http://medlem.spray.se/acheh/19_Dr-Husaini_Bagi_kami_OTONOMI_itu_adalah_barang_basi.htm


Dr Husaini : "Bagi kami otonomi itu barang basi".

1. Ada yang menyatakan, kegiatan awal Teungku pada GAM hanya sekedar protes 
ketidakadilan di bidang ekonomi yang dilakukan oleh pemeritah Indonesia 
terhadap Aceh?

Tentu yang menyatakan itu tidak mengetahui latar belakang sejarah Aceh dan 
samasekali tidak mengikuti apa yang kami kerjakan selama tiga tahun pertama 
semasa saya dan kawan-kawan hijrah ke rimba belantara Aceh. Yang pertama kami 
lakukan adalah Pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Negara Aceh. Kemudian mengisi 
dan membangun Negara Aceh tersebut. Bukan hanya protes ketidak adilan dibidang 
ekonomi, tetapi lebih luas dan lebih bermakna dari itu. Yang kami maksud dengan 
Negara Aceh adalah Negara yang berdaulat di Negeri Aceh dari rakyat Aceh dan 
untuk rakyat Aceh. Dan semuanya ditentukan di Aceh. Kita Aceh adalah satu 
bangsa seperti bangsa lain didunia, yang mempunyai Negeri, rakyat dan sejarah 
kita sendiri yang cukup gemilang yang tidak kalah heroiknya dibandingkan dengan 
sejarah bangsa-bangsa di dunia. Kita berhak menjadi Tuan dirumah kita sendiri, 
dinegeri kita sendiri Negeri Aceh, bukan seperti Propinsi Nanggroë Aceh 
Darussalam(NAD) yang masih menyembah ke Jakarta dan segala-galanya masih 
ditentukan di Jakarta menurut kepentingan Jakarta. Bukan hanya ekonomi, tetapi 
politik, militer, agama, budaya semuanya tidak perlu berkiblat ke Jakarta, 
tetapi kita tentukan sendiri disini di Aceh menurut kepentingan dan selera kita 
sendiri. 

2. Bisa dikisahkan pengalaman ketika naik gunung dan proses proklamasi di 
Gunung Halimon?

Kisah pengalaman naik gunung dan proses proklamasi ini adalah sejarah yang 
tidak dapat saya jawab hanya dengan beberapa baris jawaban. Ini menghendaki 
penulisan buku yang insya Allah akan saya usahakan untuk menjawabnya secara 
berseri kalau Saudara-saudara berminat. 

Secara singkat dapat saya ceritakan bahwa setelah proklamasi kami sebarkan dan 
ditulis dengan Head line dalam surat-surat kabar WASPADA, MIMBAR UMUM di Medan 
dan surat-surat kabar di Jakarta dan diseluruh dunia maka kami yang aktif di 
Medan harus hijrah, karena tidak berapa lama kemudian Kabinet Pertama Negara 
Aceh harus diumumkan. Saya, Dr. Mukhtar Yahya Hasbi, Dr. Zaini Abdullah, Dr. 
Zubir Mahmud, Ir. Asnawi Ali, Amir Ishak yang namanya akan diumumkan sebagai 
Menteri-menteri Kabinet Pertama Negara Aceh tentu saja tidak dapat lagi tinggal 
di Medan dan mau tidak mau harus hijrah meninggalkan kerja, karir, keluarga 
yang tercinta, kawan-kawan dan kehidupan kemewahan kota. 

Kami mula-mula hijrah ke Wilayah Teumiëng pada 2 hb. Juli 1977, bertemu dengan 
Gubernur Wilayah Teumiëng Tengku Sjamma'un. Saya sangat terkesan dengan sikap 
orang tua ini yang dipanggil sehari-hari sebagai Nèk 'Un. Terbayang oleh saya 
bagaimana beliau berjalan didepan dengan parang terhunus di bahu depan sebelah 
kanan, dengan dada busung dan mata liar dan tajam memimpin kami menyebrangi 
sungai, menempuh rawa-rawa dan rimba menuju ke Barat. Sikap beliau ini tidak 
kalah dibandingkan dengan seorang jenderal yang sedang memimpin pasukan perang 
yang tidak ada istilah gentar atau takut dalam kamus kepemimpinan beliau. 
Beliau hanya mengantarkan kami sampai diperbatasan. Dari Wilayah Teumiëng telah 
menanti kereta yang membawa kami ke Wilayah Peureulak dan dengan berjalan kaki 
kami tiba di Wilayah Pase. Sampai di Panton Labu Dr. Mukhtar berpisah dengan 
kami dan beliau mencari kontak dengan ayah beliau Abu Hasbi, orang pertama yang 
hijrah di Wilajah Pase. Kami lama tertunda di Panton Labu. Salah satu asrama 
kami disini berada di sekitar kawasan beruang. Setiap pagi kami mendengar suara 
beruang yang terengah-engah menguak pohon kayu yang mengandung sarang lebah. 
Pada suatu hari saya pergi mencari kayu kering untuk kayu api. Sedang saya 
mematah-matahkan kayu "Tampu" kering yang suaranya sangat besar dan bergema 
seperti suara senapang. Tiba-tiba sebuah benda besar meluncur dengan kencangnya 
dari pohon diatas saya, dan jatuh berdebam didepan saya. Rupanya seekor beruang 
kelabu sebesar anak kerbau yang berada diatas pohon kayu diatas saya, sangat 
terkejut akan suara patahan kayu dan meluncur dengan cepatnya dan segera lari 
didepan saya. Kejadian itu sangat cepat sehingga saya tidak dapat berbuat 
apa-apa kecuali terbengang-bengang menghentikan nafas, sangat terkejut.

Kira-kira dua bulan kami di Panton Labu barulah kami mendapat hubungan kembali 
dengan Dr. Mukhtar dan kami berjalan kaki, pindah bergabung dengan Abu Hasbi. 
Dari sini kami menunggu pasukan yang akan menjemput kami ke Komando di Wilayah 
Pidië. Tidak berapa lama kami di Wilajah Pase, datang rombongan Tengku Mohd. 
Daud Husin dengan pasukannya ke Wilayah Pase, menjemput kami ke Komando Markas 
Besar di Wilayah berdaulat di Rimba Pidië. 

Kami tiba di Wilayah Pidië pada malam hari Raya Idulfithri 1977. Pagi hari Raya 
tersebut saya terkena demam malaria. Demam panas dan menggigil menyerang saya, 
sehingga saya tidak sanggup lagi berjalan kaki mendaki gunung. Saya sangat 
terharu melihat penduduk kampung berbondong-bondong datang mengunjungi kami 
membawa juadah hari raya dan sangat senang berjumpa kami. Jelas terbayang 
dimata mereka harapan yang sangat besar digantungkan kepada kami 
sarjana-sarjana muda Aceh yang langsung terjun ke lapangan memimpin bangsa demi 
kemerdekaan.

Saya didukung berganti-ganti oleh Tengku Abdul Muthalib, Tengku di Barat dan 
Abubakar. Dan kemudian saya ditandu dengan tandu "goni". Setelah satu hari satu 
malam berjalan kaki kami tiba di Komando ketika pagi hari esoknya. Demam panas 
yang menyerang saya dan keadaan perjalanan yang memenatkan membuat saya 
kadang-kadang pingsan tidak sadarkan diri. Setelah saya sadar, saya mengetahui 
bahwa saya berada dikemah Wali Negara Tengku Hasan Mohammad di Tiro. Sejak saat 
itu saya selalu berada disamping beliau dan membantu beliau dalam tugas 
sehari-sehari mengatur jalannya pemerintahan Negara Aceh yang baru lahir 
kembali. Di Komando saat itu telah datang Tengku Iljas Leube dari Wilajah 
Lingga dan wakil-wakil dari Wilayah-Wilayah diseluruh Aceh. Hawa gunung yang 
sejuk dan segar membuat kesehatan saya berangsur pulih. Dan masa itu keadaan 
cukup baik. Makanan di Komando berlimpah.
 
Setelah dua minggu kami di komando, diadakan Khanduri besar Negara Aceh untuk 
menyambut kedatangan kami dan serentak mengadakan Pelantikan Kabinet Pertama 
Negara Aceh. Setelah pembacaan do'a dan panabalan Menteri-menteri maka 
masing-masing Menteri berpidato didepan para hadhirin, kecuali dua orang 
menteri yang tidak memberikan pidatonya karena kedua mereka tidak berada di 
Aceh. yi. Menteri Negara Malik Mahmud dan Menteri urusan Perdagangan Amir 
Mahmud. Sayang sekali mereka tidak merasakan bagaimana terharunya suasana pada 
waktu itu dimana para hadirin menyucurkan air mata berpeluk-pelukan dengan para 
Menteri Negara Aceh yang telah lahir kembali setelah 103 tahun Aceh kehilangan 
Kabinet Negaranya.

3. Mengapa akhirnya Teungku meninggalkan Aceh?

Wali Negara berangkat keluar Negeri dengan janji paling cepat 3(tiga) bulan 
paling lambat 6 (enam) bulan beliau akan kembali dengan membawa pulang 
perlengkapan militer. Setelah lebih dari enam bulan WN belum juga kembali dan 
tidak ada khabar dari beliau maka saya selaku Sekretaris Negara ditugaskan oleh 
Majelis Menteri yang diketuai oleh Dr. Mukhtar untuk berangkat keluar negeri 
menjumpai Wali Negara. Saya berangkat keluar Negeri setelah satu tahun Wali 
Negara belum juga kembali. Dan rakyat Aceh yang menanti kehadiran Wali Negara 
telah menjadi gelisah.

