http://www.indomedia.com/bpost/042006/5/opini/opini3.htm

 
Perjuangan Kepala Desa

DI NEGERI tercinta ini, muncul cerita dan isu baru yang tidak kalah menariknya 
dengan berita flu burung maupun kesurupan massal. Cerita baru itu adalah 
belasan ribu kepala desa se Jawa, Bali dan Sumatera berunjuk rasa ke Jakarta 
mengajukan beberapa tuntutan. Epik kepala desa ini, untuk sementara membuahkan 
hasil yang cukup manis. Pemerintah akhirnya mengabulkan tuntutan gaji kades 
disesuaikan dengan upah minimum regional (UMR).

Dari sistem pemerintahan Indonesia, desa dan kepala desa serta perangkatnya 
menjadi penting. Karena sesuai undang-undang, lembaga ini sebagai komponen 
terkecil untuk berputarnya roda pemerintahan. Demikian pentingnya posisi desa, 
tidak mengherankan kalau ada pihak tertentu yang tertarik kemudian melirik 
untuk 'memanfaatkan' desa beserta kepala dan perangkatnya.

Dalam perkembangannya, desa dan kepala desa tidak luput dari berbagai dinamika. 
Seorang dosen FISIP Unlam menyebutkan, ada masanya kepala desa merupakan ujung 
tombak yang tidak boleh bersuara. Kemudian ditetapkannya desa sebagai daerah 
otonom dan keterbukaan, kepala desa pun berani menyatakan uneg-unegnya. Bahkan 
dalam bentuk yang lebih terbuka yaitu unjukrasa yang dibalut solidaritas.

Sayangnya, salah satu tuntutan yang diusung kepala desa itu yaitu tuntutan 
dijadikan pegawai negeri sipil (PNS) justru dapat mematikan sifat desa yang 
otonom. Kalau dijadikan PNS, apa pun kata pusat harus dilaksanakan. Maka, akan 
terjadi perubahan dari densentralistik menjadi sentralistik. Dikhawatirkan, 
jika berubah menjadi sentralistik maka sama saja desa yang memiliki 
karakteristik khas tidak dapat mengembangkan diri sendiri. 

Tak mengherankan kalau dosen FISIP Unlam itu kemudian berkesimpulan, tuntutan 
kepala desa menjadi PNS merupakan dialektika yang terbalik. Harapan desa itu 
menjadi otonom yang memiliki kemerdekaan berpikir dan bertindak, menjadi 
hilang. Jika kepala desa menjadi PNS, sama saja mereka menjadi perangkat 
kelurahan. Pada akhirnya masyarakat perdesaan terjebak dalam sentralistik. Hal 
itulah yang tidak disadari masyarakat perdesaan.

Kalau tuntutan soal perbaikan kesejahteraan, itu memang sudah benar. Sebab, 
bisa dibayangkan contoh di Klaten (Jawa Tengah). Bisa dibuat apa penghasilan 
seorang sekretaris desa hanya Rp65.000 dan kepala dusun (kadus) Rp45.000 per 
bulan. Itu pun dibayarkan tiga bulan sekali.

Sementara untuk seorang lurah yang PNS dengan kepangkatan minimal Gol IIIb, 
menerima gaji pokok Rp1,25 juta per bulan. Ditambah berbagai tunjungan, jelas 
merupakan jumlah yang sangat jomplang (berbeda jauh, red) kalau dibanding 
dengan yang diterima kepala desa.

Pengabulan tuntutan berupa perbaikan penghasilan, merupakan hasil perjuangan 
yang tidak sia-sia. Meski untuk berangkat ke Jakarta harus menjual itik, 
kambing dan sebagainya, akan menjadi sebanding dengan hasil yang dicapai dalam 
unjukrasa itu.

Hanya yang perlu diwaspadai, perjuangan yang murni, spontan dan benar-benar 
untuk kepentingan kades dan perangkat desa lainnya itu jangan sampai diboncengi 
oleh kepentingan lain. Memang ada suara miring yang menyebutkan, unjukrasa 
kades ke Jakarta itu dibekingi oleh elit politik tertentu. Karena itulah, untuk 
menunjukkan kemurnian perjuangan kades itu harus dibuktikan dengan tidak 
neko-neko.

Kalau pun saat ini baru bisa menghasilkan sisi perbaikan kesejahteraan, harus 
diterima dengan penuh rasa syukur. Jangan berhasil satu, tuntutan yang lainnya 
juga minta diluluskan. Strategi perjuangan harus disusun, diukur dan 
disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan. Bagi beberapa orang 
pengurus paguyuban kepala desa yang sementara ini bertahan di Jakarta untuk 
memperjuangkan tuntutan yang lain, harus tetap berada dalam koridor yang sudah 
ditentukan. 

Selain itu harus diingat, jangan sampai perjuangan mereka di Jakarta 
mengorbankan tugas mulia yang diembannya di desa. Jangan sampai kepentingan 
orang banyak, warga desa yang ingin berurusan dengan kepala desa, menjadi 
terbengkalai gara-gara kadesnya berjuang yang hasil perjuangannya lebih 
menitikberatkan untuk kepentingan kades pribadi


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke