Ada yang bisa forwardkan ini ke milis Sabili supaya ditayangkan disana
-----------
Intelejen dan Islam Radikal

oleh : He-Man*


Pada masa awal ketika Soeharto memperoleh kekuasaan ia dihadapkan pada
kondisi ideologi Nasakom hasil binaan rezim lama masih kuat dan masih
dianggap sebagai sebuah ancaman besar bagi rezim Karena itulah rezim orba
kemudian mengeluarkan kebijakan ideologis untuk menanganinya.Kebijakan
ideologis dan politis pada masa awal orba yang ditempuh adalah menghancurkan
kaum  komunis , menekan kaum nasionalis, dan mencegah naiknya kekuatan
islam. Motor utama untuk melaksanakan semua kebijakan ideologis orba ini
diserahkan kepada aparat intelejen

Setelah kekuatan komunis berhasil ditumpas habis ,maka kekuatan kaum
nasionalis seperti PNI dilumpuhkan dengan menempatkan Hadisubeno
menyingkirkan Hardi yang kritis pada pemerintah bahkan partai nasionalis
kecil seperti IPKI pun tidak luput dari rekayasa intelejen.

Dan setelah berhasil menuntaskan kebijakan terhadap kaum komunis dan
nasionalis. Maka target selanjutnya diarahkan pada kelompok Islam. Kebijakan
terhadap kelompok Islam terbilang unik dibandingkan dengan kebijakan
terhadap kelompok komunis dan nasionalis.Walaupun tergabung dalam Nasakom
tapi kelompok Islam memiliki peran dan jasa besar dalam menghancurkan
kekuatan komunis dan meruntuhkan rezim Soekarno
selain karena kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut
agama Islam.

Karena itu pemerintah memilih jalan yang lebih hati-hati untuk menghadapi
kekuatan islam ini.Untuk mencegah naiknya kekuatan Islam maka pemerintah
harus memiliki alasan dulu untuk menekankannya.Dan kemudian intelejen
sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk melaksanakan ini akhirnya
memilih pendekatan dengan menggunakan tangan kaum radikal Islam.

Kelompok radikal walaupun memang berbahaya tapi justru membuatnya menjadi
sangat mudah dikendalikan.Psikologi kaum radikal adalah psikologi orang
marah, seperti yang diketahui orang marah sangat kehilangan daya nalar
kritis dan akal sehatnya , sehingga akan sangat tidak terkontrol bila dalam
keadaan 'liar' sebaliknya juga mereka bisa menjadi 'hewan peliharaan' yang
baik karena sangat mudah untuk dihasut dan dibohongi sehingga menjadikannya
sebagai pion yang sangat ideal karena akan mengikuti apa saja kemauan dan
arahan penyuruhnya sekaligus bisa dikorbankan dengan mudah tanpa menimbulkan
kerugian yang berarti.




Dan inilah yang disadari oleh Ali Moertopo sehingga ia kemudian merekrut
para mantan anggota DI/TII yang sedang dibina oleh Kodam Siliwangi.Aksinya
ini ditolak oleh Kepala Bakin[1] pada masa itu Jenderal Sutopo Juwono juga
petinggi Bakin lainnya seperti Jendral Nicklany[2].Akan tetapi Ali Moertopo
tetap pada pendiriannya dengan tetap membawa para mantan DI/TII ini ke
Jakarta

Beberapa pentolan DI/TII yang dibawa antara lain putra dari Kartosuwiryo
yaitu Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmad Basuki , juga Adah Djaelani
Tirtapraja (Ma'had Al Zaitun) , Rahmat Basuki (pelaku pengeboman BCA) , Amir
Fatah , H Ismail Pranoto, Danu Muhammad Hasan (Komando Jihad)  , Helmy
Aminuddin (Gerakan Tarbiyah) , Prawoto alias Abu Toto (NII)  dll.[3]


Tebar , Pancing dan Jaring

Karena merasa tidak memperoleh dukungan dari para petinggi Bakin, Ali
Moertopo pun membawa para mantan DI/TII ini dibawah pembinaan
Opsus[4].Mereka kemudian mendapatkan fasilitas dan dukungan finansial yang
sangat besar sehingga menimbulkan kemarahan sejumlah perwira ABRI pada masa
itu terutama dari kalangan Siliwangi yang merasa berjasa menangkap mereka
dengan susah payah bahkan bertaruh dengan nyawa.

