saya suka lagu ini http://www.youtube.com/watch?v=VTzBZfOj4mA
Dan kalau saya lagi iseng mainin tuts organ, saya suka pijit pijit nada nada lagu ini ... dan judulnya tetep saja religiusitas. bukan spirituilitas. kalau mau ngomong spirituilitas ... ini tulisan saya tentang Spiritual Capital ---------------- Spiritual Capital versi Danah Zohar Suatu hari, mungkin seorang manusia seperti Silalahi berbicara kepada Anda dengan semangat '45. "Ada bisnis bagus ! Modalnya cuma sekian ! Tapi bisa menghasilkan uang jutaan seminggu ...! Jika anda bertemu dengan orang seperti ini. Pejamkan mata sesaat ...(berdoalah kepada Tuhan agar terlindung dari segala kejahatan ) .. tarik nafas panjang ....hembuskan pelan-pelan .. kemudian tersenyum ... dan katakan "Terima kasih, saya sedang ada pekerjaan lain dan saya tidak punya waktu untuk mendengar lebih banyak. Permisi " ''Tak ada yang lebih buruk daripada monster yang memangsa dirinya sendiri.'' Inilah gambaran dunia yang terperangkap Kapitalisme Barat yang dilontarkan Prof Dr Danah Zohar. Pakar Spiritual Quotient (SQ) yang mendapat gelar sarjana bidang Fisika dan Filsafat dari Massachusetts Institute of Technology (MIT, 1966) dan Doktor di bidang Filsafat, Psikologi, dan Agama dari Harvard University Graduate Spiritual Capitalhool (1969) ini telah menghasilkan beberapa buku best-sellers, seperti The Quantum Self, The Quantum Society, Who's Afraid of Spiritual Capitalhr dinger's Cat? ReWiring the Corporate Brain. Sebelum buku terakhir, Spiritual Capital, ia merilis SQ-Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence sebuah buku yang mengubah paradigma dunia tentang konsep kecerdasan, setelah Daniel Goleman yang memperkenalkan konsep kecerdasan emosi (EQ) Pandangan yang berasumsi bahwa manusia semata-mata adalah makhluk ekonomi yang hidup demi menghasilkan uang, telah menimbulkan `stres' dan kelelahan yang luarbiasa di pihak ''pemenang'' yang menjalankan sistem. Lalu apakah sebenarnya penyebab dari carut marutnya kondisi bisnis di Indonesia pada khususnya? Faktor pencetus utama permasalahan tersebut adalah ketiadaan makna (meaning) . Ketakbermaknaan inilah pemicu utama penularan penyakit di dunia maju saat ini. Di antaranya depresi, keletihan, sindrom kepenatan yang kronis, . Inilah yang disebut penyakit spiritual (Spiritual Pathology). Hal ini didukung oleh Hierarki Piramida Kebutuhan Abraham Maslow. Danah memaparkan bahwa pada 1959, studi terkenal dari Frederick Herzberg tentang hal yang memotivasi orang untuk bekerja, membuktikan kekeliruan yang fundamental pada Piramida Maslow. Betapa tidak, piramida lima tingkat milik Maslow--yaitu kebutuhan lapis pertama ''Kecukupan Fisiologis'', disusul dengan jenjang-jenjang berikutnya yaitu ''Keselamatan dan Keamanan'', ''Keterlibatan dan Hubungan Sosial'', ''Harga Diri'' dan ''Aktualisasi Diri''--sesungguhnya hanya menjadikan seseorang cenderung berkutat pada tingkat pertama (pemenuhan kebutuhan fisik) yang berujung pada ketamakan belaka, dan sedikit sekali yang mampu mencapai tingkat aktualisasi diri yang mengandung pemaknaan hidup. Namun apabila piramida ini dibalik, kebutuhan utamanya menjadi kebutuhan untuk ''Aktualisasi Diri''. , maka akan dengan sendirinya kebutuhan dasar tadi tercukupi. Inilah jawaban dari `adakah jalan lain' itu. Spiritual Capital menawarkan sebuah paradigma baru yang sangat relevan dengan dunia usaha, yaitu ber usaha dengan visi bisnis yang tidak sekadar menaruh perhatian pada materi keduniawian belaka. Spiritual Capitals mencitrakan bisnis sebagai sebuah panggilan hidup, bisnis yang berorientasi pada pelayanan dan nilai. Tulisan manis dari Teddy saat bercerita bahwa dia membeli Audi untuk membuat senang ibunda nya ... the REAL SPIRITUAL CAPITAL ! Great ! Puji Tuhan ! Semoga Tuhan memberkati. Amen. --- In [email protected], David Silalahi <davidfr766hi@...> wrote: > > oo kirain anda beneran sama seperti habe yang dengerin malem kudus, > ternyata enggak toh...hehehe.. > > > On 8/4/13, pinpinyuliansyah <pinpinyuliansyah@...