4. Motif Teungku bergabung dengan GAM?

GAM adalah nama yang disebutkan oleh tentera RI, TNI untuk AGAM. Saya yang 
menciptakan nama AGAM yaitu singkatan dari Angkatan Aceh Merdeka, yang pada 
mulanya disebut A.M. Idé Kemerdekaan Aceh memang telah ada dalam benak saya, 
setelah pengalaman pahit yang saya derita dimasa ayah kandung saya Hasan PIM 
ditembak oleh TNI ditahun 1953. Beliau adalah Komandan Tentera Darul Islam yang 
memimpin pasukan penyerangan atas kota Sigli dihari pertama Pemberontakan 
DI.-Aceh. Kuburan ayah tidak dibenarkan untuk dikunjungi oleh keluarga hingga 
satu tahun, dan tidak dikuburkan dengan sewajarnya bersama-sama satu lubang 
dengan 12 orang syuhada ditepi pantai, dibelakang rumah mayat Sigli.

Sahabat saya Dr. Mokhtar Yahya Hasbi menceriterakan kepada saya bahwa beliau 
telah berjumpa dengan Tengku Hasan Mohammad di Tiro sewaktu beliau belajar di 
Bangkok. Kesan beliau kepada Tengku Hasan yang cukup bonafide di Luar Negeri, 
yang mempunyai hubungan baik dengan Raja-raja al. Shah Iran, Raja Saud, Raja 
Thailand dan Kurt Walrdheim pada masa itu Sekjen PBB. Setelah membaca buku 
"Aceh bak mata dônja" yang ditulis oleh tengku Hasan Muhammad di Tiro 
meyakinkan saya bahwa beliau adalah anak Aceh tulen yang benar-benar 
memperjuangkan identiti kebangsaan Aceh. Buku tersebut telah membuka mata saya 
untuk melihat Aceh sebagai satu bangsa yang merdeka dan berdaulat atas Negeri 
Aceh yang telah dianugerahkan Tuhan sebagai tanah tumpah darah bangsa Aceh.

5. Apa daya tarik Hasan di Tiro sehingga bergabung dengan Wali Nanggroe?

Seperti saya terangkan diatas. Pada masa itu saya merasa kecil dibandingkan 
dengan beliau mengingat beliau telah 25 tahun hidup senang di USA, telah 
berhasil dalam hidupnya dari segi pendidikan dan ekonomi, disamping mempunyai 
isteri yang cantik, sanggup mengorbankan segala-galanya untuk kembali ke rimba 
belantara Aceh, menyabung nyawa demi kemerdekaan Aceh dari belenggu penjajahan 
dan penindasan RI.

6. Bagaimana liku2 Teungku hingga tiba di Malaysia serta ke Sweden, siapa yang 
mengurus?

Saya berangkat dari Aceh bulan februari 1980, dengan sebuah boat kecil yang 
lebarnya hanya satu meter, panjang kira-kira 3-4 meter, dan mesin tempel dua 
buah yi. Enuron 15 HP dan sebuah lagi Suzuki 8 HP, dengan nakhodanya sdr. 
Shaiman Abdullah. Kami mengharungi Selat Melaka selama empat hari-tiga malam, 
tanpa air minum dan tanpa makanan, disebabkan oleh ombak besar dan galon air 
kami pecah dan makanan kami hanyut ditarik gelombang air laut. Dengan 
pertolongan Allah swt. kami selamat tiba di Malaysia pada pagi hari, dan begitu 
naik kepantai saya tidak merasakan yang saya sangat lemah.

Begitu gembiranya hati saya melompat kedarat dan begitu kaki saya menyentuh 
pasir pantai Malaysia, saya langsung jatuh terjerembab kembali. Dan saya tidak 
perlu tahu berapa lama saya tertidur diatas pasir pagi. Begitu terbangun saya 
masuk kehutan pohon-pohon kelapa dan mencari kelapa jatuh yang ada isinya cukup 
manis untuk diisap dan dimakan. Maklumlah sudah berapa hari kelaparan.

Di Malaysia saya bekerja di kebun memelihara ayam dan menjual telur ayam. 
Sementara itu saya mencari kontak dengan Wali Negara untuk menyampaikan laporan 
keadaan di Aceh. Setelah tiga bulan saya di Malaysia yi. bulan May 1980 saya 
mendapat berita Dr. Zubir telah syahid ditembak oleh TNI. Tidak berapa lam 
kemudian Dr. Mukhtar pun syahid menyusul Dr. Zubir. Hati saya sangat pilu 
merasakan kedua sahabat yang sangat saya kasihi telah pergi lebih dahulu 
meninggalkan saya.

Pada mulanya saya tidak mendapat kontak langsung dengan WN tetapi hanya kontak 
secara indirekt melalui Perwakilan di Singapura. Setelah beberapa bulan di 
Malaysia barulah saya mendapat sepucuk surat dari WN yang mengatakan beliau 
mendapat beberapa halangan sehingga beliau tidak dapat memenuhi janjinya.

