Paling beneran mah antepin ajah...pemerintah seh demen banget ada issue ini,
minimal rahayat banyak lupa dengan ruuapp, dan seabrek masalah lain, seperti
biasa menutup masalah dengan menggali masalah baru, dan rahayat akan lupa
dengan masalah lama.

sur ( udah baca ruuapp belonan ? )
----- Original Message -----
From: "PAREWA PAREWA" <[EMAIL PROTECTED]>
> Memberi pelajaran perlu, tapi alat untuk memberi pelajarannya apa? Mau
Balas pake isu aborigin, ngga punya daya.  Atau angkat isu rasialisnya
Australia terhadap pendatang? apa pula yg bisa dilakukan. Penulis saja ngga
ada harga nya koq di Indonesia.  Satunya-satunya cara adalah
>   jangan beri Australia amunisi untuk menyerang Indonesia. Dengan kata
lain,
>   berikan keadilan bagi masyarakat. Tembak mati para penjarah duit rakyat
di
>   Papua juga di daerah-daerah lain. Hentikan kebiadaban di daerah-daerah
pertambangan. Seret para pejabat yg dapat duit sogokan di Freeport (kabarnya
tokoh-tokoh sosialis juga kebagian duit dari freeport, sebagai komisaris)?
>
> Ambon <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>   RIAU POS
>
>
> Australia Perlu Diberi Pelajaran
>
>
>
> Selasa, 28 Maret 2006
> Keputusan pemerintahan PM John Howard memberikan visa tinggal sementara
(temporary visa) bagi 42 pengungsi asal Papua yang meminta suaka menyulut
kembali hubungan dengan Jakarta yang memang sering panas.
>
> Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak bisa menerima
keputusan Canberra tersebut. Jumat pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang
Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo AS melalui rapat koordinasi terbatas
memutuskan menarik Dubes Indonesia di Canberra. Pada saat hampir bersamaan,
Menlu Hassan Wirajuda mengirimkan nota protes kepada Dubes Australia Bill
Farmer di Jakarta.
>
> Perkembangan terakhir, Senator Kerry Nettle dari Partai Hijau di Australia
yang berencana mengunjungi Papua diputuskan bakal ditolak Jakarta. Partai
Hijau memang termasuk partai yang terus membuat opini internasional untuk
menggalang kekuatan bagi pemisahan Papua dari RI.
>
> Siapa pun yang rajin mengikuti dinamika hubungan Jakarta-Canberra akan
memahami bahwa kedua negara bertetangga tersebut memang sering
''bertengkar''. Bahkan, pada saat-saat tertentu, ''pertengkaran'' itu masuk
pada kategori konflik politik yang buruk.
>
> Tetapi, bagi banyak kalangan di negeri ini, Canberra memang sering membuat
manuver politik dan penggalangan opini internasional yang dalam situasi
tertentu bersifat mengarah pada bentuk-bentuk tekanan politik, campur tangan
yang terlalu jauh, serta melanggar etika persahabatan kedua negara.
>
> Bahkan, yang paling memuakkan, Canberra secara terang-terangan sering
memperlihatkan hasrat untuk menguasai dan mendikte RI sesuai kemauan atau
kepentingan sepihak.
>
> Mulai soal Timor Timur (Timor Leste) pada masa lalu yang terus-menerus
digiring agar memisahkan diri dari RI, perlakuan khusus terhadap warga Papua
yang terang-terangan merupakan pelarian dari daerah asalnya dengan dalih
korban pelanggaran HAM sebelum ada kejadian 42 WNI asal Papua yang meminta
suaka, sampai praktik-praktik buruk terhadap muslim asal Indonesia yang
menetap di Negara Kanguru tersebut.
>
> Belakangan, meski melalui partai kecil, yakni Partai Hijau yang tidak
berkuasa, Australia terang-terangan memberikan semangat kepada kelompok
separatis di Papua untuk berjuang memisahkan diri dari RI.
>
> Pada bagian lain, tanpa rasa malu, Australia juga sering membuat opini
internasional yang berisi meminta perlakuan khusus dan istimewa bagi warga
yang jelas-jelas melanggar hukum Indonesia.
>
> Simak saja, misalnya, media Australia terus-menerus membuat opini
internasional bahwa dua warganya yang ditangkap polisi di Bali karena
membawa heroin dan ekstasi tidak bersalah. Bahkan, mereka terus-menerus
membuat opini negatif mengenai hakim dan polisi yang menangani perkara dua
gadis asal Australia yang membawa narkoba tersebut.
>
> Karena itu, sangat proporsional jika kali ini Jakarta harus bersikap keras
terhadap Canberra. Jakarta tidak boleh diam dan terus-menerus menahan diri
seolah-olah manut serta menuruti sikap angkuh, tidak peduli, dan arogansi
pemerintahan John Howard.
>
> Harus kita akui, kepentingan Indonesia terhadap Australia lebih besar
dibandingkan kepentingan Australia terhadap Indonesia. Tetapi, sifat
dependensi Jakarta terhadap Canberra tidak serta merta harus diikuti
''ketaatan'' dan ketundukan terhadap perlakuan Canberra.
>
> Sikap keras dan tegas Jakarta memang tidak perlu dilanjutkan dengan,
misalnya, memutuskan hubungan diplomatik dengan Canberra. Tetapi, hal itu
jelas harus diikuti tindakan lain yang bisa segera memberikan pelajaran bagi
Australia agar lebih peduli terhadap etika persahabatan kedua negara
bertetangga. ***
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> Post message: [EMAIL PROTECTED]
> Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
> Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
> List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
> Homepage    :  http://proletar.8m.com/
>
>
>
> ---------------------------------
>   YAHOO! GROUPS LINKS
>
>
>     Visit your group "proletar" on the web.
>
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
>
>
> ---------------------------------
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Apakah Anda Yahoo!?
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> Post message: [EMAIL PROTECTED]
> Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
> Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
> List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
> Homepage    :  http://proletar.8m.com/
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke