--- In [email protected], "dipo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dalam sekejap judul tulisan sdr. Wibowo itu bisa kita jawab:
> "dua-duanya benar". Seperti antara tangan kanan dan tangan kiri,
> kebenaran mereka tentu bersifat kondisional. Tidak ada yang salah
pada
> orang yang makan dengan tangan kiri. Begitu juga, tidak ada yang
ragu
> menyambut jabat tangan dari orang yang hanya bertangan kiri.
>
gimana kok bisa 'dua-duanya benar'? nggak cengli kalo pake analogi
tangan, walaupun berlawanan ada kiri dan kanan, tapi bentuk dan
karakternya tangan tetap sama.
dua kubu wef dan wsf, karakternya kan sangat berlawanan.
wef punya karakter dominasi (baik secara politik dan ekonomi),
unilateral (the winner takes it all), trade dan menjajah. sementara
wsf kan justru kebalikannya, egalitarian, multilateral, dan respek
terhadap bangsa dan negara lain.
emang susah sih, kalo setiap perbedaan dalam suatu masalah selalu
ditanggapi dengan menekan secara ekonomi (seperti boikot) dan
menggunakan kekerasan (langsung nyerbu ke negara tersebut) untuk
menyelesaikan masalah atau menguras dan mendapatkan hasil bumi
(resource) dari negara tersebut.
> Lantas, untuk apa sdr. Wibowo melempar pertanyaan seperti itu?
> Jawabannya segera kita temukan di sepanjang tulisannya. Dalam tiga
> kalimat pertama, kita langsung didorong keluar melihat-lihat
situasi
> dunia yang renta tapi terus juga diperkosa kaum kapitalis tanpa
ampun!
> Sebuah dunia yang acak-acakan. Jauh dari sejahtera, lekat dengan
> penindasan serta menuju kehancuran spiritual akibat perkosaan
nonstop.
>
> Situasi amburadul begini jelas salah; apalagi sejak 1/4 abad
terakhir
> mau diawetkan lewat pasar-bebas. Dengan realita ini sudah pasti WSF
> (world social forum) yang bangkit menolak imperialisme, lebih benar
> ketimbang WEF (world economic forum) yang berkerumun di bawah tiang
> globalisasi mengibarkan semangat kolonial-baru melalui dominasi
modal.
>
> Begitulah panorama dunia sampai detik ini. Sehingga di bagian
penutup
> kita pun mengamini sdr. Wibowo yang mengingatkan kita pada
kewarasan
> Polanyi untuk mengembalikan pasar kepada fungsi hakiki di
masyarakat.
>
> Nah, sebelum kita bicara lebih lanjut tentang kewarasan orang
lain, si
> Polanyi itu, ada baiknya kita ingat-ingat lagi tentang kita, si
> Indonesia ini. Jadi, setelah cuci-mata ke luar, mari kita kembali
> melihat-lihat ke dalam untuk mencari tahu di mana posisi kita dalam
> situasi bedebah ini. Tanpa mengetahui posisi yang tepat, pasti
sulit
> menentukan ke arah mana kita sedang / hendak menuju.
>
> Sialnya, kemampuan yang tersisa di kita seolah tinggal keahlian
> membuntuti suara-suara harapan berlanggam gold & glory. Terbukti,
> selama 40 tahun kita hanyut diseret kacaunya dunia: 32 tahun
memupuk
> pertumbuhan fiktif + 7 tahun morat-marit digembala lembaga-lembaga
> keuangan internasional + 1 tahun kedap kritik (istana banget) ...
>
> Padahal, tak kurang dari Presiden Lula, Mary Robinson, Tariq Ali,
> Aminata Traore, dan sederet tokoh WSF lainnya mengakui bahwa WSF
> adalah titisan dari Semangat Bandung (KAA) yang menginginkan
> kesederajatan di antara bangsa manusia. Pengakuan yang bergema di
> setiap WSF dan turunannya (ESF, ASF, dst) ini adalah cermin yang
jelas
> bagi kita bahwa sebelum modal asing membenam Indonesia dalam utang,
> kita sudah berada di posisi yang benar sebagai negara berdaulat.
>
> Sekarang coba lihat, dari enam kali penyelenggaraan WSF, belum
> sebijipun petinggi kita memunculkan batang hidungnya di WSF; jangan
> lagi ikut angkat bicara.
>
> Petinggi-petinggi kita jelas sudah melupakan Semangat Bandung.
Mereka
> lebih senang berdiri di posisi pengantri karcis seharga Rp. 200
juta /
> orang untuk nonton WEF, lalu sibuk mematuhi titah tuan-tuan
> imperialis. Dengan harapan, diperbolehkan memunguti satu-dua pujian
> yang diobral kalangan "homo-davosiensis".
>
> ~
>
> "imperialisme yang kami musuhi itu adalah suatu paham, suatu
> begrip, suatu nafsu, suatu streven, suatu stelsel, suatu politik
> menaklukkan atau mempengaruhi negeri orang lain atau ekonomi
> bangsa lain,"
>
> - sdr. soekarno ('indonesia menggugat')
>
>
>
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/