> wrote: > > > > > > --- In [email protected], David Silalahi <davidfr766hi@> wrote: > >> > >> seharusnya bukan religiusitas, tapi spiritualitas. bila religiusitas > >> itu artinya anda masih terkungkung ajaran spesifik keagamaan dan > >> pandangan agama itu terhadap agama lain. sedangkan spiritualitas anda > >> tidak terkungkung apapun dan tidak mempunyai pandangan apapun terhadap > >> agama-agama yang ada. anda free. bebas. > > > > Saya yang menentukan saya "harus" menulis Religiusitas atau spiritulitas, > > karena saya paham betul apa yang ingin saya sampaikan, sementara anda punya > > karakter memaksakan pandangan pada orang lain dan ngatur orang lain untuk > > begini dan begitu. Power Sindrome. > > > > Saya pilih religiusitask karena masih ada korelasinya dengan agama yang saya > > yakini. Saya mengambil syair abunawas dan bukan sedang mengambil lirik lagu > > Tuhan Bapak di surga. > > > > Saya memandang agama lain atau pemahaman agama orang lain pada agamanya > > tentu saja dari pemahaman saya atas agama yang saya yakini saat ini. Thats > > why saya pilih kata religiusitas. karena saya masih seorang theis. bukan > > atheis. Jasi -- sekali lagi -- anda tidakperlu mengatur saya untuk tidak > > boleh menulis religiusitas dan harus menulis spiritualitas. > > > > > > > >> > >> kebebasan itulah yang seharusnya dimiliki, karena kebebasan itu adalah > >> surga yang sesungguhnya. tak ada manusia didunia ini yang tidak > >> mendambakan kebebasan. > >> > > > > Dan itu artinya paradox. Disaat anda berbicara kebebasan seperti di atas, > > anda baru saja membatasi kebebasan saya dalam ber ekspresi dengan menganggap > > salah karena saya memilih kata religiusitas. Kelihatan nddak di mana diri > > ada saat ini ? Anda tak paham dengan apa yang anda tulis selain ingin > > menunjukkan diri bahwa anda "lebih dari yang lain", dan mental seperti ini > > hanya dimiliki oleh seorang pecundang. > > > >> namun istilah bebas ini bagi beberapa orang masih pro dan kontra, ada > >> yang menganggap spiritualitas itu sendiri masih belum bebas karena > >> dinilai masih percaya roh atau tuhan, sedangkan yang lain menganggap > >> kebebasan sesungguhnya adalah menjadi ateis. ini hanya pro kontra > >> biasa, hanya masalah perasaan simpati dan empati. > >> > > > > anda lagi ngomong apa sih ? Mau ceramah maksudnya ? Pernah jadi dosen di > > mana pak ? di UT ? > > > >> btw, jusfiq itu sudah termasuk orang-orang yang bebas. dia tidak > >> merasakan beban ketika menuliskan kata-kata kasar, karena dia tidak > >> peduli surga ataupun neraka. > >> > > > > Ya. > > Dan anda sama percis dengan uplik. > > ngigau mlulu. > > > >> > >> On 8/4/13, pinpinyuliansyah <pinpinyuliansyah@> wrote: > >> > Ini Syair Abunawas yang suka saya lagu kan di usia SD .. > >> > > >> > Ilahi lastu lilfirdausi ahla, > >> > Walaa aqwa `ala naaril jahiimi > >> > > >> > Wahai Tuhanku.. aku sebetulnya tak layak masuk surgaMU, > >> > TapiĀ aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu, > >> > > >> > ... > >> > > >> > Paling tentrem saat me - lagu - kan syair syair itu bareng bareng dalam > >> > bahasa arap tanpa mengetahui isinya. > >> > > >> > perasaan saya saat menyanyikan atau melagu kan syair ini ... kurang > >> > lebih > >> > nya sama dengan perasaan habe saat mendengar lagu "malam kudus". > >> > > >> > nddak ada urusan sama yesus, allah, atau dewa. > >> > > >> > ini namanya religiusitas. > >> > > >> > --- In [email protected], David Silalahi <davidfr766hi@> wrote: > >> >> > >> >> hehehe... semua orang yg fanatik beragama itu sebetulnya takut neraka > >> >> dan gila sorga. > >> >> kalo enggak menjalankan aturan menyembah tuhannya, mereka takut > >> >> diancam akan masuk neraka. > >> >> > >> >> coba, apa mereka berani untuk tidak menyembah tuhan barang sebulan > >> >> saja? pasti takut, yaitu takut neraka dan takut dijelek2an orang > >> >> sekitar. padahal neraka sebenarnya adalah ya omongan orang-orang > >> >> disekitar dirinya. > >> >> > >> >> > >> >> On 8/4/13, pinpinyuliansyah <pinpinyuliansyah@> wrote: > >> >> > Di kemasan deterjen pencuci pakaian tertulis kata - kata "Lembut di > >> >> > Tangan", > >> >> > namun meskipun ada "jaminan" bahwa deterjen pencuci pakaian itu > >> >> > lembut > >> >> > untuk > >> >> > tangan, tentu saja kita tidak akan merendam tangan kita seharian di > >> >> > dalam > >> >> > air deterjen karena ingin "melembutkan" tangan. Meskipun (mungkin) > >> >> > lembut > >> >> > untuk tangan, deterjen dibuat untuk mencuci pakaian, bukan untuk > >> >> > melembutkan > >> >> > tangan. > >> >> > > >> >> > Hidup kita hari ini disesaki oleh ribuan iklan yang berlomba - lomba > >> >> > mengejar kita dimanapun kita berada. Dari mulai membuka mata sampai > >> >> > menutup > >> >> > mata. Dari mulai iklan TV, koran, radio, billboard, pamplet, sampai > >> >> > "hujan > >> >> > SMS Iklan" yang tiba - tiba masuk begitu saja ke inbox di handphone > >> >> > kita. > >> >> > Dari mulai iklan sabun, shampoo, makanan ringan, rumah, mobil, > >> >> > surga, > >> >> > bidadari ....sampai iklan "Investasi meningkat jutaan kali lipat > >> >> > jika > >> >> > anda > >> >> > ber sodaqoh !" > >> >> > > >> >> > Tidak semua barang dan jasa yang di iklan kan itu kita butuhkan. > >> >> > > >> >> > Hari ini kita sangat sulit menemukan iklan yang jujur. Hari ini > >> >> > sebagian > >> >> > konsumen sudah mulai cerdas untuk tidak terlalu cepat percaya pada > >> >> > iklan. > >> >> > Apalagi ketika iklan itu terlalu bombastis. Seperti iklan "Tabib > >> >> > Sakti > >> >> > Mandraguna" yang konon bisa menyembuhkan segala macam penyakit, dari > >> >> > mulai > >> >> > Impotensi, kanker sampai HIV, dari mulai panas dalam sampai santet. > >> >> > Seolah > >> >> > meniadakan sekian banyak dokter specialis yang jumpalitan belajar > >> >> > seumur > >> >> > hidup di dunia medis. > >> >> > > >> >> > Iklan adalah bagian dari marketing. > >> >> > > >> >> > KETIKA sebuah perusahaan , atau partai, atau agama, doyan "ngiklan" > >> >> > dengan > >> >> > kata - kata yang muluk ... > >> >> > > >> >> > MAKA sampai kapan orang akan percaya dan mau mendengar ? > >> >> > > >> >> > Iklan apapun dan sebagus apapun pada akhirnya harus disertai dengan > >> >> > bukti > >> >> > nyata. > >> >> > Iklan tanpa bukti adalah ngibul. > >> >> > Siapapun tentu tidak suka dikibulin. > >> >> > Siapapun tidak suka di cap sebagai tukang ngibul. > >> >> > > >> >> > *** > >> >> > > >> >> > Deterjen dibuat untuk mencuci pakaian. Bukan untuk melembutkan > >> >> > tangan. > >> >> > Meskipun deterjen itu (mungkin benar) lembut di tangan. > >> >> > > >> >> > Di bulan puasa ini ... sekian banyak speaker masjid bercerita > >> >> > tentang > >> >> > indah > >> >> > nya surga dan betapa pedihnya api neraka. itu mungkin benar. Namun > >> >> > ketika > >> >> > seseorang didorong untuk berbuat baik hanya untuk sekian banyak > >> >> > bidadari > >> >> > atau sekian banyak minuman susu yang mengalir tak habis habis nya di > >> >> > surga > >> >> > loka .... atau ketika seseorang didorong untuk beramal sholeh .... > >> >> > hanya > >> >> > karena ditakut takuti oleh pedihnya siksa neraka ... > >> >> > > >> >> > saya jadi ingat syair lagu ini ... > >> >> > > >> >> > http://www.youtube.com/watch?v=Wh1qpLBZn-o > >> >> > > >> >> > Apakah kita semua > >> >> > Benar-benar tulus > >> >> > Menyembah pada-Nya > >> >> > Atau mungkin kita hanya > >> >> > Takut pada neraka > >> >> > Dan inginkan surga > >> >> > > >> >> > Reff: > >> >> > Jika surga dan neraka tak pernah ada > >> >> > Masihkan kau bersujud kepada-Nya > >> >> > Jika surga dan neraka tak pernah ada > >> >> > Masihkah kau menyebut nama-Nya > >> >> > > >> >> > (**) > >> >> > Bisakah kita semua > >> >> > Benar-benar sujud sepenuh hati > >> >> > Kar`na sungguh memang Dia > >> >> > Memang pantas disembah > >> >> > Memang pantas dipuja > >> >> > > >> >> > Kembali ke: Reff, (*), (**), Reff > >> >> > > >> >> > > >> >> > > >> >> > > >> >> > semoga bermanfaat. > >> >> > > >> >> > > >> >> > > >> >> > > >> >> > >> >> > >> >> -- > >> >> REG, > >> >> DAVID SILALAHI > >> >> > >> > > >> > > >> > > >> > >> > >> -- > >> REG, > >> DAVID SILALAHI > >> > > > > > > > > > -- > REG, > DAVID SILALAHI > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