Tapi berkat kedekatan Ali Moertopo pada Soeharto pada masa itu maka
protes-protes itu berhasil diredam.Sejumlah perwira yang menentang proyek
itu pun dengan segera dimutasi dan disingkirkan.

Ali Moertopo kemudian menugaskan Kolonel Pitut Soeharto anggota Opsus yang
memegang Bidang Penggalangan Politik Islam untuk membina mereka dengan
pelatihan-pelatihan intelejen, seperti pembentukan jaringan , teknik
perekrutan anggota , penyamaran ,pembuatan propaganda, operasi cuci otak ,
teknik teror dan intimidasi dan lain sebagainya (ini yang menjelaskan kenapa
kelompok radikal sangat ahli dalam melakukan ini semua) .Selain membina pada
mantan DI/TII , Kol Pitut Soeharto juga diserahi tugas untuk menggarap
kekuatan-kekuatan politik Islam seperti PPP , NU , Muhammadiyah dll, ia juga
mengumpulkan para kader dakwah liar untuk masuk dalam organisasi islam
tertentu binaan intel .Sementara pendanaan dan semua pembiayaan untuk para
mantan tahanan DI/TII ini ditangani oleh Kolonel Giyanto.

Setelah dibina mereka pun diterjunkan ke tengah masyarakat untuk menerapkan
ilmunya.Dan peritiwa-peristiwa teror pun terjadi , pemboman BCA , penyerbuan
kantor polisi di Cicendo , Wolya , Lampung , Borobudur dll, dimana semua
peristiwa ini dilakukan oleh para mantan DI/TII binaan opsus.

Dan aparat pun menangkapi mereka lagi bahkan juga membunuh sebagiannya. Tapi
setelah tertangkap mereka kemudian dilepas lagi untuk kembali melakukan
aksi-aksi lainnya.Berkat peristiwa-peristiwa itu pemerintah mendapat
legimitasi untuk menekan kelompok-kelompok Islam.Sejumlah aktivis masjid di
Bandung ditangkapi bahkan organisasi remaja masjid di masjid Istiqamah[5]
dibubarkan dengan tuduhan terlibat peristiwa Cicendo dan Wolya bahkan lebih
jauh lagi banyak anggota masyarakat yang tidak tahu apa-apa hanya karena
sering ikut sholat bejama'ah di masjid itu turut diciduk aparat.Peristiwa
penyerangan pos polisi di Cicendo Bandung dan peristiwa Wolya sendiri
dilakukan oleh jamaah Imron yang diprovokasi oleh agen intelejen binaan
Opsus bernama Najamuddin[6].Di Jawa Timur sejumlah kyai NU ditangkapi bahkan
dilenyapkan dengan tuduhan terlibat Komando Jihad yang dikomandani oleh Haji
Ismail Pranoto binaan Opsus. Keterlibatan intelejen dalam kasus-kasus
tersebut semakin kentara ketika dalam kasus persidangan Danu Mohammad
Hassan[7]  misalnya,  ia mengaku sebagai orang Bakin. "Saya bukan pedagang
atau petani, saya pembantu Bakin." (Lihat Tempo, 24 Desember 1983)
.Belakangan Danu mati secara misterius, tak lebih dari 24 jam setelah ia
keluar penjara, dan konon ia mati diracun

Intelejen pun bergerak lebih jauh lagi untuk memprovokasi sejumlah kelompok
melakukan perlawanan bersenjata yang dengan segera ditumpas dengan kejam
oleh militer. Peristiwa-peristiwa ini kemudian menjadi legimitasi bagi
aparat untuk melakukan sensor dan pengawasan yang ketat pada aktivitas
dakwah .Para da'i harus mempunyai surat izin untuk berceramah dan semua
kegiatan dakwah harus dilaporkan dulu kepada aparat dengan alasan mencegah
penyebaran paham radikal.Lalu pemerintah pun menetapkan kebijakan asas
tunggal Pancasila dengan alasan untuk menekan penyebaran ideologi-ideologi
yang menyimpang.




Sejumlah kelompok Islam yang menentang kebijakan ini pun segera dibekukan,
HMI
kemudian terpecah menjadi dua dengan munculnya HMI MPO[8] yang menolak asas
tunggal, Pelajar Islam Indonesia (PII) , BKPRMI dan beberapa ormas islam
lain dibubarkan.Pemerintah juga mendirikan sejumlah organisasi islam baru
pendukung asas tunggal yang rata-rata dibawah binaan Golkar.Dengan demikian
semua kekuatan oposisi pemerintah dari kelompok Islam berhasil dilumpuhkan
dengan metode tebar , pancing jaring hasil rekayasa Ali Moertopo.



Strategi Pecah Belah dan Kuasai

Paska turunnya L.B Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi kekuatan
Islam pun berubah.Teknik tebar , pancing , jaring ala Ali Moertopo mulai
ditinggalkan karena justru malahan menambah instabilitas.Strategi yang
kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih soft bahkan dibuat seolah-olah
pemerintah mendukung kekuatan Islam.

Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan
kepemudaan islam mulai marak.Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh pesat
di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus.Sebagian kalangan aktivis
muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi dakwah kultural dan
berusaha membaurkan diri dengan masyarakat.Misal saja organisasi remaja
masjid waktu itu aktif bergerak dengan sistim jemput bola pada remaja-remaja
bermasalah seperti anggota gank motor , pecandu narkoba dll

Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru .Salah satu point
penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah memastikan semua
organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada dalam cengkraman dan
kendali pemerintah.Bukan saja organisasi keagamaan atau politik tapi juga
organisasi profesi seperti IDI atau organisasi para hobbies seperti RAPI pun
dibawah kendali pemerintah dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau
tidak mendapat 'restu' dari pemerintah.

Akan tetapi organisasi-organisasi remaja masjid juga majlis-majlis taklim
yang tumbuh pada masa itu tidak demikian.Organisasi-organisasi itu bersifat
indenpenden dengan struktur organisasi yang cair.Akan tetapi pertumbuhan
anggotanya sangat luar biasa..


Karena itulah semua organisasi dakwah "liar" itu harus segera dikontrol.
Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua organisasi
dakwah tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan formal dimana
kemudian pemerintah bisa mengontrolnya melalui organisasi tersebut. Dan
pemerintah pun merestui organisasi tersebut bahkan memfasilitasinya dengan
menempatkan organisasi-organisasi tersebut untuk berkantor di
masjid negara Istiqlal[9]. Akan tetapi eksperimen ini gagal, para aktivis
yang berusaha menjaga jarak dengan pemerintah menolak mengikuti gagasan
tersebut.

Dan intelejen pun kemudian menggunakan pendekatan lain yang intinya
memamfaatkan potensi kekuatan dari kelompok-kelompok dakwah tersebut dimana
kemudian mereka bisa dimamfaatkan untuk kepentingan rezim.Akan tetapi mereka
harus dikebiri terlebih dahulu kekuatan untuk melumpuhkan potensi
ancamannya.

Dan Bakin pun menugaskan Soeripto untuk menjalankan tugas ini dan
mengangkatnya sebagai Ketua Tim  Penanganan  Masalah Khusus Kemahasiswaan
DIKTI/Depdikbud  pada tahun 1986-2000[10] .Tugas dan misi khusus yang
diemban Soeripto adalah membentuk jaringan organisasi radikal Islam baru di
kalangan remaja masjid dan gerakan kampus yang berada dibawah binaan dan
pengawasan intelejen.Proyek ini sendiri pada dasarnya adalah kelanjutan
proyek yang dikerjakan oleh Kol Pitut Soeharto atas perintah Ali Moertopo.
Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini merupakan kader Partai Sosialis
Indonesia (PSI) dengan masuknya ia dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa
Sosialis (GMSos) pada tahun 1957. Ia kemudian bergabung oleh Kodam Siliwangi
sebagai kader militer Sukarela pada tahun 1967 dan dibawah pembinaan Kharis
Shuhud.Soeripto kemudian menjadi kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo
Suyono, Soerono dan Wahono), dan secara struktur dibawah komando Yoga Sugama
di Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono.Sempat menduduki jabatan
sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris Lembaga Studi Strategis /
Wanhankamnas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI untuk normalisasi
hubungan dengan RRC pada tahun 1981.Saat ini Soeripto memegang jabatan di
DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan menjadi anggota DPR-RI asal partai
ini. Untuk menjalankan misinya Soeripto merekrut Helmy Aminuddin putra dari
Danu Muhammad Hasan.