Delapan bulan saya terkatung-katung di Malaysia, keadaan saya yang illegal 
(pendatang haram), tidak ada pasport, sangat berbahaya kalau-kalau saya 
ditangkap oleh polis Malaysia tentu segera dikirim kembali ke Indonesia dan 
langsung jatuh ketangan TNI. Olehkarena itu saya mengambil keputusan untuk 
mencari political asylum dan mencari jalan untuk berhubungan dengan UNHCR. Pada 
waktu itu belum ada seorangpun refugee dari Aceh. Tidak ada seorangpun di 
Malaysia waktu itu yang menunjukkan kepada saya untuk meminta perlindungan 
kepada UNHCR. Malah kepergian saya ke UNHCR ditentang habis-habisan oleh Malik 
Mahmud. Dan ia mengirim surat kepada Tengku WN utk menghalangi supaya saya 
tidak menghubungi UNHCR. Saya pergi kekantor UNHCR di KL dan meminta 
perlindungan mereka untuk mencarikan Negara ketiga yang ingin mengambil saya 
sebagai refugee. Saya tidak perlu bercerita banyak karena gambar saya rupanya 
telah ada pada mereka. yaitu gambar "Wanted" yang didalamnya termasuk gambar 
saya yang disuruh cari, tangkap hidup atau mati. Saya terus diterima sebagai 
refugee dan mengisi borang kemana mau pergi. Saya tidak memilih Sweden tetapi 
olehkarena pada waktu itu lebih mudah dan cepat bisa berangkat ke sana, 
disebabkan banyak refugee Vietnam yang pergi ke negara tersebut. Disamping itu 
pula saya mendengar bahwa Pemimpin-pemimpin OPM setahun lepas telah dihantar 
oleh UNCHR ke Sweden, maka saya pun menerima untuk dikirim ke sana. 

7. Factor memilih Sweden?

Telah saya paparkan diatas.

8. Kegiatan Teungku di Sweden?

Begitu saya tiba di Sweden, saya langsung mencari kontak dengan Wali Negara, 
yang pada saat itu berada di Afrika. Setelah empat bulan saya di sini barulah 
Tengku Hasan di Tiro datang mengunjungi saya. Pada waktu itu saya tinggal di 
kampus perguruan tinggi di Uppsala sebab saya harus mempelajari bahasa Swedia 
dan mengambil ujian doktor asing yang akan bekerja di Sweden. Tengku WN tinggal 
bersama saya satu tahun lebih. Dengan modal beasiswa yang saya peroleh, kami 
berdua menghidupkan dan mengatur kembali GAM yang sudah sangat morat-marit. 
Jangankan untuk membeli perlengkapan militer, untuk biaya telefon dan transport 
saja susah. Setelah enam bulan saya di Sweden , saya memperoleh pekerjaan 
sebagai dokter Radiologi dibagian X-ray diagnostic.

Walaupun dengan beasiswa yang pas-pasan, tapi kami berhasil membiayai Malik 
Mahmud untuk datang ke Sweden dan menyusun kembali rencana dan strategi GAM 
selanjutnya. Disamping itu kami membuat hubungan diplomasi dengan Negara-negara 
yang telah merdeka dan maju dan juga dengan negara-negara yang sedang berjuang 
untuk merdeka. Nama-nama Negara-negara tersebut tidak dapat saya uraikan disini 
karena ini adalah rahasia diplomasi.

Kira-kira setahun kemudian menyusul ke Sweden Tengku Daud Husin, Yusuf Daud, 
Yuhasri Hasan, Dr. Zaini Abdullah, Zakaria Saman, Tengku Jalil Ismail, 
Syahbuddin, M. Djamil Amin, Syarif Usman, Usman Mahmud, TM. Ali dan Anwar Amin 
dan lain-lain. Disamping tugas sehari-hari saya sebagai dokter mengobati orang 
sakit, saya melaksanakan tugas-tugas perjuangan yang bertujuan untuk 
membebaskan bangsa Aceh dari belenggu penindasan Indonesia dan menegakkan 
kembali kedaulatan bangsa Aceh diatas dunia.

9. Pengalaman yang berkesan selama tinggal di Sweden?

Pengalaman yang sangat berkesan dalam hati saya semasa saya berada di pelabuhan 
Amsterdam menanti kapal untuk kembali ke Sweden. Saat itu hari sudah jam dua 
malam. Pelabuhan sudah sunyi karena penduduk tempatan telah kembali kerumahnya 
masing-masing. Terlintas dalam benak saya: "Saya sedang dalam perjalanan 
pulang......Eh..pulang kemana??? Pulang kerumah.....ke Sweden???... Tapi rumah 
saya..isteri saya...anak-anak saya tidak ada di Sweden. Eh..rumah saya??... 
Sweden,...itu bukan rumah saya, bukan kampung saya., bukan negeri saya.!" 
.Pikiran saya terbang melayang ke Aceh, ke isteri dan anak-anak saya. Telah 
tujuh tahun saya tidak berjumpa dengan mereka. Tak dapat saya bayangkan 
bagaimana rupa mereka, bagaimana kehidupan mereka, siapa yang memberi mereka 
makan? Saya bertemu kembali dengan isteri dan anak-anak saya setelah 8(delapan) 
tahun berpisah yi. 3 tahun dirimba dan setelah 5 tahun di Sweden. Mala anak 
saya yang bungsu semasa saya tinggalkan ia masih berumur tiga tahun, belum 
teringat bagaimana wajah ayahnya.

10. Bagaimana mendidik budaya dan bahasa Acheh untuk anak dan keluarga di 
negara yang ratusan mil dari Aceh?

Yang penting sekali adalah bahasa. Seperti peribahasa Melayu: "Bahasa adalah 
jiwa Bangsa". Contoh-contoh untuk ini sangat banyak. Lihat orang Cina. 
Dimanapun ia tinggal dipelosok dunia; orang Cina tetap berkommunikasi sesamanya 
dengan bahasa dan tulisan cina. Kemana saja ia pergi ia tetap membawa 
kebudayaan Cina. Demikian juga dengan orang Pakistan, kemana saja mereka pergi 
tetap dengan pakaian tradisinya. Semua bangsa di dunia ada ciri-ciri nya 
tersendiri. Hanya kita bangsa Aceh yang sudah tidak memperdulikan bahasa dan 
kebudayaan kita sendiri. Tidak mempunyai pendirian sendiri. Dan sudah 
ikut-ikutan meniru-niru kebudajaan Jawa. Baru sampai di Medan saja sudah tidak 
tahu lagi berbahasa Aceh. Saya lihat anak-anak kami yang lahir di Sweden dan di 
Australia lebih fasih berbahasa Aceh daripada anak-anak Aceh yang berada di 
Banda Aceh, apalagi yang berada di Medan atau di Jakarta sudah sama sekali 
tidak lagi memperdulikan bahasa ibunya dan bahasa nenek moyangnya. Inilah salah 
satu kelalaian generasi Aceh masa kini, dengan tidak lagi menggunakan bahasa 
ibunya secara aktif dalam percakapan dan tulisan, maka ia telah meninggalkan 
salahsatu identiti kebangsaannya yang sangat utama. Dengan meninggalkan 
identiti Aceh maka Aceh telah ditaklukkan tanpa perang. Korban darah dan jiwa 
yang telah diberikan oleh para syuhada Datu-datu kita dalam mempertahankan 
negeri Aceh untuk kita , telah kita abaikan begitu saja, tidak kita hargai sama 
sekali. 

Kita harus menghidupkan kembali literatur-literatur Aceh; syair-syair Aceh 
harus kita majukan dan sayembarakan sehingga anak-anak kita merasa bangga akan 
kebudayaan nenek moyangnya dan kebangsaan Aceh tertanam didalam dirinya. Kami 
mengharap pada masa akan datang semua anak-anak keturunan Aceh diluar negeri 
dapat saling berhubungan dan kunjung mengunjungi. Serta kita adakan pertukaran 
pelajar bertingkat internasional . Kita buat sayembara-sayembara membacakan 
syair-syair Aceh secara bergilir di Sweden, di Australia, di USA, di Holland, 
di Norway, dst. Dan kita undang ahli-ahli syair dan seniman-seniwati dari tanah 
air.

Kami di Stockholm telah mendirikan sebuah "Meunasah Aceh ", disitu kami 
mendidik anak-anak kami mengaji al-quran, mempelajari bahasa Aceh, 
memperkenalkan budaya Acehdan kita tanamkan kejiwaan dan kebangsaan Aceh.
 
11. Sudah berapa jiwa orang Acheh yang tinggal atau meminta suaka politik di 
Sweden?

Sekarang Kira-kira 150 orang, dan banyak yang akan menyusul lagi.

12. Bagaimana Teungku melepaskan rindu keu Nanggroe Acheh Ada rencana pulang ke 
Acheh .

Melalui media tentang Aceh, berkommunikasi dengan saudara-saudara yang 
mengetahui tentang Aceh, berbincang hal-hal yang bersangkutan dengan Aceh, 
berkunjung ke negeri-negeri yang dekat dengan Aceh. Apa lagi sekarang sudah 
banyak beredar video kasset, DVD lagu2 Aceh yang menampilkan kampung halaman.
Tentu saja saya akan pulang ke Aceh kalau masih panjang umur, bila Aceh sudah 
Merdeka, Insya Allah. 

13. Tantangan apa yang Teungku dapati sekarang di Sweden ?

Tidak ada masalah di Sweden, dimana bumi dipijak disitu langit 
dijunjung-junjung.

14. Bagaimana dengan status warga negara? 

Warga negara yang saya rindukan adalah Warganegara Aceh. Status warganegara 
lain itu hanyalah sebagai surat jalan saja supaya bebas kita bergerak di dalam 
dunia ini. Ia tidak mempengaruhi darah Aceh saya .

15. Bagaimana Teungku mengamati konflik Aceh?

Dari kontak organisasi, dari media termasuk internet, tv, dll. dan melalui 
telefon.-

16. Tidak bisakah Acheh menerima otonomi dulu, kemudian berjuang untuk merdeka?

Otonomi itu bagi kami adalah barang basi. Saya heran bagaimana pemuka-pemuka 
Aceh masih sanggup membicarakan masalah otonomi, dan tidak jera-jera berulang 
kali ditipu oleh regim Jakarta. Mengapa kita tidak mau belajar dari kegagalan 
orang-orang tua kita terdahulu. 

17. Andaikata Acheh lepas dari NKRI, bukankah ini lebih menyengsarakan rakyat 
Acheh karena segala sesuatu bisa diembargo? Pasok barang untuk kebutuhan rakyat 
Acheh masih melalui Medan?

Dari pertanyaan ini menunjukkan bahwa anda tidak begitu paham akan makna 
merdeka. Kalau Aceh merdeka maka kita tidak lagi bergantung kepada Indonesia. 
Semua import-export langsung dari Aceh . Pelabuhan-pelabuhan Aceh akan kita 
buka kepada dunia. Hasil-hasil bumi dan hasil tambang Aceh tidak lagi kita 
bagikan dengan Jakarta, tetapi kita bagikan sesama kita rakjat Aceh. Aceh cukup 
kaya, Kita tidak lebih miskin dari Brunai, tetapi sebaliknya lebih kaya. Kita 
akan sanggup memberikan subsidi kepada perumahan rakyat, pendidikan anak-anak 
kita dan kesejahteraan sosial seperti dinegara-negara maju. Orang Aceh tidaklah 
lebih bodoh daripada orang Jawa. Indonesia merdeka disebabkan karena ada Aceh, 
mengapa kita tidak memerdekakan diri kita sendiri.

Pelabuhan Pulo Rawa Langsa, Pelabuhan Kruëng Raya, Lhôk Seudu, dll akan menjadi 
pelabuhan-pelabuhan Internasional. Sabang akan berfungsi sebagai Singapura. 
Aceh akan berfungsi kembali sebagai dizaman Iskandarmuda menjadi pintu gerbang 
Selat Melaka dari segi ekonomi, militer dan politik Asia Tenggara. Mengapa kita 
harus takut dengan embargo RI kalau kita tidak ada lagi hubungan langsung 
dibawah RI. 

18. Teungku ikut dalam pertemuan di Jenewa yang sudah beberapa kali berlangsung?

Saya hanya ikut dalam pertemuan Jenewa kali pertama. 

19. Apa yang semestinya dilakukan rakyat Acheh ke depan?

Persatuan kebangsaan Aceh. Kita bangsa Aceh harus bekerjasama dan bersatu padu 
dalam menentang musuh-musuh kita dari luar, pada saat ini Republik Indonesia 
dengan ´TNI nya. Kita harus mengenal siapa kawan, siapa lawan. Kita harus 
pandai memanfaatkan tenaga-tenaga ahli, cendekiawan Aceh didalam dan diluar 
negeri yang saat ini sudah banyak bertabur didunia Internasional. Kita harus 
membuat program dan strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk melepaskan 
diri dari jajahan RI dan membuat persiapan untuk "Republik Aceh". Kalau kita 
bersatu padu dan bekerjasama, semua masalah ekonomi, politik dan militer dan 
diplomasi dapat kita atasi bersama. Saya heran mengapa orang Aceh dapat bergaul 
dengan bangsa-bangsa lain dengan mesra dan leluasa, termasuk dengan musuh 
endatu - RI, tetapi tidak dapat duduk bersama dengan bangsanya sendiri secara 
kekeluargaan dan membincangkan masalah hidup-mati dan masadepan bangsanya???

20. Bagaimana Teungku melihat penyelesaian Acheh melalui dialog dan militer?

Dialog sih memang baik, untuk menunjukkan kita ini orang bersivilisasi, 
berkebudayaan, berdemokrasi. Tetapi dialog kalau hanya menjalankan apa yang 
sudah didikté dari Jakarta itu namanya bukan dialog. Jakarta maunya kita 
berdialog hanya dalam pembatasan "NAD" atau sebagai anak jajahan dengan tuan 
besar regim Jakarta. Ini bukan dialog dan tidak perlu dibuat di Jenewa. Ini 
memang akal licik dan tipu muslihat RI supaja masalah Aceh menjadi masalah 
dalam negeri Indonesia. Masalah Aceh bukan masalah dalam negeri Indonesia, 
tetapi masalah antara dua bangsa yaitu antara bangsa Aceh dengan bangsa 
Indonesia dan itu harus diselesaikan dalam dunia Internasional, tidak dapat 
diselesaikan dibawah ancaman militer Indonesia. 

Konflik Aceh bukanlah konflik antara GAM dengan RI tetapi konflik antara rakyat 
Aceh dengan RI. Jadi dialog yang sekarang diadakan di Jenewa antara GAM dengan 
RI tidak akan menyelesaikan konflik Aceh. Yang harus dilakukan adalah dialog 
antara rakyat Aceh dengan regim RI. Jadi yang perlu diadakan adalah 
representative rakyat Aceh yang mewakili seluruh lapisan masyarakat Aceh yang 
dipilih secara musyawarah dan diterima oleh majority rakyat Aceh. RI memang 
sengaja memojokkan GAM dan mengecilkan masalah konflik Aceh sehingga kalau 
mereka telah dapat membasmi GAM atau mengibulinya maka konflik Aceh telah 
selesai. Jauh panggang dari api.
Indonesia ingin menyelesaikan masalah Aceh secara militer. Tapi ia lupa makin 
banyak ia membunuh dan memperkosa rakyat Aceh, dendam rakyat Aceh akan 
menjadi-jadi dan akan terhunjam dalam hati sanubari rakyat Aceh turun temurun. 
Apa yang telah dilakukan oleh TNI mulai tahun 1953 sampai saat ini tidak dapat 
dilupakan. RI telah meninggalkan hutang kepada orang Aceh yang harus dibayar 
dengan bunganya sekali bila tiba masanya. Insya Allah.

21. Mengapa Timor Lorosae lebih efektif dan sukses dalam perjuangan 
dibandingkan GAM

Masalah Timor banyak sekali perbedaannya dengan masalah Aceh.

al: 1. Pendudukan Indonesia atas Timor ditahun 1975 lebih baru dan lebih jelas 
dimata Internasional dibandingkan dengan pengelabuan Indonesia menjajah Aceh. 
Disamping itu Portugis yang melepaskan TImor sebagai anak jajahannya, membela 
Timor didalam dunia Internasional dan PBB. Sedangkan Belanda yang menjajah Aceh 
tidak membela Aceh, tetapi sebaliknya membela kepentingan Indonesia. Belanda 
mendapat banyak keuntungan dari Indonesia, antara lain, dari hasil pampasan 
perang, akibat dari hasil memasukkan Aceh kedalam Indonesia. 

2. Timor beragama kristen dan banyak dibantu oleh persatuan- persatuan gereja, 
disebabkan oleh Indonesia merupakan majority Islam dan Timor adalah minoriti 
Kristen. Penindasan Indonesia terhadap Timor digambarkan sebagai penindasan 
majoriti Islam terhadap minoriti Kristen yang tentu saja menimbulkan kemarahan 
ummat Kristen sedunia. Sedangkan Aceh adalah 100% Islam. Perjuangan Aceh tidak 
menimbulkan simpati dunia kristen. Tidak pula dibantu oleh dunia Islam karena 
negara-negara yang penduduknya majoriti Islam banyak yang tidak mengenal 
Indonesia: mereka hanya mengetahui Indonesia adalah negera Islam yang terbesar 
di dunia dengan penduduknya 200 juta. Melawan Indonesia berarti meruntuhkan 
Islam. Mereka tidak paham bahwa Jakarta tidak kurang maksiatnya daripada 
Bangkok. 

3. Meskipun ada fraksi-fraksi dalam TimTim, yang suatu ketika dulu pernah 
terjadi perang saudara, tetapi diluar negeri mereka tetap bekerja sama, tidak 
seperti ASNLF sekarang yang mendominasi terhadap komponen-komponen pejuang 
rakyat Aceh yang lain. Dan mereka tidak mau bekerja sama .

22. Saran Teungku kepada rakyat Aceh?

Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya sarankan kepada rakyat Aceh. Karena 
rakyat Aceh sudah sangat menderita. Melihat kekejaman TNI saya rasa rakyat Aceh 
sekarang tidak kurang menderitanya dibanding dengan masa penjajahan Belanda 
ataupun masa penjajahan Jepang. Merekalah yang paling menderita. Mereka telah 
memberikan apa yang mereka ada. Mereka telah menyumbangkan harta dan jiwanya 
dalam mempertahankan bumi persada tanah Aceh. Janganlah mereka diganggu lagi. 
Dengarlah jeritan dan raungan mereka dengan hati pilu, dan berikanlah apa yang 
mereka minta.

Kepada anak-anak mahasiswa: Ingatlah akan identitas dirimu sebagai 
putera-puteri Aceh. Negeri Aceh adalah milikmu yang harus engkau wariskan 
kepada anak cucumu dikemudian hari. Jagalah negerimu baik-baik dan ingatlah 
akan pengorbanan datu-datu bangsa Aceh yang telah mengorbankan jiwa-raganya 
demi mempertahankan negeri Aceh ini untukmu dari tangan-tangan penjajah asing. 
Pupuklah Persatuan Bangsa Aceh dan jangan sekali-kali mudah diadudombakan oleh 
Pang Tibang penjual negeri dan pengkhianat Bangsa. Engkaulah harapan bangsa 
Aceh sebagai generasi penerus untuk menegakkan marwah Aceh diatas dunia. 
Belajarlah dari kegagalan-kegagalan orang tua mu yang terdahulu. Jangan lupakan 
bahasa ibumu bahasa Aceh. Berbicara dan menulislah dengan bahasa Aceh sesama 
kamu sehingga bahasa Aceh hidup didalam hati sanubarimu, hidup sesamamu didalam 
masyarakat, dikampus dan dimana saja kamu berada. Sekali lagi "Bahasa adalah 
jiwa bangsa"

Kepada sarjana-sarjana Aceh: Saudara-saudaraku. Janganlah engkau membelakangi 
bangsamu. Kita bukan bangsa Indonesia tetapi dalam darahmu mengalir darah Aceh, 
bukan darah Indonesia. Janganlah tutup mata dan telingamu dari laungan jeritan 
dan penderitaan bangsamu. Luangkanlah sedikit waktu dan hartamu kepada 
perjuangan bangsa Aceh untuk menegakkan kembali marwah Aceh diatas dunia. 
Pimpinlah Saudara-saudaramu bangsa Aceh ke alam kemerdekaan dan kemuliaan.

