Mohammad SAW a Pedophile

______________________________________________________________________________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________________________


Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30)
Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38)
Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum

"Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”.(QS.3:45)

*YESAYA 28:16*
16 sebab itu beginilah Firman TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya, AKU meletakkan
sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru
yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!



**
>
>
> **
> Agama adalah Produk Kebodohan?
>
> Menurut penganut teori ini, agama adalah produk ketidaktahuan manusia
> terhadap hukum alam dan sains yang belum berkembang, lalu dinisbahkanlah
> peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini dengan hal-hal yang
> metafisik (seperti kehendak Tuhan). Konsekuensi dari teori ini adalah bahwa
> dengan makin pintarnya seseorang, maka makin jauhlah ia dari agama. Orang
> yang mau beragama menurut teori ini hanyalah orang bodoh yang kurang
> kerjaan saja. Orang pintar tak perlu lagi agama.
>
> Orang-orang yang berpendapat bahwa agama merupakan produk kebodohan
> manusia, mengemukakan hipotesanya dengan dua cara.  Pertama, metode yang
> dikemukakan oleh August Comte; Menurut Comte, ketika manusia zaman dahulu
> berhadapan dengan fenomena-fenomena alam: melihat api yang membakar,
> halilintar yang menyambar, guruh yang menggelegar, dan lain-lain. Lalu
> karena ketidakberdayaannya, mereka memerlukan senjata yang dapat digunakan
> untuk menghadapi ancaman alam, dan karena itu pulalah mereka mencari
> sebab-sebab dari fenomena alam tersebut. Ketika manusia tidak dapat
> menemukan sebab-sebab yang ada di balik fenomena alam tersebut, dan tidak
> berhasil menemukan sebab-sebabnya yang hakiki, misalnya mengenai halilintar
> yang menyambar-nyambar di langit dan menyebabkan terjadinya kebakaran di
> bumi dan lain-lain sebagainya, maka manusia menganggap bahwa fenomena alam
> tersebut mempunyai jiwa (ruh). Selanjutnya, mereka menjadikan ruh tersebut
> sebagai Tuhan. Artinya, ketika fenomena alam yang tidak diketahui
> sebab-sebabnya masih banyak, maka manusia menciptakan (dalam pikirannya)
> tuhan-tuhan yang dianggapnya sebagai penyebab terjadinya fenomena alam
> tersebut.
>
> Padahal kata Comte, ketika ilmu pengetahuan semakin maju, dan pengetahuan
> manusia tentang sebab-sebab yang ada di balik fenomena-fenomena alam
> tersebut semakin berkembang; Ketika pengetahuan semakin meningkat dan
> mereka mampu menghubungkan sebagian fenomena alam tersebut dengan
> sebab-sebabnya yang hakiki, lalu membuat generalisasi antara berbagai
> fenomena yang dia lihat mirip satu sama lain, maka sedikit demi sedikit
> jumlah tuhan-tuhan merekapun akan berkurang. Akhirnya, mereka sampai pada
> Tuhan yang satu. Dan pada suatu hari nanti, dengan semakin majunya ilmu
> pengetahuan manusia, bisa jadi Tuhan yang satu itu pun akhirnya mereka
> singkirkan.
>
> Kedua, dengan cara yang ditempuh oleh Herbert Spencer dan kawan-kawannya.
> Terkait dengan fenomena tersebut diatas Spencer memberikan penjelasannya
> dengan cara yang berbeda; Menurut Spencer fenomena tersebut terjadi karena
> sejak awal manusia sudah mempunyai keyakinan tentang dualisme dirinya,
> yakni dualisme ruh dan jasad. Dengan meyakini bahwa ada roh dan jasad pada
> diri  manusia, maka ia kemudian memberlakukan secara umum konsep tersebut
> pada semua benda, yakni adanya ruh pada semua benda.
>
> Dengan demikian, ketika manusia berhadapan dengan peristiwa-peristiwa alam
> maka mereka mengatakan bahwa; laut, angin puyuh dan matahari mempunyai ruh.
> Setiap kali mereka menghadapi berbagai bencana alam, manusia pun
> mempersembahkan sesajian (seperti yang mereka lakukan ketika menghadapi
> orang yang lebih kuat dari dirinya) bernazar dan sebagainya. Itu pulalah
> yang manusia lakukan ketika menghadapi kekuatan alam, yakni melakukan
> peribadatan.
>
> Dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa  Comte menafsirkan “persoalan
> agama” dengan cara yang sangat teoritis, sementara Spencer melihat pada
> akar-akar ritual dan bagaimana ritual tersebut  dimulai. Dan mereka para
> penganut teori ini (Comte,Spencer dan kawan-kawannya) yakin bahwa dengan
> hilangnya kebodohan, atau dengan diketahuinya sebab-sebab yang ada dibalik
> peristiwa-peristiwa alam tersebut sebagaimana yang dikatakan Comte, atau
> dengan diketahuinya bahwa benda-benda tersebut tidak mempunya roh;
> bahwasanya daratan, lautan, hujan dan lain-lain tidak mempunyai roh (bahkan
> keberadaan roh itu sendiri masih diragukan), maka tidak ada lagi alasan
> untuk berbicara tentang Tuhan.  Tidak juga ibadah. Sebab, semua itu
> merupakan hal-hal yang bertentangan dengan kemajuan sains dan ilmu
> pengetahuan modern.
>
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke