http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006040901081215
Minggu, 9 April 2006
BURAS
Menggampangkan Masalah!
H.Bambang Eka Wijaya:
"ROKOK yang kau ambil di warung kemarin sudah dibayar?" tanya ibu.
"Gampang itu!" jawab Budi. "Besok bisa!"
"Jangan menggampangkan masalah!" entak ibu. "Nanti terbiasa, akibatnya
sangat buruk! Persoalan jadi tumpang-tindih membelit, susah diurut mana yang
harus diselesaikan lebih dulu, padahal semua mendesak!" "Tapi menggampangkan
masalah itu sudah tradisi di negeri kita!" sambut Budi. "Pemprov Lampung
misalnya, jembatan timbang yang sudah ditutup pemerintah pusat sejak zaman
Presiden Habibie karena menjadi penyebab ekonomi biaya tinggi yang harus
diretas habis dalam reformasi, secara diam-diam selama empat bulan ini
dioperasikan kembali tanpa ada perda yang mendasari pungutannya!"
"Itu contoh menggampangkan masalah yang buruk!" tegas ibu. "Mereka
gampangkan soal kutipan kepada sopir karena sopir makhluk lemah, pasti tak
berkutik dan tak bisa mengelak! Tapi itu menambah beban biaya angkutan,
penyebab ekonomi biaya tinggi, yang membuat investor hengkang dari negeri kita
dan enggan masuk kembali!"
"Investor enggan masuk karena buruh negeri kita sangar, juga akibat
Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan yang menguntungkan buruh jika dapat masalah,
hingga buruh suka mencari-cari masalah!" sambut Budi. "Menjadikan buruh dan UU
Ketenagakerjaan sebagai momok utama investor itu juga menggampangkan masalah!"
tegas ibu. "Sebab, masalah buruh sebenarnya hanya faktor urutan ketujuh dalam
menghambat investor kembali ke negeri kita! Faktor pertama, birokrasi yang
berbelit dan panjang dengan peraturan yang ruwet! Kedua, infrastruktur--jalan,
listrik, pelabuhan--yang kurang mendukung! Ketiga, ekonomi biaya tinggi!
Keempat, UU Perpajakan yang kurang insentif. Kelima, korupsi, kolusi, dan
nepotisme yang makin marak! Dan keenam, faktor keamanan plus pemerintah daerah
dan warga lokasi proyek yang selalu merepotkan investor! Semua itu berkerak,
tak mudah diurut dan diselesaikan satu per satu, tapi malah menggampangkan
buruh sebagai kambing hitam penghambat investasi!"
"Semua faktor itu masalah kecil, gampang diselesaikan! Jadi bisa
belakangan diurus!" sambut Budi. "Masalah buruh yang susah, maka didulukan
menyelesaikannya!"
"Itu sama dengan tungau di seberang lautan terlihat, sedang gajah di
pelupuk mata tak terlihat!" tukas ibu. "Tak bisa digampangkan penyelesaian
masalah yang menyangkut diri elite dan birokrasi itu sendiri! Sebab, semua itu
terkait dengan kekuasaan dan hak-hak istimewa! Jadi jangan gampangkan masalah
seabrek itu dengan mengambinghitamkan buruh! Karena masalah lain yang selama
ini digampangkan, seperti pengangkatan pegawai honorer jadi PNS, masih menumpuk
bersama banyak masalah lain yang tak kunjung terpecahkan!" "Sudahlah, Bu!"
timpal Budi. "Betapa ruwet pun masalah yang harus diatasi, bersama kita bisa!
Gampang, kan?"
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/