http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006010600534515



Penyesuaian yang Adil! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya









      "SEKARANG belanja lebih mudah!" lapor babu ke nyonya, bosnya. "Tak pusing 
menghitung recehan jumlah belanjaan!"

      "Mudah bagaimana?" sambut sang nyonya.

      "Menghitungnya!" jelas babu. "Harga beras satu sak pas Rp100.000! 
Kangkung, kacang panjang, dan sayuran lain yang dulu pakai ratusan, sekarang 
diperbesar ikatannya dan digenapkan harganya jadi Rp1.000 seikat!"

      "Dasar guoblok!" entak nyonya. "Kau senang hanya karena mudah 
menghitungnya! Tapi kami ibu rumah tangga bisa semaput akibat belanjaan 
melambung harganya!"

      "Tapi keluargaku di kampung pasti senang dengan harga panenan mereka 
naik!" timpal Babu. "Dengan begitu, hasil menjual panenan ladang dan sawahnya 
jadi agak sebanding dengan kenaikan herga barang-barang kebutuhan mereka yang 
naik lebih dulu!"

      "Maksudmu kenaikan harga beras dan sayur-mayur itu merupakan penyesuaian 
yang adil terhadap produk petani?" sambut nyonya. "Belum tentu! Harga beras 
naik karena paceklik! Petani lahan sempit juga sudah harus membeli beras karena 
hasil panennya sudah habis dimakan dan dijual buat biaya sekolah anak, hari 
raya, dan sebagainya! Jadi yang benar-benar menikmati naiknya harga beras 
sekarang justru para pedagang besar yang menimbun padi untuk musim paceklik!"

      "Keluargaku tak makan nasi beras kalau di musim paceklik kehabisan 
beras!" ujar babu. "Cukup makan tiwul atau oyek! Jadi, kalau harga beras dan 
sayuran bertahan seperti sekarang, saat panen nanti akan sebanding dengan harga 
kebutuhan mereka!"

      "Tapi waktu panen nanti, saat para pedagang besar menumpuk gabah lagi, 
harga gabah kembali anjlok!" tegas nyonya. "Itu sudah tradisi! Apalagi 
pemerintah juga masih terus mengimpor beras! Kau pikir petani bisa melawan 
pedagang besar dan pemerintah?"

      "Orang kampung mana pernah berpikir untuk melawan pedagang atau 
pemerintah!" timpal babu. "Tapi kalau harga barang-barang lain tak turun, harga 
beras juga biasanya setelah naik kalaupun turun tak seberapa!"

      "Kalau harga semua barang bertahan setelah kenaikan, kami keluarga 
pekerja bergaji tetap terutama buruh pabrik, menanggung beban berat!" ujar 
nyonya.

      "Buruh dan pegawai kan mendapat kenaikan gaji sebanding kenaikan harga!" 
timpal babu. "Petani siapa yang menaikkan gajinya?"

      "Kau anak petani, wajar membela petani!" sela nyonya.

      "Kalau anak petani tak membela petani, siapa lagi yang diharapkan?" tegas 
babu. "Bapak Presiden? Bapak menteri? Atau Bapak-Bapak lainnya? Berharap boleh, 
tapi siapa yang memutuskan impor beras untuk menekan harga hasil panen petani, 
seperti nyonya sebutkan tadii?"

      "Kalau yang membela cuma anak petani sekelas kau, apa artinya!" entak 
nyonya. "Mana anak-anak petani yang sudah jadi orang atas biaya pendidikan dari 
hasil tani ayahnya? Kok malah tak sengotot kamu?"

      "Takut ketahuan teman-teman hebatnya kalau dia cuma anak tiwul!" tegas 
babu. ***

      H. Bambang Eka Wijaya

      "SEKARANG belanja lebih mudah!" lapor babu ke nyonya, bosnya. "Tak pusing 
menghitung recehan jumlah belanjaan!"

      "Mudah bagaimana?" sambut sang nyonya.

      "Menghitungnya!" jelas babu. "Harga beras satu sak pas Rp100.000! 
Kangkung, kacang panjang, dan sayuran lain yang dulu pakai ratusan, sekarang 
diperbesar ikatannya dan digenapkan harganya jadi Rp1.000 seikat!"

      "Dasar guoblok!" entak nyonya. "Kau senang hanya karena mudah 
menghitungnya! Tapi kami ibu rumah tangga bisa semaput akibat belanjaan 
melambung harganya!"

      "Tapi keluargaku di kampung pasti senang dengan harga panenan mereka 
naik!" timpal Babu. "Dengan begitu, hasil menjual panenan ladang dan sawahnya 
jadi agak sebanding dengan kenaikan herga barang-barang kebutuhan mereka yang 
naik lebih dulu!"

      "Maksudmu kenaikan harga beras dan sayur-mayur itu merupakan penyesuaian 
yang adil terhadap produk petani?" sambut nyonya. "Belum tentu! Harga beras 
naik karena paceklik! Petani lahan sempit juga sudah harus membeli beras karena 
hasil panennya sudah habis dimakan dan dijual buat biaya sekolah anak, hari 
raya, dan sebagainya! Jadi yang benar-benar menikmati naiknya harga beras 
sekarang justru para pedagang besar yang menimbun padi untuk musim paceklik!"

      "Keluargaku tak makan nasi beras kalau di musim paceklik kehabisan 
beras!" ujar babu. "Cukup makan tiwul atau oyek! Jadi, kalau harga beras dan 
sayuran bertahan seperti sekarang, saat panen nanti akan sebanding dengan harga 
kebutuhan mereka!"

      "Tapi waktu panen nanti, saat para pedagang besar menumpuk gabah lagi, 
harga gabah kembali anjlok!" tegas nyonya. "Itu sudah tradisi! Apalagi 
pemerintah juga masih terus mengimpor beras! Kau pikir petani bisa melawan 
pedagang besar dan pemerintah?"

      "Orang kampung mana pernah berpikir untuk melawan pedagang atau 
pemerintah!" timpal babu. "Tapi kalau harga barang-barang lain tak turun, harga 
beras juga biasanya setelah naik kalaupun turun tak seberapa!"

      "Kalau harga semua barang bertahan setelah kenaikan, kami keluarga 
pekerja bergaji tetap terutama buruh pabrik, menanggung beban berat!" ujar 
nyonya.

      "Buruh dan pegawai kan mendapat kenaikan gaji sebanding kenaikan harga!" 
timpal babu. "Petani siapa yang menaikkan gajinya?"

      "Kau anak petani, wajar membela petani!" sela nyonya.

      "Kalau anak petani tak membela petani, siapa lagi yang diharapkan?" tegas 
babu. "Bapak Presiden? Bapak menteri? Atau Bapak-Bapak lainnya? Berharap boleh, 
tapi siapa yang memutuskan impor beras untuk menekan harga hasil panen petani, 
seperti nyonya sebutkan tadii?"

      "Kalau yang membela cuma anak petani sekelas kau, apa artinya!" entak 
nyonya. "Mana anak-anak petani yang sudah jadi orang atas biaya pendidikan dari 
hasil tani ayahnya? Kok malah tak sengotot kamu?"

      "Takut ketahuan teman-teman hebatnya kalau dia cuma anak tiwul!" tegas 
babu. ***
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke