http://www.indomedia.com/bpost/042006/5/opini/opini1.htm


Membela Orang Dayak Dan Kalimantan
(Mengenang ZA Maulani)

Oleh: Nasrullah

"Republik ini melupakan, pendiri pasukan payung pertama cikal bakal Kopaskhas 
dari TNI AU adalah seorang anak Dayak asli bernama Tjilik Riwut." (ZA Maulani, 
2005: 99)

Kutipan di atas, saya ambil dari buku Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan dan 
Tanah Air Memoar Seorang Prajurit TNI, yang mengilhami saya untuk melihat 
kembali perhatian Zaini Azhar Maulani (Pak Zen) tentang sesama manusia Dayak 
maupun terhadap Kalimantan.

Begitu teliti perhatiannya, sehingga Pak Zen tak melupakan Tjilik Riwut dan 
tokoh lain dalam memoarnya yang diterbitkan setelah beliau meninggal dunia. 
Alangkah indahnya jika sesama tokoh Kalimantan, saling membahu memperjuangkan 
tanah kelahirannya untuk menuju kemajuan terlepas dari segala atribut dan 
golongan mana pun.

Satu tahun lalu, tepatnya Selasa 5 April 2005 pukul 16.20 WIB, Zaini Azhar 
Maulani (Pak Zen) seorang putra terbaik bangsa Indonesia berasal dari Marabahan 
Kalsel meninggalkan dunia. Sejak itu, ucapan duka belasungkawa baik dari 
institusi pemerintah, swasta maupun pribadi terpampang di pelbagai media massa.

Tahun itu juga, Budi Kurniawan, Setia Budhi dan saya menulis tentang Pak Zen. 
Tapi rasanya, masih tidak cukup tulisan itu. Saya merasa masih harus menulis 
untuk kembali mengenang, dengan harapan mendapatkan pelajaran dari kehidupan 
seorang tokoh dari daerah kita sendiri.

Inilah pentingnya mengaktulisasi tokoh Kalimantan, agar tidak ada benang merah 
yang putus antargenerasi. Saya malu pada pertemuan nonformal sekitar 2001 di 
kampus Fisip Unlam, yang dengan lugu bertanya: Siapakah Tjilik Riwut? Setia 
Budhi dosen Fisip, sembari tersenyum menjelaskan dengan singkat dan jelas, 
beberapa orang teman aktivis mahasiswa juga turut menyimak. Entahlah, apakah 
mereka sama tidak tahunya seperti saya? Sejak saat itu saya bertekad, mengenal 
dan mengetahui tokoh dari Kalimantan.

Mengenai Tjilik Riwut, saya menjadi semakin mengenal melalui beberapa buku 
karyanya maupun riwayat hidupnya. Buku, Tjilik Riwut Berkisah Aksi Kalimantan 
dalam Tugas Operasional Militer Pertama Pasukan Payung Angkatan Udara Republik 
Indonesia yang diceritakan kembali oleh Nina Soseno puteri ketiga Tjilik Riwut, 
menceritakan operasi penerjunan payung pada 17 Oktober 1947 dan penerjunnya 
merupakan putra Kalimantan. Dalam hal ini, Pak Zen mempertegas peran dan jasa 
Tjilik Riwut.

Nasib Orang Dayak dan Kalimantan

Kembali tentang Pak Zen. Apa yang telah diperbuat seorang Zen terhadap tempat 
asalnya, tanah Kalimantan? Menjawab pertanyaan ini, dimulai dari pengalaman Pak 
Zen menjelang akhir pendidikan sebagai Taruna Akademi Militer Nasional 
Magelang, pada malam terakhir Kuliah Kerja Nyata di Desa Dangkel kecamatan 
Parakan Kabupaten Wonosobo di atas Gunung Sumbing.

Salah satu acaranya adalah Dayak-dayakan. Pesertanya melumuri tubuh dengan 
bubuk arang dan hitam mengkilat terkena sinar lampu. Cerita Pak Zen, aurat 
mereka hanya ditutupi janur kelapa. Mereka tampak seram dengan sebilah tombak 
di tangan sambil berteriak: "Huu huu. Huu." Semuanya terhibur. Tapi penduduk 
baru tahu, ada orang Dayak sebenarnya dalam pasukan. Berita itu pun tersebar 
luas. Keesokan harinya penduduk penasaran dan mengintip, siapakah orang Dayak 
itu. Tidak ada orang yang berbeda dalam satu pleton pasukan. Yang ada hanya 
orang Dayak menjadi pemimpin pleton bernama ZA Maulani. 

Mungkin dari peristiwa itulah hingga Pak Zen mengatakan: "Sebagian besar 
masyarakat Indonesia sampai hari ini memiliki kekeliruan persepsi tentang etnik 
Dayak." Dalam Memoarnya, ia menjelaskan tentang Dayak dan menggambarkan 
penderitaan rakyat. Karena, tanah Kalimantan hanya menjadi daerah pemasok bahan 
mentah bagi tanah Jawa melalui proyek lahan Gambut Sejuta Hektare yang pada 
akhirnya proyek ini gagal.

Perhatiannya semakin fokus kepada Kalimantan, ketika Pak Zen menjabat sebagai 
Pangdam Tanjungpura. Salah satu butir pemikirannya ialah melindungi kepentingan 
rakyat sehubungan dengan investasi kapital berskala besar yang membanjiri 
Kalimantan agar tidak sampai kontra produktif. Yaitu, alih-alih memakmurkan 
rakyat Kalimantan malah memelaratkan.

Hal lain, menyadari jaringan transportasi jalan darat di Kalimantan sedemikian 
susahnya. Bersama empat gubernur di Kalimantan, diupayakan jalan keluarnya. 
Beberapa waktu lalu, agenda 'Kalimantan Membangun' berhasil dilaksanakan namun 
berujung kegagalan setelah masa jabatan Pak Zen berakhir pada 1991. Dalam 
memoarnya ia juga menulis: "Saya tidak menutup mata atas kegagalan yang 
kemudian menerpa impian 'Kalimantan Membangun'. Terus terang, saya dengan pilu 
menyesalkannya. Semuanya itu terjadi karena hilangnya wadah konsultasi antara 
keempat gubernur se Kalimantan yang pernah ada."

Selama menjabat pangdam, Pak Zen merasakan betul kesulitan masyarakat berkaitan 
dengan rotan. Medio 1990, Departemen Perdagangan RI mengeluarkan ketentuan yang 
isinya melarang eksport rotan basah, termasuk jenis webbing (anyam-anyaman 
basah). Akibat kebijakan ini, rakyat Kalimantan yang terpukul. Semula harga 
rotan Rp185.000 per kuintal, turun tajam mencapai harga Rp8.000 per kuintal.

Akibatnya, banyak industri rotan gulung tikar. Rakyat kehilangan pekerjaan dan 
ancaman kelaparan meledak, meliputi 60.000 mulut di pusat penghasil rotan 
Kalimantan, Kabupaten Barito Utara. Pak Zen memperjuangkan agar kabupaten 
Barito Utara diberikan dispensasi atas kebijakan itu, dengan menemui seorang 
pejabat yang menikmati masa santainya di hotel mewah Ambarukmo Palace 
Yogyakarta sementara rakyat tengah mengalami kelaparan. Ternyata, keputusan 
pemerintah tetap tidak berubah.

Perhatian Pak Zen terhadap Kalimantan tidak hanya saat menjabat sebagai 
Pangdam, tetap berlanjut ketika menjadi Kabakin atau ketua Kaukus Kalimantan. 
Ia mengutarakan ide 'Kalimantan Bangkit' setelah 'Kalimantan Membangun'. Dengan 
mengatakan, 'Kalimantan Bangkit' hanya akan memiliki makna bila kita memiliki 
sumberdaya manusia bermutu didukung budaya yang kompatibel dan infrastruktur 
yang diperlukan. Terhadap daerah kelahirannya, ia mengajukan pemikiran 
Pembangunan Segitiga Barito yang meliputi Kabupaten Barito Kuala, Barito 
Selatan dan Barito Utara.

Semua yang saya tuliskan di sini, hanya sebuah gambaran dari seorang putra 
daerah yang memikirkan dan berusaha keras untuk kemajuan tanah kelahirannya. 
Masih banyak kiprah Pak Zen yang belum tercover.

Ketokohan seseorang tidak terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, 
kepintaran, kekayaan. Tetapi, bagaimana mendayagunakan semua itu untuk 
kepentingan orang banyak. Dan, seorang Zen saja tidak akan mampu menggapai 
'mimpi-mimpi' itu. Tapi, ia telah merintis sebuah jalan membuka kemakmuran 
tanah Kalimantan dan kepedulian terhadap orang Dayak. Setelah 'Kalimantan 
Membangun' lalu 'Kalimantan Bangkit', kini apalagi. Apakah hanya bertahan di 
situ hingga Kalimantan 'tertidur' lagi, dan akhirnya kita kalah di kampung 
sendiri? Entahlah.

* Mahasiswa Pascasarjana Antropologi UGM
e-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke