Pertama kali aku menyaksikan seorang bercadar makan spaghetti ketika aku makan 
siang di Manama Centre (Bahrain).

Wah, ribet banget! Spt anda tulis tangankiri angkat scar, tangan kanan masukin 
spaghetti ke dlm mulut. Banyak pasta tsb yg tidak mulus masup ke mulut dan 
berjatuhan di nijab warna hitam tsb. Pokoknya siapa yg nyuruh perempuan pake 
nijab jelas maunya perempuan itu menderita: gerah, spt pake tenda, dan serba 
repot. Penulis aturan pake nijab jelas tidak menyadari bhw Muslimat akan makan 
spaghetti, noodles, hamburger (yg halal) dst.

Ini tak banyak beda yg nyuruh Muslim puasa, tidak sadar bhw di bagian2 tertentu 
dari dunia ini dlm musim summer mataharinya tidak oernah terbenam. Jadi waktu 
puasanya bisa lama sekali. Yg benar2 terjadi dlm kaitan puasa ini dialami oleh 
seorang autronaut Saudi Arabia. Dua masalah besar yg sama sekali tidak pernah 
terpikir oleh penulis ayat2 ttg shallat dan puasa. (i) Ketika austronaut Arab 
Saudi ini di pesawat ulang-alik dia tidak tahu arah kiblat. (Boro2 arah kiblat: 
atas dan bawahpun menjadi kabur!); (ii) Shallat 5 waktu juga menjadi berabe. 
Soalnya antara matahari terbit dan matahari tenggelam pd ketinggian orbit 
tsb.hanya berjarak 18 menit. Bagaimana bisa shallat 1 kali, apalagi 5 kali) dlm 
waktu 18 menit?

Rupanya ajaran dan aturan Islam memang khusus untuk 'ummul qura' yaitu Mekkah 
dan mereka yg tinggal di sekitarnya [Al Anam 6:92].. Di mana jarak antara 
matahari terbit dan tenggelam relatif konstan dan memungkinkan shallat 5 kali 
sehari. Begitu juga dg keharusan berpuasa.

Gabriella




________________________________
 From: ayub <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Monday, 7 October 2013 10:57 AM
Subject: Re: [proletar] Makan Bakmie ...
 


  


masih soal makan mie...
pernah liat wanita bercadar makan mie ?

ribet banget liatnya.. pakaian bercadar kan yg keliatan matanya doang,

berjilbab, mukanya ditutupin cadar termasuk mulutnya

tiap masupin mie ke mulut.. tangan kanan pegang sendok tangan kiri
pegang cadar bagian yg nutupin mulut trus sedikit diangkat cadarnya
kalo minum juga begitu.. (mending pakai sedotan deh, praktis)


gimana kalo kesedak makannya..muncrat kemana ntu mie nya




________________________________
 From: pinpinyuliansyah <[email protected]>
  
 


  
barusan saya makan siang bakmie - bangka. Murah, cuma 17 rebu semangkok 
ditambah teh botol 3 rebu = 20 rebu.

Namun meskipun begitu, nddak gampang bagi mang Khasam untuk mengajak istri dan 
4 anak nya makan bakmie Bangka yang harganya cuma Noban. Dengan penghasilan 50 
rebu per hari, mang khasam harus bekerja lebih dari 2 hari untuk mengajak anak 
istrinya makan mie bangka.

Namun bukan itu yang mau saya ceritain. Saya makan di lantai dua karena ada AC 
nya, di arah jam 9 ada 4 wanita dewasa dan 2 lelaki dewasa yang lagi pada makan 
bareng. semuanya pakai batik, dan hampir dapat dipastikan bahwa mereka baru 
pulang dari gereja Bethel yang ada di komplek ini.

Saya nddak bisa bayangin ya, kapan bisa terjadi ada 4 wanita dewasa dan 2 laki 
laki dewasa makan mie ayam bareng sehabis pulang dari masjit dengan memakai 
batik. Nyaris nddak mungkin. Apalagi bagi komunitas fundamentalis, nddak muhrim 
lah ... inilah ... itulah ...

Saya juga nddak bisa bayangin kalau ada 6 lelaki dewasa, berpakaian kayak imam 
bonjol, berjenggot, bersorban, makan mie ayam di samping saya, kayaknya 
obrolannya seputar "tolak missworl" , "APEC bikin buntung " , "Tegakkan Syariah 
!" , "Jangan beli produk orang Kafir !"

Padahal ... ( mau nddak mau saya ngedenger ) , obrolan orang - orang gereja ini 
humanis banget, mereka ngobrol terlihat cool, bahasanya terdengar cerdas, dan 
topik pembicaraannya ? Cinta kasih. Ngobrol tentang hal - hal ringan sekitar 
kehadiran "kasih Yesus" di keluarga masing - masing. Mereka nddak ngomongin 
tentang "Tegakkan Syariah Kresten !" mereka nddak bicara tentang "Boikot produk 
Arap !" Nddak.

Sok bayangin ... betapa sejuknya jika para jemaat masjit, pulang pengajian dari 
masjit, pakai batik, dandan dengan sederhana tapi elegan, makan bakmie Bangka, 
ngobrol santun tentang kedamaian. ( Nddak usah jauh jauh ngomong Syiria lah 
...ngomong Rohingya lah ... ngomong Palestina lah ... ngomong ini itu yang 
kayaknya kejauhan gitu lho ).

Mungkin nddak ya ?

Ah, sudahlah. jangan ngarep kali ya.




Kirim email ke