http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=222221


Sabtu, 22 Apr 2006,



PBR dan Sosialisme Religius
Oleh Abdul Muis Naharong dan Herdi Sahrasad *


Usia empat tahun Partai Bintang Reformasi (PBR) tergolong muda. Muktamar PBR, 
22-24 April 2006, di Bali adalah muktamar I. Partai sempalan PPP itu dalam 
Pemilu 2004 meraih 14 kursi DPR, 67 kursi DPRD I, dan 402 kursi DPRD II. 

Jika dikelola secara profesional, komited, dan solid dengan inklusifisme, 
keterbukaan, dan komitmen kerakyatan yang jelas, PBR berpeluang menjadi 
"kompetitor potensial" terhadap partai-partai politik berbasis massa Islam 
lainnya, seperti PPP, PBB, PKS, PAN, dan PKB. 

Dalam muktamar I itu, kontestasi untuk merebut posisi puncak di DPP PBR 
diprediksi bakal diwarnai persaingan kandidat ketua umum partai tersebut. 
Tokoh-tokoh yang dijagokan bakal memimpin PBR lima tahun depan, antara lain, 
Ade Daud Nasution, Bursah Zarnubi, Djafar Badjeber, dan Zaenal Ma'arif. 

Tulisan ini tidak memihak salah satu kandidat, tetapi mencoba menguraikan 
kemungkinan-kemungkinan yang bergerak dalam konteks muktamar PBR dan kiprahnya 
di masa dekat. 


Fenomena Politisi Muda?

Sebagaimana kecenderungan di parpol lain, seperti PAN yang dipimpin politikus 
relatif muda Soetrisno Bachir dan PKB oleh Muhaimin Iskandar, di PBR mencuat 
nama Bursah Zarnubi yang juga relatif muda. 

Di luar dugaan, Bursah bersaing ketat dengan Zainal Ma'arif, Djafar Badjeber, 
dan Ade Daud Nasution, para seniornya di parpol yang sama. Sementara Bursah 
mengklaim mengantongi dukungan 27 dewan pimpinan wilayah (DPW) dan sejumlah 
dewan pimpinan cabang (DPC). Namun, pada pemungutan suara (voting) saat 
pemilihan ketua umum nanti, menurut para analis politik, sungguh mungkin 
terjadi pergeseran perolehan suara jika politik uang (transaksi ATM) merebak 
dan tak terhindarkan. 

Karena itu, kontrol sosial dari para peserta muktamar, pers, LSM, lembaga 
pemantau parpol, dan civil society harus terus dilakukan agar politik uang 
(juali beli suara) itu bisa dicegah atau dihindari dalam muktamar PBR, yang 
empat tahun ini dipimpin KH Zainuddin M.Z. Sehingga kalah menang bisa 
berlangsung secara terhormat dan bermartabat.


Sosialisme Religius dan Transformasi Sosial? 

Yang menarik, dalam pamflet politiknya, Bursah mengemukakan menghadapi 
neoliberalisme yang mendominasi atmosfer ekonomi-politik di Indonesia dewasa 
ini. Menurut dia, PBR harus mengusung ideologi kerja yang relevan, yakni 
"Sosialisme Religius". 

Dalam hal ini, tafsir nilai-nilai keagamaan (Islam) harus dikaitkan dengan 
masalah-masalah riil yang dihadapi masyarakat, seperti krisis ekonomi, 
ketidakadilan, korupsi, dekadensi sosial, dan kerusakan lingkungan. (Visi-Misi 
Bursah Zarnubi, PBR Rumah Masa Depan, 2006)

Dengan "Sosialisme Religius" itu, PBR sebagai partai Islam diharapkan bisa 
memformulasikan transformasi sosial yang lebih luas. Transformasi sosial itu 
lebih berpeluang untuk diimplementasikan karena basis massa Islam bakal 
ditransformasikan dari perbedaan aliran dan identitas menuju persamaan 
orientasi untuk memerangi ketidakadilan, penindasan, kemiskinan, dan 
ketidaksetaraan.

Selain itu, sosialisme religius akan menghindarkan PBR dari masalah-masalah 
khilafiyah (masalah remeh-temeh) yang memecah belah umat dan rakyat. Partai 
Islam ini juga akan lebih berorientasi untuk membangun kebersamaan dalam 
kerja-kerja realistis dan kreatif sebagai solusi atas kompleksitas masalah 
dewasa ini.

Sosialisme religius yang inklusif, emansipatif, dan terbuka akan memungkinkan 
PBR terbebas dari impitan politik aliran dan belenggu masa lalu sehingga dapat 
menjadi "rumah" bagi semua golongan, ras, etnis dan aliran, mengagregasikan 
aspirasi dan kepentingan rakyat yang majemuk, serta menyantuni pluralitas dan 
kemajemukan sosial-kultural.

Sosialisme religius dalam persepsi para aktivis PBR diharapkan akan menjadi 
kekuatan partai Islam ini dalam membangun ideologi kerja (working ideology) 
yang inklusif dan responsif terhadap masalah ketidakadilan, kemiskinan, 
mengatasi korupsi, dan keterbelakangan yang menjadi problem utama bangsa kita 
pada era neoliberalisme dewasa ini.

Pada era pascakolonial di Indonesia, sampai akhir era Orde Bung Karno, 
sosialisme religius sering diartikulasikan Bung Karno, Bung Hatta, Syafrudin 
Prawiranegara, dan founding fathers lainnya sebagai counter terhadap 
kapitalisme-kolonialisme. Namun, pada era Orde Baru Soeharto, paham sosialisme 
religius seakan musnah ditelan zaman. 

Ideologi sosialisme religius ini jika bisa direvitalisasi dan direinvensi PBR 
akan menjadi ideologi kerja yang kuat, acceptable, dan kontekstual dalam 
menghadapi kapitalisme global. 

Bagaimanapun harus disadari bahwa dominasi neoliberalisme-kapitalisme global 
terhadap ekonomi kita sudah amat mencekam akibat imposisi Washington Consensus 
oleh Barat (IMF, World Bank, dan WTO) terhadap Indonesia yang ditandai dengan 
kebijakan privatisasi BUMN, liberalisasi ekonomi, dan pemotongan subsidi 
(seperti BBM, pupuk, dan tarif listrik) serta impitan utang luar negeri yang 
mencapai sekitar USD134 miliar (utang swasta dan negara), yang membuat kita 
terperangkap debt trap dan menjadi bangsa kuli di Dunia Ketiga. Bank Dunia 
melaporkan, penduduk miskin kita sudah sekitar 100 juta jiwa dan terus berebut 
kesempatan kerja.

Dengan sosialisme religius sebagai ideologi kerja yang berorientasi kepada 
keadilan sosial, PBR akan mampu bertumpu pada formasi sosial masa depan yang 
terbentuk dari individu dan kelompok masyarakat yang tidak memiliki afinitas 
kuat terhadap aliran dan ideologi tertentu. 

Sejauh ini di kalangan Islam kelompok-kelompok seperti ini semakin banyak 
jumlahnya sebagai dampak dari politik massa mengambang (floating mass) pada 
zaman Orde Baru, serta menguatnya pragmatisme dan individualisasi dalam 
kehidupan masyarakat yang -meminjam bahasa Peter Berger- sudah semakin modern, 
liberal, dan tersekularisasikan.

Muktamar PBR di Bali akan menentukan hitam putihnya parpol beridentitas Islam 
ini di hari esok: akan mengusung kepemimpinan Islam transformatif menjemput 
masa depan ataukah jatuh ke kubangan konservatisme ideologi sempit yang semakin 
dangkal. Wallahu a'lam. 

* Abdul Muis Naharong, mahasiswa PhD Ilmu Politik University of Chicago,AS, 
dosen dan periset senior Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas 
Paramadina. Herdi Sahrasad, periset dan associate director PSIK Universitas 
Paramadina.

-- 
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 267 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke