > menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dan > dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Dengan harga Rp. 2.700 > untuk premium, harga minyak mentahnya kan tidak dihargai nol, tetapi Rp. > 2.070 per liter (Rp. 2.700 Rp. 630). Tapi pemerintah tidak terima. Harus > disamakan dengan harga NYMEX yang ketika itu USD 60, atau sama dengan Rp. > 600.000 per barrel-nya atau Rp. 3.774 (Rp. 600.000 : 159) per liternya. > Maka ditambah dengan biaya-biaya tunai sebesar Rp. 630 menjadi Rp. 4.404 > yang lantas dibulatkan menjadi Rp. 4.500. Karena sekarang harga sudah naik > lagi menjadi USD 80 per barrel pemerintah tidak terima lagi, karena maunya > yang menentukan harga adalah NYMEX, bukan bangsa sendiri. Dalam benaknya, > pemerintah maunya dinaikkan sampai ekivalen dengan harga minyak mentah USD > 80 per barrel, sehingga harga bensin premium menjadi sekitar Rp. 5.660, > yaitu: Harga minyak mentah : USD 80 x 10.000 = Rp. 800.000 per barrel. Per > liternya Rp. 800.000 : 159 = Rp. 5.031, ditambah dengan biaya-biaya tunai > sebesar Rp. 630 = Rp. 5.660 Karena tidak berani, konsumen dipaksa membeli > Pertamax yang komponen harga minyak mentahnya sudah sama dengan NYMEX. M : > Kalau begitu pemerintah kan kelebihan uang tunai banyak sekali, dikurangi > dengan yang harus dipakai untuk mengimpor, karena konsumsi sudah lebih > besar dibandingkan dengan produksi. Dj : Memang, tapi rasanya toh masih > kelebihan uang tunai yang tidak jelas ke mana perginya. Kaulah Mad yang > harus meneliti supaya diangkat menjadi Profesor. > > http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/ > List of books, click: http://sastrapembebasan.wordpress.com/ > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
