Sunni punya Quran, Syiah punya Quran.

Quran yang mana yang benar ?
Menurut saya semua Quran adalah kitab contekan maka tidak ada yang asli.
Apa pendapat anda

Mohammad SAW a Pedophile
Mohammad SAW anak wedus
______________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________


Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)
Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)
Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”.(QS.3:45)

*YESAYA 28:16*
16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan
sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru
yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!


2013/7/26 Al Faqir Ilmi <[email protected]>

> **
>
>
> Iran, Syiah dan Fitnah-fitnah Murahan
>
> Sejak 2007 saya berada di Iran. Dipertengahan tahun itu saya pertama kali
> menginjakkan kaki di kota Qom. Bukan tanpa informasi. Saya justru mendapat
> bekal, Iran itu negeri Syiah. Syiah itu sesat bahkan bukan bagian dari
> Islam. Mereka punya Al-Qur'an yang berbeda dengan yang dibaca kaum muslimin
> dinegeri muslim lain di dunia. Sehari sebelum berangkat, Ust. Said
> Abdushshamad tokoh yang getol mengkampanyekan gerakan anti Syiah di
> Makassar menemuiku. Sangat kebetulan, saudara kandung beliau, bertetanggaan
> dengan rumah ibuku di Makassar.
>
> Mungkin beliau tahu informasi rencana kepergianku ke Iran dari Puang Tia,
> saudara perempuannya itu. Diapun menjejaliku dengan nasehat untuk waspada
> terhadap ajaran Syiah. Saya cukup mengiyakan saja. Setiba di Iran, yang
> disampaikan hampir semuanya berkebalikan. Saya melihat Iran negara yang
> Islami, justru sangat Islami. Tidak ada satupun perempuan yang bebas keluar
> rumah tanpa mengenakan jilbab, dan hampir semuanya berwarna hitam.
>
> Dimanapun aku mampir shalat berjama'ah, masjid-masjid nyaris penuh.
> Kompleks Haram dijantung kota Qom, tempat dimakamkannya Sayyidah Fatimah
> Maksumah sa adik kandung Imam Ridha as terbuka 24 jam. Dan peziarah selalu
> berdatangan tanpa henti. Aktivitas Islami tidak pernah tidak terlihat
> dikompleks itu. Ada yang mengaji, shalat, membentuk kelompok-kelompok kecil
> untuk membahas masalah agama, atau sekedar bercengkrama dengan keluarga.
> Anak-anak kecil bebas lari berkeliaran.
>
> Setelah berkeluarga, sayapun selalu membawa istri dan kedua anakku
> ditempat itu selepas maghrib dan pulang kerumah menjelang subuh. Yang
> menarik, dan menurut saya, ini nilai lebihnya Haram itu, tersedia
> posko-posko tanya jawab dan diskusi agama. Sebut saja seperti ruang
> pengaduan di gereja. Bukan untuk membeli surat pengampunan dosa. Sama
> sekali bukan.
>
> Melainkan untuk bertanya masalah agama: aqidah, akhlak dan fiqh serta
> konsultasi keluarga. Semua ada posko khususnya. Termasuk posko khusus
> mengecek benar tidaknya bacaan dalam shalat. Yang melayani adalah
> pakar-pakar Islam dibidangnya. Saya sering mampir bertanya masalah aqidah.
> Mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Sementara istri betah
> berlama-lama di posko fiqh, menanyakan masalah amalan keseharian.
>
> Disepanjang jalan, terpampang papan-papan reklame yang bertuliskan
> pesan-pesan Islami dan baliho-baliho besar gambar Ayatullah plus informasi
> jadwal pengajiannya (bukan baliho kampanye politik). Di baliho itu
> tertulis, hari ini kelas tafsir, besoknya kelas akhlak, lusanya kelas fiqh
> di sini dan disitu. Tidak hanya itu ceramah para Ayatullah itu disiarkan di
> tivi-tivi secara langsung bahkan lewat radio.
>
> Esoknya sudah tersedia cd-cd rekamannya di kios-kios CD, dan selalu laku
> keras. Warga Iran memang pendengar yang baik. Mereka betah mendengar
> ceramah ataupun pidato-pidato politik berjam-jam. Momentum shalat Jum'at
> dimanfaatkan pemerintah Iran untuk menyampaikan pesan-pesan politik. 2-3
> jam sebelum khutbah Jum'at, jama'ah Jum'at dijejali orasi politik satu dua
> tokoh aktivis, kebanyakannya menceritakan kondisi dunia Islam, dan selalu
> terdengar slogan perlawanan terhadap AS dan Israel.
>
> Di mimbar Jum'at bahkan ditulis, AS letaknya dibawah kaki kami. Kalau
> pidatonya membakar, jama'ah serentak berdiri, mengepalkan tangan sembari
> meneriakkan yel-yel dukungan terhadap pemimpin mereka dan kecaman terhadap
> AS. Persis situasi demonstrasi di jalan-jalan. Dengan kondisi seperti itu,
> sangat ganjil kalau sampai ada yang mengantuk. Bagi yang sibuk dan tidak
> sempat membaca Koran tiap hari, cukup mendengarkan pidato-pidato tersebut,
> ia akan paham apa yang terjadi selama sepekan itu. Karena itu, rakyat Iran
> tidak mudah terpengaruh propaganda murahan dari media-media asing. Mereka
> mandiri disegala hal, ekonomi, keamanan, budaya, sosial dan politik.
>
> Masjid-masjid di Qom, tidak terlalu besar, tapi lapang dan nyaman bagi
> jama'ah. Terdapat beberapa kursi, buat mereka yang kesulitan shalat dengan
> duduk melantai. Terdapat bantal sandaran, buat para orangtua lanjut usia
> untuk menyandarkan tubuhnya saat mendengarkan ceramah atau sekedar mengaji.
> Dan dihari-hari tertentu, sambil dengar ceramah kita bisa menikmati segelas
> susu dan 1-2 biji kurma yang disediakan gratis pengurus masjid.
>
> Setelah shalat, remaja masjid akan membagikan Al-Qur'an, hampir disemua
> masjid ada program membaca al-Qur'an satu-dua halaman berjama'ah. Dipimpin
> qari-qari yang bacaannya sangat merdu. Di Tv ada saluran khusus menyiarkan
> program-program Qur'ani. Semua acara serba Qur'ani. Kelas tafsir, kelas
> ulumul Qur'an. Bincang-bincang Al-Qur'an menjawab problem keseharian,
> termasuk menyiarkan profil-profil para penghafal Al-Qur'an.
>
> Iran kaya dengan hafiz Al-Qur'an. Mulai dari usia sekolah dasar, remaja
> sampai usia dewasa. Saya pernah mewancarai beberapa remaja Iran yang hafal
> Al-Qur'an. Mulai dari Ali Amini yang telah menghafal Qur'an di usia 8 tahun
> sampai Mujtaba Karsenasi yang menghafal 30 juz al-Qur'an diusia 15 tahun.
> Mereka adalah penerus dari Husan Tabatabai, Doktor Cilik Penghafal Qur'an,
> yang dikenal sebagai mukjizat abad 20 karena memiliki penguasaan dan
> pengetahuan Al-Qur'an yang mengagumkan, sampai mendapat gelar doctor
> honoris causa bidang studi Al-Qur'an. Wawancara saya itu dimuat dalam buku
> Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik yang kususun bersama bu Dina Sulaeman
> dan suaminya, diterbitkan Pustaka Iiman pertengahan tahun 2011.
>
> Toko-toko buku jumlahnya hampir berimbang dengan toko kelontong. Di tengah
> kota, hampir disetiap lorong ada toko buku. Bukan hanya buku-buku karya
> ulama Syiah namun juga kitab-kitab ulama Sunni. Diperpustakaan pun
> demikian. Meski berbeda, orang-orang syiah tidak fobia terhadap karya-karya
> ulama sunni. Hal yang berbeda dari mereka yang menyebut syiah itu sesat.
> Bisa jadi bahkan melihat langsung buku-buku syiah saja mereka tidak pernah.
>
> Mahasiswa Indonesia di Iran, tidak semuanya Syiah. Ada juga yang Sunni.
> Mereka tersebar di Teheran, Ghorghon dan Esfahan. Untuk menepis fitnah, di
> Iran warga Sunni dibunuhi, disiksa dan mendapat perlakuan tidak adil dari
> pemerintah Iran yang Syiah, saya mewancarai teman asal Indonesia yang
> belajar di Universitas agama yang bermazhab Sunni. Namanya Syarif
> Hidayatullah dan wawancara itu dimuat di ABNA. Dari lisannya, ia menepis
> tudingan dan fitnah tidak bertanggungjawab itu.
>
> Pemerintah Iran gemar menyelenggarakan event-event internasional.
> Konferensi Mahdawiyat, konferensi ulama Islam, konferensi pemuda Islam,
> konferensi perempuan Islam, MTQ Internasional dan Pameran kitab
> Internasional yang melibatkan banyak negara muslim. Karena itu, banyak
> tokoh-tokoh nasional kita yang mengunjungi Iran sebagai delegasi Indonesia
> dalam event-event tersebut. Selama di Iran, setidaknya saya sudah bertemu
> dengan DR. Amin Rais (tokoh Muhammadiyah), Prof. Quraish Shihab (mantan
> menteri agama dan mantan ketua MUI), Dr. Umar Shihab (ketua MUI Pusat) dan
> Muh. Maftuh Basyuni (menteri agama kabinet SBY-JK). Tokoh-tokoh nasional
> itu mengunjungi langsung kampus saya di Qom.
>
> Berbincang dan membuka ruang dialog dengan mahasiswa Indonesia di Qom.
> Tidak ada yang ganjil. Mereka tidak meminta kami waspada dengan Iran dan
> Syiahnya. Justru meminta semua mahasiswa Indonesia belajar serius dan bisa
> memanfaatkan ilmunya jika kembali ke tanah air. Dengan adanya event-event
> internasional yang melibatkan banyak negara muslim tersebut menyodorkan
> fakta yang tidak terbantahkan, Iran diakui keberadaannya sebagai negara
> Islam. Terlebih lagi Republik Islam Iran juga memang termasuk dalam anggota
> OKI, organisasi internasional yang beranggotakan khusus negara-negara yang
> bermayoritas penduduk muslim. Tidak ada satupun negara yang keberatan
> dengan penamaan Iran sebagai Republik Islam juga semakin menguatkan fakta
> itu.
>
> Hubungan mahasiswa Indonesia di Qom dengan KBRI di Teheran pun sangat
> akrab. Berkali-kali pihak KBRI datang ke Qom mengadakan silaturahmi, buka
> puasa bersama, atau silaturahmi pasca lebaran. Mengundang untuk menonton
> timnas PSSI yang bertanding di Teheran. Ataupun pada saat 17 Agustus,
> upacara bendera dan makan bersama. Saya pernah meraih juara I lomba
> penulisan karya tulis ilmiah yang diadakan KBRI Teheran. Dan perlu
> teman-teman tahu, semua staff di KBRI Teheran tidak ada yang Syiah,
> semuanya Sunni.
>
> Kalaupun memang Sunni mendapat tindakan semena-mena dari pemerintah Iran,
> bahkan katanya di Teheran tidak ada masjid Sunni, staff KBRI yang akan
> lebih dulu menyampaikan hal itu. Atau minimal kedutaan besar Malaysia, Arab
> Saudi, Mesir, dst yang ada di Teheran. Mengapa yang getol menyebarkan
> propaganda negatif tentang Iran justru media-media yang tidak satupun staff
> atau wartawannya yang pernah ke Iran?. Guru-guru besar UIN Syarif
> Hdayatullah Jakarta bahkan sejumlah guru besar UIN Alauddin Makassar pernah
> ke Iran.
>
> Seorang Dosen Unismuh Makassar pernah ke Qom, mengadakan penelitian tesis
> doktoralnya. Saya yang menemani beliau berkunjung ke Teheran dan Masyhad.
> Mengajaknya shalat berjama'ah dibeberapa masjid-masjid. Ia shalat sambil
> bersedekap dengan tenang di tengah-tengah jama'ah Iran yang tidak
> bersedekap. Saya pernah menyambut tamu dirumah, ketua umum PB HMI, dan
> delegasi HMI yang ikut dalam konferensi perempuan internasional di Teheran.
>
> Kesemua tamu itu sunni. Dan sepulangnya mereka menulis pengalaman mereka
> selama di Iran dan dimuat dimedia. Tidak ada cerita sunni dibantai, cerita
> sahabat-sahabat Nabi dilaknat dimimbar-mimbar, tidak ada cerita mereka
> menemukan Al-Qur'an orang Iran yang berbeda, tidak ada cerita praktik nikah
> mut'ah yang kebablasan sampai katanya dimasjid-masjid di Iran disediakan
> ruangan khusus untuk melakukan praktik mut'ah. Yang ada semangat ukhuwah
> dan persahabatan yang menakjubkan dari orang-orang Iran yang mazhabnya beda.
>
> Saya yang sampai saat ini masih berada di Iran masih sering mendapat
> kiriman konten-konten yang negatif tentang Iran dan Syiah, sembari
> menasehatkan saya tentang bahaya Syiah. Saya tegaskan, sekalipun pada
> akhirnya saya tidak memilih Syiah sebagai mazhabku dalam berIslam, saya
> tidak akan merusak diri dengan mengkafirkan sesama muslim.
>
> Yang mengkafirkan orang-orang Syiah yang juga bersyahadat, shalat, puasa,
> zakat dan naik haji. Saya tidak mungkin mau menghina akal sehat dan rasioku
> dengan lebih mempercayai mereka dari apa yang saya lihat dan rasakan
> langsung. Kalau Prof. Amin Rais, DR. Diin Syamsuddin, KH. Hasyim Mazudi,
> Habib Rizieq, Muh. Maftuh Basyuni , guru-guru besar UIN, akdemisi
> Universitas2 Islam Indonesia yang dengan hanya beberapa jam di Iran telah
> berkesimpulan untuk tidak sampai mengkafirkan Syiah bagaimana dengan saya
> yang hidup ditengah-tengah mereka bertahun-tahun, dan melihat langsung
> amalan-amalan mereka?.
>
> Sayang, bahkan selama Ramadhan inipun mereka kelompok takfiri masih juga
> getol menyebar berita dusta tentang Iran dan rakyatnya. Kebanyakan yang
> melakukan itu adalah aktivis dakwah, aktivis ormas Islam, bahkan katanya
> akademisi di lembaga penelitian. Apa ketika saya kembali ke tanah air, dan
> kembali ditemui oleh KH. Said Abdushshamad (sekarang sudah Kyai Haji) dan
> menjelaskan kepada saya tentang Iran seakan lebih tahu dari saya sendiri
> yang menetap bertahun-tahun di Iran dan mengingatkan tentang kesesatan dan
> kekafiran Syiah seakan lebih tahu dari saya yang mendengar langsung
> ceramah-ceramah Syiah dari Ayatullah di Qom, apa saya akan mempercayainya
> karena beliau Kyai Haji, karena beliau ketua umum LPPI Indonesia Timur dan
> karena beliau jauh lebih tua dari saya?.
>
> Sangat mengerikan menyerahkan urusan Islam kepada mereka.
>
> https://m.facebook.com/notes/**ismail-amin/**
> iran-syiah-dan-fitnah-fitnah-mu**rahan-itu/10153040916700494<https://m.facebook.com/notes/ismail-amin/iran-syiah-dan-fitnah-fitnah-murahan-itu/10153040916700494>
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke