http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2006041301372029
Kamis, 13 April 2006
OPINI
Paskah: Pembebasan bagi Penindas dan Tertindas
Thedens Tana, Pr.
Rohaniwan, tinggal di Bandar Lampung
Paskah bagi umat Kristiani mempunyai makna mendalam. Ini merupakan
momentum besar bagi seluruh umat Kristen yang mengakui Yesus sudah wafat dan
bangkit.
Paskah ditempuh melalui persiapan lama, yaitu 40 hari dengan mati raga,
puasa, dan pantang. Masa puasa atau pra-Paskah tahun ini diisi aksi puasa
pembangunan (APP) bertemakan Budaya Bebas Korupsi. Lalu apa hubungan perayaan
keagamaan dan pembebasan dari kemelut korupsi di negara yang tak lepas dari
dunia politik ini? Kita bisa telusuri dari kehidupan Yesus di tengah masyarakat
pada zaman itu.
Sistem Perekonomian Palestina pada Zaman Yesus
Kawasan perdesaan Palestina merupakan gabungan antara pusat-pusat
perniagaan kecil dan beberapa daerah pelabuhan. Berbagai ketegangan sosial
terjadi di antara kelas pekerja dan kaum borjuis.
Perekonomian di kawasan ini terutama berpijak pada bidang pertanian dan
penangkapan ikan. Sedangkan sistem produksinya pada umumnya diatur berdasarkan
tanah milik perorangan yang tidak seberapa luas, dicampur tanah ulayat milik
bersama masyarakat kampung.
Tuan-tuan tanah yang memiliki lahan luas terpusat pada wilayah subur
Galilea ketika kawanan ternak digembalakan dan daerah perbukitan Yudea saat
terdapat budi daya zaitun dan buah-buahan. Juga ada tuan-tuan tanah absente
(tinggal di tempat jauh).
Menyusul berikutnya petani-petani kecil yang memiliki lahan garapan
sempit. Pada tingkat yang paling bawah terdapat buruh-buruh tani yang tidak
memiliki tanah, yang juga bermata pencarian sebagai perajin kecil.
Yosef dan Maria, orang tua Yesus, termasuk golongan ini. Dengan latar
belakang ekonomi seperti ini, kaum miskin perdesaan maupun di perkotaan diperas
saudagar asing.
Kaum miskin diberi upah murah dan jam kerja lebih lama. Para penguasa
agama mengisap habis penghasilan yang tersisa melalui pajak dan zakat kenisah
yang dikumpulkan para imam. Kaum kaya menikmati hidup mewah, sedangkan kaum
miskin, kendati bekerja keras mereka serba kekurangan untuk membayar pajak.
Sistem Politik Masa itu
Sistem politik masyarakat pada zaman Yesus berciri semiteokratis. Yahweh,
Allah mereka, adalah raja yang sesungguhnya. Sementara itu, raja yang sedang
memerintah menjadi wali Yahweh dan dipandang sebagai orang yang diurapi Tuhan.
Sejak penaklukan oleh Suriah, orang-orang Yahudi hampir selalu diperintah
penguasa asing. Mereka cuma menikmati kurun waktu kemerdekaan yang singkat
mulai 141 SM--63 SM. Sejak 63 SM dan seterusnya, Palestina berada di bawah
cengkeraman Pemerintah Romawi.
Pada zaman Yesus, kekuasaan politik berada di tangan orang-orang Romawi.
Orang-orang Yahudi memiliki kekuasaan yang terbatas.
Rakyat yang tertindas berusaha menumbangkan kekuasaan Romawi. Ada
kerinduan di antara orang-orang Yahudi bahwa Mesias akan menjadi sosok yang
memulihkan sistem pemerintahan teokratis orang-orang Yahudi.
Sebab itu, Mesias yakni Dia yang akan datang, diharapkan memainkan peran
politik. Kelompok Zelot percaya mereka dapat menggulingkan kekuasaan Romawi
dengan kekuatan senjata dan membangun kembali pemerintahan teokratis Yahudi.
Inilah atmosfer serta harapan politik pada zaman Yesus.
Yesus harus berhadapan dengan para penguasa politik dan harapan umat.
Sikap-Nya terhadap kekuasaan politik dan agama Yahudi ditandai konfrontasi.
Bagi Yesus, kewenangan politik memang dibutuhkan. Namun, kewenangan itu
sering melenceng dan karena itu perlu ditentang. Agama (dibaca iman) itulah
yang dapat menentang korupsi dan mengembalikan kewenangan politik itu ke jalan
benar.
Namun, jika agama dikooptasi politik, agama hanya berkomplot dengan
korupsi yang dilakukan sistem politik bersangkutan. Dalam konteks ini kaum
miskin akan dikorbankan dan digusur karena mereka tidak berdaya. Agama menjadi
alat politik.
Tampilnya Yesus pada pentas publik membangkitkan sejumlah pertanyaan di
benak orang: Siapakah orang ini? Apa sesungguhnya jati diri-Nya? Apakah yang
akan dilaksanakan-Nya? Apakah tujuan tindakan-tindakan-Nya? Apakah kita mesti
sungguh-sungguh mendengarkan Dia?
Yesus sungguh memahami sikap ragu-ragu dari orang-orang yang
dijumpai-Nya. Di samping itu ada juga sejumlah prasangka, seperti: Bukankah Ia
anak seorang tukang kayu? Adakah sesuatu yang baik dari Nazaret?
Penting artinya bagi Yesus menjawab pandangan-pandangan di benak
orang-orang ini dan dalam proses itu Ia memantapkan jati diri-Nya. "Roh Tuhan
ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik
kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat
Tuhan telah datang (Luk 4: 16--22).
Teks Yesaya yang dikutip Yesus memperagakan identifikasi-Nya dengan
orang-orang yang menjadi korban struktur kekuasaan. Kaum miskin yang sedang
berkumpul di sinagoge merasa ada seseorang yang berpihak dengan mereka dan
mendukung mereka dalam keinginan mereka untuk hidup secara bermartabat.
Yesus Menentang Para Penguasa Agama dan Politik
Yesus tahu para penguasa agama dan politik memperalat agama Yahudi untuk
kepentingan mereka. Ia melihat kaum miskin dikorbankan dan digusur oleh
kekuasaan ini.
Ia menyaksikan cara mereka menggunakan agama hanya untuk menimbun uang
(Mrk 7: 8--13), untuk memperoleh prestise publik (Mat 6: 5) serta menindas kaum
miskin. Oleh sebab itu, Ia mencela mereka dan cara-cara yang mereka gunakan.
Yesus mencela mereka menafsirkan hari Sabat. Ia menyatakan hari Sabat
diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.
Yesus sengaja menyembuhkan orang pada hari Sabat untuk menunjukkan hari
Sabat ditata guna melakukan perbuatan baik bagi sesama. Ia secara
terang-terangan menghardik para pemimpin agama Yahudi karena membelotkan
perintah-perintah Allah demi kepentingan mereka untuk menumpuk uang.
Yesus membebaskan kaum miskin dari cara berpikir bahwa hanya kaum kayalah
yang dapat menuju Allah. Yesus memuji seorang janda miskin yang memberi
persembahan yang sangat sedikit jumlahnya.
Agama seharusnya menentang penindasan, ketidakadilan, dan ketimpangan.
Yesus menekankan semua orang memiliki hak-hak yang sederajat untuk menikmati
kedudukan mereka sebagai anak-anak Allah.
Yesus berhadapan langsung dengan Herodes dan Pilatus. Yesus bersikap
sangat kritis terhadap Herodes dan Pilatus. Ia menyebut Herodes sebagai
serigala (Luk 13: 32). Yesus tidak mau taat kepadanya.
Terhadap Pilatus, sikap Yesus agak berbeda. Pilatus dengan tulus ikhlas
hendak mengetahui siapa Ia sebenarnya dan ia ingin membebaskan-Nya ketika Ia
hendak dihukum mati.
Tetapi, Pilatus seorang pengecut dan lebih mengkhawatirkan kedudukannya.
Ia ingin berbuat baik bagi Yesus tetapi tak berani melepaskan kedudukannya.
Ini bukan jalan yang dikehendaki Yesus. Sebab, tidak seorang pun yang
bisa mengikuti Dia tanpa mengorbankan hidup-Nya.
Pilatus memerintahkan Yesus disesah, dianiaya, dan dihinakan. Inilah
contoh para penguasa politik dengan kepentingan pribadinya menggunakan
kiat-kiat tertentu untuk meraih keinginan mereka.
Ada sebuah pertanyaan politik yang sangat mendasar yang patut dikemukakan
berkenaan dengan hidup Yesus: Mengapa Yesus tidak menduduki pos politik?
Pertanyaan ini menjadi makin relevan manakala kita mengetahui Yesus pernah
ditawari menjadi raja oleh kerumunan massa yang bersemangat. Yesus hadir untuk
mengadakan pembaruan.
Pembaruan itu tidak dapat dilaksanakan dari atas, tetapi dari bawah,
yakni dimulai dari diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat bawah dilakukan dengan
membangun harga diri mereka.
Dalam melakukan tugas perutusan-Nya, Yesus sering mundur untuk berdoa.
Doa merupakan metode Yesus untuk membantu Dia menghadapi ketegangan-ketegangan
dalam hidup-Nya. Doa merupakan saat diskresi dan suatu penilaian yang jujur
atas diri-Nya sendiri di hadapan Allah, juga suatu saat persekutuan yang
mendalam dengan Allah Bapa-Nya.
Kematian dan Kebangkitan Yesus
Misi pembebasan yang dilakukan Yesus mendapat tantangan para penguasa
agama dan politik. Yesus memang sudah tahu akan terjadinya konfrontasi. Ia
harus mempertaruhkan nyawa-Nya.
Oleh sebab itu, Ia memperingatkan hal itu kepada para murid-Nya selagi Ia
masih hidup (Mat 20: 17--19). Kematian merupakan tanda autentisitas hidup-Nya
guna membebaskan manusia dari belenggu dosa (membangun Kerajaan Allah).
Setiap orang tahu Yesus tidak bersalah. Tetapi, orang-orang yang memiliki
kepentingan pribadi membunuh Dia. Hal ini nyata dalam peristiwa penyogokan
Yudas, salah seorang murid-Nya, guna menghasut orang banyak untuk menentang
Yesus, memaksa Pilatus menyalibkan Yesus.
Kematian Yesus merupakan sesuatu yang sudah direkayasa orang-orang yang
memiliki kepentingan pribadi. Kematian bagi Yesus menjadi tanda yang paling
tinggi menyangkut suatu pilihan untuk membebaskan para penindas agar mereka mau
bertobat juga membebaskan mereka yang tertindas agar memperoleh keselamatan.
Kematian Yesus juga mengungkapkan keunikan dalam menghadapi tindak
kekerasan. Kepala pasukan Romawi melihat apa yang berlangsung dan Ia memuji
Allah, katanya, "Sungguh, orang ini adalah orang benar." (Lukas 23: 47).
Seorang penyamun yang disalibkan bersama Dia mengakui Yesus sebagai penebus
umat manusia.
Dari kayu salib Yesus memohonkan pengampunan bagi orang-orang yang
menyebabkan Ia menderita. Semuanya ini merupakan lambang kemenangan dan
kemuliaan Yesus dalam kematian-Nya.
Kebangkitan Yesus menjadi sarana yang membuat kaum tertindas dapat
mengikuti jalan-Nya dalam hidup mereka sehari-hari. Apabila seseorang memiliki
iman akan Allah, ia siap untuk mati.
Allah tidak akan mati dan karena itu Ia akan membangkitkan orang-orang
lain dalam sejarah. Roh Allah itulah yang hidup dalam diri kita dan Roh itu
akan membimbing kita dewasa ini untuk mengubah masyarakat.
Relevansi bagi Umat Kristiani
Dalam situasi kemiskinan, ketidakadilan, kesengsaraan, dan penderitaan
manusia dewasa ini masih adakah secercah harapan? Pertanyaan ini penting dan
mendesak. Umat kristiani dipanggil untuk terus-menerus berjuang bersama dengan
saudara-saudara lain untuk memperjuangkan keadilan, kasih, persaudaraan, bela
rasa, kerja sama dan perdamaian. Salah satu peringatan Yesus, yakni ketika kita
bekerja bersama dengan kaum tertindas demi pembaruan sosial, akan selalu ada
godaan untuk bergantung pada uang dan kuasa.
Dewasa ini dapatlah kita saksikan dengan jelas bagaimana beberapa
lembaga, organisasi, kelompok, dan individu yang melayani masyarakat menjadi
bergantung pada uang. Dalam keadaan semacam itu, kreativitas dan spiritualitas
mereka menjadi terpasung. Belenggu semacam ini sering mendapat pembenaran
jikalau kita tidak mempunyai uang, kita tidak bisa melakukan kegiatan yang
berguna.
Hal ini mendorong seseorang menghalalkan penumpukan sejumlah uang atas
nama kaum tertindas dan bersama dengan itu terjadi korupsi serta kooptasi dalam
struktur-struktur berdosa dari sistem yang tidak adil. Kita yang mau peduli
kepada orang yang tertindas harus belajar untuk berada bersama kaum tertindas
dan memperlakukan mereka sebagai mitra yang sederajat. Kekuatan dialihkan dari
pijakan uang kepada bidang moral dan spiritual. Kekuatan moral dan spiritual
ini berasal dari kesediaan untuk menderita bagi orang-orang lain, bahkan
mempertaruhkan nyawa demi mereka. Selamat Paskah!
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/