Helmi Aminuddin sebelumnya menjabat sebagai Mentri Luar Negri NII fraksi
Adah Djaelani sebelum akhirnya ditangkap dalam sebuah operasi oleh Kopkamtib
pada tahun 1980 dan ia kemudian ditahan tanpa pernah diajukan ke pengadilan
di Rumah Tahanan Militer  Cimanggis sebelum akhirnya ia akhirnya dibebaskan
antara tahun 1983-1984[11]. Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin yang
saat ini menjabat sebagai Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera
(PKS)[12]  berada di bawah binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke Timur
Tengah untuk mempelajari mengadopsi  ajaran dan manhaj serta berhubungan
langsung secara organisasional  dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi
Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa  pimpinan Ikhwanul Muslimin cabang Suriah sekitar
tahun 1985.Dimana sepulangnya dari sana dibawah dukungan Bakin dan arahan
dari Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun 1987-1988 dengan
doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang diterjemahkan menjadi beberapa
seri buku Allah, Ar Rasul , Al Islam dan Jundullah dan diterbitkan oleh Al
Ishlahy Press yang menjadi bacaan wajib para kader inti gerakan.Helmy
Aminuddin sendiri kemudian menjadi Mursyid 'Aam[13] Jama'ah Tarbiyah pada
tahun 1991.

Tujuan pertama pembentukan kelompok ini adalah menyatukan semua
kelompok-kelompok dakwah masjid dalam satu kelompok besar yang dikendalikan
intelejen.Salah satu kesulitan utama pemerintah mengontrol
organisasi-organisasi ini adalah karena mereka bersikap independen dimana
masing-masing organisasi memiliki struktur , cara dan metode masing-masing
yang berlainan antara satu dengan yang lain.Dengan metode penyeragaman yang
dilaksanakan oleh jama'ah tarbiyah maka seluruh organisasi masjid tersebut
bisa dikontrol dengan mudah dengan cukup memegang pucuk pimpinannya saja.

Tujuan kedua adalah mencegah kebangkitan kekuatan Islam. Dua unsur utama
yang menjadi syarat bangkitnya kekuatan Islam adalah dukungan dari ummat dan
persatuan antar komponen aktivis islam.Karena itu kekuatan organisasi masjid
didesain untuk menjadi organisasi eksklusif dan elitis yang cuma terfokus ke
dalam[14].Selain itu hubungan dengan kelompok dakwah lain didesain untuk
selalu berada dalam suasana yang tidak harmonis bahkan dipenuhi prasangka
dan kecurigaan bahkan kebencian yang akut.

Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader
kelompok ini bisa dicetak dengan cepat.Untuk menunjang penyebaran
ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili[15] pada tahun 1987 kemudian
juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini
melalui media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat
murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat
subsidi.Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi
dengan SIUPP[16] dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan
mutu kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan.Dan buku-buku terbitan GIP
pada masa itu dijual dengan mulai harga 600-5500 rupiah saja (katalog tahun
1991) sehingga terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya
bersama penerbitan buku-buku sealiran yang lain , buku-buku harokah pun
menggusur buku-buku islam yang lain.

Dan para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah dan
penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil alihan
khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah taribyah seperti mobilisasi
massa ,  black propaganda , penculikan aktivis , teror dan intimidasi dll
[17]

Dan ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian langsung
melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman.Paham ukhuwah digantikan
dengan paham ashobiyah seluruh aktivis yang tidak mengikuti kelompok mereka
disingkirkan demikian juga semua hubungan dengan kelompok dakwah lain
dibekukan bahkan akhirnya kelompok-kelompok ini digusur dari masjid.Seluruh
aktivitas dakwah yang berhubungan dan/atau melibatkan partisipasi masyarakat
dihentikan. Aktivitas masjid hanya diarahkan untuk pembinaan internal demi
mencetak sebanyak-banyaknya kader militan dan radikal di masjid.
Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan digantikan
dengan indoktrinisasi.

Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing bagi
masyarakat Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian. Isu masalah
jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya menggusur isu mengenai
kenakalan remaja , isu jilbab menjadi agenda yang menjadi prioritas utama
mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.

Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan aktivis
masjid pun dilumpuhkan total. Dengan hilangnya potensi ancaman utama
kelompok dakwah masjid maka aktivis dakwah masjid tidak lagi dianggap
sebagai ancaman , dan tindakan represi terhadap kelompok ini pun
dilonggarkan. Ketika sebuah masjid jatuh ke tangan radikal maka intelejen
pun menghentikan operasi-operasi pengawasan yang ketat pada mereka.Itulah
sebabnya aktivitas jama'ah tarbiyah tidak pernah mendapat gangguan dari
aparat pada masa itu walaupun mereka menyebar paham radikal sementara
kelompok-kelompok islam lainnya justru terpaksa tiarap.Dan dengan
dikuasainya masjid-masjid oleh kelompok radikal maka peristiwa pendudukan
gedung DPR RI oleh gabungan massa dari berbagai ormas pemuda dan remaja
islam seperti pada waktu penolakan RUU Perkawinan pun tidak perlu
dikuatirkan lagi[18].

Ketaatan yang kuat di kalangan jama'ah tarbiyah dan kelompok radikal islam
lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk mengawasi dan
mengendalikan kelompok-kelompok ini, karena dengan cukup memegang kepalanya
saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh.Paham eksklusif kelompok
radikal menjadi penentu sukses penggunaan metode "pecah belah dan kuasai"
kelompok-kelompok Islam melalui ideologi kaum harokah yang menolak perbedaan
dan keberagaman serta paham dominasi terhadap kelompok lain maka hubungan
antar organisasi dakwah pun berada dalam suasana yang tegang dan penuh
kecurigaan antar sesama mereka bahkan lebih jauh lagi cenderung pada kondisi
untuk saling menghancurkan dan menjatuhkan satu sama lain.

Tapi ada tujuan lain yang lebih penting dari pembentukan kelompok radikal
ini yaitu menyediakan cukup banyak orang-orang bodoh yang bisa dimamfaatkan
juga dikorbankan oleh intelejen.Kalangan intelejen adalah sebuah kelompok
yang selalu bergerak di balik layar.Kerahasiaan adalah poin utama dalam
semua operasi-operasi mereka, bahkan seringkali karena sangat rahasianya
Presiden pun kadang tidak tau apa yang dikerjakan mereka.Itulah sebabnya di
banyak negara intelejen kadangkala berubah menjadi negara dalam negara
bahkan seorang Presiden pun bisa mereka bunuh bila dianggap membahayakan
negara (berdasarkan versi mereka), contoh kasus adalah terbunuhnya John F
Kennedy presiden Amerika Serikat yang dicurigai didalangi oleh agen-agen
intelejen dari negrinya sendiri.

Karena itulah dalam setiap operasinya intelejen cenderung berusaha
memamfaatkan dan menggunakan tangan orang lain.Personel yang terpilih
menjadi anggota intelejen selalu merupakan kader terbaik di kesatuannya
masing-masing karena intelejen hanya membutuhkan orang yang memiliki
kecakapan dan kualifikasi terbaik.Oleh sebab itu sangatlah mahal kalau harus
mengorbankan kader-kadernya sendiri.

Dan kandidat paling cocok untuk menjadi pelaksana lapangan tugas dan aksi
rekayasa intelejen adalah orang fanatik.Orang-orang fanatik selalu siap
secara sukarela untuk mengorbankan apa saja termasuk nyawanya sendiri demi
tujuan atau cita-cita ideologisnya.Mereka juga tidak terlalu banyak bertanya
atau menuntut.Karena itulah mereka menjadi pion yang cukup tepat karena
mereka bisa dengan mudah dihasut dan diarahkan melakukan suatu tugas tanpa
mereka sendiri menyadarinya sekaligus bisa dengan mudah untuk dikorbankan
dan dihabisi dengan tanpa mendapatkan kerugian apa-apa.

Dan inilah yang menjawab keanehan fenomena kelompok radikal Islam di
Indonesia dibanding kelompok serupa di luar negri.Di negara-negara lain
kelompok radikal Islam selalu berada dalam posisi vis a vis dengan
pemerintah yang didukung militer dan intelejen sementara di Indonesia
malahan kebalikannya.Para tokoh radikal Islam Indonesia justru bermesraan
dengan militer dan intelejen.Ditempatkannya mantan kepala staff Bakin
menjadi pucuk pimpinan PKS sebuah partai yang didirikan jamaah tarbiyah dan
kecenderungan pemihakan dari elite partai itu pada kandidat presiden dari
militer memperlihatkan dengan jelas siapa sebenarnya mereka.Tapi sungguh
disayangkan para pion ini tidak pernah sadar bahwa dirinya cuma pion, bahkan
mereka merasa memamfaatkan bukan dimamfaatkan dalam meninjau hubungannya
dengan militer dan intelejen.

Berhentikah Aktivitas Intelejen ?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat pada masa reformasi seperti
saat ini kalangan intelejen seakan-akan tiarap untuk cuci tangan.Tapi pada
dasarnya operasi intelejen pada aktivis Islam tidak pernah berubah.

Terbunuhnya Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad bersama kawannya Edy Saputra
dan Ahmad Syaridup setelah diculik dari hotel Nisma di Waihaong, Ambon pada
22 Februari 2003 dimana pelakunya dipimpin oleh intel polisi bernama Mohamad
Syarif Tarabubun memperlihatkan adanya kemungkinan perseteruan di tubuh
intelejen RI.

Abu Jihad sebenarnya adalah anggota TNI dari satuan Infantri Kodam Bukit
Barisan yang direkrut intelejen sejak tahun 1978 untuk menyusup ke
GAM.Belakangan ia juga ditugaskan untuk menggarap NII diantaranya dengan
mengatur rekonsiliasi NII antara fraksi Ajengan Masduki, fraksi Tahmid,
fraksi Abu Toto, pada bulan Agustus 1999 di Cisarua Bogor.Ini tentu saja
sesuat yang janggal karena GAM tidak pernah punya kaitan dan hubungan resmi
dengan kelompok Islam radikal bahkan corak mereka condong padaideologi
sosialis.

Kasus penangkapan Umar Al Faruq tersangka teroris JI yang kemudian di
ekstradisi ke Amerika Serikat untuk kemudian ditahan ke Baghram,
Afghanistan, setelah sebelumnya juga dipenjara di Guantanamo, Kuba
mengungkapkan lagi keterlibatan agen intelejen di tubuh organisasi Islam
Radikal.Umar al Faruq ditangkap bersama seseorang yang bernama Abdul Haris
yang kemudian dilepas begitu saja.Dalam perkembangannya  terungkap bahwa ia
sebenarnya adalah agen organik Bakin yang menyusup ke jaringan Abdullah
Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir di Malaysia sejak tahun 1986.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah kedua nama ini (Abu Jihad dan Abdul
Haris) di dalam struktur Jamaah Islamiyah (JI) merupakan atasan dari Hambali
dan Zulkarnain alias Arif Sunarso koordinator JI.Jadi apakah intelejen juga
berperan dalam kasus terorisme yang terjadi beberapa tahun belakangan ini,
bisa jadi waktu pula yang akan menjawab.
















[1] Singkatan dari Badan Administrasi dan Kordinasi Intelejen Negara ,
lembaga intelejen resmi pada masa Orde Baru yang membawahi semua lembaga
intelejen lain.Saat ini BAKIN dirubah namanya menjadi BIN (Badan Intelejen
Nasional)
[2] Jend Nicklany pada masa itu menjabat sebagai deputi intel luar dan dalam
negeri BAKIN, akibat perseteruan kerasnya dengan Ali Moeropo dalam masalah
penggunaan orang-orang DI/TII ia kemudian disingkirkan dengan diangkat
sebagai Atase Militer RI untuk Amerika Serikat pada tahun 1972
[3] Sebagian besar dari orang-orang ini setelah dibina dan dibebaskan oleh
Ali Moertopo kemudian membangun organisasi bawah tanah yang juga dikontrol
intelejen yang dinamai NII (Negara Islam Indonesia)
[4] Singkatan dari Operasi Khusus, sebuah lembaga intelejen tidak resmi
dibawah binaan LetJen Ali Moertopo yang didampingi oleh Kemal Idris dan L.B
Moerdani.Pada awalnya Opsus didirikan untuk melakukan operasi rekonsiliasi
mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia tapi kemudian Ali Moertopo
memamfaatkan posisinya sebagai Sekretaris Pribadi Presiden mengendalikan
Opsus sebagai lembaga intelejen tidak resmi yang berada di luar struktur
Bakin.
[5] Pada masa itu masjid Istiqamah Bandung menjadi pusat aktivis Islam ,
berbagai kelompok diskusi dan aktivitas keilmuan serta politik bagi kaum
muda dan remaja dikembangkan disana sehingga menjadikan masjid ini sebagai
pusat kaum intelektual muda dan aktivis dakwah . Oleh karena itulah
pemerintah sangat mengkuatirkan aktivitas di masjid ini.Beberapa mantan
aktivis muda Masjid Istiqamah pada masa itu antara lain H Toto Tasmara , Ir
Bambang Pranggono MBA dan Prof Jimly Ashiddiqie (Ketua Majelis Konstitusi)
[6] Najamuddin adalah anggota intelejen yang direkrut dari kesatuan artileri
medan (Armed) yang kemudian disusupkan ke Jamaah Imron dengan membawa
setumpuk dokumen dan senjata lalu kemudian memprovokasi mereka untuk
melakukan aksi penyerangan ke kantor polisi cicendo Bandung yang kemudian
berlanjut dengan drama pembajakan pesawat Garuda (peristiwa Wolya).Kelompok
ini kemudian ditumpas oleh L.B Moerdani perwira tinggi intelejen yang
akhirnya kemudian diangkat menjadi Menhankam/Pangab menyingkirkan Jend M
Yusuf
[7] Danu Muhammad Hassan adalah mantan komandan DI/TII yang menyerah pada
Ali Moertopo di Jawa Tengah  .Ia kemudian direkrut  untuk misi membunuh
Soebandrio, dan pada akhirnya ditugaskan bergabung dengan Komando Jihad.
[8] Himpunan Mahasiswa Islam - Majelis Penyelamat Organisasi , organisasi
tandingan HMI resmi yang atas intervensi pemerintah melalui Abdul Ghafur ,
Cosmas Batubara dan Akbar Tanjung dipaksa untuk menerima asas tunggal
Pancasila.
[9] Salah satu organisasi ini adalah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid
Indonesia (BKPRMI) , organisasi ini sebenarnya bukan organisasi baru
melainkan kelanjutan dari organisasi lama yang didirikan oleh para aktivis
remaja masjid dari beberapa masjid raya di Indonesia dan dideklerasikan di
masjid Istiqamah Bandung.Organisasi ini sempat dibubarkan pemerintah pada
tahun 1978 yang kemudian memaksa aktivisnya bergerak di bawah tanah ,
peristiwa Cicendo dan Wolya membuat banyak aktivisnya ikut ditangkap
aparat.Pemerintah kemudian merehabilitasi organisasi ini pada tahun 1990 dan
meletakkannya di bawah struktur Dewan Masjid Indonesia (DMI).
[10] Adalah sesuatu hal yang tidak lazim seseorang memegang jabatan yang
sama di birokrasi selama lebih kurang 13 tahun apalagi sampai jauh melampaui
batas usia pensiun  kecuali ia memiliki tugas dan misi khusus dan jabatan
yang dipegangnya adalah sebuah jabatan baru yang baru diadakan setelah
Soeripto mendudukinya
[11]Pada masa itu ada rumus utama untuk menentukan aktivis binaan intelejen
yaitu semua anggota ekstrim kanan yang dipenjarakan dan dibebaskan antara
tahun 1970-1988 atau di masa kekuasaan Ali Moertopo dan L.B Moerdani dua
jendral yang paling anti Islam dan gerakan Islam sudah pasti telah menjadi
suruhan intel untuk menghancurkan gerakan Islam.Penahanan Helmy Aminuddin di
rumah tahanan militer yang sebenarnya digunakan untuk menahan anggota
militer yang melakukan pelanggaran seperti desersi lebih mengesankan bahwa
ia sebenarnya tidak ditahan melainkan "disekolahkan".
[12] Helmy Aminuddin yang menduduki jabatan Mursyid 'Aam Jamaah Tarbiyah
dari tahun 1991-1998 tiba-tiba menghilang dari publik ketika Partai Keadilan
(kemudian Partai Keadilan Sejahtera) dideklarasikan .Ia kemudian muncul lagi
dan menjadi Ketua Majlis Syoro PKS pada kongres Mei 2005 kemarin.Saat ini ia
juga mengelola pesantren dan Islamic village di kawasan Cinangka Banten yang
mendapat pendanaan dari grup Bimantara
[13] Sebutan bagi pemimpin utama kelompok Ikhwanul Muslimin yang arti
harfiahnya berarti Pengarah Umum.Walaupun Ikhwanul Muslimin berpusat di
Mesir , akan tetapi Jama'ah Tarbiyah yang juga dikenal sebagai Ikhwanul
Muslimin Indonesia  lebih melandasi aliran ideologinya pada Ikhwanul
Muslimin cabang Suriah yang jauh lebih radikal.Kelompok Ikhwanul Muslimin
sendiri mengalami represi di negara asalnya sehingga sungguh mengherankan
kalau Jama'ah Tarbiyah punya dana yang berlimpah.
[14] Setelah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus yang membatasi aktivitas
politik dan organisasi mahasiswa , para aktivis muda Islam memindahkan pusat
kegiatannya ke masjid-masjid raya dan masjid kampus . Organisasi remaja
masjid yang umumnya bersikap netral karena tidak berafiliasi kepada satu
kekuatan manapun kemudian berfungsi menjadi organisasi penghubung antar
ormas-ormas kepemudaan dan kemahasiswaan Islam.Tapi setelah masjid-masjid
ini dikuasai kaum harokah fungsi ini hilang dengan kebijakan harokah yang
membatasi semua bentuk hubungan dengan kelompok yang tidak se'fikrah'.
[15] Majalah Sabili versi lama diterbitkan oleh Kelompok Telaah dan Amaliah
Islami dengan Pemimpin Umum/redaksi Muhammad Ishaq.Majalah ini terbit dengan
cover dan mutu kertas serta cetakan yang cukup mewah dan beredar cukup luas
bahkan dijual secara terang-terangan walaupun tanpa SIUPP suatu hal yang
tidak mungkin terjadi di masa Orba apalagi untuk majalah politik.Akan tetapi
kemudian pemerintah kemudian "membredel" majalah ini pada tahun 1994 sampai
kemudian lahir lagi di era Reformasi.
[16] Surat Izin Usaha Penerbitan Pers , sebuah taktik rezim Orba untuk
mengontrol arus informasi.Di mana jayanya rezim orba tidak mungkin ada satu
penerbitan media yang bisa beredar tanpa memiliki SIUPP.
[17] Salah satu contoh aksi ini adalah peristiwa perebutan kekuasaan di
Masjid Salman ITB tahun 1994 yang dikenal sebagai perang Bhatara Yudha
antara aktivis gaul dengan aktivis harokah.Peristiwa ini dicurigai didalangi
oleh intelejen melalui kader-kader binaan mereka yang kemudian dikenal
dengan julukan gerobak (Gerombolan Batak).Paska pengambil alihan ini terjadi
pembersihan besar-besaran di Salman yang membuat jumlah anggotanya terjun
bebas dari sekitar 2000 an menjadi tinggal 200 an orang saja.Organisasi
remaja masjid di Salman pun menjadi organisasi tertutup sampai tahun 1997.
[18] Penolakan RUU Perkawinan bermula dari walk out nya fraksi PPP (Partai
Persatuan Pembangunan) pada tahun 1973 dari pembahasan RUU ini karena
dianggap menyalahi aturan syari'at Islam seperti dibolehkannya perkawinan
antar agama, RUU ini sendiri disetujui oleh fraksi-fraksi DPR lainnya
seperti Golkar dan PDI.Gabungan organisasi remaja dan pemuda islam seperti
IRM (Ikatan remaja Muhammadiyah) , PII (Pelajar Islam Indonesia) , HMI
(Himpunan Mahasiswa Islam) , IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dll
kemudian bergerak menduduki gedung DPR RI pada saat anggota dewan hendak
mengesahkan RUU tersebut.Peristiwa ini akhirnya menimbulkan krisis politik
dimana kemudian Pangkopkamtib Jend Soemitro berusaha menyelesaikan krisis
ini dengan membawa draft RUU Perkawinan versi PPP kepada Soeharto yang
kemudian ditandatangi olehnya untuk disyahkan menjadi UU no 1/1974 seperti
yang berlaku sekarang.




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke