Belum lama aku menulis tentang bagaimana negara kita kebanjiran guru agama Islam yang kesemuanya ingin jadi pegawai negeri, semuanya punya titel sarjana, dan semuanya berasal dari keluarga yang tidak miskin.
Demikianlah, sewaktu lulus SMA, cari perguruan tinggi kiri kanan tidak diterima. Tidak perlu heran kalo akhirnya masuk IAIN yang modalnya cuma iman bukan otak, tapi titelnya disamakan dengan yang punya otak. Dan hal begini berlangsung lebih dari 50 tahun sehingga bisa anda bayangkan berapa jumlahnya guru2 agama Islam ini yang pengangguran. Persaingan guru agama identik dengan persaingan antar ulama, yang kreative menciptakan cara2 shalat dengan bahasa Indonesia, namun saingannya berhasil menjerumuskan kawan seiring kepenjara. Yang kreative lainnya ada yang menonjol di Ahmadiah dimana banyak umatnya yang kuat ekonominya, dan mereka ini berhasil memajukan Ahmadiah, manun juga tidak aman, saingannya membakari mesjid2nya dan semuanya kembali jatuh miskin kecuali yang menjarah tentunya berhasil kaya termporer. Demikianlah, sebagian besar dari mereka tidak mau dinamakan sebagai pengangguran apalagi sudah bergelar kiay. Mereka melamar jadi guru agama di sekolah2 negeri, namun kapasitas penerimaannya juga sangatlah terbatas, satu sekolah paling cuma menerima satu guru agama Islam padahal yang daftar ada ratusan. Peminat banyak harga naik, demikianlah kilah kepala2 sekolah yang juga sigap mempermainkan demand untuk kesejahteraan keluarga sendiri. Mulailah guru2 agama Islam ini diterima lebih banyak, bahkan ada guru agama Islam di satu SMA berjumlah 8-10 orang, namun mereka tidak diregisterasi oleh kepala sekolahnya sebagai guru agama Islam yang honorer melainkan guru matematika meskipun buta matematika, guru biologi meskipun tak mengerti biologi, guru fisika meskipun tidak mengerti fisika. Bisa anda bayangkan lulusannya kayak apa, ditanyakan 8x7, jawabnya alhamdulilah, ditanya biologi dijawab nomor2 ayat alquran yang ada dongeng adam dan hawanya. Guru2 agama ini meskipun sudah dianggap guru matematika, biologi ataupun fisika, statusnya tetap honorer gajinya cukup beli rokok beberapa batang saja, itupun kalo datang mengajar. Biasanya, murid2 ini senang dengan guru2 model begini, dikelas kocak, ulangan bisa dirundingkan angkanya diwarung belakang sekolah, pokoknya semuanya tidak merasa dirugikan kecuali negara tentunya. Dan yang patut anda ketahui, guru2 ini tidak fanatik, pandai bergaul, menggait murid2 wanita anak orang kaya, banyak yang nasibnya baik namun yang orang tua yang bermantukan manusia seperti ini dipastikan ketiban sial tak mungkin diuntungkan oleh anaknya yang menikahi benalu masyarakat yang beriman tebal. Namun begitu tulisan2 saya tersebar diberbagai millist, banyak yang kaget, ada yang tadinya simpati kepada guru2 mendadak jadi benci, ada yang tadinya sedih melihat banyak guru yang gagal lulus jadi pegawai negeri mendadak malah senang. Namun juga banyak yang mencaci maki saya dengan menuduh saya meng-ada2 kejadian yang tidak ada. Naaah....tulisan saya sekarang ini sebenarnya untuk mereka ini karena pada hari ini Senen 3 April 2006, di koran Suara Merdeka diberitakan kejadian2 pemalsuan guru yang sudah saya ceritakan itu, namun para pejabat2 diatas tidak percaya kalo tidak ada buktinya, padahal sebenarnya permainan ini memang dilindungi oleh mereka2 yang diatas itu juga sehingga tidak heran kalo gubernur bisa bilang bahwa tidak ada pemalsuan tenaga guru2 honorer. Untuk menilainya, silahkan saja anda baca sendiri copy paste yang saya dapatkan dari SUARA MERDEKA: http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0604/03/dar24.htm Bukti Pemalsuan Data Tenaga Honorer Diserahkan Surakarta, CyberNews. Solidaritas Tenaga Pendidikan Wiyata Bhakti Surakarta (Soetapawibakso) menyerahkan bukti-bukti adanya indikasi pemalsuan data tenaga honorer bidang pendidikan kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Surakarta, menyusul pernyataan Wali Kota Joko Widodo yang membantah adanya dugaan pemalsuan itu. "Baru saja kami menyerahkan bukti-bukti itu pemalsuan data itu kepada BKD. Seperti semula, ada tujuh kasus yang telah masuk dan kami selidiki. Harapan kami, bukti itu bisa disampaikan kepada Badan Kepegawaian Nasional (BKN) sebelum nomor induk pegawai turun,'' kata Sekjen Soetapawibakso Asmuni SAg seusai keluar dari kantor BKD, Senin (3/4). Seperti diwartakan, Sekjen Solidaritas Tenaga Pendidikan Wiyata Bhakti Surakarta (Soetapawibakso), Asmuni SAg menemukan indikasi pemalsuan data sejumlah nama yang diterima pada formasi tenaga honorer untuk tenaga pendidikan dalam pengumuman revisi seleksi penerimaan PNS (Suara Merdeka, Kamis 23/3). Asmuni menambahkan, apa yang disampaikannya bukan isapan jempol semata. Dari laporan yang masuk dan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dan klarifikasi, sedikitnya ada tujuh kasus pemalsuan data. Bila akhirnya kasus pemalsuan data itu dibiarkan, kata Asmuni, jelas akan menimbulkan preseden buruk. ''Pemkot semestinya bisa bersikap bijak. Jangan sampai ini menjadi preseden buruk yang menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat pada lembaga pemerintahan ini,'' sesal dia. Sementara itu, Sekretaris BKD Drs Suwanto saat dikonfirmasi menyatakan belum menerima bukti-bukti yang disampaikan Soetapawibakso. ''Wah, kok saya belum menerima ya. Tapi bukankah Wali Kota sudah menyatakan tidak ada kasus itu. Sebelumnya Plt Kepala Disdipora (Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Drs Amsori MPd-Red) juga sudah menegaskan tidak ada kasus itu.'' Pihaknya sudah mengirimkan berkas ke-493 CPNS yang lolos seleksi formasi penerimaan tahun 2005 pada 30 Maret lalu. Sekadar diketahui, tiga dari 496 peserta yang lolos seleksi mengundurkan diri karena diterima di instansi lain. Bila nanti terbukti melakukan pemalsuan data, kata dia, ketujuh CPNS akan dibatalkan. ''Tapi tentu saja harus didukung bukti-bukti yang kuat.'' ( anie r rosidah/cn09 ) Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