Kepada Tengku-tengku dan Ulama: Peranan Tengku sangat penting didalam 
masyarakat Aceh. Dari sejak dahulu Ulamalah yang berjalan didepan memimpin 
perjuangan bangsa Aceh. Saya mengharapkan Tengku-tengku guru kami akan kembali 
mengambil alih kepemimpinan perjuangan ini. Dalam abad modern ini, dimana dunia 
telah menjadi kecil dengan canggihnya alat kommunikasi maka dayah-dayah harus 
diisi dengan ilmu politik, ilmu militer, ilmu ekonomi dll, sehingga kita dapat 
menelaah dan menjawab semua persoalan dunia dari segi Islam. Kita harus 
mempersiapkan diri untuk duduk dalam kancah dunia antara bangsa dan tidak ada 
masanya lagi untuk mengisolasikan diri. Lihat lah ulama-ulama pemimpin 
Iran.Mereka buka saja ahli dalam ilmu agama, tetapi mereka juga ahli-ahli 
politik, militer, ekonomi dsb. 

Perbedaan GAM HT dengan MP GAM:
MPGAM adalah kumpulan senior-senior pejuang-pejuang AGAM(Angkatan Aceh Merdeka) 
yang berjuang untuk memerdekakan rakyat Aceh dari belenggu penjajahan 
Indonesia. Mendasarkan organisasi perjuangan kemerdekaan rakyat Aceh dengan 
asaz demokrasi dan musjawarah dan bekerjasama dengan seluruh lapisan masjarakat 
Aceh didalam dan diluar negeri Aceh. Singkatnya MPGAM berasal dari rakyat Aceh 
dan untuk rakyat Aceh. Kami tidak membenarkan pungli kepada rakyat jelata Aceh 
yang sudah cukup menderita dan miskin, tetapi berusaha mendekati 
pengusaha-pengusaha Aceh kelas "kakap", dll.

Sedang GAM HT: sebenarnya istilah ini tidak tepat karena GAM sekarang bukanlah 
lagi GAM HT tetapi GAM MZ (GAM Malik-Zaini), sebab Tengku HT tidak lagi aktif . 
Beliau sudah 3 tahun sakit dan tidak lagi dapat memimpin. Pernyataan-pernyataan 
HT selama 3(tiga) tahun ini hanyalah sandiwara MZ yang bermain dibelakang nama 
HT untuk mengelabui mata rakyat Aceh yang fanatik kepada HT. GAM MZ telah 
mengambil alih kekuasaan GAMHT untuk kepentingan golongan mereka sendiri dan 
tidak mau bekerjasama dengan fraksi pejuang-pejuang bangsa Aceh karena mereka 
takut kedudukan mereka akan terancam. Mereka giat berusaha untuk menjingkirkan 
orang-orang MPGAM karena ini dianggapnya saingan mereka, seperti pembunuhan 
terhadap Teuku Don dan Tengku Haji Usman Pasi Lhok, dan usaha-usaha pembunuhan 
terhadap diri saya, Tengku Daud Husin, dan pengikut-pengikut kami di Aceh. 
Mereka telah memfitnah kami kepada Henry Dunant supaya MPGAM tidak boleh lagi 
diikutsertakan di dalam perundingan-perundingan di Jenewa. Dan demikian pula 
pada waktu pertemuaan sare-keudroë-droë di USA mereka telah mengancam IFA untuk 
tidak hadir kalau MPGAM diundang. Mereka selalu menyekat dan menghadang kami 
dengan fitnah-fitnah yang pada akhirnya terbuka juga .

Demi kepentingan rakyat Aceh kedepan yang kami dambakan adalah Pertemuan kita 
sesama bangsa Aceh dimana semua wakil-wakil masyarakat Aceh diikutsertakan 
meskipun berbeda pendapat, disitu kita meruahkan pendapat kita masing-masing 
secara kekeluargaan, dalam alam demokrasi dan musyawarah, dan menyusun strategi 
bersama untuk masa depan bangsa Aceh dan keturunan kita dikemudian hari diatas 
dunia. Pertemuan ini tentu tidak diizinkan oleh RI tetapi ini dapat dilakukan 
secara rahasia diluar negeri tanpa setahu RI, insya Allah. 

Stockholm, 25 April 2002.
dr. Husaini Hasan
(Sumber: wawancara Dr. Husaini dg Media Kutaraja)

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke